Meluruskan sejarah – Suatu usaha baik yang sia-sia ? (1)


egypt.jpgMembaca sejarah manusia yang ditulis sejarawan maupun pengamat sejarah mengasyikkan memang, karena banyak yang isinya menceriterakan perilaku manusia itu sendiri, seolah kita sedang berkaca, memang wajar sekali. Manusia selalu ingin mencari dirinya sendirinya sendiri. Dan percis seperti istri saya yang senang berlama-lama di depan cermin.
Namun membaca tulisan beberapa waktu lalu tentang ‘Upaya pelurusan sejarah’ yang sering dituliskan di media, saya justru sering mempertanyakan peran para pengamat sejarah maupun sejarawan dalam pengungkapan sejarah serta menuliskan dan mengajarkan sejarah itu sendiri. Frase “Upaya pelurusan” terasa mengandung adanya keinginan si pengamat sejarah meluruskan yang sudah ada. Namun secara sadar atau mungkin juga tak sadar pengamat sejarah maupun sejarawan tersebut sudah merupakan bagian dari sejarah. YAng dilakukan entah mau meluruskan sejarah yang sudah diyakini kesahihannya, entah adanya data sejarah yang akan diungkapkan. Atau malah yang sering terjadi adalah memberikan justifikasi bahwa apa yang diyakini benar telah terungkap. Sulit memang menghilangkan subjektivitas pengamat terutama dalam hal sejarah manusia. Karena dalam hal ini manusia ingin melihat dirinya sendiri dalam kaitannya dengan sejarah. Memang manusia mengungkap ‘sejarah manusia’ kalo masih memikirkan manusianya ya manusiawi sajalah ….. 🙂

Pengalaman gwe sebagai konsultan geologi dalam mengungkap ‘masa lalu perilaku alam‘pun mengalami hal yang mirip dengan hal pengungkapan ‘masa lalu perilaku manusia‘ oleh ahli sejarah ini. Dalam mengungkap sejarah geologi juga kadang-kadang memunculkan adanya keingintahuan untuk menemukan saya ini dari mana sih salah satunya dengan idea evolusinya Darwin. Untuk mempelajari sejarah alam, James Hutton (1787) seorang tokoh geologi yang sangat terkenal mengemukakan ide “uniformitarianism” suatu kaidah didalam geologi yang dikenal dengan “the present is the key to the past”. Kejadian masa kini menjadi kunci kejadian masa lampau.
Kaidah ini menjadikan sejarah alam sebagai ilmu yang sangat dinamis sejalan dengan kondisi saat ini (‘present‘) yang selalu berjalan maju dalam garis waktu. Sehingga pemahaman masa lampau akan terus berkembang.

Source FlickrIde itu muncul barangkali karena kesadaran keterbatasan manusia dalam garis waktu yang sangat-sangat pendek dibandingkan garis waktu alam yang akan diungkap. Awalnya ilmu geologi mempelajari bumi saja sebagai objeknya, dalam garis waktu dimulai saat terbentuknya batuan kerakbumi yang dimulai sejak ~ 4500 juta tahun yang lalu saat terbentuknya batuan tertua yang ditemukan saat ini. Sedangkan ‘early man’ Australopithecus (“Southern Ape”) baru muncul di bumi pada sekitar 3 juta tahun lalu, sedangkan Homosapien sapien dengan peninggalan awal gambarnya ‘early painting’ baru mulai sekitar 25 000-10 000 tahun yang lalu. Sehingga kalau digambarkan dalam garis waktu munculnya manusia moderen hanya berupa titik .. tik … kalau satu generasi ya hanya bagian dari titik .. kueciiill banget. Namun selama hidupnya itu manusia mengalami beberapa pengalaman yang akan dipakainya dalam menerangkan jangka waktu yang puanjangnya berjuta-juta kali dari jangka hidupnya. Dari pelajaran geometri tentunya saya tahu ada tak berhingga jumlah garis yang melalui satu titik. Kalau dibandingkan panjang garis waktu maka jangka hidup ini hanya satu snap shot foto dipakai untuk menerangkan runtutan kejadian … sepertinya mustahil menggunakan nol dimensi (titik) untuk menerangkan 1 dimensi (garis).

Waktu pengamatan yang hanya berupa satu titik itu akan dipakai untuk menjelaskan masa lalu alam, ya tentunya mengungkap alam bukan manusia. Betul, … ini bisa saja sangat berbeda, pengungkapan sejarah geologi ini masalah pengungkapan perilaku alam bukan pengungkapan perilaku manusaia … Dalam pengungkapan sejarah geologi memang bukan manusia yang menjadi objek penelitiannya …. namun cara ini telah membuat manusia dapat lebih objektif dalam mengungkap masa lalu alam kalau tidak memasukkan dirinya kedalam sejarah.

Lah masaahnya nanti akan menjadi sulit kalau mendongeng evolusi tanpa bicara manusia didalamnya 😦

Bersambung ….

Next article Mungkinkah kita terjebak oleh sejarah ? Bagaimana kalau meramal berdasarkan sejarah ?

17 Tanggapan

  1. semua orang mempunyai asumsi dan pemikiran sendiri2 nah untuk menentukan cp yg benar dan cp yg salah bisa di uji dari tingakat pengetahuany pada bidang yg dibicarakan,,, sebelum kita tahu persis permasalahany dan disertai bukti2 yg kingkrit maka g boleh saling menyalahkan

  2. numpang…,

    gue bingungbanget ma orang-orang yang bilangnya meluruskan,,, dari sis mana mereka bilang meluruskan…

    coba siapa yang tau kalau mereka ternyata membengkokkan sejarah itu sendiri….

    pa mereka bisa mempertanggungjawabkan pelurusannya……??????

  3. Tidak ada yang namanya kebenaran dalam sejarah!!!! Suatu sejarah dianggap benar karena “yang berkepentingan” menganggapnya itulah yang sebenarnya.
    Selama ini sejarah tidak pernah menghianati “orang-orang yang menguasainya”, biar pun di dalam metode penulisannya menggunakan cara yang paling objektif (ngakunya sich). kalau ada orang yang mengatakan sejarah versi ini atau versi itu yang paling benar, semuanya hanya kebenaran semu versi ini dan versi itu. Semuanya hanya omong kosong belaka. Apalagi kalau ada orang yang tiba-tiba datang lalu mengaku sebagai “sang penyelamat” sejarah yang datang untuk meluruskan sejarah yang bengkok, dia pasti membenarkan kepantingan-kepentingannya di dalam penulisan sejarah tsb.
    History = Mistery.
    JANGAN DENGAR YANG MEREKA KATAKAN
    TAPI LIHAT APA YANG MEREKA LAKUKAN

  4. Jas merah: jangan sekali-sekali melupakan sejarah…
    Ga ada sejarah yang ga bengkok, karena mm buatan manusia juga. Aq pribadi sich ga penting obyektifitas sejarah, bagi gw keaslian fakta/dokumen sejarah itu lah yg melakukan koreksi atas jalan nya sejarah yang udah ada.

    Pelurusan memang menjadi sia-sia kalo tidak didukung oleh akurasi data aktual, tapi niat baik selalu menghasilkan sesuatu yg jauh lebih baik khan? Kalo dah ada niatan ‘busuk’ merekayasa/memutar balik kan fakta bukti sejarah (seperti: dokumen supersemar, hasil forensik para jenderal di lubang buaya, ato lukisan penjebakan pangeran jawa tentang keris yg terselip dipinggang nya) itu yang jadi masalah…. Ya semoga lusi lekas beres degh, kacian warga korban yang di sana…

  5. Ya, setuju dan mengerti. Saya salah karena melupakan “konteks kalimat secara kesulurahan”. Terima kasih Pak Dhe.
    Juga untuk Pak Papang. Terima kasih tambahan infonya.

    Rekonsiliasi yang manis dari Sinuhun. Untuk derajat setinggi itu, bagi saya kata-kata itu sudah cukup, tegas dan dapat dimengerti. Terima kasih.

    Kalau JK 21 e, salah lagi, Jengish Khan abad 21, datangnya pakai Elang Gundul, Hawkish! Kalau liat film actionnya, seringkali untuk mengejar satu orang, tabrakannya dan kerusakannya seluruh kota. Mungkin itulah karakter mereka!?

  6. t
    Kata-kata yang aslinya tidak bermakna judgement memang bisa berkembang menjadi bagian dari “judgement” atau penilaian.
    Istilah “Pemberontak” yang menurut pak Papang dimaknai HEROIK (tempo doeloe), namun bisa berarti buruk pada jaman sekarang.

    Apa artinya dalam membaca rekaman sejarah. Kita harus mengerti makna istilah yang dipakai “pada saat tulisan itu dibuat”.

    Misalnya begini. Kalau ada penulis di Mongolia abad 13 menuliskan tentang Jenghis Khan, maka dia akan menuliskan dia seorang pahlawan Mongolia seorang ahli perang yang sangat hebat. Tapi apa yang dituliskan di Bagdad abad 13 saat itu ? Tentunya seorang penjahat dari mongol telah menghancurkan kota Bagdad. Kesialan tempat ini (Iraq) ini berulang lagi ketika Jengish Khan abad 21 mendatanginya kembali … wupst !!! 😛

  7. Pak t, Bung Tomo pahlawan nasional yang mengobarkan perang Surabaya Nopember 1945, menyebut para pejuang dengan sebutan “PEMBERONTAK” yang dihimpun dalam organisasi BPRI ( BARISAN PEMBERONTAK REPUBLIK INDONESIA).Juga Bung Tarjo di Yogya mendirikan BPRI Yogya dengan pasukan bernama TRM( Tentara Rakyat Mataram) yang turut ambil bagian dalam perang Ambarawa 1945 melawan Inggris/sekutu yang diboncengi NICA. Jadi tempo doeloe ,sebutan pemberontak berkonotasi “HEROIK”

  8. Pangeran Diponegoro oleh Pejuang-Pejuang Perintis Kemerdekaan difigurkan sebagai Pahlawan Bangsa karena berani melawan Belanda dengan mengobarkan perang yang disebut oleh Belanda sebagai PERANG JAWA dengan medan pertempurannya tidak hanya wilayah DIY sekarang tetapi juga Jawa Tengan dan Jawa Timur bagian Barat.
    Namun oleh pihak Kraton Yogyakarta, P.Diponegoro dikategorikan sebagai Pemberontak dengan sebutan LOLOS SAKING KEDATON alias melarikan diri dari keraton. Jadi menurut versi Kraton Yogyakarta P.Diponegoro adalah pemberontak,sedang versi pejuang kemerdekaan P.Diponegoro adalah Pahlawan Nasional.
    Dalam buku TAHTA UNTUK RAKYAT, Sri Sultan Hamengku Buwono IX berkaitan dengan P.Diponegoro, beliau mengatakan : ” Walau bagaimanapun juga,P.Diponegoro adalah saudara saya .” ( ctt:silahkan menafsir sendiri apa ang tersirat dalam pernyataan itu “)

  9. Ijinkan saya mengutip Pak Dhe,

    seorang pangeran kraton “yang melakukan pemberontakan” karena adanya “beberapa sebab” antara lain tingginya pajak pemerintah Belanda waktu itu, campur tangan Belanda pada kehidupan kraton.

    “keseleo jari” Pak Dhe? 😦 .
    Kalau saya Pangeran Diponegoro (maunya :)) saya tulis dalam catatan harian saya : Saya tidak memberontak karena:
    Tidak ada yang berkuasa atas diri saya, karena saya punya wilayah kekuasaan sendiri.
    Saya tidak memberontak tetapi “mengembalikan hak rakyat saya yang telah dirampas”.

    saya kutip lagi Pak Dhe,

    do not make judgement … just explore, uncover and present to others

    Jadi ahli sejarah “mungkin” akan mengeluarkan laporan,

    dari penelitian, ditemukan bahwa pada masa itu ada “perseteruan” antara Pangeran Diponegoro dan Belanda mengenai tapal batas, pungutan, independensi Kraton yang menyulut peperangan.
    ….
    Belanda dengan liciknya menjebak (upss… saya tidak tahan untuk tidak membuat penilaian :)) Pangeran Diponegoro dalam sebuah pertemuan….

    Jadi, pada akhirnya bagi saya, saya akan mengambil kesimpulan, ada perseteruan, ada pertemuan, Pangeran “di”-bawa Belanda. Itulah sejarahnya. Yang sudah berlalu.

    Tidak penting lagi membahas who DID what. Yang penting sekarang apa dampak hubungan yang terjalin sekarang dan akan kemana kita melangkah. Wakkk, jadi binun sendiri.

    Pokoke kalau ada Mojang Londo yang suka ama gue. Tak peristri! 🙂 Kenapa Londo ? ya karena ia suka sama gue, masa maksa orang yang nggak suka :)).

    Saya pikir kalau kita meneliti suatu daerah dan menemukan molekul H2O maka kita mengatakan eureka! Air boo..!
    Dan ketika suatu Parchment ditemukan, kita dapat mengatakan kita sampai pada peradaban apa, bukan karena tulisannya tetapi dari analisis bahan parchment itu!

    Ketika ahli sejarah nimbrung maka ia memulai dengan kata “Di dalam parchment itu “Ter”-tulis ….,

    dan ketika sutradara tertarik dengan salah satu tokoh di dalam parchment itu maka ia akan MEnokohkannya dengan “intrepretasi” ke-sutradaraannya!

    Wuihh, alangkah bahagianya seorang geologist. Jadi Iri ni :))

  10. Risk,
    Menuliskan biografi ibu sendiri ya ndak apa-apa to.
    Kan pembacanya nanti juga akan melihat perawinya seperti yang anda tuliskan diatas 😉

    kalau anda jeli membaca tulisan tentang sejarah (1 dan 2). Anda akan mengerti kira-kira nanti pembaca akan seperti apa menanggapinya.

    Mudahnya begini, apa kira-kira pendapat orang-orang sekitar kraton yang rumahnya kena gusur Belanda pada jaman Diponegoro. Dan bagaimana pendapat Belanda dengan gerakan Diponegoro ini. Apakah Diponegoro seorang pejuang atau pemberontak ?

    Saya akan menuliskan bahwa pada tahun 1825 ada seorang Pangeran Jawa yang berjuang melawan Belanda. Pangeran ini bernama Pangeran Diponegoro, seorang pangeran kraton yang melakukan pemberontakan karena adanya beberapa sebab antara lain tingginya pajak pemerintah Belanda waktu itu, campur tangan Belanda pada kehidupan kraton. Serta adanya sebab langsung yang menyulut peperangan akibat pematokan yang dirasakannya semena-mena yang dilakukan oleh Belanda dalam merancang sebuah jalan…. dst dst

    Selamat menulis biografi, kalau boleh nanti saya dibagiin bukunya 😀

  11. saya tau blog ini dari paman ane yang geologist, katanya”baca aja kalo ada selo” =)

    orang yang punya integritas ngga akan membengkokkan sejarah. kalo mau liat baca tentang sejarah liat dulu si penulis sejarah, macem kalo belajar hadith liat perawinya..
    saya lagi pengen banget bikin biografi ibu saya, jadi saya harus memperhitungkan integritas saya sebagai seorang anak. apakah saya cukup pantas untuk menuliskan garis-garis kehidupan (atau titik-titik?) yang dengan segala likunya menggambarkan sosok ibu saya.
    (lho kok malah curhat..)

    kunjungi pejalanjauh.com kalo sempat. bukan ttg geologi tapi tentang manusia dan kemanusiaan dari sepotong cerita tokoh-tokohnya

  12. Bagaimana mana meluruskan kalau tidak tahu mana yang bengkok, bagaimana mana membengkokkan kalau tidak tahu mana yang lurus. Dua titik membentuk garis lurus? Ternyata ada arcus. Tetapi jarak terdekatnya tetaplah sebuah garis lurus.

    His story or Her story based on His or Her FUTURE intentions.

    For me, most of time, my interaction to Him or Her (story(ies)), it’s purely Personal Judgement. It’s purely for my FUTURE intentions too.

    Consensus only applies when it takes others into account.
    So, is your life depend on the others?

  13. Sejarah biasanya adalah Sejarah Sang Pemenang… Coba dulu misalnya Rusia keok pada Perang Musim Dingin 1939, tentu wilayah Karelia akan tetap menjadi milik Finlandia…..

  14. “pelurusan sejarah” yg sering saya dengar/baca beritanya (terutama di Indonesia, pasca keruntuhan Soeharto) sepertinya mengacu kepada dibeberkannya/dimunculkannya fakta2 baru yg sebelumnya ada tetapi telah (dengan sengaja) disembunyikan, dimanipulasi, atau mungkin tidak dikehendaki kemunculnnya.

    saya kira hal seperti itu wajar-wajar saja, toh sejarah juga bisa bersifat dinamis. kemunculan fakta baru tentu akan melengkapi puzzle sejarah yang ada, dan bisa jadi memang akan “meluruskan” sesuatu tadinya belum atau tidak lurus…

  15. @bank al, betul tuh darimana kita tahu bahwa ahli sejarah yang sekarang berkoar-koar ingin meluruskan sejarah bukannya malah membuat bengkok sejarah, atau mereka hanya ingin cari muka mengikuti trend tuntutan politik yang ada..??

  16. Belajar dari Sejarah tidak sama dengan belajar Sejarah.
    Kalo “belajar dari sejarah” artinya mengambil nilai-nilai penting dari kejadian masa lalu untuk diterapkan di masa kini. Kalo “belajar sejarah” cuman ngapalke tahun dan kejadian di masa lalu dan lupa sama esensinya. 🙂

  17. Aku suka bingung dengan usaha pelurusan sejarah ini. Darimana kita tahu mereka meluruskan sejarah dan bukan malah membengkokkan sejarah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: