Pendidikan atau Sekolahan yang baik


Ngomongin pendidikan ini selalu saja seru karena hidup selalu saja diisi dengan proses belajar. Ntah belajar itu sebagai bagian dari pendidikan formal disekolah maupun nonformal kursus, bisa juga informal di lingkungan sekitar. Karena ngomong-ngomong soal ini saja sudah merupakan sebagian dari proses belajar maka ndak salah kalau berturut-turut saya ngomongin pendidikan, kan.

Secara mudah saja pendidikan paling tidak ada tiga jenis, pendidikan formal di sekolah, non formal di tempat kursus dan pendidikan informal oleh lingkungan. Menilai bagus tidaknya pendidikan sering dilakukan untuk pendidikan formal, karena lebih mudah diukur. Tentunya banyak sekali ranking-ranking sekolahan, ranking universitas di dalan negeri Indonesia, Asia maupun di dunia. Dan yang paling sering terdengar adalah ternyata pendidikan di Indonesia ini selalu menjadi bulan-bulanan ketika rankingnya dibawah. Ah kenapa sih ?

Feedback Procces (siklus pendidikan)Kali ini aku tidak meranking sekolah maupun universitas atau negara. Tetapi aku hanya sedikit ndongeng bagaimana kalau pendidikan dilihat sebagai bagian dari proses produksi sebuah pabrik. Lah wong iki cuman dongeng satai wae ta ?

😦 “Pakdhe, memangnya sekolahan itu pabrik nopo ?
😀 “Yo ben gampang crito, dianggep wae sekolahan itu pabrik pesawat terbang. Murid-te dianggap saja bahan-bahan baku termasuk karet, logam, kayu dengan berbagai kualitas 😛 “

Pendidikan formal barangkali untuk lebih mudahnya bisa diibaratkan sebuah mesin produksi. Sekolahan merupakan sebuah mesin produksi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan daya jual sebuah produk. Daya jual ini dapat diibaratkan sebagai sebuah prestasi. Sehingga pendidikan atau sekolah harus memberikan added value atau harga tambahan yang paling banyak.

pendidikan-1.jpgKalau melihat bagaimana bahan dasar dan hasil akhirnya mungkin dapat digambarkan beberapa tipe atau polanya.

Sekolahan tipe 1 (nelongso)

Sekolah ini memang rada nelongso. Inputan atau bahan dasarnya bukanlah barang bagus yang KW-1. Makanya kondisi awalnya rendah. Tentunya mendidik atau meningkatkan mutu dan harga jualnya juga tidak mudah. Sebuah negara berkembang tentunya manusia atau murid-muridnya pada waktu awal masunya juga relatif … sekali lagi relatif rendah dari murid negara maju.

Dengan demikian tentunya kemajuannya akan memulai sudut yang landai, selama masa pendidikan hanya meningkatkan sedikit saja prestasi. Jargon proses (komputer) paling nyebeli di dunia “garbage in – garbage out” sulit sekali dilawan. Mungkin saja hanya untuk mesin bukan untuk manusia. Tapi lah sampek kita nangis ngguguk hukum alam ini mau ngga mau, harus mau, diterima 😦 .

Sekolah tipe-1 ini merupakan sekolah yang patut dibantu, tentusaja meningkatkan mutu individu manusia ini menjadi mahal. Kalau sambil mengusung HAM maka mereka yang bodo-pun memiliki hak yang sama looh dalam memperoleh pendidikan.

Sekolahan tipe 2 (ideal)

popumap_findland2002Ini sekolahan paling enak sakjane, dan biasanya termasuk sekolah favorit juga kalau di Indonesia. Sekolah ini mensyaratkan murid pinter untuk masuk. Itulah sebabnya sekolah jenis ini akan menyaring murid-murid yang sudah memiliki NEM tinggi, dan nantinya akan memperoleh murid-murid yang “mudah” dididik dan ditambah kemampuan (prestasinya). Sekolah ini juga memerlukan guru yang juga pinter. Sehingga murid dapat dibuat maju disesuaikan dengan kemampuannya.

Kalau mau iseng-iseng, barangkali sekolahan di negara-negara maju sering masuk dalam kelompok ini. Finlandia yang merupakan negara dengan pendidikan terbaik didunia menurut Pak SatriaDarma, kawanku di mailist pendidikan cfbe, artikelnya yang kuperoleh di Lamunannya Zuki.

Di negara pembuat ponsel Nokia yang terlaris ini, menurut Pak Satria Dharma, kuncinya ada pada guru-guru mereka,

Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.

Tanpa mengecilkan arti kehebatan Finlandia ini kita harus jeli melihatnya. Finlandia yang berpenduduk hanya 5.3 juta ini merupakan negara dengan kepadatan tertinggi di ibukotanya hanya 3 ribu orang /Km2. Bandingkan dengan Indonesia yang 230 juta dengan separoh lebih ada di Jawa. Tingkat kepadatan di Jakarta saja saat ini rata-rata sekitar 13 ribu orang per KM2.

Tetapi apakah iya guru Finlandia hebat ? Bagaimana tingkat kesulitan gurunya ? Lah hampir semua negara maju memiliki bahan dasar yang KW-1. Makanya kalau diproses juga akan menghasilkan KW-1 juga. Skali lagi bukan berarti saya ngga percaya sama Pak Satriadarma bahwa disana bagus looh. Hanya aku pingin tahu kenapa disana kok bagus… syapa tahu bisa dicontoh, itu saja.

Jadi memang tingkat kesulitan si guru juga menentukan nilai tambah dari bahan dasar serta lingkungan, juga fasilitas sekolah tentusaja. namun yang perlu diperhatikan antara pentingnya guru dan proses belajar yang tergambar diatas bahwa proses belajar mengajar itu sebuah siklus, maka peran guru menjadi penting. Siapa yang menjadi guru, apakah yang juga harus muris yang terbaik sebelumnya ?

pendidikan-2.jpg Sekolahan tipe 3

Wah ini sekolah paling hebat menurut aku. Sekolah ini atau negara yang bisa membuat grafik seperti tipe 3 inilah negara hebat atau sekolah hebat. Dengan bahan dasar yang kurang bagus. Mungkin KW3 atau bahkan bahan kain perca bisa membuat jaket anget dengan kualitas eksport. Lah masalahe, ada ngga ya, atau bisa ngga ya ?

😦 “Hallaah, Pakdhe mau ngukir langit juga membuat sekolah tipe 3″

Tentunya negara yang memiliki sekolahan-sekolahan tipe ini akan sangat cepat maju. Malaysia dahulu justru dibelakang Indonesia, namun sekarang sudah mendahului Indonesia dari sisi ekonominya. Apakah pendidikannya juga lebih maju ? Tentunya tidak mudah menjawabnya. Kalau dari sisi pemerataan pendidikan memang barangkali memang benar. Negara berpendudk hanya sepersepuluh Indonesia ini lebih merata pendidikannya. Tetapi pengambil kebijakan serta pejabat yang top-top saat ini adalah mereka-mereka yang dahulu kuliahnya di negara-negara lain, bukan universitas lulusan lokal. Bahkan hingga saat inipun sejak SMU (secondary) banyak orang lokal Malaysia ini belajar ke London, Australia dll. Bahkan Petronas mengakui para lulusan Indonesia cukup bagus, lah wong beberapa pejabat Petronas itu lulusan ITB dan juga Akamigas Cepu…. wis ben (Pertamina) sedikit bangga punya murid (Petronas) yang pinter.

pendidikan-3.jpg

Sekolahan tipe 4 (favorit) dan 5

Sekolah tipe 4 dan 5 ini memberikan hasil yang merata untuk semua muridnya. Mboh ada apa tidak tetapi sepertinya memang peranan guru akan sangat menentukan seperti yang ditulis Pak Satria Dharma. Bisa jadi sekolah tipe 5 ini sangat ditentukan oleh guru yangpandai mengajar satu kelas dengan 50 murid. Sehingga ke 50 murid yang beragam akan memiliki kemajuan yang seragam.

Sekolah tipe 4 ini seperti sekolah favorit juga di Indonesia yang memberikan bahan ajar yang sama untuk masing-masing anak. Perbedaan sekolahan tipe 4 dan tipe 2 diatas adalah keberagaman hasil. Sekolahan tipe 2 yang dapat memberikan kemajuan optimal masing-masing anak ini tentunya akan sangat bagus apabila ada anak yang ekstra ordinary. Masing-masing anak akan diberi pelajaran sesuai kemampuan daya serapnya dan hasilnya akan optimum untuk masing2 anak didik. Sekolah IKIP biasanya memiliki jenis sekolah dengan tipe 2 diatas, dimana ada anak yang masuk kelas aksel (akselerasi). Sekolahan anaku yang kebetulan mengikuti sekolah internasional (British Curricullum) juga memiliki grade tingkat kesulitan yang berbeda-beda untuk masing-masing anak dalam satu kelas.

Sekolah tipe 6

pendidikan-4.jpg

Ini mungkin tipe sekolah yang secara general dijumpai. Kemajuan masing-masing anak didik sangat tergantung dari awalnya. Barangkali pak gurunya ngga repot kalau targetnya seperti ini. Si murid pinter yang biasanya rajin akan juga mendapatkan hasil lebih ketimbang murid kurang pandai dan mungkin juga malas. tetapi memiliki sekolah yang bisa menerima berbagai ragam murid bukanlah pekerjaan ringan. Keberagaman kadang lebih banyak memerlukan tenaga, waktu, biaya serta pikiran.

Pendidikan atau sekolahan yang bagus yang bagaimana ?.

Kedudukan dan tingkat prestasi seseorang tentu saja merupakan hasil gabungan dua hal utama yaitu dari sononya dan proses belajarnya. Sekolah tipe 2 dan 4 tentunya hanya bagus untuk anak pinter. Yang sakjane sekolahan tipe 2 dan 4 ini hanya menjadi fasilitator saja. Anak-anak didiknya memang sudah kelas KW-1 dari awalnya. Kalau ditanya sekolah (pendidikan) mana yang paling bagus ? Sekolah yang menjadikan orang bodo menjadi pinter atau sekolahan mengoptimumkan orang pinter utk lebih pinter lagi.

Aku ngga tahu, mana yang paling bagus terserah anda saja, mana yang mau dilihat bagus mana yang kurang bagus. Tetapi kalau ini memang bener bahwa wong pinter lebih mudah dididik/dikembangkan, jelas ini menunjukkan bahwa menjadi guru di negara-negara berkembang itu tidak semudah yang dinegara maju, karena jumlah anak pinter di negara berkembang itu relatif sedikit.

Kalau dengan melihat tingkat kesulitannya maka guru-guru serta dosen kita di Indonesia ini memang benar-benar pahlawan yang tidak kalah dengan guru-guru di negara-negara maju sana. Apalagi kalau dilihat dari tingkat kesulitannya maka guru-guru Indonesia ini ibarat pemain golep seperti Tiger Woods yang harus mampu memasukkan bola dalam situasi sangat sulit.

“Sugeng siang pak guru !”

29 Tanggapan

  1. Seklah sekarang ketimbang mendidik lebih seperti filter saja. yang baik dididik, yang jelek dibuang.

  2. Artikelnya sangat edukatif, Semoga dimasa mendatang, Indonesia lebih didominasi orang pinter daripada orang bodo, tapi bukan yang minteri orang bodo lho ya hehehe

  3. Tenan ki, pak dhe. Selain aku connect bgt sama tulisan njenengan, aku diingetin kosa kata “nangis mgguguk” masih senonoh dipake hehe.Bravo pak dhe, mugo-mugo makin bnyk org yg komit (dudu komit hc andersen!) sama dunia sekolah, dunia pembelajaran sepanjang hayat.Nuwun.

  4. WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH Hebat ya aku juga ingin bisa ndongeng kayak pak ini. kayaknya aku bisa dech tapi……………. tolong dong diajari cara ndongeng yang bagus terima kasih. eh iya pendidikan sekarang kayaknya udah nggak mutu lagi karena apa-apa diukur dengan uang. kalau kayak gini caranya kapan indonesia maju?????????????????? masak gelar aja bisa dibeli. kalau begitu gak ada gunanya dong kita belajar betahun-tahun kalau hanya orang yang kaya saja yang mudah mendapatkan gelar yang tinggi.

  5. Duit = sekolah
    gak ada duit = gak sekolah
    duit lancar = sekolah bagus
    Guru demo = murid terlantar
    sekolah negeri = sekolah swasta

    di indonesia pendidikan sekolah di ukur dengan duit.

  6. hai

  7. wah pendidikan atau sekolah, atau yang diperbaiki sekolah pendidikannya.
    tapi kalau gaji guru di masukan ke anggaran pendidikan apakah itu adil, karena yang harus dikejar adalah masyarakat yang cerdas bukan sekolahan yang mahal.
    kalau proses didunia pendidikan bagus ya insyaalloh SDMnya bagus, tapi kalau dunia pendidikan di bekali dengan angka dolar, rupiah, dsb, maka akan menjadi tukang hitung pemasukan.

    bukan begitu pakde
    salam
    zuni

  8. Sebutan Sekolah Unggulan di Indonesia diberikan kepada suatu lembaga pendidikan bukan karena proses pendidikannya yang baik, tetapi sekolah yang mampu menampung calon siswa (input) dengan kualitas di atas rata-rata. Sudah pasti jika inputnya bagus sekolah akan menelurkan lulusan (output) yang bagus.
    Saat ini adakah sekolah unggulan yang menampung siswa yang kemampuannya pas-pas an kemudian “diproses” sehingga menjadi siswa dengan segudang prestasi??????????????

  9. Memang guru adalah kaumyang acapkali terlupakan , gak di Indonesia, Amerika atau sampai ke ujung Liberia.. namun demikian semangat mereka harus diacungi 2 jempol.. semoga kita-kita bisa tau berterimakasih dan mampu memperjuangkan mereka juga saat jadi pejabat nanti. 🙂

    Seneng dah bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat..

  10. Susahnya sekolahan jaman sekarang ini banyak yang hanya mengejar prestasi saja dan jeleknya lagi para orang tua walaupun mngeluarkan biaya berapapun seperti tersihir untuk memasukkan anak-anaknya kesekolahan yang berprestasi sekolahan tipe 3 & 4. Jadi mereka hanya dijejeli oleh ilmu tok. Beda dengan sekolahan jaman dulu walau cuma tipe 1 & 2, para gurunya benar-benar bisa digugu dan ditiru, jadi kalau di pabrik finishing toughtnya apik gitulah kira-kiranya

  11. Mas Iman, Mendidik itu berarti “mengatur” atau “membiarkan berkembang” ?. Kalau anda menganggap mendidik itu mengatur barangkali mendidik orang pinter itu sulit. Tapi kalau mendidik itu mengembangkan, maka mendidik wong printer itu lebih mudah.
    iya ndak ? aku pikir pemikiran pak dhe mendidik itu mengembangkan lebih cocok secara general.

  12. Ia, Pak Dhe.
    Saya pikir juga ada faktor kejenuhan, klimaks dan sejenisnya. Ini saya pernah saya alami sendiri, dari try out, Ujian Sekolah, EBTA, EBTANAS, hingga tes masuk PT. Saya sendiri “memasang ” klimaks pada moment yang saya anggap penting saja.

    In process (kalau memang proses pembelajaran dan pendidikan bagus) dari TK hingga hidup bermasyarakat, pada akhirnya kita akan menemukan mana yang bener-bener “EMAS” mana yang “sepuhan”.

    Kata orang-orang tua: Don’t judge the book from its cover. Tapi juga katanya Air cucuran Atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

    Hidup bak kertas putih, dalam perjalanan banyak orat-oret, baik oleh kita sendiri atau yang lain. Semoga ketika sampai pada akhir dapat menjadi lembaran wasiat yang berharga.

    Blogg yang sangat mencerahkan, Pak Dhe. Sukses.

  13. Kang NofieIman, salam kenal juga trims komentarnya
    Memang kalau kita berkonsentrasi pada nilai-nilai yang hanya 10-5% diatas memang akan memunculkan anomali-anomali yg kadang mencengangkan. Dan yang lebih mencengangkan saya adalah, “perkembangan dunia” ini cukup banyak dipengaruhi atau dikontrol oleh anomali-anomali. Tulisan saya sebelum ini banyak berbicara soal argumentasi anomali ini, ketimbang argumentasi modus atau median.
    Sekali kita yakin bahwa diri kita masuk kategori anomali di dalam populasi lingkungan kita, maka saya yakin kita bisa mempengaruhi lingkungan kita. Tentusaja tidak dalam semua domain kita ini memiliki anomalinya, hanya domain-domain tertentu saja kita ini merupakan anomali ….mungkin analogi dalam bahasa populer adalah BAKAT. Kita mungkin masuk anomali dan pinter musik, tetapi domain lainnya biasa saja dalam matematika, olahraga, dan sosial.
    Barangkali saja, itulah yang disebut leader (atau trend setter, atau pendahulu dsb). Dan mungkin saja jumlahnya hanya 5-10% dari total populasi.

  14. Kang Wilo, trims infonya.
    Menanggapi tulisan di Kompas itu, yang menyatakan bahwa hanya 20% saja yang cocok atau sesuai dengan HUN atau NEM. Maka, saya rasa sekolahan yang mau bertindak adil akan melaksanakan test dengan porsi pemberatan sebesar (80% hasil test) + (20% hasil HUN atau NEM).
    Kita tidak adil apabila serta merta menyatakan NEM itu 100% buruk dan tidak berguna, kan ?

  15. Saya agak kurang setuju kalau wong pinter lebih mudah dididik; kebanyakan wong pinter justru lebih susah diatur. Di sekitar saya, saya amati orang-orang yang berhasil justru bukan orang yang pinter (95%>), melainkan orang-orang di lapis kedua (75%-90%).

    Kenapa demikian? Saya juga kurang tahu. Barangkali karena lapis pertama merasa dirinya sempurna sehingga malah cenderung egois, merasa mampu, sulit bekerja sama, dsb. Sementara lapis kedua cenderung lebih terbuka, proaktif, dan mudah diajak bekerja sama; karena menyadari bahwa dirinya tidaklah hebat.

    Lucunya, orang-orang yang sukses tersebut, saya amati justru bukan berasal dari sekolah prestisius/bonafit. Biasanya mereka malah berasal dari sekolah lapis kedua. Memang ada beberapa yang jebolan sekolah bagus, namun prestasi akademisnya juga ada di lapis kedua, bukan para juara.

    Anyway, tulisan njenengan bagus. Salam kenal, pakdhe. 🙂

  16. Maaf, numpang thread + crspostng 🙂 tks.
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/11/humaniora/3678070.htm
    SMA Unggulan Bercuriga

  17. Salam kenal…(Indonesia)
    Numpang promosi nih!
    Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
    Main ke blog kampusku – Makasih ya!

  18. Pendidikan yang bagus menghasilkan manusia seperti Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini dan Bung Hatta.

    Sekolahan yang bagus menghasilkan manusia gila seperti Soekarno, BJ.Habibie, George Soros, Lee Kwan Yue.

    Biasanya sekolah bagus diisi oleh anak bodoh yang dipaksa memaksimalkan fungsi otaknya diluar daya serap yang seharusnya.
    Dan sekarang ini, sekolah telah berubah menjadi lahan bisnis. Mimpi pendidikan gratis tidak akan pernah terjadi.
    Karena Kepala Sekolah, Guru dan segala gugusnya telah berubah menjadi makhluk munafik yang merendahkan pengabdian dibawah kekayaan material.

    Saya sudah melihat Kepala Sekolah yang diberi makan uang belasan Juta Rupiah! dari potongan buku murah untuk siswa dan Guru-guru yang saling berebut jatah buku, SPP, dsb.

    IKIP harus dibubarkan, mereka tidak mendidik guru tapi mendidik “tukang jajan”.

    “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa tak seperti pak polisi, tapi guru juga manusia seperti polisi yang sama-sama butuh DUIT!”

    Pheonix,-tidak ada pahlawan yang kaya.
    Politik, Bisnis, Birokrasi, Mafia dan Darah.
    http://phoenixblood.wordpress.com/

  19. Pak Rovicky,
    konon, kalo di jepun saat anak mau masuk sekolah, pihak sekolah menanyakan ke ortu-nya: si anak punya bakat apa, atau si anak punya kekurangan di bidang apa

    sebaliknya di bumi pertiwi,
    pihak sekolah akan menyodorkan sejumlah “tagihan” yg bakal bikin puyeng ortu.. uang gedung-lah, uang seragam-lah, de el el..

    Gimana nih Pak?

    Terima kasih,
    adi.n

  20. aku mau pendididikan yang baik!

  21. […] Pendidikan atau Sekolahan yang Baik […]

  22. Sekolahan yang (dianggap) baek saat ini :

    Siswanya Ganteng-ganteng,
    Siswinya Seksi-seksi,
    Orang tuanya kaya-kaya,
    SPP-nya mahal-mahal,
    Bazarnya meriah banget.

    Betul???

    also visit my blog :
    http://suarapelajarindonesia.wordpress.com/

  23. Salam kenal kembali buat semua,

    Mana yang baik menjadikan anak sesuai yang diinginkan atau menjadikan anak yang terbaik sesuai dengan bakat yg dimilikinya ?

    Pak Dedi membuka dengan memeperbolehkan anak memilih menjadi pemain sepak bola karena minta atau sesuai keinginan. Tapi kadang ortu atau guru mengerti bakat seorang anak yang mungkin bukan yang diinginkannya. Idealnya sih bakat dan keinginan sama. Tapi kalau tidak sama, bagaimana ? Keinginan jadi pemain musik, padahal disekolah matematikanya bagus banget ….

    Jadi sebaiknya membebaskan anak (didik) memilih atau mengarahkan sesuai bakat yg dimiliki ?

  24. Artikelnya sangat edukatif banget. Moga -moga dimasa mendatang, dunia lebih didominasi orang pinter daripada orang bodo. Kalo sekarang didominasi orang apa, yaa ? Salam kenal, dech.

  25. Pabrik berlian yang baik adalah yang mengolah batu intan menjadi perhiasan berkualitas tinggi. Pabrik tapioka yang baik adalah yang mengolah singkong menjadi tepung berkualitas baik.

    Sekolah yang baik adalah sekolah yang mendidik dan mengajar siswa sesuai dengan minat dan bakatnya.

    Pabrik berlian yang buruk adalah pabrik yang mengolah batu andesit menjadi perhiasan berlian (berlian palsu).
    Pabrik tapioka yang buruk adalah pabrik yang mengolah ubi gadung menjadi tepung tapioka (tapioka palsu).

    Sekolah yang buruk adalah yang mendidik siswa tidak sesuai dengan minat dan bakatnya (lulusan yang buruk).

    Jika anak ingin dan berbakat menjadi pemain sepak bola, jangan paksakan ia menjadi insinyur. Lebih baik menjadi pemain sepak bola terkenal nomer wahid daripada menjadi insinyur yang biasa-biasa saja.

  26. kalo ada sekolah orang bodo tambah bodo gimana ya?

  27. pendidkan atau sekolah yang bagus yang mana?
    yang bisa ngerubah orang bodoh jadi pandai, yang kosong melompomg jadi berilmu, yang bandel jadi berakhlak.

  28. Salam kenal,

    Di Indonesia pendidikan bagus itu masih diukur dengan perolehan nilai akhir, pendidikan yang bagus itu diukur oleh orang pinter yang belajarnyanya di sekolah serba lengkap, dan sekolah yang bagus itu sekolah yang menerima orang-orang pinter dengan fasilitas yang memedai. Kalu kita lihat mungkin ada baiknya sekolah yang baik adalah sekolah yang memberikan pendidikan baik. Adanya proses yang baik. Kalau sekolh diibaratkan prabarik, maka ada pabrik yang baik adalah pabrik yang mengolah bahan kurang bermutu menjadi berkualitas baik/harga jualnya lebih baik. Contoh ubi jalar ketika dimasak langsung maka tidak begitu berharga, tetapi ketika ubi jalar dibuat adonan tepung untuk bahan makanan, maka nilai jualnya bagus, sehingga pabrik itu baik. Begitu sekolah, sekolah yang baik adalah (menurut saya) sekolah menyelenggarakan proses pendidikan yang baik, mengolah pola kehidupan masyarakat yang konsumtif, menjadi produktif, atau menjadikan lulusannya mandiri.
    😀

  29. Sak estu Om,
    saya ngga mudeng apakah kondisi di Indonesia saat ini sudah sedemikian susah mencari orang yang pinter buat matrikulasi/program pendidikan yang ber-platform kompetensi ?? jan mumet tenan… soalnya anak saya besok sudah mau magang di playgroup dan 10 tahun ke depan harus sudah punya pegangan ilmu yang berguna untuk hidupnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: