Bola-bola itu menyerap energi


bola-bola-ajaib-1.pngBarangkali anda termasuk yang penasaran soal bola-bola yang akan dimasukkan ke lubang semburan lumpur, sayapun juga begitu. Aku sendiri belum melihat dengan mata kepala sendiri dan belum tahu bagaimana penjelasan ilmiahnya. Lah ngga ada yang ngasih tahu atau ngirimin artikel (presentasi) tehnisnya 😦

Namun dengan sedikit meraba-raba serta berdiskusi dengan kawan-kawan yang ada aku buat sedikit penjelasan hanya untuk mengobati penasaran.

– 😦 “Sungguh mati aku jadi penasaraan … sampai matipun akan ku perjuangkan … lala la la ”
(Kiyun nyanyi lagu-ne Rhoma 😀 )

UPDATED (26 Feb 07)

bola-bola-ajaib-2.pngBola-Bola rantai – HDCB (High Density Chain Balls)

Bola itu terdiri atas empat bola yang merupakan gabungan dua bola besar berdiameter 40 cm, dan dua bola berdiameter 20 cm. Bola-bola ini memiliki densitas tinggi sehingga diharapkan tidak terlempar keluar lagi. HDCB yang setiap rangkaiannya terdiri dua bola besar yang berdiameter 40 cm dengan berat 200 kilogram dan dua bola kecil berdiameter 20 cm yang mempunyai bobot 160-170 kilogram. Dan per harinya maksimal dimasukkan 25 rangkaian. Jumlah untaian bola-bola beton total yang dipersiapkan berjumlah 375 untai, bola inilah yang telah dicetuskan para pakar fisika dari ITB.

Bagaimana kerjanya ?

bola-bola-ajaib.pngSecara mudahnya, cara kerja bola-bola ini kurang lebih seperti yang digambarkan di sebelah ini.

Bola-bola beton ini akan menahan energy aliran yang sangat kuat dari bawah. Energi mekanis ini diharapkan akan mengenai bola-bola HDCB sehingga bola-bola ini akan saling bertumbukan, berputar, dan mengubah arus lumpur menjadi lebih turbulen (olakan). Perubahan energi ini diharapkan mengurangi energi aliran lumpur dari bawah, sehingga energi aliran yang keluar menjadi sangat lemah.

Menurut pakar fisika ITB ini diharapkan akan mengurangi laju aliran hingga 70% .. Waaah hebat donk kalau berhasil 🙂 . Memang metode killing mud softly ini tidak secara khusus didesign untuk mematikan semburan, tetapi hanya mengurangi laju aliran – Ini yang perlu diketahui bersama. bahwa mengurangi laju alirannya saja sudah akan membantu meringankan beban pengelolaan jumlah lumpur ini yang tercatat masih diatas 125 000 m3/hari.

Tingkat keberhasilannya belum diketahui, lah wong belum pernah ada yang mencoba. Risiko munculnya semburan baru, barangkali bisa tereliminir seandainya pengurangan laju alirannya atau pemampatannya perlahan-lahan. Itulah sebabnya penurunan bola-bola ini harus tepat, kalau terburu-buru dan menutup semburan dengan cepat ditakutkan muncul semburan lain, karena tanah disana sudah retak2. Sedangkan kalau perlahan-lahan malah bisa juga hanya turun jatuh kebawah atau ke dasar.

UPDATED (26 Feb 07) (thanks to Enda Nasution)

hdcb-1.png

Disebelah kiri ini dasar teori yang dipakai oleh Tim pakar dari ITB (Institut Tehnologi Bandung). Secara mudahnya gini. Kalau kamu mau jalan dari Blok M ke kota trus jalannya lurus lewat Jalan Sudirman – Thamrin – trus lurus ke Kota tentunya mudah. Apalagi kalau jalannya sep, pas lebaran pada pulang kampung misale. Nah dengan model seperti itu, tentunya sesampai di Mangga Dua kamu masih sehat dengan kekuatan penuh bisa blanja di ITC kan ?

Nah kalau jalannya macett trus kamu mesti pergi lewat jalan tikus bludas-bludus ngga bisa pakai mobil, terpaksa pakai ojek. Pasti kepanasan, lenggeh-lenggeh. Sampai di Bundaran HI saja sudah loyo, mungkin melewati Monas Merdeka Barat juga sudah pelan jalannya. Lah iya dikerjain sama lalu lintas yang ruwet 🙂 . Demikian juga dengan lumpur ini, dikerjain sama bola-bola supaya jalannya berkelok-kelok, nabrak-nabrak bola HDCB (mending kalau Harley Davidson dan Honda CB 😉 ) .

Ide inilah yang dipakai sehingga diharapkan anda tidak terjebak mampet begitu saja tetapi masih bisa mengalir. Hanya dipaksa supaya tenaga anda habis dijalan karena kepanasan.

hdcb-2.pngJustru kalau anda mampet-pet secara mendadak akan berbahaya. Hal ini sangat disadari karena tanah-tanah dibawah sekitar Lusi ini sudah retak-retak. Sehingga akan lebih mudah memaksa keluar apabila dimatikan dengan mendadak. Itulah sebabnya ide menutup semburan dengan BOM dengan BLock maupun dengan selubung beton sangat tidak disarankan.

Menutup pelan-pelan akan lebih bagus ketimbang mak PET!. Seperti digambarkan disebelah ini.

Selain sebagian penjelasan grafis diatas, ada juga tanya jawab ke Tim ITB yang aku sitir sbb.

Dengan hormat,

Menanggapi memo yang dikirimkan oleh Bapak Prof Dr Ir Wiratman kirimkan kepada kami melalui e-mail tertanggal 18 Desember 2006, maka dengan ini kami akan memberikan tanggapan serta penjelasan berkenaan dengan pertanyaan yang disampaikan oleh Beliau berkenaan seputar metoda insersi HDCB.

    Pertanyaan 1 (Prof. Wiratman)

Dalam penerapan rumus v = Debit/A, konsep HDCB bertujuan untuk mengurangi Debit dan energi semburan dengan cara memperlambat v dan mengurangi A. Namun rumus tersebut tidak memperhitungkan besarnya residual pressure yang menurut informasi mencapai 40 bar.

Penjelasan (Tim BSU – HDCB):

Berdasarkan informasi dari media center bahwa debit semburan Lumpur adalah 1.700 liter/detik atau 1,7 m3/detik atau setara 150.000 m3/hari. Dengan luas lubang semburan mengacu pada diameter sumur sebesar 30 inch, maka diperoleh laju semburan sebesar 3,7 m/detik (laju akan lebih rendah apabila diameter lubang crater sesungguhnya dimasukkan).

Berdasarkan data di atas, maka residual pore pressure dapat dihitung sebagai berikut :

    = 0.5 X 1333 kg/m3 X (3,7 m/detik)2

    = 0,0093 Bar

Dari hasil perhitungan di atas, maka kami mohon maaf jika ternyata tidak sependapat dengan pernyataan bahwa residual pore pressure di atas permukaan adalah sebesar 40 Bar.

Pore pressure memang dapat mencapai ratusan Bar pada kondisi ribuan feet di bawah permukaan, namun karena tekanan hidrostatik juga hampir mendekati nilai tekanan tersebut maka residual pore pressurenya tidak terlalu besar.

    Δpore_pressure (z) = pore_pressure (z) – hidrostatik_pressure

    Pertanyaan 2 (Prof. Wiratman)

Pada awal pemasukan HDCB, untaian bola-bola dengan mudah akan turun. Tetapi dengan bertambahnya jumlah HDCB yang masuk ke dalam lubang aliran, akan terjadi built up pressure yang terus membesar, sehingga HDCB tidak lagi dapat turun karena mengalami tekanan aliran yang besar, bahkan terbawa aliran deras dan tersembur keluar. Ini yang terjadi pada peristiwa jatuhnya korban jiwa operator excavator yang jatuh terlempar akibat “meledaknya” built up pressure akibat menyempitnya lubang aliran karena guguran tanah yang masuk ke dalam lubang.

Penjelasan (Tim BSU – HDCB):

Dari hasil simulasi kami untuk kondisi semburan yang sangat ekstrim, dimana head semburan mencapai 20 meter dan kecepatan semburan sebesar 19,8 m/detik atau 72 km/jam, bola HDCB yang berdiameter 20 cm masih dapat bergerak ke bawah permukaan dengan laju 30 m/detik atau sekitar 120 km/jam. Sehingga dengan hasil perhitungan ini, pada kondisi ekstrim saja HDCB masih akan meluncur ke bawah lubang semburan hingga mencapai posisi lapisan tanah keras yang sangat dalam.

Jika ada blow-out akibat pressure build up, maka justru energinya akan diredam oleh HDCB karena ada mekanisme serapan energi yang dihasilkan HDCB, yaitu :

– energi friksi HDCB terhadap Lumpur
– energi rotasi HDCB
– energi translasi HDCB
– energi getar HDCB

Mekanisme peredaman energi ini dapat dianalogikan seperti sebuah “sansak tinju” dimana energi yang dilepaskan akan dikonversi menjadi panas dan gerakan mekanik partikel-partikel HDCB.

Dengan insersi HDCB ini, kemungkinan proses penyempitan leher secara tiba-tiba dapat diminimalisir atau dihindari, sehingga lubang crater akan jauh lebih aman jika dibandingkan terbuka karena efek redam yang berlaku pada HDCB pada build up pressure (penjelasan lebih detil dapat dilihat pada Dokumen FAQ Jilid 1 yang kami sampaikan).

    Pertanyaan 3 (Prof. Wiratman)

Residual pressure yang 40 bar tersebut hanya dapat dilawan dengan counter pressure yang nilainya sedikitnya sama. Itulah sebabnya Blow Out Preventer (BOP) dalam teknik pengeboran minyak mempunyai kapasitas sampai ratusan bar, bahkan ada yang sampai 1000 bar. Penyumbatan lubang semburan blow out harus dilakukan cepat sekali, artinya counter pressure (lumpur berat) harus tercipta dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, mendahului terjadinya built up pressure yang tinggi. Dengan demikian usaha menghentikan/mengurangi semburan lumpur Lapindo Brantas dengan mencemplungkan HDCB secara berangsur menyalahi prinsip di atas, sehingga diperkirakan tidak akan berhasil.

Penjelasan (Tim BSU – HDCB):

Proses insersi HDCB secara gradual dilakukan karena :

  1. untuk menjaga kondisi quasi static pada saat sistem menuju kesetimbangan baru
  2. untuk menghindari peristiwa hydro fracturing akibat gaya besar yang terjadi karena penutup lubang semburan secara tiba-tiba
  3. untuk menghindari hydro fracturing terutama jika asumsi kondisi pore pressure tetap tidak sepenuhnya benar

End Quote —
Kemungkinan kegagalan

potential-failure.pngpotential-failure1.pngTidak banyak dijelaskan di publikasi media-media yang ada, apa saja yang mungkin menjadi penyebab kemungkinan kegagalan metode ini. Namun secara spekulatif saya kira kalau lubangnya sudah cukup besar bola-bola berdensitas tinggi akan sampai ke titik paling dasar dimana disana alirannya tidak ada. Atau dengan kata lain kalau bola-bola ini duduk ndeprok di pinggiran lubang, ya tentusaja mekanisme ini tidak bekerja.

Bentuk lubang tentunya sulit diprediksi. Tidak ada yang tahu, karena lubang keluarnya ini jelas bukan lubang pengeboran sumur BPJ-1.

Semoga saja metode ini akan berhasil karena biaya yang dikeluarkan juga sudah cukup banyak. Ada yang mencatat 4 Milyar rupiah, menurut Tabloid Kontan :

Walau tak menghentikan semburan, biaya killing mud softly yang akan mulai diterapkan pada 7 Februari ini tak sedikit. “Biayanya Rp 4 miliar,” kata Basoeki, terus terang.

Hitungan kecepatan bola dihitung oleh R Irawan sbb :

Om papang benar, bola memang bisa tenggelam.
Kita bahkan bisa pula menghitung kecepatan (ub) masuknya bola.
Pertama perlu ditetapkan beberapa asumsi, seperti yang sudah pernah dihitung oleh om papang:
– Kecepatan (ul) arus lumpur = 1,736 m/detik
– Massa Jenis (δ) lumpur segar = 1300 Kg/m3
– Penampang(A) lubang = 1 m2 (setelah lewat kepundan yang garis tengahnya 50-60 m)
– Diameter lubang : d = √ (4.A/pi) = 1.128379167 m
– Angka Reynold (Re) = 6000
– Jumlah berat (ΣW) runtaian bola-bola = 225 Kg (Kompas 22/02/07: 200-250 Kg, 2 bola 40 cm dan 2 bola 20 cm)

Besaran berikutnya:
Jumlah Volume : ΣV = 2 V1 + 2 V2 = 2 . 1/6 . pi . (d1^3 + d2^3) = 0,075398223 m3
Dengan pengabaian atas kawat penghubung bola-bola, diperoleh:
Massa Jenis (δb) bola = ΣW / ΣV = 2984.155 Kg/m3

Seperti telah dijelaskan oleh om papang, Berat bola (W) sama dengan Gaya apung (F) ditambah Gaya drag (R) setelah tercapainya kecepatan nominal yang tetap : W = F + R.

Kita cermati bola1 (d1 = 40 cm): W1 = F1 + R1
1/6 . pi . d1^3 . δb . g = 1/6 . pi . d1^3 . δ . g + ½ . δ . c . A1 . (ub1 + ul1)^2
Dengan A1 = ¼ . pi . d1^2, diperoleh:
Kecepatan turun bola1: ub1 = {(4.d1.g) . (δb/δ – 1) / (3.Cd)}^0,5 – ul1
Kecepatan-riel lumpur yang lewat di sekeliling bola : ul1 = ul . A / (A-A1)
Koeffisien drag Cd merupakan fungsi dari Kecepatan ub1, sehingga hitungan harus diselesaikan dengan numerik. Dengan angka Reynold 6000 seperti diusulkan oleh om papang, berdasarkan Tabel-empiris (Willy Bohl, Kamprath-Reihe, halaman 266), Cd ≈ 0,4 saja. Angka Cd = 3,8 dapat terjadi apabila permukaan bola diberi sirip-sirip, sehingga memungkinkannya melakukan rotasi untuk penyerapan energi seperti yang dikemukakan oleh team ITB, namun yang saya lihat di koran dan TV, ternyata bola-bola betonnya mulus.
Maka Kecepatan turun bola1 : ub1 = 2,130244863 m/detik.

Berdasarkan asumsi om papang Re = 6000, kita bisa cek kekentalan lumpur (viskositas): ט = (ul1 + ub1) . (d – d1) / Re = 0.000499638 m2/detik. Kekentalan itu mirip dengan oli kental SAE140 pada suhu 20 derajat C. Apabila kita sudah memperoleh data sesungguhnya dari lumpur segar dari hasil pengukuran lab, maka perhitungan kita dapat disempurnakan.

Selanjutnya bola2 (d2 = 20 cm): W2 = F2 + R2
Kecepatan turun bola2: ub2 = {(4.d2.g) . (δb/δ – 1) / (3.Cd)}^0,5 – ul2
Kecepatan-riel lumpur yang lewat di sekeliling bola : ul2 = ul . A / (A-A2)
Maka Kecepatan turun bola2 : ub2 = 1,117968395 m/detik.

Dari perhitungan diatas dapat dipastikan, bahwa kedua bola besar (40 cm) cenderung lebih cepat turun daripada kedua bola kecil (20 cm), tetapi karena mereka diuntai dengan kawat dan 2 yang besar dimasukkan terlebih dahulu, maka untaian itu akan cenderung masuk lurus ke bawah.

Andaikan lubangnya lurus terus sampai ke kedalaman 3000 m dan secara kualitatif kita ambil kecepatan rata-rata untaian-bola : u = {(ub1 . d1^2) + (ub2 . d2^2)} / (d1^2 + d2^2) = 1.92778957 m/s, maka dapatlah diramalkan, bahwa untaian bola akan sampai di sumber energi sebesar 100 MW di kedalaman 3000 m dalam waktu: 3000 m : 1.92778957 m/s = 1556 detik ≈ 26 menit !!!

47 Tanggapan

  1. siapapun yang bingung di atas bearti bodoh……..karna saya sangat memahami apa yang di tulis oleh pompong,dan saya rasa pompong sangat (engak bana)

  2. saya g ngerti maksud kamu,dansaya kurang paham mengenai bola bola……….

  3. kenyakan rumus bikin botak
    masak mua belok ja kecepatannya di hitung sgala,,,,
    yang pnting belok dngan slamat udah cukup

    tp bljar tu baek

  4. sya juga bingung bacanya jd yang simpel aja ya!

  5. Buat om pampang, tolong beri no.telponnya. Karena saya mohon bimbingannya, saya baru menemukan solusi baru untuk semburan Lusi yang saya beri judul IRON BALL FILLTER. Cara kerjanya hampir sama dgn bola beton, tetapi mampu mengurangi debit lumpur yg keluar, tidak akan melebur oleh kuatnya arus kumpur serta menyumbat secara perlahan karena adanya endapan lumpur yg terjaring oleh filter baja yg lama-kelamaan menumpuk dan menyumbat. Singkat kata merubah arus bergerak menjadi resapan. Ditunggu no. telponnya! Thanks..Loempoer_Rescue.

  6. masalah lumpur sidoarjo tidak akan selesai dengan hitung2an dan rekaan ilmiah semata, tetapi dengan niat baik! meskipun hanya dengan teori konvensional dan sederhana sekalipun! pintar dan dan jenius belum tentu tepat dan bijaksana. semua masalah dan bencana karena egois kita, bertawakal dan ikhtiarlah semampu mungkin. ini cuma saran dari seseorang bodoh yang peduli nasib saudaraku disidoarjo. loempoer Rescue….

  7. saya punya temua yg dinamakan ball sendiment dan baloon water pressure, kontak teknis hubungi e-mail diatas no.telp.081370015805. loempoer rescue

  8. Akue ngak brape ngerti soal bola2 sebabnye akue sdiri baru nak memulakannye…..

  9. kebanyakkan rumus jadi bingung, ya….sama-sama berdoalah smoga bisa di tangani dengan cepat.

  10. Untuk mengukur kedalaman lobang dengan cara berikut.
    Caranya adalah membuat sebuah bola yang cukup berat (setahu saya bukan terkait di untai HDBC) yang dihubungkan pada sebuah bagian lain yang berisi sensor tekanan (kayaknya sistem kerjanya mekanis dengan pegas) dan pelampung. Pertama-tama sensor tekanan/pegas diatur sesuai tekanan tertentu (yang berkolerasi dengan kedalaman). Sensor ini akan mengunci kait dengan bola jika tekanan kurang dari yang terpasang, sebaliknya kunci akan membuka jika tekanan lebih dari yang ditentukan. Untai bola+sensor+pelampung ini kemudian dilepas pada lobang. Untai ini akan terus turun….. sampai suatu saat tekanan/kedalaman mencapai nilai yang ditentukan sehingga kunci terbuka yang berakibat sensor dan pelampung akan naik ke permukaan. Dengan cara demikian maka kedalam lobang dapat diketahui. Jika dengan benang/GEM saya pikir akan jauh lebih sulit dan mahal!!!
    Btw… sekedar tanya, kmrn saya baca di koran penemu ide “bola beton” adalah seorang montir di Solo bernama Tito (tidak pakai Sumarsono 🙂 , apa benar ini? kata dia pernah mengirim ide ini secara tertulis ke presiden dan bupati sidoarjo tapi tau2 sudah jadi ide “tim ITB”… mohon informasi! (sekedar pengen tau sah2 saja kan)

  11. untuk pak Dalbo, astronom itu hanya melihat dari jauh dan ngetung-etung, sedang astronot itu menerbangkan pesawat ruang angkasa keangkasa luar,melihat dari dekat benda-benda angkasa,kalau perlu turun ke bulan atau planit.Disini astronom berteori,astronot menjalankan praktek.
    Sebaliknya,pada penentuan hari raya Idul Fitri, astronom melihat dengan teropongnya kapan bulan mati,tetapi ahli hisab menghitung kapan terjadi pergantian hari.Jadi disini astronom menjalankan praktek,ahli hisab berteori.
    Jadi para komentator yang NATO disini, sebenarnya sedang menjalankan berperan sebagai “astronom” pada saat peluncuran HDCB,sebagaimana astronom berperan dalam peluncuran pesawat ruang angkasa.

  12. Teknik bola-bola di atas dapat memperlebar lubang semburan akibat gerusan disekeliling lubang oleh turbulensi fluida dan tumbukan bola-bola.

    Bola-bola pada suatu saat akan hancur karena suhu dan tumbukan antar bola.

    Kami punya teknik terbaik untuk mengelola lumpur lapindo yang dapat menghasilkan energi listrik.

  13. pak Dalbo, saya tadi siang hadir (tanpa undangan) diseminar Lumpur Panas Lapindo di Fakultas Teknik UGM yang dihadiri peserta dari berbagai disiplin/MULTIDISIPLIN ilmu sesuai undangan,dengan pembicara dari Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur .Saya sendiri datang sebagai anggota masyarakat umum yang menaruh perhatian pada bencana Lusi, bukan sebagai wakil institusi akademis.Dalam session tanya jawab kepada Timnas saya sampaikan masukan-masukan terutama tentang simulasi apabila terjadi penyumbatan pada saluran lumpur seperti yang saya tulis dalam blog ini.Saya katakan kepada Timnas maupun Fakultas Teknik UGM bahwa masukan saya sudah saya tulis di web blog HOT MUD FLOW IN EAST JAVA dan apabila tertarik saya persilahkan selaku institusi untuk menindak lanjuti/mempraktekannya atau mengembangkan barangkali hasilnya dapat dipakai sebagai bahan untuk penanganan lebih lanjut bencana lumpur ini.
    Ternyata diantara para ahli juga belum kesatuan pendapat mengenai asal muasal semburan lumpur lapindo,apa penyebabnya,bagaimana kok bisa lumpur naik keatas sampai lebih 3000 meter dsb.
    Dari buletin edisi ke-13( buletin terakhir, angka sial?)Februari 2007,dihalaman 2 ada tertulis: “jika dalam penerapannya nanti jauh dari harapan,maka rontok lagi secuil kepercayaan publik terhadap yang mengerjakan.Tapi sebaliknya jika proyek ini berhasil,maka dapat dibayangkan betapa kerasnya gaung sukses tersebut”. ( Ada yang mengatakan ini gambling !)
    Sebagai Laporan Utama pada halaman 3 dilanjutkan hal 9,berjudul Empat Ribu Bola Sakti. Sedang dihalaman 4 ditulis:” metode yang telah diuji dilaboratorium ini bakal mampu memperkecil volume semburan hingga 53% – 74%.Bahkan lama kelamaan akan menutup lubang semburan.Masih dihal 4, “Bola -bola beton ini terbuat dari beton K-350 … dst”(ctt: mohon dilihat komentar saya di topik yang lain tentang K /kuat tekan beton ) Di halaman 10 dan 11,pada rubrik wacana pakar,memuat tulisan Bapak Dr.Ir.Dody Nawangsidi,Dosen Teknik Perminyakan ITB, berjudul “Analisis Terbentuknya Mud Volcano Di Sidoarjo.”
    Sebagai peserta tertua,saya enjoy mengikuti acara tersebut. Saya menyadari saya sudah tua,bisanya JARKONI, bisa ujar ora bisa nglakoni, bisanya ngomong tak mampu berbuat nyata alias NATO.Wong nek wis tuwa ki bisane sembur-sembur ora bisa uwur,kata orang Jawa.Oleh karena itu dalam forum tersebut saya hanya dhodhok acung-acung,menunjukkan bahwa di blog nya pak Rovicky ada masukan-masukan yang mungkin bermanfaat.
    Mangga kalau mau dipakai!

  14. TuL NiN … dalem masalah LUSI yang utama adalah action sekali lagi action jangan cuman pinter ngobral teori tapi gak ngasih solosi itu naminya NATO alias No Action Teori thOk ..!
    Kasian sudah cukup lamo warga menanggung derita nan tak kunjung reda apalagi bila cuman dijejalin teori doank….

  15. hmm, klo nggak ngerti bener nggak usah comment deh, apalagi klo cuma kritik doang tanpa ngasi jalan keluar.
    saya kagum nih dengan orang orang ITB yg concern dgn masalah ini, semoga usahanya berhasil yaaa!! tetap semangat!!!

  16. ass…
    nyuwun sewu..(pErmisi maXudnya…,bukan mau minTa uang Seribuw…!he2!!)
    mau numpang nimbrung aja..(habisnya ga bgitu dunkz nih…!he2!).sukses deh buat ITB yang punya banyak ‘stok’ ide bRiLiyan.tapi pa boLanya naNti ga nyangsang?maxudnya ga nyangkut di ‘Lubang’ Lain?sebEnarnya Lubangnya Lapindo yang nyEmburin Lumpur tu ada cabangnya ga seh??takutnya ada lubang Laen.he2!kaLo mampet apa nantinya ga malah buat lubang baru Lagi?nambal lagi…!he21ya..makLum oRang awam kaya diriku ni cuma tau dari TV ja.Bgitu Liat di Internet…ternyata ‘njLimet’ juga ya…!pake ngitung2 sgaLa.makLum di jurusanQ ga da ngitung2 kaya gitu.he2!aFwan kaLo ada saLah2 kata.ya…mungkin ini saatnya muncuL iLmuan2 Indonesia yang pRofesionaL di Bidangnya untuk mengatasi masaLah daLam negeRi Indonesia tercinTa.ITB dah menunjukkan karyanya,yang Lain mana…???Smangat…!!!!

  17. Apa sih hasil kerjaan manusia di dunia ini yang nggak “trial and error”?

  18. semoga lumpur cepat berhenti.Kasihan masyarakat sekitar.Udah dikerjain lapindo, dikerjain pemerintah pula

  19. Pakde, aku nimbrung. Kalau salah, tolong betulin:

    Kalo ibarat masak air diceret, ya repot dan runyam. Wong sumber panasnya belum distop, cuma main dibumpet. Akibatnya ya sudah pada tahu. Tapi yang bikin konsep kan percaya ibaratnya adalah tanki tambal ban dipinggir jalan yang kebetulan bocor dan kompressornya dimatiin. Dibumpet, ya betul.

    Panas dalam kerak bumi normalnya 17-30 derC/Km setelah lewat 150 m. Tapi kalau ada unsur magma, ya bisa jauh diatasnya, misalnya menurut hitungan dinamika panas bisa sampai 420 derC. Beton semen biasa yang tidak bakal tahan, kecuali bahannya khusus.

    Moga-moga ya nggak muncul di kelas.
    Tapi memang sebaiknya dipikirin yang lebih dalam dan luas. Kayak diusulin Om papang: multidisiplinlah!
    Mungkin yang lebih serius adalah prosedur pengambilan keputusan. Di banyak negara yang mapan, setiap konsep di publikasi besar-besaran, dikupas habis-habisan dan dipersilahkan semua orang ikut menilai sesuai bidang keahliannya.

  20. Pak dhe apa nggak tambah bahaya tuh ! Ntar kalo memang sesuai perkiraan, terus semburannya tahu-tahu berkurang lalu mampet..pet. Saya malah takut nanti saat anak kelas XII SMA lagi asyik ngerjakan soal UN tahu-tahu muncul di depan kelas, apa nggak tambah runyam urusannya.

  21. Pak Dhe, brapa suhu di bawah sana ? bahan beton hanya efektif tuk suhu di bawah 70 C, pa ndak hancur ntar? trima kasih

  22. Hallo Pak Dhe,

    Penjelasan yang menarik, terus terang aq baru “ngeh” fungsi bola-bola itu. Terimakasih buat info-nya. Aku tunggu loh data-data dari sensor bola-bola itu kalo memang benar ada didalamnya.

    Seandainya benar bola itu mampu menyerap energi, apa benar lumpur luapan bisa berhenti total sebelum masa energinya keluar dengan alamiah? Aku percaya kemungkinan besar bola-bola itu mampu menahan energi keluar sementara, tapi gw rasa ga akan lama potensi energi tetep keluar jg secara lebih besar di kemudian hari. Ya aq cm berharap semoga lekas beres n ga ada korban jiwa.

  23. Ilustrasi dari Blok M ke Kota memang menarik.

    Tapi bagaimana kalau ibarat kita masak air, yang ceretnya ada tutupnya ya. Terus, kalau ditutup semua macet kan (seperti Blok M – Kota)? Pastilah meluber ke tutup ceretnya. Merembes dan merembes terus.

    Lalu kalau ditutup, apa tekanan tidak semakin besar? Lha wong nggak ditutup saja volume semburannya besar.

    Sementara itu tanah di sekitarnya sudah mulai amblas. Apa tidak membuat pori-pori semburan kecil? Kok aneh buat saya ya? Saya memang bodoh, sama sekali nggak ngerti itungan di atas.

    Plus…..apa sudah dibuat range kemungkinannya? Bagaimana kalau gagal dan bagaimana kalau berhasil? Ada efek sampingnya nggak? Obat kali yeee… JANGAN SAMPAI MEMBUAT MASALAH BARU.

    Apa sampean-sampean ini pada nggak ngerti kalau Indonesia ini, pokoke lakukan saja tanpa mikir efeknya. Efeknya? Gimana nanti deh. Kan penduduk sekitar ini yang menanggung. Tul nggak?

    Terus untuk bencana yang satu ini kategori sebagai apa? Nasional? Yang nanggung siapa? Bakrie? Tuh Bakrie lagi cari duit di pasar modal (saham). Gosipnya sudah lama. Buat bayar ganti rugi kali yeee…….
    🙂

  24. Sekarang saya baru ngerti kerjanya spiral/IUD yang berkelak-kelok = bola beton,lha wong seumur-umur saya nggak pernah pakai.

  25. ooo..thank you sir, baru ngerti saya cara kerjanya…kalau dipikir-pikir, kaya kerja alat kontrasepsi spiral ya? membuat sperma putar-putar dulu kehabisan energi lalu mati..hihihi

  26. Ada yang menarik,
    Katanya ada di brita media TV dan koran di jakarta 😦
    Didalam bola-bola ini ada sensornya, ntah sensor apa aja yg dipasang. Yang menarik adalah apa media transmisi datanya ? apakah dengan gelombang EM, atau dengan gelombang getaran atau yang lain ?
    Atau dengan Data-cable seperti logging di sumur-sumur perminyakan ?

  27. Betul om papang, harusnya 0,093 bar, salah 10 lipat.

  28. Kalau 1 Bar = 100.000 Pa=100.000 N/m2 =100.000 kg m/det2, residual pore pressure =0,093 Bar , bukan 0,0093 .Betul ya ?

  29. Kecepatan (u) 30 m/detik atau 120 Km/jam seperti dikatakan Tim BSU-HDCB adalah tidak mungkin.
    Cobalah cemplungkan bola-bola beton (ρ = 2984 Kg/m³) itu ke AIR BIASA maka kecepatan maximum adalah :
    Bola beton 40 cm : ub1 = 5,0935 m/detik
    Bola beton 20 cm : ub2 = 3,6016 m/detik

    Andakan benar 30 m/detik, maka energi kinetis yang dibawa oleh bola-bola itu akan sangat besar:
    Bola beton 40 cm : E = ½ . m . u² = 45000 Nm ; Jika bola itu menabrak bidang seluas 10 cm², maka akan ada tenaga sebesar 45 juta N, kira-kira sama dengan bola meriam yang dapat meremukkan benteng setebal 1 m dengan sekali tembak.

  30. Kok jadi ngantuk ya aku baca tulisan ini …. zzzzz…zzzz!
    tapi idenya briliant juga, moga aja berhasil

  31. He he pakde, saya juga sering puyeng yeng, kalau membaca berita tentang bola-bola ini.

  32. Pakai benang ?

    😉 sambil mikir2

    Apa ya benangnya ngga putus dengan kecepatan 2 m/detik ?
    Lah aku inget kalau lagi main layangan itu benangnya kalau ngulur benang gelasan diputer keceng kalau ngga gulungannya “dobol” ya benangnya putus tus !!

    Kalau pakai kawat tentunya gulungannya menambah friksi, dan kecepatan 2 m/detik …

    Saya lebih mathuk kalau kecepatan ini dengan perkiraan atau perhitungan (matematis) dengan segala asumsinya seperti yang Mas Irawan buat. Jadi bukan pengukuran (empiris).

    Hanya saja kedalamannya ngga sampai 3000 an metr. Karena bentuk lubang yang ngga beraturan pasti nyangkut !

  33. om papang yang baik,
    cara hitung kecepatan saya uraikan rinci, jadi tim perancang HDCB, mestinya bisa men cek nya.

    pakde Rovicky,
    pernah saya baca dikoran, katanya bola pertama dipasangi benang.

  34. Terus terang saya baru paham teori insersi HDCB dari tulisan (updated 26 Feb 07) ini. Sederhananya mirip tabung filter pasir untuk menyaring air kotor. Dengan Ø lubang sekitar 30 inches (d), sehingga 375 (n) untai HDCB membentuk tabung filter setinggi lebih kurang L = 130 m.

    KONSEP (partial) YANG CERDAS !

    Tabung filter HDCB itu mengakibatkan beda tekanan antara sebelah bawah tabung terhadap sebelah atasnya sebesar: Δp = ½ . λ’ . L . ρ . ul1² / (Ψ² . d’) ;
    Ψ = V rongga / V tabung = 1 – 4/3 . n . (d1³ + d2³) / (d² . L) ;
    Hydraulic diameter : d’ = 4 . V rongga / A tabung = d – 4/3 . n . (d1³ + d2³)} / (d . L) ;
    Koeffisien geser : λ’ merupakan fungsi (reverse-function) dari Re’ [= ul1. d’ / (Ψ . ט] , yang data empirisnya dapat diperoleh dari VDI-atlas.

    Selanjutnya, perancang HDCB mengambil asumsi dasar: TEKANAN DI SUMBER ADALAH STATIS (p), sehingga berlaku:

    Tanpa HDCB : p = ρ . g . H + ½ . λ . ρ . ul² . H/d

    Dengan HDCB: p’ = ρ . g . H + ½ . λ . ρ . ul1² . (H-L)/d + ½ . λ’ . L . ρ . ul1² / (Ψ² . d’)

    Kuncinya disini: p = p’ !!!

    Dengan asumsi berikut:
    Debit Tanpa HDCB = 150.000 m3/hari
    Viskositas = 100 cStk
    Koeffisien geser (formula Moody): λ = 0,0055 + 0,15 (k/d)^1/3 untuk Re . k/d > 1300 ;

    Diperoleh :
    Debit Dengan HDCB = 58.392 m3/hari (39% x Tanpa HDCB).

    Perhitungan diatas hanya berlaku jika sumber tekanan adalah tetap (statis).
    Namun, jika sumber itu dinamis, baik dari subduksi tektonik atau hidrothermal, maka tekanan tanpa HDCB yang semua 500 bar, cukup dengan tambah 25%, maka debit akan persis kembali semula. Dan masih banyak faktor yang perlu dicermati dan dihitung.

  35. Om papang,
    Aku malah bertanya-tanya, gimana cara mengukur kecepatan bola ini ya ?
    Apakah dikasi tali diulur ? Kalo itu sih bisa saja pelan2 hingga 2m/jam, takut bolanya pecah kalee 😉
    Kalau dilepas, apa ada sensor kedalaman yang dikirim sama bola ke permukaan ?

  36. Kecepatan bola turun,menurut TIM BSU HDCB 30 m/det, menurut Pak R Irawan 1,9277 m/det.Dalam pelaksanaannya menurut berita Suara Surabaya net tgl 26/2 -07, kecepatannya 2m/det, menurut Global TV sore.26/2-07 kecepatan turun = 2 m/jam. Banyak versi, namun yang mendekati kenyataan adalah hitungan pak R Irawan sesuai Suara SBY net tsb diatas.

  37. Pertanyaan saya, Apa bola-bola beton itu tidak meleleh saat masuk ke dalam lumpur panas?
    Kan lumpurnya panas…kalo masuk saja tidak apalagi nyumbat.
    (maaf ini pertanyaan orang awam, hehehe…)

  38. Saya bangga dengan temen-temen dari ITB, ini sebuah usaha yang harus kita hargai. Jangan hanya kita menyalahkan dan membangga-banggakan ahli dari luar. Walaupun trial and error tapi tentu ini sudah diperhitungkan. Mudah-mudahan teknik ini berhasil. buat masyarakat tetap optimis dan berdoa

  39. killing mud softly…. wah, kalau ide ahli-ahli ITB ini berhasil, kita patut berbangga. Tapi rasanya, LuSi ini lama lambat laun jadi seperti meja judi, ya? Trial and error… coba dulu deh… nggak ketauan sebelum dilaksanakan… dst. Yah, mudah-mudahan malah nggak nambah dosa.

  40. Alhamdulillah
    Semoga Bola bola ini dapat berhasil mengurangi Volume semburan LUSI, dan tidak bertambah lagi korban yang menyusul seperti kami.
    Dan kami slalu berdoa ……………

  41. Semburannya sangat besar. Jelas ada sumber aktif yang terus-menerus memancarkan lebih dari 100 Mw daya. Dari hukum konservasi energi, tidak ada peluang sedikitpun dari bola-bola menyerap enrgi itu.

    Satu kemungkinan yang teramat muskyil adalah bola-bola mengurangi pancaran daya dengan mengurangi debit air yang terkonversi menjadi uap. Tetapi bagaimana proses kerjanya dengan bola-bola itu?

  42. Setelah dijelasin pake perhitungan, baru ngeh. abis yang ngitung dari FMIPA. Saya cari referensinya di offshore dan geoscience ya nggak ketemu, he…he… (larinya malah ke BREAKWATER… maklum… dah lama nggak makan sekolah!)

    Soal lubangnya nggak or belum terdeteksi ya… tinggal berdoa aja… Moga-moga teknis pelaksanaan ini bisa jalan terus dan membuahkan hasil yang signifikan sementara amblesan belum dimulai secara rapid. Kayak yang terjadi di Guatemala City – Giant sink hole itu loh…

  43. Wupsi ya salah link
    Thanks Luthfi
    😉

  44. Ini ide lagi orang awam, anggap saja khayalan.
    Kalau dikatakan sebelumnya bahwa lumpurnya seperti yang ada di selat madura….berarti ada lapisan permeable ( tembus lumpur ) dibawah tanah menuju laut ….. betul nggak ..wong saya tidak tahu. Dengan kenyataan ini kalau lobang di sumur banjar panji berhasil di sumbat. Lalu bikin lobang lagi dekat selat madura, untuk memeberi tempat bagi semburan baru. Logika otak atik gatuk ini lumpurnya keluar langsung di laut. Tapi perlu peraturan khusus untuk lumpur oloran ini……

  45. Pakde, pas yang baris ini
    Hitungan kecepatan bola dihitung oleh R Irawan sbb :
    itu apa gak salah ngasih link ?

    ttg bola2 ini, aku baru nonton td pagi di tv & gak begitu mudeng.

  46. Maaf nanya Dhe, kalo untaian bola-bola itu saling nyangkut satu sama lain sehingga menjadi semacam jaring berpemberat terus gimana ya??? Apa kecepatan turunnya makin cepat atau justru ndak bisa turun karena untaian bola-bola di pinggir pada nyangkut dinding??

  47. walah, bingung aku bacanya, banyak rumusnya, tapi kalo saya baca, sepertinya penggunaan bola-bola itu kurang efektif ya? walaupun mampu mengurangi laju semburan lumpur tapi sepertinya tidak lama, dan jika ternyata bola tersebut nyangkut, ya udah, fungsi mereka sudah hilang. dan kalau sampai di dasar ?????? waduh tambah pusing aku, ngomong yang bukan bidangku.

    salam kenal pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: