Awas kejatuhan meteor ! Jawa juga pernah ketimpa meteor looh !


 

Pernah dengar meteor kan ? Iya yang dituduh sebagai penyebab kiamat kecil di bumi dengan membuat Dinosaurus dan kerabatnya punah. Sebenernya benda langit ini sudah beberapa kali menumbuk Indonesia. Bahkan Jawa ! Di dekat Jogja lagi … whadaauh rumah Pakdhe aslinya ya di Jogja sana je.

Kali ini kawan saya Pak Ma’rufin, bercerita bagaimana mengetahui atau melihat meteorit yang jatuh di Jawa 6 tahun lalu ! Setelah ditemukan pecahannya ukuranya hanya sekepal ! Tapi menurut beliau kekuatan waktu pas awal jatuhnya ketika masuk atmosfer setara dengan 0,11 kiloton TNT BUM !

ANALISIS PENDAHULUAN ORBIT METEORIT YANG JATUH DI DESA WONOTIRTO 11 MEI 2001
Muh. Ma’rufin Sudibyo
Astronom amatir, anggota Dewan Pakar Jogja Astro Club (JAC), klub astronomi Yogyakarta.

Enam tahun lalu, tepatnya pada tanggal 11 Mei 2001 pagi hari, penduduk Desa Wonotirto yang terletak di lereng Gunung Sumbing dan secara administratif masuk wilayah Kecamatan Bulu, Temanggung (Jawa Tengah) mendadak dikejutkan dengan terdengarnya dentuman keras disertai jatuhnya meteor pada tiga titik.

Untungnya ketiga titik tersebut berada di luar lingkungan pemukiman penduduk, dua diantaranya berada di ladang tembakau dan satu lagi di jalan desa, sekitar 1 km dari rumah penduduk terdekat. Meteor pertama jatuh pukul 08:30 WIB sementara meteor terakhir menyusul setengah jam kemudian di titik tumbuk jalan desa.

meteor1.jpgHanya tersisa dua buah meteorit, masing–masing dari salah satu titik tumbuk di ladang tembakau (seukuran kepala bayi) dan di jalan desa (seukuran kepalan tangan orang dewasa) (Bernas, 13/05/2001). Peristiwa ini adalah yang pertama di Jawa Tengah dalam kurun waktu 17 tahun terakhir pasca jatuhnya meteor di Desa Jumapolo, Karanganyar, pada 1984. Pemerintah Kabupaten Temanggung kemudian mendirikan Monumen Meteorit Wonotirto di dekat lokasi titik tumbuk jalan desa, yang diresmikan pada 18 Februari 2002. Museum Rekor Indonesia menempatkan monumen ini sebagai satu–satunya monumen peringatan jatuhnya meteor di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara (Suara Merdeka, 20/02/2002). Monumen ini terletak di tepi jalan menuju puncak Gunung Sumbing.

– 😦 “Pak Dhe, walaupun cuman sekepal gitu kalau kena gundul ya remuk yah dhe. Kudu pakai hlem donk dhe ?
+ 😀 “Haiyak, tunggu dulu le, kecepatannya bisa 27 Km/detik, itu hampir 100 ribu KM/jam looh tole”

METEORIT

Menurut American Meteor Society (2001) hanya fireball dengan magnitude lebih besar dari –8 hingga –10 saja yang berpotensi menghasilkan meteorit, itu pun dengan syarat : meteoroidnya berasal dari pecahan asteroid dan memiliki Vinf (kecepatan meteoroid tepat sebelum memasuki atmosfer Bumi) rendah. Peluang menghasilkan meteorit menjadi lebih besar untuk fireball yang masih membangkitkan cahaya meski ketinggiannya sudah menembus batas 20 km. Bila massa meteorit adalah kecil (di bawah 7 ton), ia akan kehilangan seluruh kecepatannya awalnya begitu memasuki lapisan troposfer sebelum tarikan gravitasi Bumi kemudian mempercepatnya kembali seraya dikontrol oleh gaya gesek atmosfer. Meteorit ini kemudian menumbuk Bumi pada kecepatan 90–180 m/detik.

Analisa Laboratorium Geologi Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta terhadap sisa meteorit dari titik tumbuk jalan desa menunjukkan meteorit Wonotirto tergolong jenis achondrite dengan komposisi : SiO2 49,34 %, Fe2O3 19,56 %, Al2O3 12,83 %, CaO 11,90 %, MgO 6,30 %, TiO2 0,82 %, H2O 0,3 %, Na2O 0,14 %, K2O 0,04 % dan P2O5 0,01 % serta kandungan logam Ti 4.900 ppm, Sr 52 ppm, Ni 16 ppm dan Au 6 ppb. Meteorit achondrite merupakan meteorit batu (aerolit) basalt–silikat dengan densitas 3–4 gram/cm3, berasal dari lapisan terluar (kerak) asteroid besar yang telah terdiferensiasi kimiawi seperti halnya planet–planet terestrial.

ORBIT

Meteoroid dari pecahan asteroid memiliki rentang Vinf 11–20 km/detik. Namun pada umumnya meteoroid ini masuk ke Bumi pada Vinf 16 km/detik. Sementara ketinggian awalnya, berdasarkan penuturan penduduk setempat dan diperkuat morfologi bentuk titik tumbukan di batuan kompak jalan desa yang tidak mengarah ke azimuth tertentu (gambar 1), menunjukkan meteoroid datang dari sekitar zenith sehingga = 90o.

Pada kondisi tersebut orbit meteoroid tidak dipengaruhi oleh nilai azimuthnya dan juga tidak mengalami fenomena atraksi zenith. Yang dianalisis di sini hanyalah meteorit ketiga. Posisi titik tumbuk tidak diketahui, dengan pasti, namun karena Desa Wonotirto berada pada ketinggian 1.200 m dpl di lereng Gunung Sumbing, maka posisi titik tumbukan diestimasikan berdasar koordinat Gunung Sumbing versi Wikipedia, yakni 7o 23’ LS 110o 04’ BT. Untuk Vinf dipilih dalam rentang 12–30 km/detik. Hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 1 : Elemen orbit meteoroid Wonotirto yang jatuh pukul 09:00 WIB

meteor2.jpg

Keterangan :

Vinf : kecepatan meteoroid tepat sebelum memasuki atmosfer Bumi, Vgeo : kecepatan meteoroid secara geosentrik, RA : Ascensio Recta, Dec : deklinasi, q : jarak perihelion, Q : jarak aphelion, e : eksentriitas orbit, i : kemiringan orbit terhadap ekliptika, w : argumen perihelion meteoroid, W : titik potong menaik antara orbit meteoroid dengan ekliptika, P : periode sideris meteoroid, Tp : waktu perihelion.

Nampak parameter q, Q, e dan Tp sangat bergantung kepada nilai Vinf. Namun dari Tabel 1 bisa disimpulkan jarak aphelion meteoroid Wonotirto tidak melebihi 1,3 AU. Ini adalah ciri khas meteoroid yang jatuh ke Bumi, yang sebelumnya merupakan anggota kelompok Asteroid Dekat Bumi (Near Earth) yang memiliki ciri khas : Q < 1,3 AU, rasio Q/q rata–rata 1,8 dan eksentrisitas rata–rata 0,286. Eksentrisitas orbit Asteroid Dekat Bumi tidak berharga demikian besar hingga » 1 karena eksentrisitas sebesar itu menjadi ciri khas orbit komet–komet berperiode sangat panjang dan dicurigai asteroid– asteroid dengan eksentrisitas besar sebenarnya merupakan komet yang berevolusi menjadi asteroid (Weismann, 2001). Dengan demikian Vinf > 20 km/detik bisa dikesampingkan. Jika nilai rata–rata eksentrisitas orbit Asteroid Dekat Bumi diterapkan pada meteoroid Wonotirto, maka diperoleh salah satu nilai Vinf yang mungkin yakni 12 km/detik.

Dengan menganggap mvis minimum –8, pada Vinf 12 km/detik meteoroid bermassa 6,64 ton, energi awal 0,11 kiloton TNT dan diameter 150–160 cm. Meteoroid berdiameter 160 cm terfragmentasi dan mencapai intensitas cahaya maksimumnya
pada ketinggian 21,5 km. Sementara meteoroid berdiameter 150 cm, terbelah di ketinggian 21 km namun baru mencapai intensitas cahaya maksimumnya pada ketinggian 19 km. Bila Vinf 16 km/detik, massanya adalah 2,1 ton dengan energi awal
0,07 kiloton TNT dan diameter 100–110 cm. Meteoroid ini sudah terbelah di ketinggian 25 km namun baru mencapai intensitas cahaya maksimumnya pada ketinggian 23 km.

Baik pada Vinf 12 km/detik maupun 16 km/detik, nilai diameter kritisnya adalah sama, yakni 38–50 cm. Disini bisa digarisbawahi bahwa semua diameter meteoroid tersebut di atas melebihi nilai diameter kritisnya, sehingga semua meteoroid di atas pun memiliki peluang untuk memproduksi meteorit. Makin kecil nilai Vinf, makin besar massa dan
diameter meteoroidnya sehingga konsekuensinya ketinggian pembelahan dan intensitas maksimum pun kian mengecil. Peluang produksi meteorit terbesar dimiliki oleh meteoroid dengan Vinf 12 km/detik dan diameter 150 cm (densitas 4 gram/cm3), karena hanya meteoroid ini saja yang masih mampu mencapai intensitas cahaya maksimum di bawah ketinggian 20 km.

Sehingga, bisa disimpulkan meteoroid Wonotirto kemungkinan besar adalah pecahan dari Asteroid Dekat Bumi. Meteoroid beredar mengelilingi Matahari di orbit ellips dengan perihelion 0,644 AU, aphelion 1,01 AU, kelonjongan orbit 0,233 dan kemiringan orbit 15o. Sebelum jatuh ke Bumi, meteoroid ini singgah di perihelion untuk terakhir kalinya pada 3 Januari 2001. Meteoroid jatuh dengan Vinf 12 km/detik dan energi awal 0,11 kiloton TNT.

PENUTUP
Analisis orbit dilakukan dengan spreadsheet dari Langbroek (2004) yang berbasi MS Excel, dimana koordinat rektangular heliosentris ekliptik untuk posisi dan kecepatan Bumi yang diperlukan diperoleh dari software Planeph 4.1 berbasis DOS yang dikembangkan G. Francou dan J Chapront dari French Bureau des Longitudes (ftp://cdsarc.u-strasbg.fr/pub/cats/V/87/). Massa dan diameter meteoroid dideduksi dengan persamaan empirik dari Jeniskens (Withers, 2001). Sementara ketinggian fragmentasi dan puncak intensitas cahaya meteor diperoleh dari model matematis Nemtchinov (1995) dengan interpolasi untuk tiap jari–jari meteoroid yang dibahas.

REFERENSI

  • Bernas, 13/05/2001; Meteorit di Temanggung : Jika Besar, Lereng Sumbing Krowak; http://www.indomedia.com/bernas/052001/21/UTAMA/21UTA0.htm
  • Suara Merdeka, 20/02/2002; Masuk MURI, Monumen Meteorit Wonotirto Hari Ini Diresmikan; http://www.suaramerdeka.com/harian/0202/20/dar26.htm
  • American Meteor Society; 2001; Frequently Asked Questions about Fireballs and Meteorite Dropping Fireballs; http://www.amsmeteors.org/ fireball /faqf.html
  • Weismann, et.al; 2001; Evolution of Comets into Asteroids, Asteroids III, halaman 669–686.
  • Withers; 2001; Meteor Storm Evidence Against The Recent Formation of Lunar Crater Giordano Bruno; Lunar and Planetary Science vol 32.
  • Nemtchinov, et.al; 1995; Historical Evidence of Recent Impacts on The Earth; proceeding of The 1995 Planetary Defense Workshop, Lawrence Livermore National Laboratory.

32 Tanggapan

  1. […] “Ingat tole Jawa pernah kejatuhan leteor juga looh. Baca tulisan Pakdhe disini Awas kejatuhan meteor ! Jawa juga pernah ketimpa meteor looh !“ […]

  2. sukur jatuhnya gak kena kepala orang….,, klo tidak ????

  3. Meteor jatuh yang memiliki berat jutaan ton…!

  4. Kang Marufin Sudibyo?
    piye kabare? lama buanget ga bersua …

  5. Waktu baca2 pada tahun 2025 sebuah asteroit atau meteor yg phastiya ghede akan melewati bumi
    , cuma lewat ko , tapi kemungkinan juga akan menubruk bumi , pasti manteph tuh , duarr…. Bisa belah jadi upil tuh bumi he99x

  6. Kazakhstan. TTAPS memprediksi kawah sebesar ini akan memproduksi ‘kiamat’, petaka lingkungan global berupa musim dingin nuklir, pemanasan global, hujan asam dan hancurnya Ozon secara berurutan, yang jauh lebih mengerikan dibanding imaji film “An Inconvenient Truth”-nya Al Gore.

    Jika merujuk rule-of-thumb nya Eugene M. Shoemaker, kawah 14 km dibentuk oleh asteroid/komet berdiameter 700 m (bila titik tumbukannya di darat) hingga 1.200 m (bila titik tumbukannya di laut). Berangkat dari sini Rampino dan Stothers (1984) serta disusul Carl Sagan (1985) mengusulkan hipotesis Shiva, yakni episode tumbukan-tumbukan besar dalam sejarah Bumi yang terjadi tiap 35 juta tahun sekali. Memang, 30 juta tahun selepas tragedi Chicxulub, Bumi dihantam tumbukan yang menciptakan kawah Popigai di Russia (diameter 100 km) dan kawah Chesapeake Bay di bawah metropolitan New York (diameter 95 km), dan keduanya sudah disahkan sebagai kawah tumbukan terkait dengan ditemukannya mineral coesit, breksi tumbukan dan mineral2 dengan planar deformation features (PDFs). Hanya saja bagaimana pengaruh tumbukan ini pada populasi makhluk hidup saat itu, belum jelas benar.

    Nah, 35 juta tahun pasca Chesapeake Bay-Popigai adalah era kita, eranya manusia. Dan menarik sekali, belakangan banyak astrofisikawan dan geolog yang memusatkan perhatiannya pada kawasan Asia Tenggara, wilayah yang ‘disebari’ tektit dan microtektit, batuan beku penanda peristiwa tumbukan. Tektit ini semula hanya diketahui ada di antara P. Hainan hingga Australia selatan, namun belakangan Glass dan Wu (1993) menemukannya di Afrika dan Tasmania. Menyusul kemudian Povenmire dkk (1997) menemukan pula di China dan Tibet. Jika ditotal, sebaran tektit Austral-asia ini (demikian dinamakan) mencapai 30 % luas permukaan Bumi. Ini luar biasa, mengingat sebaranHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA

    KIAMAAAAAAT SUDAAAAAAAAAAHH DEKAAAAAAAAATTT

    Komentar oleh Ricky — 25 Agustus 2008 #

  7. ma’rufin sudibyo? wah, cen teope cah iki. dari sejak kuliah selalu diatas rata-rata.

  8. uweishh..
    lengkap!!

    saya juga posting tentang meteor beberapa bulan lalu.
    linknya ini, lengkap sama videonya: http://www.profmustamar.com/meteor-edmonton-kanada-dan-kepercayaan-bola-api-di-indonesia/my-mind

  9. waduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh! pasti baaaaaaaaaaaaaaaaaaahaya ! kalau meteor jatuh ke kepala pakdhe! ya gak tuh!!!

  10. Waduuuh! gawat kalau kiamat sbntr lg,ku kan blm nikah&punya anak.

  11. sy prnah liat ekor kometnya doang , di arah selatan bali !! skitar sbulan yg lalu , tp enehnya ekor kometnya kok menhilang perlahan gak dari atas ke bawah tp ilang dari tengah ya , dan yg lbih spektakulernya ekornya warna warni kaya pelangi ( gw liat pas malm2 ) agak ngblink2 gt warnanya , malah sy smpt brpikir tuh ufo !!!

    sumpah lho !!!! sy gak boong !!!!

  12. HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA

    KIAMAAAAAAT SUDAAAAAAAAAAHH DEKAAAAAAAAATTT

  13. Salam kenal pak, beberapa hari ini saya dan anak saya lagi iseng surfing di google earth mencari astroblem crater di kepulauan Indonesia. Penasaran karena selama ini kan laporan kawah meteor ukuran besar kan nggak pernah ada di Indonesia. Kebetulan kami menemukan beberapa yang kami sendiri tidak yakin apakah ini benar. Kalau bapak ada waktu mohon mampir ke blog kami untuk melihat apakah “astroblem” versi kami ini bener apa nggak.terima kasih

  14. Waktu baca2 pada tahun 2025 sebuah asteroit atau meteor yg phastiya ghede akan melewati bumi
    , cuma lewat ko , tapi kemungkinan juga akan menubruk bumi , pasti manteph tuh , duarr…. Bisa belah jadi upil tuh bumi he99x

  15. mas.. FYI
    kalo ga salah di daerah cekungan biliton dan daerahnya laut jawa (sekitar muria dsk).. dalam data seismik tahun 2000-an ditemuan gambran crater yang cukup besar dilokasi ini… banyak G&G yang bekerja di lokasi ini beranggapan ini diakibatkan oleh jatuhnya meteor di laut jawa.
    mungkin ada sejarahnya crater tersbeut terbentuknya kapan?

  16. Pak Giwangkara,

    Percaya saja. tidak akan terjadi tumbukan meteor/asteroid/komet pada 2019. Itu hanya HOAX saja. Potensi terbesar tumbukan terjadi jika sebuah benda langit (komet/asteroid) yang bersifat Earth-Crossing Orbits mempunyai skala Torino > 3. Pada saat ini, bnenda langit yang paling berpotensi menumbuk pun, hanya memiliki skala 1. Masih jauh…

    Pak/mas Bochan,

    Kejadian Tunguska di Siberia itu terjadi pada 30 Juni 1908, bukan 1910 pak. Sejauh ini kejadian Tunguska masih misterius, namun kandidat terkuat yang bisa menjelaskan peristiwa ini memang tumbukan komet berdiameter kecil ataupun asteroid yang semula komet, berdasarkan pada magnitude energinya, jejak2 perubahan garis2 gaya magnet Bumi (seperti yang terekam di Inggris dan Jerman) serta endapan2 kaya Iridium dari awal abad ke-20 yang ditemukan dalam bongkahan es di Antartika. Berapa besar energinya ? 40 megaton pak, alias 2000 kali lebih dahsyat dari bom Hiroshima (!). Namun kenapa tidak ada crater/kawah ? Masalahnya yang jatuh komet. Agar bisa terbentuk kawah, komet itu minimal harus memiliki radius 200 meter. Komet Tunguska diperkirakan tidak sebesar itu, sehingga ia lenyap oleh gesekan atmosfer Bumi dan konsekuensinya debu2nya juga tidak jatuh ke Tunguska dan sekitarnya, karena terbawa oleh arus angin stratosfer sehingga malah lebih berpeluang mengendap di kutub.

    Yang peristiwa tahun 1996, anda saksikan di mana pak ? Bisa di ingat2 juga tanggal dan bulannya ? Atau kalo tidak dihubungkan saja dengan kejadian terpopuler saat itu, apa masih dekat2 dengan peristiwa kaburnya Eddy Tansil atau meninggalnya Bu Tien? Kebetulan kami di Jogja Astro Club sedang mencoba melacak laporan kenampakan meteor/fireball di Indonesia dan sekaligus menelusuri jejak-jejak meteorit yang pernah jatuh di negeri ini. Informasi dari anda akan sangat membantu, postingkan saja ke (marufins@yahoo.com).

    Salam

    Ma’rufin

  17. pada tahun 1996, bulan dan tanggal dah lupa, pokoknya musim kemarau pukul 8, saya lihat meteor berwarna kuning sangat terang yang muncul dari atas kepala sampai melewati horizon ke arah tenggara. saat melewati horizon, ada suara ledakan. tapi saya gak tahu jatoh dimana. lha wong ga ada beritanya di tipi. tapi saya rasa ini mirip dengan yg trjadi di pantai selatan belakangan ini.
    BTW, ledakan di siberia tahun 1910 yang menghanguskan hutan sampe radius 100km itu, apa karena meteorit juga?

  18. Masih tentang meteor.

    Contoh terpopuler soal dampak katastrofik tumbukan benda langit ada di peristiwa K-T 65 juta tahun silam yang menghasilkan Chicxulub crater di Yucatan Peninsula, produk hantaman asteroid berdiameter 10 km yang jatuh miring (dari ketinggian 30 derajat) dari arah tenggara pada kecepatan tumbuk 24 km/detik. Tumbukan ini memusnahkan populasi dinosaurus dan 75 % makhluk hidup lainnya saat itu, namun peristiwa ini sebenarnya bukanlah yang terdahsyat. 250 juta tahun silam ada peristiwa P-T (Permian-Triassic) yang memusnahkan sampai 96 % (!) populasi makhluk hidup saat itu dan diduga kuat dipicu oleh tumbukan maut yang membentuk Bedout structure (diameter 220 km) dan Wilkes Land structure (diameter 400 km), masing-masing kini di lepas pantai barat laut Australia dan Antartika, meski ada juga yang mengaitkannya dengan erupsi Siberian Traps yang gigantik.

    Dalam fisika, dikenal adanya hipotesis TTAPS (Turco, Toon, Pollack, Ackerman dan Sagan). Ini gambaran terjadinya bencana nuclear winter jika seluruh hululedak nuklir yang ada pada saat ini diledakkan bersama-sama sehingga fall out-nya menyebar di lapisan stratosfer dan menghalangi pancaran sinar Matahari ke Bumi. Dikaitkan dengan tumbukan benda langit, hipotesis TTAPS terpenuhi bila terbentuk kawah tumbukan berdiameter sedikitnya 14 km, seukuran Zhamanshin crater di Kazakhstan. TTAPS memprediksi kawah sebesar ini akan memproduksi ‘kiamat’, petaka lingkungan global berupa musim dingin nuklir, pemanasan global, hujan asam dan hancurnya Ozon secara berurutan, yang jauh lebih mengerikan dibanding imaji film “An Inconvenient Truth”-nya Al Gore.

    Jika merujuk rule-of-thumb nya Eugene M. Shoemaker, kawah 14 km dibentuk oleh asteroid/komet berdiameter 700 m (bila titik tumbukannya di darat) hingga 1.200 m (bila titik tumbukannya di laut). Berangkat dari sini Rampino dan Stothers (1984) serta disusul Carl Sagan (1985) mengusulkan hipotesis Shiva, yakni episode tumbukan-tumbukan besar dalam sejarah Bumi yang terjadi tiap 35 juta tahun sekali. Memang, 30 juta tahun selepas tragedi Chicxulub, Bumi dihantam tumbukan yang menciptakan kawah Popigai di Russia (diameter 100 km) dan kawah Chesapeake Bay di bawah metropolitan New York (diameter 95 km), dan keduanya sudah disahkan sebagai kawah tumbukan terkait dengan ditemukannya mineral coesit, breksi tumbukan dan mineral2 dengan planar deformation features (PDFs). Hanya saja bagaimana pengaruh tumbukan ini pada populasi makhluk hidup saat itu, belum jelas benar.

    Nah, 35 juta tahun pasca Chesapeake Bay-Popigai adalah era kita, eranya manusia. Dan menarik sekali, belakangan banyak astrofisikawan dan geolog yang memusatkan perhatiannya pada kawasan Asia Tenggara, wilayah yang ‘disebari’ tektit dan microtektit, batuan beku penanda peristiwa tumbukan. Tektit ini semula hanya diketahui ada di antara P. Hainan hingga Australia selatan, namun belakangan Glass dan Wu (1993) menemukannya di Afrika dan Tasmania. Menyusul kemudian Povenmire dkk (1997) menemukan pula di China dan Tibet. Jika ditotal, sebaran tektit Austral-asia ini (demikian dinamakan) mencapai 30 % luas permukaan Bumi. Ini luar biasa, mengingat sebaran tektit-microtektit kawah Chicxulub saja ‘hanya’ terlokalisir di Samudera Atlantik, Teluk Meksiko dan kontinen Amerika, meski memang lempung hitam tipis kaya Iridium dari tumbukan ini ditemukan tersebar di penjuru Bumi (seperti di Pegunungan Umbria Italia, pantai klif Steven Klint Denmark serta pedalaman Rusia dan Selandia Baru). Beragam dating menyebut tektit Austral-asia berumur muda, dari 0,77 juta tahun silam.

    Tektit ini jelas berasal dari tumbukan, karena tektit terbentuk dari batuan target yang meleleh oleh shock compression, terlontar ke atmosfer dan terekristalisasi selama melayang. Luasnya sebaran tektit Austral-asia sangat boleh jadi berhubungan dengan kawah berdiameter 100-an km yang diduga kuat berada di Indochina tengah, didasarkan pada sebaran tektit Muong-Nong yang berat dan berlapis hingga secara aerodinamik tak mungkin ‘terbang’ jauh. Tektit ini terlokalisasi di wilayah seluas 800 x 1.140 km persegi di Laos, Vietnam dan Thailand. Namun satelit GEOSAT dan SEASAT memberikan alternatif lain kawah itu di lepas pantai Vietnam, berpusat di koordinat 13,6 LU 110,5 BT, dimana dijumpai depresi muka laut yang lebih rendah 1,5 meter (rata-rata) dibanding badan air disekitarnya, berbentuk sirkular dan diameter kasarnya 100 km.

    Jika kawah 100 km di Indochina itu ada (dan terbukti), implikasinya sangat luas. Kita tahu Asia Timur dan Asia Tenggara menjadi tempat hidup Homo erectus dan menempati posisi penting dalam kajian evolusi. Tumbukan Indochina akan merubah frontal pandangan selama ini mengenai proses evolusi manusia, mengingat pembentukan kawah 100 km selalu diiringi dengan pelepasan energi gigantik hingga 11 juta megaton TNT dan selama ini tumbukan asteroid/komet dikenal sebagai ‘smoking gun’ pada populasi makhluk hidup. Apalagi Yamei dkk (2000) sudah memberikan satu bukti pendahuluan : hancurnya situs arkeologi Bose (hunian Homo erectus di Cina selatan) oleh kebakaran hutan berskala luas, salah satu dampak tumbukan benda langit. Disini juga ditemukan tektit Austral-asia.

    Namun menemukan kawah ini tentu tidak mudah. Berkaca pada kawah Chicxulub, meski anomali gravitasi sudah dideteksi PEMEX (Pertamina-nya Mexico) sejak 1948 dan dibor pada 1979, baru pada 1991 Chicxulub dipastikan merupakan kawah tumbukan oleh Alan Hildebrand dkk. Apalagi disini ada ‘kecelakaan sejarah’ : sampel breksi hasil pengeboran 1979 dibiarkan tergolek selama bertahun-tahun di lantai gudang laboratorium geologi Univ. of New Orleans karena dikira breksi vulkanik biasa, sementara Glen Penfield dan Antonio Camargo (geolog PEMEX yang menganalisis hasil pemboran) yang sudah mulai curiga mempublikasikan penelitiannya pada jurnal ilmiah yang tidak populer.

    Best regards

    Ma’rufin

    Bahan bacaan :

    Paine; 2001; Asteroid/Comet Impact Craters and Mass Extinction and Shiva Hypothesis of Periodic Mass Extinction; Australian Spaceguard Survey 2001.

    Chao; 1993; Comparison of the Cretaceous-Tertiary Boundary Impact Events and the 0.77-Ma Australasian Tektite Event : Relevance to Mass Extinction; USGS bulletin 2050.

  19. Ada sedikit tambahan di sini biar tidak terjadi misinformasi. Energi meteorit Wonotirto yang besarnya 0,11 kiloton TNT itu merupakan energi awal, yakni saat meteorit (saat itu masih berupa meteoroid atau asteroid mini) tepat saat hendak memasuki atmosfer Bumi. Besaran energi awal ini sangat bermanfaat guna memprediksi sifat2 sang meteoroid begitu memasuki atmosfer, disamping elemen2 astronomisnya. Dengan energi awal 0,11 kiloton TNT itu, berdasar persamaan empirik dari Near Earth Object Science Definition Team 2003 (dalam Collins dkk, 2004) bisa diketahui di angkasa dekat Bumi terdapat sedikitnya 5 milyar meteoroid yang identik dengan meteoroid Wonotirto (diameter 150 cm). Dengan energi awal 0,11 kiloton TNT pula, merujuk persamaan empirik Nemtchinov (Nemtchinov dkk, 1995), tiap tahun Bumi kita dibombardir meteoroid 150 cm ini sebanyak (rata-rata) 36 kali, atau 3 kali tiap bulan.

    Ketika memasuki atmosfer Bumi, meteorit Wonotirto itu kehilangan seluruh kecepatan kosmiknya (yang 12 km/detik itu) karena massanya dibawah 7 ton. Kehilangan kecepatan itu terjadi saat meteorit mulai memasuki lapisan troposfer dan menemui titik retardasi, dimana gerak meteorit kemudian dikontrol sepenuhnya oleh kombinasi gravitasi Bumi (sebagai akselerator) dan gaya gesek atmosfer (sebagai deselerator). Meteorit selanjutnya jatuh ke Bumi pada kecepatan ‘hanya’ 100 – 200 m/detik (American Meteor Society, 2001).

    Seberapa cepat meteorit Wonotirto ini jatuh menghantam lereng Gunung Sumbing, saya belum mengetahuinya pak. Merujuk pada Schmidt dan Housen (Schmidt dkk, 1987, dalam Collins dkk, 2004), dengan diameter meteorit 10 cm, densitas meteorit 4 g/cc (tipe achondrite) dan densitas tanah yang ditumbuknya (titik tumbuk jalan desa berupa susunan batu andesit) 3 g/cc juga, akan timbul transient crater bergaris tengah 1,3 meter yang selanjutnya berkembang menjadi final crater berbentuk simple/bowl-shaped yang bergaris tengah 2 meter bila kecepatan tumbuknya 200 m/detik. Jika kecepatan tumbuk turun menjadi 100 m/detik, final craternya berdiameter 1,5 m. Pada rentang kecepatan 100 – 200 m/detik ini, meteorit Wonotirto menghantam Bumi dengan energi tumbuk ‘hanya’ 10 – 42 kilojoule atau 0,003 – 0,01 kg TNT saja. Bisa dilihat bahwa energi tumbukan ini ternyata hanya sepersepuluh juta dari energi awalnya, dan ini memang khas untuk meteorit-meteorit kecil.

    Di Wonotirto, final crater ini tidak dijumpai di titik tumbuk jalan desa, hanya di ladang tembakau dan itupun diameternya tidak sampai 2 meter. Maka kemungkinan besar meteorit Wonotirto jatuh dengan kecepatan tumbuk jauh lebih kecil dari 100 m/detik (!), meski hal ini terus terang tak terbayangkan bagi saya, jika merujuk pada pustaka yang ada. Sehingga energi tumbuknya tentu jauh lebih kecil lagi. Yang jelas dengan energi tumbuk yang kecil itu, tidak perlu dikhawatirkan soal bencana yang menyertainya, kecuali jika mengenai manusia langsung. Di Selandia Baru pernah ada kasus seorang wanita – tidur – yang tetap selamat meski atap kamarnya kejatuhan meteor dan meteorit itu lalu menyerempet pinggangnya. Tidak ada luka bakar yang dideritanya, sebab meteorit kecil sudah mengalami pendinginan begitu memasuki lapisan troposfer.

    Meteorit baru jadi masalah jika ukurannya cukup besar. Seperti meteorit Wabar, yang jatuh tahun 1863 di 550 km sebelah tenggara Riyadh (Saudi Arabia) – tepat di jantung lautan pasir ar-Rub’ al-Khali – dari arah barat daya dengan ketinggian awal 45 derajat. Diameter meteorit ini 10 meter, namun terpecah jadi 4 dan 3 diantaranya berhasil membentuk kawah, sementara 1 sisanya kini disimpan di Riyadh oleh ARAMCO. Meteoroidnya semula memiliki kecepatan 17 km/detik, namun ketika menumbuk kecepatannya ‘tinggal’ 7 km/detik. Itupun dia masih sanggup melepaskan 12 kiloton TNT (setengah kekuatan bom Hiroshima !) dan memproduksi gelombang kejut (shockwave) yang sanggup memporak-porandakan wilayah seluas 21 km persegi (seukuran kota Yogya !) oleh overpressure atmosfer melebihi 7 ton per meter persegi yang diikuti hembusan angin berkecepatan 500 km/jam !

    Demikian, matur nuwun atas pencerahannya.

    Best regards

    Ma’rufin
    ————-

    Referensi :

    Nemtchinov, et.al; 1995; Historical Evidence of Recent Impacts on The Earth; proc. of 1995 Plan. Def Workshop, LLNL.

    Collins, et.al; 2004; Earth Impact Effects Program : A Web-based Computer Program for Calculating the Regional Environmental Consequences of a Meteoroid Impact on Earth; LPL, Arizona.

  20. Sekedar nanya :

    dalam beberapa film/novel yang berkisah ttg sejarah, ada adegan adanya meteor yg jatuh. trus, meteorit yg tersisa dijadikan senjata pusaka,keris,pedang dll. Andaikan film itu juga memiliki referensi sejarah,tidak sekedar imajinasi, apa memang benar materi meteorit (dari luar Bumi) itu begitu “sakti” dibandingkan materi pembuat senjata asli Bumi ? 🙂

  21. Pak Dhe, nyuwun sewu nge link blognya boleh?
    Kalo keberatan bilang ya Pak Dhe!

  22. Ccck ccck…! kalo kekuatan waktu pas jatuhnya setara dengan 0,11 kiloton TNT BUM, terus berapa dalem ambles meteorit itu waktu jatuh Pak Dhe?
    Pak Dhe jan ilmiah tenan..

  23. Mohon ijin juga untuk sharing ke blog kami pak, sehubungan dengan berita (HOAX?) yagng kami terima.

  24. Rasanya aku pernah baca di koran waktu itu.
    Lalu dipake untuk pamor keris nggak ya?

  25. menurut guru saya dulu, meteor punya peluang sampai kebumi bila lintasannya membentuk sudut dengan garis singgung atmosfer antara 3-7 derajat. Artinya bila kurang dari 3 derajat,meteor akan terpental kembali keangkasa luar seperti kalau kita melempar batu kepermukaan air dan apabila sudutnya lebih dari tujuh derajat akan menghunjam kebumi dengan kecepatan jatuh yang lebih tinggi sehingga panas gesekannya mampu membakar habis sebelum sampai kebumi. Bila masuk ke atmosfer bumi pada sudut 3-7 derajat, meteor tidak terpental melainkan tertarik kebumi dengan kecepatan lebih rendah sehingga panas gesekan yang timbul masih menyisakan gumpalan batu meteorit jatuh ketanah seperti dongeng tersebut.

  26. lanjut ya pak dhe… kebetulan dapat yg lain… hanya nambah2 istilah aja

    “Fireball adalah meteoroid besar -baik dari sisa komet maupun pecahan asteroid- yang masuk ke atmosfer Bumi dan menghasilkan kilatan cahaya sangat terang. Menurut American Meteor Society (2001) meteoroid dari sisa komet memiliki rentang kecepatan absolut cukup besar, yakni 11–72 km/detik. Sedangkan meteoroid dari pecahan asteroid memiliki rentang kecepatan lebih kecil (11–20 km/detik). Beda kecepatan ini berdampak pada warna fireball. Fireball lambat terkesan lebih redup dengan dominasi warna merah/orange, sementara fireball cepat lebih terang dengan dominasi warna biru. Namun karena warna fireball sesungguhnya dipengaruhi oleh spektrum unsur–unsur dalam meteoroidnya dan spektrum emisi lebih dominan dibanding spektrum menerus, maka menentukan warna nyata fireball sebenarnya sangat sulit.”

  27. lho kok bisa, apa ini yang dituju Superman ? Mana kriptonitnya ? Didesa ini hanya ada meteorit,bukan kriptonit. Clark-kent tak bisa jadi Superman hanya dengan meteorit tanpa kriptonit !

  28. wuih…gmn yg kena radiasinya ya?
    pasti ini daerah yg dimaksud clark-kent,yo pasti ini SMALL-VILLE…bener pasti SMALL-VILLE.!!!?

  29. weleh??
    gile bener 😮

  30. Pak dhe , aku dulu kalau saat ronda malam melihat lintang alihan atau meteor jatuh mesti berteriak “SIGAK ” sambil membatin nama cewek yang kutaksir supaya menjadi pacarku . Tenan Pak dhe, kata orang tua dulu kalau melihat lintang alihan (bintang melintas) dengan cara itu permohonan bisa terkabul, tapi nyatanya cinta pertamaku kandas. Dongeng pak dhe ini mengingatkan cinta pertamaku yang merana.
    ( Ah, njur cengeng aku !)
    Mas Dewa, sesudah pak Dhe jadi Astronomer, nanti mesti jadi Astronaut terus menjadi Astrolog, bintang mas Dewa Apa ? AQUA ? Yuk kita tanya peruntungan kita pada pak dhe minggu ini !
    BTW, katanya batu meteorit bahan terbaik untuk bikin keris , terus meteor yang jatuh itu ada yang berminat untuk dijadikan keris nggak Pak dhe?

  31. Pakde kok malah jadi astronomer ta ?
    apa wektu kuliah ada pelajaran geoplanet ? 😛

  32. trus tentang berita yang katanya akan jatuh giant meteorite (2002 NT7) ke bumi pada 1 Februari 2019
    (http://oryza090101.multiply.com/photos/album/4) dengan diameter 9,32 mil bener ga pak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: