Bisul Lusi sudah infeksi


Slide paling sering terlihat pada simposium ituYa awalnya LuSi hanya sakit bisul, tetapi bisul yang belum cukup mateng. Bisul ini adalah sebuah potensi tekanan yang cukup tinggi yang bisa jadi mirip sebuah balon yang sudah “mentheng-menteng”. Kalau bisul ini tersenggol (gempa) kemudian dicucuk pakai paku payung yang sudah karatan (rig bermasalah) …. Nah jadinya sebentuk luka baru tetapi juga mengeluarkan nanah …. ya mengeluarkan nanah yang merupakan pertanda sebelumnya sudah ada potensi menjadi sebuah koreng. Wong di kiri-kanannya juga ada tanda-tanda muncul korengan sebelumnya termasuk di Koreng (mud volkano) Gunung Anyar, juga yang cukup jauh dari kaki adalah Koreng (mud volkano) Bledug kuwu, disekitar punggung 🙂

Nah sebenernya luka baru kecocok paku bisa diobati dengan mudah kalau saja luka baru itu emang bener-bener luka baru, pakai obat merah plust plaster beres. Kalau kata Rudi Choirudin “nasi sudah menjadi bubur”, jadi ga bisa diapa-apain lagi, sedangkan kata Rudi Rubiandini mengobati dengan Relief Well menjadi telat !!. Mirip seperti kalau di film perang jaman dahulu itu, kalau ada luka karena digigit ular malah dibakar dikasi mesiu supaya membuat menjadi luka bakar yg bisa diobati dengan mudah. Lah ini, korengan bisul yang sudah tercucuk malah diteliti sana-sini. Sambil eyel-eyelan akibat tercucuk, kesenggol, apa malah beneran bisul yang sudah mateng ?
Si Sakit sudah “gero-gero nangis bombay“, eh mantri puskesnya masih melihat dan berpikir “Sakjane, ini kenapa sih sebabnya ?” Malah Pak Mantri puskesmas ini masih asyik melihat-lihat bekas-bekas koreng sebelahnya.

Duh !

Kesiannya luka baru itu saat ini sudah berkembang menjadi infeksi. Saat ini infeksi sudah mulai bernanah. Mengeluarkan asap “Hydrothermal“. Si sakitpun sudah tak kuwat menahan mulai hampir pingsan karena kesakitan lukanya masih belum terobati. Bahkan kebingungan sampai duduk diseputar jalan raya, dan kadang termangu menahan sakit dipinggir rel kereta api.

Akhirnya bisa-bisa bisul kecil ini kan menjadi infeksi dan kalau keterusan salah-salah menjadi kanker … waddduh !!
Kalau sudah berkembang menjadi sakit begini mestinya pengobatannya bukan lagi sekedar obat merah seperti kalau sakit luka baru, tetapi mesti dioperasi, bahkan kalau sangat parah menjadi kanker terpaksa harus amputasi … !!

Duh
Kesian si sakit ini …. 😦

– 😦 “Pak Mantri, gimana nih bisul di kaki saya ?”
+ 🙂 ” Sabar ….. Masih menunggu penelitian lebih lanjut !!!”

GUBRAKKK !!!!

==================================

bisul-bisul-jawatimur.png

Sorry aku nggrundel dewe karena note ini aku tulis dari catatan selama mengikuti International Geological Workshop on Sidoarjo Mud Volcano yang diadakan IAGI bekerjasama dengan BPPT, Badan Geologi dan LIPI, tanggal 20-21 february 2007 lalu. Hampir semua presentasi masih berkutet soal bagaimana terjadinya. Seperti yang terlihat pada slide terpopuler dari Prof. Dr. James Mori, Kyoto University, Japan, yang ditampilkan paling atas itu. Padahal sudah diyakini hampir semua sudah mengerti bahwa yg terlihat saat ini adalah gejala Mud Volcano, lah wong judul workshopnya saja sudah tegas menyatakannya Mud Volkano, kok.

Banyak sebenernya yang bisa dilakukan oleh ahli bawah permukaan ini. Mirip seperti ahli-ahli kebumian kalau melihat gejala dan menangani bencana gunungapi. Banyak hal-hal yang bisa dilakukan untuk melihat bagaimana mekanisme pembentukan dari gunung lumpur ini, dan perkiraan proses-proses yg menyertainya sebagai metode prediksi. Kalau dilihat presentasinya memang ada beberapa yang berbicara soal stadia-stadia gunung lumpur. Namun semua masih kualitatip. Masih sangat langka penelitian dengan kualitatip, diperlukan angka-angka yang menjadi bahan utama oleh para ahli teknik sipil dalam merancang konstruksi penahan atau pengatur gelontoran lumpur. Misalnya apakah perubahan serta perkembanganya episodic/intermitten prut … diem … prut … diem … ataukah slow continues. Dengan rates sekian meter sehari …

Seorang geolog tentunya kalau mau melihat gejala masa lampau ya melakukan pengeboran saja di lokasi Porong-1. Dilihat pada section paling muda (section amblesan), apakah ada perubahan yang kontinues atau ada perubahan yg intermitten.

Dr. Lambok Hutasoit, ITB (hydrogeologist) konsen dengan sumber air apakah trapped water (air jebakan) yang bisa habis suatu hari nanti atau recharge water (air siklus). Untuk mengetahui hal inipun hanya perlu studi isotop yang dapat dilakukan dengan cepat, menurut beliau metode ini sangat bagus menentukan darimana sumber air karena menentukan seberapa besar volumenya. Tetapi menurut penuturan beliau sewaktu mengisi seminar di BPPT minggu lalu, belum ada yang melakukan uji isotop ini.

Ada satu kalimat yang cukup tegas dari Pak Basuki (ketua TimNas) yang disitir Majalah Nature :

“We are trying to save homes.
This is not a science experiment.”

—Basuki Hadimuljono

Iklan

16 Tanggapan

  1. bisulnya ada di lapindo…

  2. […] tentang bawah permukaan. Dan selanjutnya masih dipakai oleh TimNa. Sayangnya luka baru yang terjadi terlambat ditangani sehingga menjadi infeksi. Luka koreng ngga bisa disembuhkan dengan obat merah […]

  3. Hehehe …
    Om ki piye tho, kok trus dikonotasi, … main wayang yuk.
    Aku dadi Kresnone, jenengan dadi Anomane:
    K: “Hanoman!”
    A: “Katimbalan dawuh sinuwun … nuwun ninggih kawulo noknon”
    K: “Priye tho kowe kok dadi leno, lali kuawajibanmu hee …, kae dhosomuko lagi mbarang ngamuk ngadul-ngadul si lusi”
    A:”Whaduhhh …. hemmmm. Nyuwun cadong duko sinuwun … ” (trus jenengan mak klepat, etok etok mabur, …. koyo ngene kiye lho om).
    musik: — drodok-dok-dok …. dok-ge-nyeng … dok-ge-nyeng
    …..
    A (ngundomono):”Wheeh …. dhosomuko, hora bali mnyang sumowono klakon den shopke, den tableg sakjrone kawah sidoardjo. …. wheee lhaa dhalaa!” (trus jenengan tilikromo dadi butho)
    musik: …. dog-kleneng … dog-kleneng ….
    (Om-om, …. wis esuk kiyiiii … )
    A: “Whee … lhadhalaa …..!” waaw durung nganti nableg jeee …

    ———————-
    a yam zorri … intermezzzooo

  4. istilahnya bukan disuwuk.Disuwuk itu punya konotasi positif, misal seorang anak disuwuk olek kakeknya,dalam konteks ini sikakek meniup ubun-ubun cucunya biar kelak menjadi orang yang berguna,atau dalam konteks lain mbah dukun meniup ubun-ubun kliennya agar sembuh dari penyakitnya.
    Kalau tindakan Bandung Bondowoso itu namanya “nyepatani”,dalam arti menyumpah serapah agar tertimpa hal yang buruk bagi yang dikenainya. Hal demikian juga dilakukan oleh kakeknya Hanoman terhadap nenek Hanoman sehingga nenek Hanoman menjadi batu.( dari cerita wayang Cupumanik Astagina)

  5. Apa ga’ bisa yo, …. lumpure lusi “disuwuk” ben dadi batu. Klo dah jadi batu … lak trus buntet mak tettt! …. lumpure ga’ metu maning coooy.
    Teknologi “nyuwuk” bisa pinjem referensi dari bandung bondowoso. Kan udah terbukti, …. roro jonggrang dadi watu, nek gak percoyo … glo, ge deloken neng prambanan.
    Kecian banget yo, padahal si roro cantik imut, tapi kok bisulan.

  6. hah, mau diamput…asi???

  7. kira2 kayak gimana tuh tehniknya kalo amputasi dilakukan pada si lusi, dipotong gitu? trus apanya yang dipotong?

  8. Mas, Hasil dari workshop yang kemarin apasih rekomendasinya ? di sesi terakhir hari kedua, saya pulang.Gak ikutan lagi.
    Tapi Masukan Benyamien Sapii tentang tectonic setting yang ga dibahas di workshop bagus juga tuch buat masukan.

    Mas punya file tentang geologi struktur dan tectonic setting bahasa indo gak ? mau doongz.

    salam

  9. MAs Amien,
    kan bisa dilihat2 juga … apakah ada pecahan kaca didaerah itu, kalau banyak pecahan kaca barangkali memang daerah itu banyak anak kecil main ketapel atau main bola ngawur nendang mengenai kaca.
    Nah kalau mungkin nanti dengan statistik, tinggal dilihat saja kaca jaman dahulu kan beda dengan kaca jaman sekarang. Lihat saja pecahan kacanya apakah tiap sepuluh tahun terjadi atau tiap hari. Nanti bisa dikira-kira kapan akan ada kaca pecah, berdasarkan sejarah masa lalu (historical statistics).
    Lah yang penting siapa saja yang main bola dan main ketapel harus tahu bahwa daerah ini banyak kaca yang mudah pecah. Yang memecahkan kaca harus ngganti …
    gituuu

  10. Kata-kata orang jepang (mori) ini yang paling populer di Surabaya dan selalu dikumandangkan oleh orang-oarng bahwa “WALAU TIDAK ADA PENGEBORAN LUMPUR INI AKAN KELUAR SENDIRI”. Sampai sekarang saya betul-betul dibingungkan dengan ilmu geologi yang saya anut bila mendengar kata-kata ini. Kalau ditanya saya jawab saja bahwa kaca jendela ini akan pecah dengan sendirinya walau tidak dipukul. Masalahnya kapan kaca itu akan pecah dengan sendirinya? Pecahnya dimana? dst dst.

  11. Semoga Bisul – Bisul di hati kami ( Korban Lusi )tak seperti Bisul SI Lusi Yang uadh mau meletus eehhh meladak

  12. Kebetulan analogi bisul infeksi dan amputasi ini sedang dialami anak saya yang baru jatuh dari sepeda dan lukanya nggak mau dirawat sehingga bernanah dan ‘njeblug’ lah satu koreng lagi di sebelah lukanya. Untung ibunya nggak gaptek, dan anak-anak sekarang kalo baca posting-posting di internet lebih percaya. Jadi berkat Pak Rovicky, sekarang tuh bisul udah mau di sudet, dikasih salep garamicyn trus diperban. He… he… (contoh bahwa SCIENCE emang berguna di segala aspek kehidupan, gitu loh!!!)

  13. Sebentar lagi amputasiiiiiiiiiiiiii

  14. hem-hem-hem (belagak kayak orang ngerti aja). tapi sumpah pak, setelah saya baca artikel anda saya jadi memahami bagaimana proses terjadinya “Mud Volcano” ini. ya karena analogi bisul yang bapak pakai, saya jadi gampang memahami.

  15. To divert from the Lapindo drilling activities as being the core of the problem, must be seen as hiding from being liable, it does not help to provide a scientific explanation to everyone who wants to know why this disaster ever started, and how to stop it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: