Villa Puncak – Takut Rumah Pejabat Atau Takut Hujan Abnormal ?



Sumber Tempo

Tempo Edisi Mei 2007

Laporan Tempo(Edisi. 13/XXXIIIIII/21 – 27 Mei 2007) soal rumah-rumah pejabat di Puncak mungkin banyak makna non teknisnya tetapi akhir dari ulasan Tempo ini yang lebih menarik perhatian saya.

Jakarta 2013. Profesor The Houw Liong, ahli cuaca pada Departemen Fisika ITB, menengarai pada tahun itu Jakarta bisa direndam bah hebat. Saat itu panas matahari berada pada puncaknya, mengikuti siklus 11 tahunan. Jadi, matahari akan mengantarkan lebih banyak air laut ke atas kawasan Puncak.

– 😦 “PakDhe, Prof The Houw Liong sudah mengungkapkan jurus ramalan ilmiahnya neeh ?”

Prof The How Liong selanjutnya mengungkapkan :

Hujan di kawasan Puncak pun lebih lebat dari biasanya. Perlu tanah yang lebih luas agar air itu tak banyak tumpah ke Ciliwung. Jika tidak, ujar The pada awal tahun, ”Bisa terjadi banjir besar seperti pada 2002, bahkan bisa lebih hebat.” Apakah ”orang-orang Citamiang” masih perlu disebut pada 2013?

OK bagaimana rumah mewah di Puncak ?

Soal rumah/villa mewah itu bukan berarti tidak ada masalah, namun yang saya perkirakan bukanlah penyebab utama banjir di Jakarta. Malah yang mengkhawatirkan dengan rumah ini adanya kemungkinan akan terjadi longsor di lokasi itu. Hal ini karena beban tanahnya yang sudah terlalu beratt. Nah, kalau yang longsor rumah itu sendiri ya itu sih salahe dewe, kaan ? Tapi kalau menimpa bangunan dibawahnya juga …. wiiis jian emang daerah itu harus ditata ulang.

OK deh kembali ke LAPTOP soal curah hujan dan kemungkinan mekanisme banjir Jakarta.

Kalau belajar dari dua kali banjir di Jakarta tahun 2002 dan tahun 2007 lalu, penyebabnya lebih banyak diakibatkan oleh curah hujan yang abnormal sangat tinggi. Tetapi memang abnormalnya curah hujan ini bisa jadi bukan penyebab utama seandainya penataan air di Jakarta sudah memperkirakan kemungkinan curah hujan sebesar itu. Yang perlu diketahui atau dilakukan adalah menghitung seberapa besar kapasitas Jakarta dalam “menangkap” air hujan.

Pada akhir bulan February 2007 lalu HAGI (Himpunan Ahli Geofisika Indonesia) Jakarta menyelenggarakan seminar tentang banjir Jakarta dan salah satu pembicara, Atika Lubis, dari Progam Studi Meteorologi Fakultas Ilmu Kebumian, ITB mengungkapkan bahwa memang curah hujan tercatat sangat tinggi terjadi pada waktu itu.

Tetapi bagaiman kok bisa sih ?

siklus.jpg

Siklus Air

Pada prinsipnya, air yang berasal dari hujan akan masuk ke dalam tanah. Namun tidak semua air dapat ditampung oleh tanah. Hal ini disebabkan karena setiap jenis batuan memilki kemampuan menyerap yang berbeda-beda.

Sebagian air yang lain akan menjadi air yang mengalir di permukaan tanah disebut run-off water.

– 😦 “Pakdhe, ada rumusnya nggak?”
+ 😀 “Ya ada tole, mau rumusnya ya ? tumben”
– 😦 “Skalian belajar mau ujian Dhe”

Banjir secara mudah dirumuskan seperti dibawah ini.

  • Water Surplus = Curah Hujan – Evapotrasp
  • Infiltrasi = kc x WS
  • DRO = WS – Infiltrasi
  • Runoff = DRO + Base Flow

+ 😀 “Wis lah rumuse ga usah diurai panjang-panjang. Nanti bikin mumeth. Ini biar urusane dewo-dewo di sana saja”
– 😦 “Akur Pakdhe” 😀

Sekarang kita lihat bagaimana dengan infiltrasi ini.

infiltrasi.jpg

Daya serap air permukaan tergantung dari batuannya.

Secara mudah ilfiltrasi digambarkan seperti disebalah ini. Kalau tanahnya berbutir kasar dan berpori-pori bagus, maka air akan terserap. Ketika air hujan menjatuhi tanah lanau yg lebih halus, maka kapasitas ilfiltrasinya berkurang banyak. Demikian juga ketika air hujan turun tepat diatas lempung, ya lebih sulit lagi terserap.

Lah kalau tanahnya disemen ? Itu sih air hujan langsung menjadi air limpasan (run-off water). Jadi pengerasan jalan-jalan kampung memang sepertinya membuat jalan menjadi rapih, tetapi jelas mempersulit masuknya infiltrasi air hujan.

Pernah lihat peta geologi Jakarta kan ? Kalau kita tahu jenis tanahnya tentunya kita bisa hitung kira-kira daya serapnya. Ilfiltrasi kota jakarta dapat diihat dibawah ini :

infiltrasi-jakarta.jpg

Infiltrasi atau daya resap permukaan tanah di Jakarta

Rata-rata kemampuan penyerapan tanah di Jakarta ini hanyalah sekitar 54.03 mm. Penyebaran ilfiltrasi yang baik secara alamiah ini adalah tergantung jenis lithologi atau jenis batuannya.

Dalam peta disebelah ini terlihat bahwa di bagian selatan Jakarta memilki kemampuan penyerapan alami terbesar karena batuannya relatif kasar. Sedangkan di Jakarta pusat dan Jakarta utara memiliki kemampuan alami penyerapan yang buruk karena batuannya halus.

drojkt.jpg

Rata-rata DRO atau air limpasan permukaan di Jakarta bila turun hujan ekstra tinggi.

Bagaimana kalau terjadi hujan ?

Apabila ada hujan yang sangat tingi (CH = 339 mm, 5 hr hujan) maka akan terjadi DRO ( Direct runoff water) atau limpasan air yang cukup besar di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.

Dan coba lihat DRO rata-rata di Jakarta ini adalah diatas 300 mm. Artinya akan ada ketinggian banjir hingga 3 meter …

– 😦 :”whaddduh !!! Pakdhe menyebar issue !!”
+ 😀 ” “Iya tapi itu kan kalau hujannya selama 5 hari berturut-turut dengan tingkat kederasan hujan (CH) sebesar 339 mm, ini yang dimodelkan oleh Atika dari ITB“.

Berdasarkan pemikiran Atika ini dan dari data Hidro-meteorolinya terlihat bahwa data curah hujan bulan basah maksimum atau ekstrim adalah 219-238 mm/hari. Dengan kondisi permukaan jakarta yang memiliki infiltrasi 0 – 30 mm/bulan, maka debit banjir maksimum 1.600 M3/det, sedangkan kapasitas Banjir kanal barat (BKB) hanyalah 300 M3/det. Ini menyebabkan peluang banjir di jakar adalah jika terjadi limpasan maksimum artinya : BKB dan sungai-sungai yang melintas Jakarta tidak sanggup menampung air limpasan (tinggi air +/- 1,30 m diatas normal). Dan jika dibangun Banjir Kanal Timur (kapasitas 300 m3/det), masih belum cukup mengalirkan (menampung) seluruh limpasan.

dromodelpenghijauan.jpgPadahal dari peta permukaan saat ini menurut beliau 40% dataran Jakarta berada di bawah permukaan
laut (MSL),termasuk 16 penampung air alami seperti empang, situ, danau, dan waduk buatan. Limpasan di kawasan inipun tidak dapat dialirkan melalui sungai atau BKB. Sementara kapasitas infiltrasi kecil.

Dan yang lebih mengkhawtirkan lagi sebenernya model disebelah ini yang dibuat oleh beliau dengan model seandainya Jakarta utara dibuat hutan. Adalah sebuah kenyataan bahwa penghijauan tidak berdampak banyak terhadap pengurangan debit air limpasan. Sehingga alih fungsi lahan harus menjadi seperti semula (penampung alami), yaitu difungsikannya kembali danau-danau ( rawarawa) sebagai penampung aliran banjir. Inipun tidak 100% mengatasi banjir Jakarta.

Kenyataan lain bahwa saluran Banjir Kanal Barat dan Timur (rencana) tidak dapat menampung seluruh aliran permukaan,dan tidak seluruh aliran permukaan dapat dialirkan ke kedua kanal tersebut. Tetapi harus diingat bahwa bukan berarti kita tidak memerlukan BKB dan BKT, looh !!

– 😦 :”wah Pakde nakut2in aja, emang ada lagi penyebab lain dengan banjirnya Jakarta ?
+ 😀 “”Ada, yaitu penurunan tanah atau subsidence dan efek pemanasan global, naiknya muka air laut … Tapi yang ini ditulis nanti saja …. :D. Nanti kamu nggeblak kalau tahu ceritanya”
– 😦 ” …ll jbmdd … gyej, 😦 😦 “

Jadi intinya jangan menyalahkan Bogor dan Puncak kalau Jakarta kebanjiran. Selalu ada porsi-porsi yang harus diambil oleh Jakarta. Tetapi paling tidak kita dapat menyeleseikan permasalahan sesuai dengan penyebab utamanya. Dan jangan hanya mampu menyalahkan saja.

– 😦 “Jadi Pakdhe mau bangun Villa di Puncak, nih ?”
+ 😀 “Whaduh … kowe kok mesti mleset-mleset, tole. Penataan Puncak bukan sekedar soal banjir Jakarta, ngerti ?”

Sumber :

Luncheon Talk HAGI – Menyiasati Perubahan Iklim Global Dan Trend Penurunan Muka Tanah untuk Menghindari Tenggelamnya Jakarta – HAGI-ITB-BPPT

31 Tanggapan

  1. […] mungkin banyak makna non teknisnya tetapi akhir dari ulasan Tempo ini yang lebih menarik perhatian. Dongengan ini ditulis tahun 2007, lima tahun lalu menyitir  kalimat dibawah […]

  2. pakdhe…boleh ga minta di ajarin gimana caranya bikin peta infiltrasi…..?plisss

    –> Wah aku ini bukan hydrologist. Nanti aku kalau ngajari dimarahin sama ahlinya. Aku sekedar pendongeng yang cuman nyontek perkataan ahli-ahli itu. Cuman mendongeng dengan bahasa awam, wong kadang akudewe mumet dengan bahasa “dewa-dewa” itu je. 🙂

  3. gambare bagus-bagus,,,,
    tapi…. lebih diperinci dengan keterangan yang lengkap yaw,,,?/
    Matur thank you…

  4. Wiiih… Tulisane pakdhe jhan, wapi’e PuOOOl!!! Pas bener sama mega proyek tesis yg pengin aq bwt ni pakdhe… Sa’jhane, pakdhe jd pembimbing q ae po yo…?! Jhan, runut bgt critane, gampang ditangkep,…Satu koment aja, SALUT.

  5. […] yang ada. Dongeng menjelang tidur siang tentang banjir Jakarta sudah pernah dituliskan disini : · Villa Puncak – Mekanisme Banjir Jakarta · Mengapa 20 tahun aman kok sekarang banjir ? · Whalllah banjir […]

  6. Sabar ya…Jakarta karena sedang diupayakan perbaikan saluran seperti Banjir Kanal Timur dan kalau ada Dananya mungkin pembangunan Waduk penanggulangan banjir di atas aliran sungai yang masuk kekota Jakarta, dan untuk penduduk Jakarta jangan buang sampah sembarangan doooong….kerjasamanya ya….sebagai warga, jadi tulisan pakdhe itu bagus lho..!

  7. Dewa Hujan : “Ampuuuuun dech orang2 Indonesia, dikasih air melimpah malah ‘marah’, g dikasih air makin ‘marah2’. Klo masalah air penting monggo lingkungannya d rapiin, d jaga kelestariannya”.

  8. Apa yang dikatakan banjir Jakarta ada dua macam:

    1. Genangan

    2. Banjir

    Genangan disebabkan drainase tidak berfungsi. Air yang jatuh di kota seharusnya melalui drainase tertire, sekunder dan primer dialirkan ke 13 kali yang mengalir di Jakarta. Saluran tertier mengalir dari permukiman dan jalan serta kawasan komersial. Saluran ini belum tentu ada, tersumbat sampah atau atau tidak tersambung dengan benar. Akibatnya setiap turun hujan terjadi genangan, jalan menjadi macet yang imbasnya sampai Tol yang tinggi di udara. Saluran sekunder dan primer yang langsung membawa air yang disuply saluran tertier juga tersumbat sampah atau dipotong bangunan silang seperti pipa PAM, Telkom, PLN atau gorong2 yang melintas jalan kekecilan. Kejadian ini pemperluas genangan yang masuk ke rumah2 mengakibatkan pencemaran lingkungan atau menyebabkan kemacetan. Jakarta mengalami ini setiap terjadi hujan.

    Bila elevasi air di kali tinggi air dari saluran primer atau sekunder tidak bisa masuk ke kali memperlama atau memperluas genangan.

    Banjir bila tejadi hujan besar di hulu lalu mengalir masuk kota tidak bisa ditampung kali tersebut. Mestinya di hulu air hujan diresapkan oleh hutan. Air yang jatuh di daun pelan2 mengalir ke bawah melalui ranting, batang, pohon dan akar mengisi tanah gembur yang penuh akar yang dapat menampung air cukup banyak air sehingga aliran permukaan lebih kecil.

    Dari 13 sungai hanya DAS Ciliwung yang mempunyai hutan yang makin menipis akibat permukiman dan pertanian. Menghutankan kembali tentu berkendala dan kalau bisa memakan waktu yang lama. Kali yang lain berhulu di Jakarta dan utara kota Bogor yang semua DASnya sudah berupa permukiman, lapangan golf dan kebun rakyat. Air hujan yang jatuh lebih dari 90 % mengalir dipermukaan langsung ke kali. Apabila terjadi hujan serentak di seluruh atau sebagian besar DAS kali2 tersebut berarti air sungai terkonsetrasi pada waktu yang sama akibatnya debit tidak tertampung di kali. Selain dari itu kali di Jakarta menyempit akibat permukiman di bantaran dan muaranya tidak atau jarang dikeruk sehingga daya tampung makin kecil. Air melimpah membanjiri kawasan yang bila hujan terjadi di Jakarta berarti banjir dan genangan bercampur memperluas kawasan yang tergenang.

    Situ tidak berpengaruh terhadap banjir sebab tidak ada daya tampungnya yang cukup. Permulaan musim hujan sudah penuh sehingga pada waktu musim hujan mencapai puncaknya semua air mengalir ke hilir.

    Peresapan terjadi di hulu sehingga pembangunan di kota tidak berpenaruh pada luas banjir. Pohon di kota tidak menyerapkan air yang besar karena tidak rapat. Padang rumput tidak meresap kan air yang significant, tidak begitu jauh dari aspal, atau beton, lagi pula volume resapan kecil.

    Musuh besar drainase dan kali ialah sampah. Kalau saja Dinas Kebersihan melaksanakan tugasnya dengan baik sampah yang masuk drainase dan kali akan jauh berkurang. Tetapi bagaimana bias bekerja bila anggarannya kcil dikorup lagi. Mestinya penanganan sampah dilakukan oleh Badan Usaha sepertiPAM agar anggaran dipungut tidak melalui kas DKI karena bias saja menjadi dana jas Gubernur.
    Kesimpulan
    1. Untuk mengurangi genangan, drainasi harus dibuat dan dipelihara rutin, dibebaskan dari sampah, bangunan silang dan endapan
    2. Untuk mengurangi banjir, 13 kali dinormalisasi, dikeruk, dibebeskan dari hunian liar, dimana perlu ditanggul atau didinding beton
    3. Bila ngomong banjir berhenti ngomong resapan, waduk kecil, situ dan elevasi Jakarta terletak di bawah permukaan laut.

  9. boleh tak pak terangkan pasal jenis hujan dan kat mana saya boleh dapat maklumat mengenai hidrologi

  10. Lha wong yang di Semarang saja gak ada ujan siang bolong Pasar Johar banjir. Permasalahannya juga sama orang-orang sugih tuh pada bikin rumah (tau ditempati pa cmn bwt gengsi) di daerah atas. cuman semarang juga ditambah ada land subsidence soale pengambilan air tanah dalam yang ugal-ugalan, padahal ana PERDA nipun. Robnya aja dah nyampe 5 km ke drtn. Saran buat warga Jkarta. SABAR yah

  11. bikin deg-degan …..

  12. Jakarta punya monorel… Jakarta terapung, eh Jakarta tenggelam he…he… untunya saya tidak tinggal di jakarta..

  13. Pak Dhe, Jakarta sebagai Ibukota Negara kok rawan gitu ya? Banjarmasin juga di bawah permukaan laut, tapi sedikit lebih beruntung karena Banjarmasin kota seribu sungai. Sepanjang sungai2nya bisa dijaga fungsi dan ‘kesehatannya’ dan dilakukan ‘moratorium pembangunan ruko’…sepertinya masih aman dari dampak pemanasan global seperti yang digambarkan Al-Gore di The Inconvenient Truth.

    Udah, ibukota boyongan ke Kalimantan ajah..(Saya nyaranin Palangkaraya…). Biar petambang batubara/emas di situ ga bisa se-enaknya main beli-beli tanah rakyat buat ditambang..lha tanah berbahantambangnya ada di pekarangan istana negara, hehe

  14. Kalo masalah dana,kan, banyak.Jakarta kan pusatnya uang. Soal manajemen,tranparansi,kemauan pemerintah atau parpol?, soal-soal non iptek.
    Saya masih nanya dlm lingkup iptek. Tentu para ahli spt pakde penulis artikel di atas bisa membuat model berdasarkan faktor alam plus perkiraan perkembangan lingkungan berpuluh tahun kedepan. Hutan makin habis,tanah kian turun, penduduk makin banyak,iklim makin tak tentu ,dll apa mungkin dengan pembuatan kanal sebanyak apapun jakarta terbebas dari banjir bandang ?

  15. waow… tambah pelik aja nih masalah jakarta….

    pak dhe pingin nanya nih
    siklus 11 tahun ini disebabkan oleh apa pak dhe, kenapa kok panas matahari bisa berada pada puncaknya? apa karena posisi bumi dan matahari saat itu lebih dekat dari biasanya atao sebab lain?

    tentang peta2 di atas, pingin bangat punya. untuk peta infiltrasi itu turunan dari peta apa aja pak dhe? ato pak dhe punya link ato buku ga tentang cara2 pembuatan peta2 infiltrasi, DRO, run off dan base flow.

    makasih sebelumnya pak dhe…

  16. Tom, jangan dulu menyerahkan kepada takdir. Banjir Jakarta bisa dikendalikan dengan teknologi. Tapi masalahnya adalah dananya. Pembuatan kanal saja sekarang terhambat karena masalah biaya pembebasan tanah.

    Jakarta sekarang banyak menyerap dana untuk pembangunan gedung-gedung tinggi, mall, pusat perdagangan. Saking banyaknya pusat perdagangan, banyak yang sepi pembeli, apalagi kalau sering banjir. Sampai manajemen gedung ada yang menyewakan kiosnya secara gratis, asalkan kiosnya buka setiap hari dengan uang jaminan yang bisa dikembalikan pada akhir tahun sebesar Rp 5 juta.

  17. PEH….!!! Jelas, Terang dan bikin bisa mikir, gak koyok jarene para pembesar, malah marai mumetz. Gimana nich para perencana tata kota, para developer. Mulailah membangung seperti penduduk pedalaman Kalimantan, sisakan ketinggian 2 tingkat untuk jalannya air, biar SPEEDY, FLEXI, SLI gak mati lagi.
    Ayo-ayo bikin gedung bertingkat-panggung, bikin resapan, buang aza tuch Macro, Matahari, Ramayana, Carefour, Hero, para Town Square, Apartemen, jadikan area tuch lahan hijau, lahan bermain untuk layangan anak-anak. Setuju gak, para pembaca..???

  18. Baca artikel di atas menimbulkan rasa was-was ya. Kayaknya bisa disimpulkan kalo ke depan Jakarta gak akan tertolong lagi, atau jakarta ditakdirkan untuk “semakin tenggelam”. Untuk kasus banjir di jakarta, sepertinya iptek udah gak bisa diharapkan lagi yah untuk menyelamatkannya, hanya sebatas pada memahami masalah dan peramalannya saja. 🙂

    Pernah juga siklus 11 tahunan,justru memunculkan kekeringan yg parah ( el nino ?), Bagaimana ini ?

  19. Mungkin yang dimaksud mas Agus adalah Venezia atau Venice,kota di Italia utara di teluk Venezia /Laut Adriatik sebelah barat Triest. (ctt.Bukan Trier, sebab Trier ada diperbatasan Jerman & Luxembourg). Tentang Venice : William Shakespeare memperkenalkan Venice dalam sandiwara /drama komedi: “The Merchant of Venice” yang di Indonesiakan menjadi Pedagang Venesia. Juga satu episode James Bond 007 (Roger Moore ?) mengambil lokasi dikota Venesia.
    Adapun Valencia ada dipantai timur Spanyol sebelah utara Alicante di teluk Valencia/Laut Tengah.

  20. Oya lupa Pakde maaf kurang informatif. Terowongannya terbuat dari beton, level dasarnya di atas permukaan jalan yang sudah ada. Jadi jika sungainya meluap sebagian airnya (bagian atas) diarahkan masuk ke terowongan beton ini.

    Terowongan diberi ventilasi pada dinding bagian atas.

    Setelah air lewat, terowongan sudah kosong dari air. Jadi tidak berfungsi sebagai reservoar.

  21. Yang pastinya pembangunan banjir kanal timur harus segera selesai dibangun, paling tidak mengurangi dampak. Mungkin juga seperti postingan Pakdhe Rovick dulu, ibukota dipindahin aja, biar nggak makin sumpek…
    ditambah lagi direvisi lagi tatakotanya, bebaskan lahan-lahan yang punya potensi besar sebagai daerah resapan dan reservoir. Atau Jakarta mau dibikin kayak kota mana tuh di eropa yang selalu terendam air (Valencia??? atau Venice??? lupa soalnya)

  22. Aku cuman mikir elevasi terowongannya gimana ya ?
    Apakah terowongan dibuat dibawah muka air laut. Lantas kalau banjir mau dialirkan kemana, ya ?
    Yang pasti dasar terowongan biasane diperkeras dengan beton yng ilfiltrasinya kecil atau nol.
    Atau hanya sebagai reservoir atau waduk saja tus disedot setelah hujan reda ? 😛

  23. Barangkali usulan ini masuk akal.

    Luapan air sungai-sungai yang akan melalui Jakarta dialihkan sebelum memasuki dataran rendah Jakarta.
    Caranya, air sungai dibendung dan dialirkan ke terowongan yang sengaja dibangun di sepanjang jalan yang sudah ada sampai ke pantai Utara Jakarta.

    Sedangkan lalulintas kendaraan di alihkan ke atas terowongan.

    Ketika musim kemarau, terowongan dapat dimanfaatkan sebagai jalan TOL.

    Mungkin akan lebih baik membuat kanal di atas jalan daripada membuat kanal di bawah tanah yang akan membutuhkan biaya pembebasan tanah penduduk, penggalian tanah, juga debitnya tidak besar karena level dasarnya sudah berada di bawah permukaan laut dan kemiringannya lebih landai.

    Walaupun biaya konstruksinya tentu lebih mahal, perlu dibandingkan biaya keseluruhan dan manfaat yang akan diperoleh.

    Betul enggak, Pakde dan teman-teman?

  24. Wuih ngeri ! Kalau seandainya kita secara paksa ditugaskan oleh kantor untuk menetap di Jakarta dalam waktu lama mesti harus survey dulu daerah mana yang tidak kena banjir pada 2013.

  25. iya ya pak Agusset, kalau Romawi kan XXXVI bukan XXXIIIIII, mungkin itu angka ROMAJI, LORO LIMA SIJI. he..he…he..wis.

  26. Pak Dhe, maaf OOT.

    Itu edisi Temponya pakai angka Romawi? “XXXIIIIII” hihihi…. lucu dan aneh ya Tempo pakai angka Romawinya?

  27. wah, tulisane pakdhe ki jan uapike puoll….
    mbok kapan2 dibukukecilkan dong pakde, biar bisa dibaca ketika travelling… rasanya kok makin hari, makin sedikit waktu untuk alokasi dg kompie…

    daripada dipake ngorok…

    salam.

  28. Asyik penjelasannya Pakdhe, tapi jelas ancaman banjir itu penyebabnya bukan lain cuma pengggunaan lahan yang ga pada tempatnya.

  29. Met kenal nih Mas, kemarin ada usul untuk membuat sistem Deep Tunnel yang katanya banyak diterapkan di negara2 spt AS, Singapore dan Malaysia. Nah menurut Mas gimana ?, cocok nggak? . Terus gimana kalau Pemerintah bikin peraturan agar setiap rumah membuat sumur resapan? Mana yang lebih praktis
    Terima kasih

  30. wah mak nyes kalo pakde njelasin… runtut jan mathuk tenan sesuai ke’pakar’annya hehehe… nanging kayaknya aturan main memang perlu dipegang dan dijalankan bersama2. Kalo kawasan puncak sebagai bagian penyanggang air mau dijaga yach mending jangan ada kongkalikong beberapa oknum (lha urusannya paling sedikit maksudnya orang berduit dan oknum aparat) sehingga merubah fungsi dibanding membenahi Jakarta yang sudah begitu padat penduduk dan kompleks akan masalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: