Sekolah itu (mahal) murah tapi perlu biaya


Sekolah itu murah menurutku, karena dengan modal sedikit saja bisa mendatangkan hasil yang suangat besar. Kalau sekolah dianggap sebagai cost (biaya) dalam produksi, dan hasilnya nanti dianggapo sebagai benefit maka menentukan murah atau mahal akan dilihat dari biaya dan keuntungan yang bakalan diperoleh. Maka apabila dengan kacamata itu sekolah itu MURAH. Sekali lagi sekolah itu murah !

Lantas mengapa selama ini sekolah selalu disebut mahal ?

Relative mind set

Mahal dan murah itu sebuah ungkapan relatif dibandingkan sesuatu yang lain. Kalau sekolah dibandingkan dengan jaman dahulu maka angka biaya sekolah bisa sangat besar karena angkanya bisa saja sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih besar dari yang sebelunya (dahulu, puluhan tahun lalu). Kalau saja angka biaya pendidikan itu dibandingkan dengan hasilnya (ketika bekerja nanti) maka akan banyak yang berbondong-bondong sekolah. Jadi kita asosiasikan saja biaya sekolah dengan hasil nantinya ketika bekerja.

On 7/16/07, Shofiyuddin wrote:

jangan banyak berfikir bahwa rakyat kita bisa menyisihkan dananya buat anak sekolah. hanya orang dengan kemampuan financial kuat aja yang berfikir untuk kesana. kalo anda lihat di negeri cinta, lihatlah betapa begitu banyak anak tidak sekolah karena orang tuanya MEMANG tidak mampu. sekolah banyak memungut biaya terutama pada awal masuk dan kenaikan sekolah yang begitu menjerat leher. gak usah jauh jauh, lihat aja kalo kita punya pembantu di rumah ….

lihatlah begitu banyak tukang ojek motor yang sekarang berebut penumpang, lihatlah begitu banyak pedagang bakwan pinggir jalan …. jangankan berfikir jutaan, lha omset dagang mereka saja gak lebih dari 50 rebu …

Murah, mahal itu persepsi yang ada di otak. Angka besar dan kecil itu fakta yang kita liat dalam realitas. Tetapi kalau otak ini kita set bahwa SEKOLAH ITU MURAH, maka akan kita akan membelanjakan untuk sekolah terasa tidak seberat kalau program si otak ini mengatakan sekolah itu mahal.

Secara naluri kita menghindari yang mahal (tidak enak) dan mencari yang murah (enak). Kalau sekolah sebagai cost dan hasil setelah bekerja sebagai benefit, maka keuntungan setelah sekolah itu besar … artine SEKOLAH ITU MENGUNTUNGKAN ! Tapi bisa menjadi sulit dan mbundet kalau akhirnya diplesetkan menjadi …. “sekolah hanya untuk yang beruntung” … blaik !

Anomali-anomali

biaya_sekolah.jpgpenghasilan1998.jpgDisebelah kiri ini gambaran statistik pendapat Indonesia sebelum krisis 1970-1998 (sayangnya saya tidak memiliki data terbaru). Grafik distribusi pendapatan ini memperlihatkan bahwa rentang kaya dan miskin cukup besar. Grafik berwarna yang paling kiri itu hanyalah gambaran mudahnya saja ya, bukan actual, hanya untuk mendongeng. Grafis menggambarkan perbandingan biaya pendidikan dengan penghasilan. Semakin kecil penghasilan tentusaja biaya pendidikan juga mengecil. Namun penghasilan yang membesar tidak selalu proporsional dengan pengeluaran biaya pendidikan (sekolah). Biaya sekolah itu ada batasnya sedangkan besarnya penghasilan itu bisa dianggap tidak terbatas.

Kalau kita mencoba mengamati secara general, bukan detil, maka grafik bewarna ini dapat dipakai. Jadi semstinya melihat modus, median atau harga tengah-tengah di dalam keberagaman Indonesia. Kalau itu yang dilakukan maka yang kita lihat atau kita simpulkan semestinya masyarakat Indonesia ini mampu menyekolahkan anak (aku melihat modus, mean dan median yang di tengah dalam statistik looh ya).

Harus diperhatikan, perlu kehati-hatian ketika kita menengok hanya pada daerah-daerah anomali, terutama kedua anomali paling atas atau juga anomali paling bawah.

Shofi mengamati anomali bawah yang mana si anak kaum miskin yang penghasilan sangat minim akhirnya tidak bersekolah . Sehingga dengan sendirinya pengeluaran pendidikan menjadi minim sekali (almost zero kalau akhirnya DO). Disini (dalam anomali dibagian bawah ini) akhirnya juga akan keluar angka fraksi belanja pendidikan itu bisa saja sangat kecil dibawah 5% (2,27 % – 4,27 %), itu salah satu kemungkinan penjelasannya. Namun juga dalam anomali paling atas (orang kaya raya) juga sangat mungkin sama rendahnya kalau dilihat fraksinya (prosentasenya). Untuk yang kaya raya ini walaupun sekolahnya muahall (angkanya besar) tetap saja prosentasenya kecil karena duwik penghasilannya emang guedhe banget. Jadi di anomali paling atas ini bukan berarti bahwa fraksi kecil dibawah 5% berarti kekurangan uang untuk sekolah, ini hanya berlaku untuk kalangan anomali di bawah. Kedua anomali diatas tentunya menjadi tidak valid dalam menganalisa ekeseluruhan distribusi. Seandainya kedua anomali dipaksakan untuk dipakai dalam membuat model kesimpulan, kedua anomali perlu dianalisa dengan cara khusus juga (namun tidak sertamerta diabaikan tentunya). “Argumentasi anomali” seperti yang dipakai Shofi maupun untuk yang level atas ini memang begitu adanya.

Tetapi kalau saja survey si KOMPAS yang saya sitir angkanya itu menunjukkan average value→ di Indonesia, saya masih prihatin dengan angka yang dibawah 5% utk belanja pendidikan. Kata Kompas sih angka itu diambil dari hasil dari survey 10 kota. Jadi saya yakin hasilnya mewakili Indonesia. Artinya pada level tengah-tengah yang dianggap mewakili seluruh Indonesia inipun juga belanja pendidikannya sangat rendah dibawah 5%.

😦 “Pakdhe surveynya KOMPAS itu ngga bener”
😀 “Haiyak kalau ada yang ngga sesuai sama pikiran sebelumnya kok terus datanya dianggap salah tho, tole”

Tentusaja tulisan itu tidak untuk menghalangi yang ingin membantu menyumbang pendanaan (misal beasiswa anak asuh) untuk mereka yang ada di sebelah kiri bawah, karena sumbangan ini wajib untuk saudara-saudara kita yang bernasib kurang baik masih tertinggal di kiri bawah sana. Walaupun sudah maju sekalipun membantu itu juga tetap HARUS. Tetapi sekali lagi kemandirian untuk mendidik diri sendiri ini kudu ditingkatkan, karena yang disebut dengan masyarakat MADANI itu salah satunya kemandirian dalam berbagai hal, tidak hanya mandiri dalam menuntut hak politis, tapi hak mengembangkan diri juga semestinya mandiri.

referensi grafis DepKeu Australia

36 Tanggapan

  1. bagus artikelnya

  2. wah-wah gayeng bangets. nimbrung ah.
    sekolah murah dan mahal kan tergantung kantong dan persepsi (apresiasi ortu) tentang pendidikan. memang betul, ada banyak ortu yang harus menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk sekolah. tapi jumlahnya tak banyak kok. yang lebih betul target mereka dalam menyekolahkan anak terlalu tinggi. uang punya sedikit tapi maunya sekolah mahal, akibatnya muncul biaya lain-lain yang diluar biaya resmi sekolah. di desaku banyak SD yang bayarnya cuma 10 rb sebulan, buku gratis, tapi banyak yang nunggak. ironisnya uang jajan anak-anak bisa 2 ribu per hari. nah lho. tapi memang kalau ingin sekolah yang full fasilitas dan pelayanan prima ya harganya bisa dua puluh kali lipat sekolah inpres. ya tho?

  3. 4 pemerintah ==> mbok ya mulai mikir biaya pendidikan yang mulai mahal

    4 mahasiswa yg suka ndemo biaya mahal ==>
    – saya dukung kalian, tetapi saya tanya, “waktu masuk merasa mahal, tetapi kenapa ketika kuliah malah nyantai dan nggak ndang lulus?”
    – apakah Agent of Change hanya pada masa kuliah saja?
    – kenapa mahasiswa masih suka ngrumpi di kantin dan asap rokok tetap ngepul? kan uangnya bisa untuk biaya kuliah.

  4. pendidikan mahal?
    Pendidikan dan sekolah. Perlu dibedakan. Pendidikan bisa formal atau informal. sedangkan sekolah, nah ini penjabaran rancu baik dari pemerintah, swasta, maupun para peserta didik.
    Pendidikan bisa didapatkan dari mana saja tetapi sekolah merupakan pilihan.
    Manusia yang bergerak dibidang bisnis tentu saja memiliki pandangan berbeda untuk sekolah. Kelompok A menilai sekolah tidak menjadikan orang kaya tapi dewasa berfikir, dengan cara berfikir demikian sekolah tidak penting hannya menghambat waktu untuk pengembangan diri dari dunia bisnis. Kelopmpok ini tidak begitu berbahaya, mereka cuma bergerak pada lingkunganya saja tanpa memberi pengaruh secara global. Kelompok yang satunya, kelompok B merupakan bahaya klaten (meminjam istilah orde baru). Kelompok ini mebidik sekolah sebagai lahan bisnis empuk. marketing sekolah dengan fasilitas dan iming-iming menytulap anak nggak gaptek. Alih-alih mencetak manusia cerdas yang nggak gaptek tapi malah menciptakan anak stress yang miskin hati nurani. Manusia robot telah tiba. Pendidikan teruta sekolah sebaiknya dirundingkan dan difikirkan secara bersama-sama. Tidak cuma faktok fisik (bangunan mirip hotel atau kandang sapi, fasilitas laboratorium dan perpustakaan lengkap atau sekedar ada)tetapi psikis yaitu motivasi menjadi manusia yang lebih berguna. Guru, faktor terpenting dari faktor ini. SELAMA INI KITA HANNYA MENEMUKAN GURU TELADAN YANG MENGAJAR DI SEKOLAH NEGERI,GURU YANG MENGHAMBA PADA ANAK PEJABAT ATAU PENGUSAHA KAYA, DAN ANAK ADALAH OBYEK BUKAN TEMPAT BERBAGI CERITA.
    Seharusnya paragigma ini dirubah. semua anak adalah mega bintang. tidak ada anak bodoh atau pintar cuma kemampuan yang sama dengan potensi berbeda.
    Lucunya, paling rentan dari semua guru dan jenjang pendidikan, guru SD yang menanamkan dasar -dasar pendidikan paling banyak melakukan kesalahan itu.
    Untuk semua rekan-rekan pemerhati pendidikan dan praktisi pendidikan hendaknya open minded dengan phenomenon ini.

  5. Tedi, lulusan geologi juga ada yang bekerja di rumah sakit sebagai kepala maintenance gedung. Ini bener lho, kenyataan, di rumah sakit kelas internasional. Di sebelah kantor saya. Kalau bertemu, saya selalu berjabat tangan.

    Mengapa demikian? Selain memiliki kepribadian sosial yang baik, mental pejuang, mampu bertahan hidup, juga karena ia seorang autodidak sehingga ia mempunyai pengetahuan yang dapat dipercaya dan kepribadian yang disukai.

  6. u PT, kayaknya Porsinya ada di Beasiswa sama bentuk BHP-nya. u skala Nasional, ya itu Pajakne habis “dialokasikan” u “dana taktis”, tunjangan “operasional” “Pejabat”. Masih kurang, malah dimobilisasi seperti kasus DKP (ini yang diakui, yang tidak :)).

  7. Ukuran murah dan mahal itu cenderung nisbi. Bagi mereka yang berduwit, sekolah jelas muruuuaaah, he-he-he. Tapi gimana bagi mereka yang tinggal di emper-emper toko dan kolong jembatan? Di negeri kita ini jumlahnya bejibun orang-orang yang bernasib kurang beruntung kayak gitu. Untuk mengangkat mereka, perlu uluran tangan dan subsidi silang dari mereka yang berkantong tebal.

  8. bagusnya kalau ada industri alat kesehatan lokal. Praktekum dokter mahal-lha alatnya impor semua.

  9. Dokter itu pendidikan termahal ya. Kalau di univ lain apakah pend dokter juga termahal.

    Ya udah ga usah jadi dokter. Mendingan masuk geologi, ntar masuk kerja kayak pak Dhe malah jadi ekspart. Kalau sakit mbayari dokter wae
    Biar jadi ekpatreiate itu carane pripun to dhe?

  10. Dhe coba link ini deh, salah satu conto kalo pendidikan itu tidak terjangkau oleh kebanyakan orang tua:

    http://www.unpad.ac.id/profil.aspx?name=sumbangan

    wah jadi anak saya nanti — 18 tahun lagi — kalo pengin jadi dokter sumbangan minimalnya jadi berapa yah!! *mikir*

  11. seharusnya pemerintah juga punya pola pikir seperti itu, bahwa pendidikan adalah investasi yg menguntungkan negara. nyatanya, dalam bidang pendidikan subsidi atau peran pemerintah dalam pendanaan banyak dikurangi, amanat UUD hasil referendum utk dana pendidikan sebesar 20% yang jelas2 sudah tertulis hitam di atas putih aja selalu gak bisa dipenuhi dengan banyak alasan.

  12. Gimana ya???

  13. irvan132
    Memang sekolah itu tidak mudah. Kalau mudah buat apa sekolah kan ?
    Tidak murah ? memang kok. Makanya harus menghargai ortu yang susah-susah membiayai kuliah di ITB. Jadi mahasiswa ya kudu kerja keras, karena udah bayar mahal-mahal, kalo ga mau belajar itu menyia-nyiakan ortu, kan ?

    Met belajar !

  14. Kuliah di STIE Tumas Nusantara tidak mahal alias Gratis,Programnya bagus and Ok punya ,apalagi Program komputernya 100% LINUX euiy.. Mutu sekolahnya di jamin is good.jadi tidak perlu susah2 ok.

  15. tapi kalo menurut saya, tetep aja sekolah itu mahal om. 😦 udah mahal, susah lagi kalo sekolah.

    -IT-

  16. Sekolah mahal atau murah? itu tergantung si pelakunya… ato relatif…

    Bagi yg gak punya duit, bayar biaya total sekolah (spp, buku, seragam, tas, sepatu, uang saku, transport, iuran koperasi, osis, tabungan studi tour,dll) dalam satu bulan kadang2 bisa mencapai 25-30% total pengeluaran per bulan sebuah keluarga miskin (gakin). Yang bagi keluarga kaya (gaya) jumlah itu seperti satu kali makan di restoran mewah.

    Bagi yg punya duit, biaya total sekolah di institusi unggulan mungkin tidak sampai 5% dari total pengeluaran mereka dlm sebulan. Yang bagi gakin, jumlah itu seperti total biaya hidup gakin dlm satu bulan.

    Kados pundi, Pak Dhe….

    Note RDP :
    Masteguh, kalau ada Gakin mengeluarkan 30% pengeluaran untuk sekolah itu aku salute !!! Huebatt. Aku dulu wektu kerja di Brunei mengeluarkan lebih dari 20% penghasilan untuk anakku sekolah juga looh !. Jadi kalau ada gakin mengeluarkan 30% … aku masih kalah dengan semangat mereka. Aku yakin anak-anakknya jauuh akan lebih sukses dari bapak-ibunya.

  17. Berdasarkan tulisan Bapak, menurut saya ada dua masalah: yaitu pola pengeluaran penduduk untuk pendidikan dan Sekolah mahal/murah.

    Pertama, aspek pola pengeluaran kurang dari 5% untuk pendidikan sugguh menggambarkan persepsi “Kepelitan” atau rendahnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan saudara-saudara kita.

    Kedua, sekolah mahal atau murah. Persoalan mahal atau murah adalah persepsi antara harga yang harus dibayar dengan nilai jasa pendidikan. Disebut mahal ketika Harga yang dibayar lebih besar daripada nilai “jasa pendidikan” yang diterima, atau sebaliknya murah jika harga yang dibayar lebih rendah daripada nilai “jasa pendidikan” yang diterima. Harga itu sendiri umumnya ditentukan dengan memperhatikan biaya dan profit yang diinginkan (walaupun sekolah non profit).

    Menurut saya tulisan ini bagus untuk bahan intropeksi kita semua bahwa perlu lebih keras lagi membangun kesadaran dan persepsi yang rasional tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan anak negeri. Pengeluaran pedidikan bukan biaya tetapi invenstasi, karena manfaat atas pendidikan akan dinikmati dalam waktu yang panjang.

    Ayo Pendidikan Indonesia Bangkit!

  18. lho kok bingung, dari dulu sekolah itu memang murah, tergantung pola pikir pimpinannya, mau cari uang atau mau mendidik putra bangsa? saya pikir masih banyak yang BEASISWA FULL dr SWASTA baik di BAndung maupun di Jakarta seperti STIETN DI JAKARTA maupun YAYASAN DIMI DI BANDUNG dan Yayasan Duta Ilmu di Purwakarta MENYALURKAN BEASISWA UNTUK putra bangsa yang kena musibah atau Yatim Piatu, kalao perlu informasi lebih lanjut hubungi Bandung dan Purwakarta di 085220141414

  19. Saya setuju pakdhe.
    Yang jelas, kalau orang memang ingin memperoleh pendidikan, saya sangat yakin dia bisa memperolehnya kalau mau berusaha. Tengok saja orang2 disekeliling anda, pasti ada beberapa orang yang ortunya tidak mampu secara finansial tapi bisa menyelesaikan sarjana. 🙂

  20. Hmmmh….. 😀

  21. lagi lagi, kalau menurut HT, mereka pasti tidak setuju. bagi HT pendidikan mahal, dan itu salah pemerintah karena memeluk demokrasi. lha terus piye .. 😀

  22. Sekolah yang jadi kayak padhe biayanya berapa, dhe ?

  23. Pakdhe, menguntungkan sih iya, tapi apa ada jaminan dapet kerja ?

  24. Mas Mbilung,
    “Terjangkau” atau “terbeli” itu kira-kira khusus untuk bayar sekolah/ pendidikan berapa persen dari total belanja, ya ?
    Tapi apa ya dibawah 5% saja untuk masa depan …
    😛

  25. Nggak banyak komentar, SETUJU !

  26. Persoalannya mahal – murah atau terjangkau – tidak terjangkau pakdhe?

  27. Kampus murah tentunya tidak murahan karena ini merupakan suatu nilai prestise yang harus diperlihatkan oleh outputnya. Sesulit apapun kuliah hari ini yang katanya harganya sudah menjulang tinggi…………

    Jangan ragu dan pesimis karena Allah SWT akan membuat suatu nilai kesetimbangan. Disuatu sisi ada yang mahal maka di sisi yang lain juga ada yang memberikan kemudahan pendidikan seperti kampus pemberi beasiswa dan kampus pencetak wirausaha.

  28. Salah satu sekolah kejuruan yang murah yang dapat memberikan penghasilan dan devisa negara yang besar adalah sekolah kejuruan pembantu rumah tangga.

    Pembantu rumah tangga sangat dibutuhkan di dunia ini. Jika semua pria dan wanita ingin menjadi sarjana berkarir di luar rumah, lalu siapa yang akan menjadi pembantu di rumah?

    Banyak pembantu rumah tangga yang bekerja di luar negeri telah memberikan kesejahteraan bagi keluarganya walaupun dengan pendidikan seadanya.

    Mengingat kebutuhan pembantu yang sangat besar, terutama bagi kebutuhan keluarga kaya di dalam maupun di luar negeri, maka perlu didirikan sekolah pembantu rumah tangga untuk mencetak pembantu profesional yang berpenghasilan tinggi.

    Sekolah ini mengajarkan cara menggunakan dan memelihara alat-alat rumah tangga; mengasuh dan memandikan anak kecil; mencuci, memasak, menstrika; berkomunikasi, ilmu kepribadian, tatakrama sopan santun;

    Sekolahnya murah tapi lulusannya akan dibayar tinggi, tidak perlu menggunakan biro jasa penyalur tenaga kerja.

  29. ada data tentang anomali ROI dari investasi pendidikan ga pak dhe? 🙂

  30. Yang penting bukan mahal atau murah asal gratis 🙂

  31. ha3x,terakhir baca nih blog korelasi pendidikan dgn karir, pa’dhe lagi kesemsem ama ANOMALI, jangan2 tulisan berikutnya pake ANOMALI lagi.

    murah mahal mah atuh tergantung dengan isi kantong,ha3x
    punten,punten

  32. Pakdhe pernah bilang yang penting bukan murah atau mahal asalkan terbeli.

  33. Sekolah itu pasti ga ada yang gratis, pasti butuh biaya ya ga???

  34. Sekolah gratis Mas Agus ?…
    bener juga .. biar hapenya bisa dua …
    hahahahahaha 😀

  35. Iya lah dhe, anomali memang terjadi di mana-mana je…, lha wong katanya sekolah mahal tapi banyak juga anak sd yang mbawa HaPe…
    kalo sekolah dijadikan(dianggap) sebagai kebutuhan primer maka mungkin nggak terasa mahal
    tapi kalo sekolah digratisin (termasuk seragam n buku2nya) kan asik dhe… 🙂

  36. Pakdhe, anomali yang dibawah dianalisanya pakai apa dhe ?
    Mereka tetep memerlukan pertolongan kan ? tapi menolong atau menyumbang pakai dana diberi uang atau sistem pendidikannya yg diubah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: