IPK vs Soft Skill


Tulisan ini aku tulis sebelum melakukan rekruting dua pekan lalu. Ditulis di blog sebelah, tapi aku reposting disini untuk melengkapi diksusi soal IPK.

dg_banner1.pngLagi-lagi sebuah tulisan di Pikiran Rakyat (lihat dibawah sana) yang bikin jari-jari gatel untuk menanggapi )
Buat ndongeng sih kalau bisa simple saja, coba saja menggunakan teorinya orang mining (pertambangan) dalam mencari emas … gunakan “trace element” ! IPK hanyalah “trace element” bukan “the precious metal

( “Wah hebat dhe, teori pertambangan kok untuk njelasin pendidikan”
D “Prinsip ilmu iku lebih banyak menggunakan analogi thole”
( “Aku juga pakai analogi jawaban sebelahku kalau lagi test. Hasilnya memang jadi bagus Pakdhe”
D “Hush !! kuwi namanya kowe nyontek thole !”
( “Lah, Pakdhe bilangnya simple aku ini masih mumeth mikirnya, dhe ?” 😛

IPK dalam rekruitment pegawai. Sebagai seorang pengguna produk sekolahan (lulusan) maka aku masih menggunakan IPK dalam memilih pegawai. Tentusaja asumsinya IPK (Indeks prestasi komulatif) “berkorelasi positip” dengan kesuksesan, sehingga saya masih tetap akan menggunakan IPK sebagai parameter untuk seleksi. Walaupun kadangkala nilai koefisien korelasinya rendah, tetapi secara praktis parameter lebih mudah diukur dan lebih general. Karena softskill (yang menurut tulisan dibawah) isinya salah satunya kesopanan itu tidak terukur dengan mudah.
Mirip pemanfaatan mineral petunjuk (trace element) dalam teori geostatistik di pertambangan. IPK hanyalah “trace element” yang akan menunjukkan lokasi dimana (mungkin) akan dijumpai “precious metal (gold)”. Misalnya mencari emas ya cari saja trace-trace element untuk mencari emas. Trace element ini lebih mudah diukur, lebih murah biayanya dan dapat dilakukan dalam sampel yang buanyak.

tracer.jpgGold Trace Element atau trace metal adalah logam-logam yang sering dijumpai bersama-sama dengan emas. Keberadaan logam-logam ikutan yang lebih sering diketemukan dalam jumlah besar juga sering berasosiasi dalam bentuk mineral serta batuan tertentu. Trace-trace atau jejak-jejak ini lebih mudah diikuti dan lebih mudah dicari sebagai petunjuk dimana akumulasi emas berada.

Cara-cara ini lebih umum saat ini dilakukan karena biayanya mudah serta dengan adanya model geostatistik atau spatial statistic menjadikan pengenalan trace element (trace metal) atau juga trace mineral menjadi cara yang paling sering dilakukan dalam pertambangan.

Gambar di atas ini menunjukkan bagaimana distribusi atau penyebaran emas (Gold) yang terdapat dalam sebuah daerah yang diikuti oleh trace element warna biru. Ditempat yang banyak trace elemen warna birunya juga disitu terdapat konsentrasi emas, namun kebalikan dengan trace element warna merah. Dengan mengetahui distribusi warna merah dan warna biru, dapat diketahui dimana kira-kira terdapat kumpulan emas. Trace element ini mudah dijumpai mudah diukur dan ada di banyak tempat. Sehingga dapat dipakai sebagai petunjuk distribusi emas.

Apakah trace element (untuk emas) selalu benar menunjukkan dimana ada emas ? jelas tidak ! Tapi cara itu merupakan cara praktis yang mudah di audit dan dievaluasi untuk proses selanjutnya. Jelas harus diingat IPK ini salah satu parameter paling mudah “terukur”, mudah diperoleh (sudah tersedia) dan diketahui faktor relasinya dengan kemampuan seseorang.

Pehatikan salah satu kalimat di artikel itu, baca dibawah ini :
Quote Perolehan IPK tinggi mulai diragukan oleh banyak kalangan. Dampaknya, konsumen cenderung tidak terlalu bersemangat merekrut alumni PT yang IPK-nya terlalu tinggi. end quote

Kalau hal diatas ini terjadi, yang keliru adalah yang mengeluarkan IPK. Hasil (angka) IPK semestinya mencerminkan kemampuan “Cognitive” lulusan. Jadi, para pengajar (dosen) mesti pinter memberikan nilai atau mengukur kemampuan muridnya, sehingga IPK menjadi lebih bermakna. Jangan menyalahkan banyaknya kalangan (misal rekruiter) yang salah telah menggunakan IPK dalam seleksinya. Lah kalau institusi pendidikannya ngga memberikan rangking lulusannya siapa lagi yang mesti melakukan ?

Mnurutku tulisan ini justru ditujukan (menjadi tantangan) buat institusi pendidikan supaya mampu memberikan IPK yang bener-bener mencerminkan kemampuan lulusannya. Bukan sekedar angka yang dicantumkan dalam kalung leher alumninya tanpa makna.

Barangkali ada beberapa softskill (affective +behavioral) yang dapat dimasukkan (ditempelkan) dalam memberikan nilai yang berdampak pada IPK, misalnya
– Salah satu test dilakukan dengan membuat program komputer atau memanfaatkan komputer (untuk menguji kemampuan komputer)
– Test (ujian) dengan cara dipresentasikan (menguji kecakapan komunikasi)
– Tugas (ujian) dilakukan dalam kelompok (menguji kemampuan berorganisasi/teamwork).
– dll

Orang tua masih menggunakan IPK untuk melihat kemajuan studi anaknya. Rekruiter masih mensyaratkan IPK dalam mencari pegawai baru. Jadi pak Asep (penulis artikel ini) juga kawan pendidik jangan salahkan kalangan masyarakat pengguna IPK kalau IPK tidak berarti. Justru saya berpikiran terbalik, tugas dan tantangan institusi pendidikan yang semestinya menjadikan IPK lebih berarti supaya ada gunanya. Saya sendiri tidak tahu apa tolok ukur kemajuan proses pembelajaran (”learning process“) di universitas / institusi pendidikan. Saya yakin IPK menjadi salah satu parameter utk melihat kemajuan-kemunduran proses pembelajaran.

Sebagai dasar uraian diatas aku tampilkan sedikit hasil baca-baca ttg pendidikan ksds (kalau salah dikoreksi saja). Dalam ilmu pendidikan yg pernah saya baca paling tidak ada 3+1 faktor utama kemampuan manusia… Cognitive, Affective, dan Behavioral (kadang ditambah Brain sebagai fisik-nya). IPK memang mungkin hanya mengukur Cognitive saja, namun bisa saja ada faktor afektif yang masuk didalamnya. Sedangkan behavioral (perilaku) ini merupakan faktor yang akan juga mempengaruhi tingkat kesuksesan sesorang, hanya saja tidak ada atau sangat sulit mengukurnya. Ke 3+1 faktor ini akan saling mempengaruhi, semuanya menentukan tingkat kesuksesan seseorang.

Mudahnya pakai conto begini saja, bagaimana mengukur kesopanan dan keberanian mengeluarkan pendapat. Satu sisi diperlukan pendorong dilain sisi diperlukan penahan. Keduanya memang bisa complimentary (saling mengisi) tapi ketika masuk dalam sebuah community tertentu bisa-bisa malah dibaca kontradiksi.

MM dan MP

Saya pernah merasakan jadi MM (Mahasiswa Muda) ketika kuliah di Geologi UGM, dan juga pernah merasakan sebagai MP (Mahasiswa Pegawai) ketika sambil kerja ikutan kuliah lagi di Geofisika UI. Keduanya memiliki aspek pembelajaran tersendiri. Namun saya masih banyak menghargai MM yang dengan “culun”nya mengerjakan ketelitian angka hingga 0,000001 centimeter untuk menentukan posisi atau lokasi sebuah sumur migas. Penting buat mereka (MM) tentang ketelitian ini, walaupun sakjane “in the real world” tidak dipakai tapi bagi MM masa-masa itu perlu dilewati. menjadi MPpun jelas sangat berat saya rasakan. Bagaimana pulang kantor harus mengerjakan PeeR yang isinya teori-teori yang barangkali sangat sedikit saya pakai nantinya di kantor. Tetapi proses pembelajan ini menjadikan MP untuk selalu berpikir berdasar logika, berdasar pemikiran teoritis dan ilmiah. Bekerja secara real bukan hanya mengandalkan “rasa” atau intuisi saja, mesti ada teoritical background-nya. Pekerjaan selalu menuntut hasil kerja saya yang harus bisa dipertahankan nilai ilmiahnya juga.

Ijazah (gelar kesarjanaan) mungkin tidak berarti ketika bekerja, tetapi selama proses mendapatkan ijazah inipun sudah cukup banyak membekali anak didik (mahasiswa) ketika bekerja nantinya. Ijazah memang hanya sebagai bukti pencapaian, apapun proses yang dilaluinya. Mental “njujug” (jalan pintas) mendapatkan nilai ataupun ijazah ini memang menganggu. Seperti yang Pak Asep tuliskan bahkan dikomersialisasikan, ini memang memprihatinkan.

IPK masih penting untuk mahasiswa

Jadi saran bagi mahasiswa yg masih aktif di kampus … kejarlah IPK tinggi karena IPK itu merupakan password (keyword) yang akan membuka pintu karier. Namun setelah berada didalam ruang kerja, IPK (kunci) itu memang mungkin tidak terpakai lagi, kau harus menggunakan softskill itu. Itu hanyalah “rule of the game …. nothing more“.

Yang perlu hati-hati adalah ketika anda merupakan anggota dari anomali, baik anomali IPK tiggi maupun anomali IPK pas-pasan. Jangan menggunakan argumentasi anomali sebagai penarikan general trend

referensi : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/18/0901.htm IPK vs “Soft Skill” Oleh ASEP SUMARYANA

Iklan

13 Tanggapan

  1. aku mahasiswi fkh ugm’09.
    aku setuju banget, klo ipk adalah trace element yg bisa nuntun kita buat dapet precious metal. IPK tetep standar buat merekrut tapi ada standar kedua buat tembus, n be the real winner, yaitu soft skill.
    aku pengen banget sih melatih soft skill ku degan kerja part time, but i think it’s little difficult dngn kontrak dn aturannya, apalgi saya lulusan sma yg blum punya skill khusus kayak smk.jadinya alternatif lain mgkn aku bs ikut ukm sesuai bidangku.^^

  2. Bener, banyak job di geodesi.. sekarang kekurangan orang
    gak cuman di dalam negeri, diluaran juga..

    rate turun dikit gara2 krisis finansial global.. masih lumayanlah
    tapi job masih banyak..
    apalagi west africa dengan middle east sudah mulai picking up..
    Dari land surveyor sampai hydro surveyor kepake..
    Tapi ya itu… No guts no gain..

  3. salam kenal ,
    saya mahasiswa matematika sedang menyusun TA , butuh bantuan anda .
    menurut anda fenomena – fenomena sosial apa saja yang mempengaruhi kemajuan studi mahasiswa . ( kalau tidak keberatan tolong balas ke email saya )
    terimakasih atas balasannya

  4. saya juga sekarang baru mau masuk di geodesi undip.
    tadinya sih nggak tau apa2 ttng ni jurusan,tapi disarankan oleh ayah. Pas nanya kk2 kelas di geodesi undip,katanya sih beruntung yg masuk geodesi,krn peminat nggak terlalu banyak,tapi ntar pas udah lulus dicari-cari orang.
    Bener nggak sih?

  5. Ada kawanku yang pernah kuliah Geodesi UGM yang sekarang menjadi freelancer surveyor di oil and gas. Bayarannya harian, tapi sehari 600-800 USD !!
    Sering kerja dua sampai 4 minggu di laut, trus duduk-duduk jalan-jalan santai dua bulan … 🙂
    Kalau sangune abis katanya kerja lagi sebulan juga cukup …
    Itu slah satu contoh aja 😛

  6. klo ngomong2 soal ip,
    memang bikin puyeng.
    saya salah satu mahasiswa di geodesi ugm,
    wah kayaknya saya salah milih jurusan, tiap hari urusannya ukur2 melulu,
    gimana ya?
    rasanya kurang cocok masuk geodesi,
    klo nyoba um/spmb lagi kira2 diterima gak ya??
    nyoba geologi ugm.

    Oya mas2 mbak2,
    peluang geodesi di dunia migas bagaimananya dibandingkan dengan geologi dan geophisic?
    Kasih saran dong,kasih motivasi biar semangat lagi,

    kayaknya klo mau ikut um/spmb lagi berat,
    belum agi matakuliah yang tugasnya banyak en pada gak mudeng,
    ya semoga saya bisa menjalani dengan baik di geodesi ini,

  7. WAH KIRA-KIRA AKU MILIH MANA YA?IKUT NKUL 1 SEMESTER LAGI BUWAT NAMBAH IPK BIAR BISA JADI >3,00 APA MAKSAIN SKRIPSIKU YANG BELOM KELAR2…
    PADAHAL PENTING YA…
    MAAF PAKDHE…SERING NGUTIP ARTIKEL PAKDHE TANPA IJIN…SALAM KENAL PAKDHE…
    WASSALAM

  8. tapi pak ‘pendongeng’,
    apa ga seharusnyah dilakukan standarisasi ttg penilaian prestasi mahasiswa (IPK) dulu pak..
    soalnyah jadi sedikit nyesel susah2 masuk PTN tertentu dan susah jugah dapet nilai2nyah,otomatis lulus lama jugah..
    (ko jadih curhat yak??)

  9. Dimas Watu Ireng
    KAyaknya aku tahu kawan anda itu … adik kelasku di Geologi UGM. Tapi trus ambil MBA dan keluar dari perminyakan.
    Salam saya buat beliau … aku lama kehilangan kontak emailnya.

  10. Memang betul yang disampaikan oleh mas Kakang (hehehe…mas Kakang = double degree) kalo anak geologi karirnya menanjak ceepet. Saya kerja di bank, kenal sama (mungkin) temen seangkatan mas Rovicky, jebolan geologi UGM, sekarang jd executive di salah satu cabang luar negeri salah satu bank BUMN (hihi..angel-e). Untungnya saya juga dulu anak geologi..dan beruntung pernah jd adik angkatan mas Rovicky sang pendongeng kita. Jd ada harapan bagus nih buat saya…lulusan geologi, IPK pas2an…karir?..hehehe…

  11. aku nyesel..ngapain aku kuliah susah-susah di jurusan yang susah masuknya, di Institut terkenal pula….IPK ku tinggi pula (sombong nih…). Dulu pas UMPTN aku taro Geologi di pilihan ke2…sekarang pas kerja di oil kumpeni…ketemunya anak2 geologi dan karirnya nanjak cepet…padahal dulu di jaman kuliah untuk mata kuliah dasar eksakta…aku lihat nilainya jeblog2…..tahu gini aku kuliah di geologi ato geophisik deh….

  12. Dear Pak Dhe,

    Dalam ilmu pendidikan yg pernah saya baca paling tidak ada 3+1 faktor utama kemampuan manusia… Cognitive, Affective, dan Behavioral (kadang ditambah Brain sebagai fisik-nya). IPK memang mungkin hanya mengukur Cognitive saja, namun bisa saja ada faktor afektif yang masuk didalamnya. Sedangkan behavioral (perilaku) ini merupakan faktor yang akan juga mempengaruhi tingkat kesuksesan sesorang, hanya saja tidak ada atau sangat sulit mengukurnya. Ke 3+1 faktor ini akan saling mempengaruhi, semuanya menentukan tingkat kesuksesan seseorang.

    Punya buku nya gak Dhe, atau literatur yang recommend…

    Terimakasih

    Best Regards
    Sigit

  13. cen bener pakde…klo sekarang gak punya ip minimal 3 g bs nglamar ke perusahaan2 bonafid e. kecuali klo maw jd pns. hehe :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: