Gempa di Patahan Lembang Akan Merusak Bosscha


earthquake.jpgGempa Sesar Lembang ?

Whaddduh bikin kaget saja !!! Ini cuman berhandai-handai saja, kok. Tetapi sesar lembang ini beberapa minggu lalu sempat diributkan karena sesar ini kebetulan melewati Kota Bandung. Dan salah seorang rekan pendongeng PakLik Ma’rufin yang suka bermain dengan teropongnya pingin tahu efek gempa bila … hanya apabila looh … sesar Lembang ini bergetar. PakLik Ma’rufin ngeman-eman peneropongan bintang Bosscha yg kebetulan dilewati sesar Lembang. Beliau membandingkan patahan lembang dengan Patahan Opak.

Nah apa dongengan PakLik ini.

– 😦 “PakDhe, Lik Marufin dulu sekolahe nopo sih ?”
+ 😀 “Dia dulu sekolah di Fakultas Mipa di UGM”
– 😦 “wooo … japemethe ya, dhe?”

Lembang Bercinta, Bosscha (Semoga Tidak) Menangis

Dongengan PakLik Ma’rufin

– 😦 “Waaah Paklik ini dumeh mau nikah trus judule soal cinta-cintaan”

peta-bandung-dan-sekitarnya.jpgDisamping kiri ini terlihat citra satelit Bandung dan sekitarnya serta penampang melintang geologi setempat. Citra satelit diambil dari Wikimapia, jadi maaf kalo ada kotak-kotak putihnya, sementara penampang geologi mengutip van Bemmelen dari opus magnum-nya : The Geology of Indonesia (1949, cetak ulang 1970).

Bisa dilihat Observatorium Bosscha itu berdiri di atas Lembang faultline. Patahan ini sudah diselidiki sejak masa Neuman van Padang (1929), juga van Bemmelen (1940-an), jadi sejak awal Bosscha berdiri ya sudah diketahui adanya patahan ini. Namun seismisitasnya nampaknya baru diteliti sejak masa Prof. Tjia (tahun 1960-an), pakar geologi yang kini bermukim di Malaysia.

Bagaimana batuannya? Permukaan zona Bandung (termasuk kota Bandung dan Lembang) disusun oleh sedimen vulkanik produk erupsi gunung Sunda di utara dan gunung Malabar di selatan. Umur sedimen ini masih sangat muda (dalam skala waktu geologi), yakni sekitar 150 ribu tahun sehingga belum sepenuhnya terpadatkan. Untuk kota Bandung, di atas sedimen vulkanik ini diendapkan sedimen dasar danau yang juga sama-sama
belum terpadatkan.

gelombang dan kerusakan– 😀 “Disebelah ini profil gempa Jogja tole. Kowe wis baca, kan?”

Jika dikenai gelombang gempa, sedimen belum terpadatkan ini menyerap energi gempa lebih besar (dibanding sedimen padat) sehingga guncangan yang muncul di permukaannya akan lebih besar. Gempa Yogya memberikan contoh baik tentang hal ini, dimana meski berada pada rentang jarak yang sama dari episentrum, kerusakan di daratan Bantul (yang berdiri di atas sedimen vulkanik lepas belum terpadatkan produk erupsi Merapi) sungguh luar biasa bila dibandingkan dengan kerusakan di Gunung Kidul (yang berdiri di atas batu gamping Wonosari berumur Miosen tengah /15 juta tahun yang sudah sangat padat).

– 😦 “Aku yo ngerti aku dah baca uraian Pakdhe disini dulu itu kaan ?”

landslide-fault-at-ygy.jpgDalam kejadian gempa Yogya juga muncul titik2 longsor terutama pada tebing/gawir horst patahan Opak. Titik-titik longsor ini membentang dari Parangtritis
hingga Prambanan. Pola seperti ini juga muncul saat Gempa Solok 6 Maret 2007 lalu, dimana titik-titik longsor menjangkau Ngarai Sianok meski episentrum
gempanya ada di dekat Danau Singkarak. Mengapa terjadi longsoran? Ini disebabkan oleh kombinasi guncangan besar dan gerak geser di sepanjang patahan ketika gempa terjadi, sehingga tebing-tebing yang curam (kemiringan lebih dari 30 derajat) kehilangan daya ikatnya dan rontok.

Maka, potensi kerusakan yang mungkin muncul di sepanjang horst patahan Lembang jika kelak Gempa Lembang terjadi adalah longsoran-longsoran seperti
ini. Bagaimana dengan horst di lokasi Observatorium Bosscha? Kalo dilihat dari aerial photo-nya horst di tempat itu tergolong landai sehingga potensi timbulnya longsoran akibat gempa menjadi lebih kecil, meski tidak bisa diabaikan sama sekali.

Sehingga, ancaman terhadap Observatorium Bosscha akibat gempa “worst case scenario” dengan moment magnitude 6,5 Mw dan Richter magnitude sekitar 6,0 skala Richter, selain potensi runtuhnya kubah teleskop juga longsornya kompleks observatorium secara keseluruhan.

Ah, kedengarannya begitu pesimistik. Sebenarnya tidak begitu koq. Kita disini bicara tentang kemungkinan yang muncul jika “worst case scenario” terjadi. Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk ‘menyelamatkan‘ Bosscha dan saya rasa hal ini juga telah dipikirkan mereka2 di Geofisika ITB yang masih ‘seinduk’ dengan Bosscha. Namun itu menyusul saja, biar tulisan ini tak terlalu panjang.

– 😦 “Wadduh PakLik Ma’rufin ojok kesuwen nulisnya. Bikin penasaran aja. Tapi dhe apa iya patahan ini bisa bikin gempa”
– 😀 “bisa iya bisa tidak, karena tidak semua patahan menyebabkan gempa”

23 Tanggapan

  1. sebagai warga lembang mudah-mudahan worst case gak terjadi ,,,karna saya yakin masyarakat disini belum pada tahu adanya patahan lembang ,,dan dari pemda nya mudah2an bisa memberikan penerangan juga antisipasi dan solusi kalo terjadi harus bagaimana

  2. …bisa nambah wawasan n makin waspada dari bencana alam neh… 🙂
    om minta data gempa n tsunami berikut siklus ama sejarahnya daerah jakarta n kebumen dong…
    nb:…minta data penurunan permukaan tanah jakarta berikut daerahnya….. ok brooooo.. ta enteni info ne..

  3. Saya sering tanya langsung ke masyarakat di Lembang,banyak yang tidak tahu,bahkan pemuka masyarakat disana belum dilengkapi info yg jelas tentang bahaya dan bagaimana cara menghadapi.Tidak ada papan atau petunjuk area patahan,tidak ada petunjuk arah evakuasi seperti yg ada di Yogyakarta,apa peranan Pemda sejauh ini?Perlu adanya bantuan teknis praktis bagi masyarakat untuk membuat bangunan tahan gempa yang disosialisasikan dengan baik,dan bagaimana cara perkuatan jika bangunan yg telah dibangun,belum memenuhi persyaratan tahan gempa.

  4. Dibalik pesona lembang nan eksotis tersimpan brjuta sciens yg perlu d lukis. Matrnwn mas infonya, mg2 blognya brmanfaat

  5. mohon diinfo lebih lanjut mengenai perkembangan patahan ini karena saya tinggal di lembang….(belum siap mati euy….msh banyak dosa..hehe)

  6. Masih on line mas vicky?
    Saya teh jadi penasaran dengan sesar lembang… Tulisan di atas dibuat tahun 2007, sekarang th 2009..ada data penelitian terbaru ngak mas ttg sesar lembang ini?
    Ditunggu kelanjutan tulisannya ya…Makasih…

  7. Lokasi Teropong Bosscha seberapa jauh dari kampus ITB ? Kira-kira 3-4 km ? Jadi kampus ITB cukup aman seandainya terjadi gempa di sesar Lembang. Apa betul pendapat demikian itu ?

  8. artikelnya bagus sekali

  9. saya dengar dari dosen planologi saya,,ktanya klo patahan lembang ini terjadii,,maka dari lembang sampai daerah tubagus ismail aakan ambles kebawah? dan diperkirakan gempa yang terjadi juga lebih dahsyat dari gempa tsunami yang ada di aceh..gimanaa tuh?mohon dijelaskan kembali.thnks

  10. Bandung is very beautiful city becouse i live in Bandung city. pokoknya Bandung hebatlah……..

  11. pakdhe..
    aku dapat tugas neh..hubungan momen kelembaman sama geologi itu apa c??
    muUph mlengser dari topick neh…
    matur nuwun…….

  12. eiii .

    doakan ajj lembang bakalan baik” ajj ea .

    aku idup di lembang nii …

  13. Hello, Pak dhe,
    baru gabung nih. Selamat ya, blog nya oke banget lho.Saya housewife tapi background saya geologi.8 tahun tidak menyentuh geologi, setelah baca blog sampeyan, jadi kangen lagi nih sama earth science.Btw, darimana sih pak dhe bisa dapet gambar yg bagus-bagus? Boleh gak saya dwnload beberapa gambar dan ditaruh di blog saya?
    thanx a lot

    –> Silahkan saja diambilin dikopi atau link saja gambarnya juga boleh. Asal punyaku jangan didelete 😛

  14. mas viky..numpang nanya neeh..punya data2 gempa di bandung gak? trus kalo kita mo itung berapa PGA di suatu tempat dengan jarak tertentu carana gimana mas? maturnuwun..

  15. gempa lagi…gempa lagi… kalo sampe bandung kenan,… duh kumaha oeih!!!

  16. Sesuk ditiliki wae pakdhe. Sido ke Bandung kan?

  17. Wah ini dia artikel yang ditunggu-tunggu pakdhe, kalau ada sekuelnya mohon segera dilaunching 🙂
    Terima kasih juga untuk ompapang atas pelajaran bahasa jawa-nya.

  18. aphiiik…. phakde… pe;ajaran boso jowoneee..
    gitu tho ternyata hwe.. hee…

  19. salah!!! yang bener MA-TA-MU, heheh

  20. Mas Bogar, nyimpang dari topik, japemethe itu artinya teman sendiri. Asal usul kata dari bocahe dewe menjadi cahe dewe yang dalam bahasa walikan huruf Jawa (konsonan) cahe dewe diurai menjadi ca-he-de-we. Karena bahasa walikan disusun dengan cara saling tukar tempat, baris pertama : ha-na-ca-ra-ka bertukar tempat dengan pa-dha -ja -ya-nya, maka ca-menjadi ja dan ha menjadi pa atau he menjadi pe. Jadi CA-HE menjadi JA-PE.
    Kemudian baris kedua : da- ta-sa-wa-la bertukar tempat dengan baris ke 4,yaitu ma-ga-ba-tha-nga. Jadi da menjadi ma atau de menjadi me sedangkan wa menjadi tha atau we menjadi the. Jadi DE-WE menjadi ME-THE.Kalau digabung CAHEDEWE menjadi JAPEMETHE.(ctt: sebetulnya yang bener menurut ucapan CAHEDHEWE= JAPENETHE, tetapi lidah Jawa suka salah ucap huruf N dan M, misal KOWILHAN menjadi KOWILHAM dsb)
    Btw, kalau menyebut “Mas” menjadi “Dab”,misal Mas Bogar menjadi Dab Bogar. Di Jogya ada suvenir terkenal berupa kaos oblong bermerk DAGADU dengan logo MATA + ALIS, dengan rumus diatas silahkan nebak apa artinya !

  21. Japemethe itu apa sih ?

  22. Dhe rovick, emang ada data gempa-gempa masa lalu di Lembang ini dhe ? Kapan terakhirnya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: