Mencegah dan mengatasi jebolnya tanggul Porong


JAWAPOS– “Pakdhe, bagaimana kabarnya relief well ?
+ 😦 “Au ah lapp !!”
– “Looh kan Pakdhe bilang harus terus dijalankan, kan katanya bisa dipakai untuk menambah data”
+ 😦 “Au ah lapp !!”

Mengatasi bencana lumpur ini memang bisa dari dua cara, yaitu menutup sumbernya, yang kedua mengelola lumpur yang sudah, sedang dan bakalan keluar. Menutup sumbernya bisa dengan dua cara juga yaitu dari bawah permukaan dengan sumur juga usulan Rusia yang mboh seperti apa caranya [wong katanya rahasia pabrik], dan dari atas permukaan termasuk dengan ditableg besi dan atau beton.

– “Ada cara satulagi, Pakdhe. Dicemplungi kambing congek
+ “Hust !”

Daripada suudzon (berprasangka buruk) karena tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana, mari kita lihat bagaimana penanganan di atas saja ya.

Surface management dari hotmudflow ini menjadi hal yang paling penting setelah adanya vonis dari banyak ahli kebumian (geoscientist), bahwa yang keluar ini merupakan gejala mudvolcano yang secara alamiah keluar sendiri. Namun karena belum pernah ada yang berhasil menghentikan semburan lumpur panas seperti ini, maka usaha menutup adalah hal sia-sia. Mungkin karena kejadian di lain tempat merupakan gejala lama yang sudah dimulai ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Kebetulan saja ada sumur yg sedang mengebor disebelahnya yang dengan mudah dipakai sebagai alasan penyebab keluarnya lumpur panas. Tapi skali lagi penyebabnya diobrolkan lagi nanti, karena yang lebih penting sekarang penanganan bencana ini.

– “Pakdhe, Tugas ahli geologi itu kalau ada bencana ngapain sih Dhe ? Lah kok malah jalan jauh-jauh sampai ke Madura mencari bukti data mud volkano”
+”Hush mereka bukan mencari bukti, tetapi mencari analogi”
-“Bagaimana kalau analoginya salah ?”
+”Yang penting kan usaha to, le”

Mengelola lumpur ini bukan perkara mudah, walaupun sudah diijinkan untuk dibuang ke kali terdekat saja, masih juga ngga mampu membuangnya. Jumlah yang mampu dialirkanpun sangat-sangat kecil dibandingkan penambahannya. Seperti yang sudah diduga sejak sebelumnya, sehingga menurut pakdhe ini lebih baik dan lebih cenderung mengusulkan untuk menenggelamkan (menimbun) lokasi ini.

Ya, sekarang bagaimana mengelola lumpur di lokasi ini ?

tanggulTanggul …. ya taggul merupakan salah satu cara paling mudah dan dianggap paling visible, paling mungkin dikerjakan. Tentunya ada beberpa hal yang harus diingat : Ketinggian tanggul memiliki batas maksimum. Karena tanggul dibuat dari bahan yang sebenarnya tembus air. Selain itu tanggul ini merupakan tanggul sementara, dimana toh akhirnyta akan turun atau mengalami subsidence. Dan karena turunnya itu tidak bersamaan maka akan terjadi limpahan seperti yang terjadi akhir-akhir ini terutama pada tanggul yang paling dekat dengan lokasi semburan. Penurunan 1 cm perhari (?) jelas tidak mudah ditangani, kan ? Karena sangat-sangat dinamis.

Usaha yang sudah dilakukan antara lain, menambal dengan geotextile, disemprot dengan polymer, bahkan hingga mencoba menggunakan campuran dengan iron slug yang mengundang kontroversi, karena bahan ini dianggap termasuk limbah B3. Penimbunan tambahanpun sudah tidak sederhana saat ini karena material sirtu-nya juga tidak mudah didapat. Lantas ?

Silent Pilling .. apa lagi nih ?

Silent Pilling merupakan suatu cara memasak (memasang pasak) dengan tekanan, bukan dengan pukulan. Selama ini kalau kita lihat pemasangan pasak (tiang pancang) adalah dengan paku bumi (dipukul-pukul) “.. jlengg !! … jlengg !!!”, bising boo … dan goyangannya berbahahahahaya terutama kalau dekat konstruksi yang rentan getaran (gedung berkaca dll) dan mungkin tanggul-tanggul yang mulai sepuh nan rapuh ini 😦

Seorang kawan memberikan imil ke aku tentang adanya sebuah teknologi yang aku pikir memang bisa dipakai untuk “mengatasi banjir“, teknologi ini disebut silent piling atau memasang pasak diam-diam 🙂 , begini katanya :

softpilling2.jpg

Saat pile ditekan ke dalam tanah, mesin mencengkeram barisan piling di belakang yang sudah tertanam sebelumnya. Jadi ukurannya bisa sangat kecil karena tidak perlu counterweight seperti pada sistem hammer. Sementara di belakangnya juga ikut crane feeder yang bertugas menyuplai pile baru dan genset sebagai sumber power. Artinya alat ini bisa dilepas ke tengah2 kolam lumpur sendirian untuk bikin access tanpa perlu supporting dan handling equipment seperti mobile crane dan sebagainya. Saya kurang tahu dengan progres timnas lumpur yang sedang berjuang di Sidoarjo saat ini dalam menghadapi musim hujan. Dari pantauan terakhir dan dari blog-nya Pak Rovicky beberapa bagian tanggul sudah mulai ambles. Mudah2an informasi ini berguna jika bisa sampai ke pihak yang berwenang.

Cukup menarik teknologi ini. Dan saya rasa ini sangat visible untuk dipakai penguatan tanggul terutama menjaga nantinya kalau-kalau saja ketika hujan terjadi limpahan seperti daibawah ini. Alat ini bekerja seperti kereta api sedang memasang relnya sendiri. Alat ini berjalan diatas tiang-tiang pancang yang berfungsi sebagai bendung. Bentuk tiang pancangnya bermacam-macam, ada yang kotak, bersegi-segi, melengkung dll. Ntah, apa bedanya tentunya kawan-kawan teknik sipil mengetahui bahkan pernah memanfaatkannya.

softpilling-1.jpg

Coba tengok bagaimana alat ini akan tetap bekerja ketika banjir sedang melanda. Ngeri yah .. !

Saat ini penanganan limpahan masih menggunakan cara termudah yaitu ditimbun dengan sirtu dalam karung. Cara termudah dan barangkali termurah 🙂 tetapi belum tentu murah dalam jangka lama.

Cara diatas barangkali mahal, dan perlu dikaji lebh detil lagi. Karena kita akan berhubungan dengan sebuah proses dinamik. Apakah dia (soft pile) ini bisa dinamis ? Kalau menengok di websitenya, disebutkan cara ini lazim untuk “temporary retaining wall”, Asumsiku untuk kondisi “DARURAT” . Kalau saja alat ini bisa dicabut kembali tentunya akan lebih menarik lagi karena konstruksi yang kita milki sekarang ini merupakan konstruksi dinamis.

Barangkali kawan-kawan dari Civil Construction sudah mengetahuinya. Terutama yang bekerja di konstruksi basah, bukan basah yang itu looh 🙂 . Dan bisa mulai mengkaji untuk selanjutnya dipakai sebagai usaha penanganan darurat maupun untuk selanjutnya.

– Sakiyun, “Dhe kok rajin banget mau memposting teknologi baru dhe ? Dapet titipan ya ?”
+ 🙂 , “Hush .. kau ini kok mikir kesitu terus sih ?”
– Sakiyun, “Haiyak, Pakdhe muna !”
+ 😦 , “kurang ajar tenin kowe ki, dasar !”

Bahkan tidak tanggung-tanggung iklannya … lagi-lagi namanya juga iklan 🙂

silent-piler_lava-valcano.jpg

Ya, teknologi ini mungkin dapat dipakai untuk mengatur jalan/aliran lava ? Wuik !!!

Yang perlu diketahui juga adalah bahwa teknologi ini sudah ada saat ini, teknologi ini sudah tersedia alatnya, bahannya, metodenya dll. Apakah bisa berhasil ? Ini aku jelas ndak tahu, tetapi kalau dibandingkan teknologi awang-awang yang banyak diusulkan (ditutup baja, ditableg beton, bahkan usulan absurd di BOM) sepertinya teknologi penanganan ini cukup visible saat ini.

21 Tanggapan

  1. mengelolah gunung untuk pemukiman dan kebun,sawah,hutan 1 terasering 2 pipa 3 jalanan 4 cekdam irigasi 5 tanggul pantai dan penghijauan bakau 6 daerah pantai ,dekat sungai sebaiknya rumah bertingkat 7 trangulasi atau pasak bumi

  2. kami tenaga tehnik untuk merealsasikan reklamasi pantai larea-rea kabupaten sinjai pembangunan tanggul di pesisir pantai sinjai timur
    terimah kasih atas bantuan dan kerja samnya..!

  3. tolong dong jawab ” benarkah gunung itu pancangnya bumi?

  4. begini para ahli semua saia baru tau klo ada forum atau semacam kumpulan diskusi

    begini, saia kan anak kuliahan yg mengambil jurusan teknik bangunan akan tetapi saia masih hijau atas apa yang saia ambil

    klo blh tau, penanggulangan dari lumpur itu sendiri apakah sudah diketahui jenis tanah apa,serta sudah kah diketahui tentang tekanan yg aka diperoleh dari pemblok kan terhadap lumpur itu??

    semoga ada solusi yg terbaik

    dan terdapat kemudahan dalam pendiskusian ini

  5. Hi Joe,
    Mnurut saya yang penting buat geologist dalam membuat skripsi adalah kajian bawah permukaannya. Untuk tanggul di Lusi ini yang cukup pelik adalah kondisi ninamikanya bawah permukaan, selain itu juga volume semburan yang cukup besar.
    jadi Kalau anda memiliki data bawah permukaan serta proses dinamikanya, proses penurunannya dari waktu ke waktu, saya rasa itu akan sangat bermanfaat. Hanya saja saya tidak dapat membantu dimana anda mencari datanya. Coba saja ke BPLS serta Universitas yg meneliti (ITS, ITB dll).
    Kalau ada data dan hasilnya boleh dishare kesaya untuk berdiskusi
    Salam

  6. pak rovicky. saya mahasiswa geologi ugm. sekarang saya tertarik menyusun skripsi tentang tanggul penahan lumpur sidoarjo. kira-kira data apa saja yang saya perlukan, tema apa yang bisa saya angkat dari aspek geologi?terima kasih.

  7. klo menurutku tanggulnya emang d buat proyek je….kayaknya ada kontraktor bumn to itu?
    nek dipikir2 kan banyak banget orang sipil di situ…kok cuma bikin tanggul aja jebal-jebol…pasti kuliah geotekniknya pada gak lulus itu pakdhe..

  8. ikut nimbrung, untuk atau agar tanggul tidak jebol maka alirkan ke laut melalui jalan mana saja. Bikin sungai baru, tanggul kiri kanan penahan. Ngalir saja ke sungai Porong atau kalau bisa ke laut langsung. Kalau pakai akal dan teknologi ala Indonesia dan mental seperti saat ini yang seperti kata mas Isadikin, sudah drop. Sudahlah. Akui saja kagak mampu. Tapi, membiarkan akal-akalan baru, jebol lagi, jebol lagi dan tadi malam sampai ada musibah meninggal. Kita tahu, kita nggak mampu. Kalau itu lumpur berusaha ditahan, ditampung, dll hanya menunggu skala musibah yang lebih besar lagi. Bayangkan, dari 20 ribu kubik per hari naik ke 50, terus ke 120, katanya sekarang 150 ribu kubik perhari. Padahal hujan aja belum.
    Alangkah tragisnya, pada jebol ke sekian, entah berapa lama dan berapa tiba-tiba lumpur akan menggenangi sawah, desa, dan mungkin juga perumahan radius 3-5 km dari pusat semburan pada musim hujan yang sudah teramat sangat dekat ini….

  9. RDP Yth.
    Dari berita dan ngobrol2 dengan temen2 jurnalis dini hari ini, kita ngliat temen2 timnas sudah mulai frustasi yah? benar gak pak ?
    Mosok omongan orang DPR aja dijawab/direspon, biarin aja kenapa wong ndak nyambung, dan lagi salah2 malah jadi konsumsi politik, walah…
    Mohon ungsikan orang saja dulu, tutup jalan tol atau buatkan akses baru persis di kilometer yang aman (agak menjauh dari sumber luberan) trus persis akses di gempol. kan beres. Daripada seperti sekarang, polres pasuruan harus mbukak akses gempol lama, dan malah ngeributin perlalulintasan. Sehingga timnas bisa agak tenang bekerja sesuai program, daripada dikit2 antisipasi tanggul jebol seperti pagi ini…

  10. Kayaknya lebih murah nyeburin kambing deh daripada beli Giken Silent Piling 😉

  11. waah kaya’nya biaya bakalan mahal tuhh
    apa pemerintah mau kucurkan dananya?????.:D

  12. Hai Ramadhana
    Nanemnya ditekan. Jadi mesin penekan ini “gocekan” atau pegangan tiga sampai empat pasak sebelumnya trus yang baru ditekan masuk kedalam. Tentunya empat pegangan lawan satu ditekan masuk menang empat kan ? Jadi yang satu ini masuk kedalam karena ditekan (dipenyet) bukan dipukul2.

  13. wah teknologi yang ini kayanya cukup visible yah, saya juga sepakat kalau porong di tenggelamkan saja dan dijadikan objek wisata, malah nanti mendatangkan income buat pemda.

    pakde kalo boleh nanya itu nanem pasaknya gimana yah ? maksudnya daya tekan buat pasak itu nancep ke tanah gimana ? biasanya kan di getok2 pake paku bumi. agak2 kurang ngerti kulo.. 🙂

  14. wah hebat sekali… moga cepat diselesaikan. kasihan penduduk di sekitar sana. mmm… kalo menurut penelitian, kandungan lumpur di dalam sana masih berpotensi untuk keluar dalam jangka waktu lama atau tidak pak Rovicky?

  15. Iya moga2 cepat bisa diatasi masalah Lusi ini, apapun teknologinya…

  16. Hi Hanna,
    Kalau kau lihat gambar dua paling bawah, terlihat alat ini akan berdiri diatas tanggul yang dibuatnya sendiri. Dengan menutup sedikit demi sedikit tentunya akan mengecil lubang/pintu keluarnya.
    Berbeda dengan menimbun, material penimbun ini pasir juga (dalam karung) yang mungkin tergerus. Kalau ini yang ditanem besi (pasak) yang tidak tergerus air.
    Skali lagi ini disebutkan “temporary retaining wall” artinya tanggul darurat saja. Bukan permanen ! Tetap saja dibutuhkan konstruksi permanen nantinya.

  17. giman tuh caranya alat tsb tetep bisa kerja saat tanggunya dah jebol

  18. moga berhasil d 😦

  19. Lah iya aku juga takut2 disebut promosiin punya kawan … hahahaha.
    Ben wae, kalo emang bagus bilang aja bagus, kalau zelek ya bilang zelek … 🙂

    trims infonya Mas Indera

  20. Pakdhe, saya bukan mau promosiin alatnya loh. Heheheh. Bidang saya juga bukan di geoteknik. Cuma mau ngasi tahu infonya aja. Siapa tahu bermanfaat dan saya yakin itu visible. Saya ga kenal sama orang2 penting di timnas lumpur panas. Jadi cuma berharap ada yang baca dan mau menyampaikan.
    Saya bertanya2 melihat kinerja timnas lumpur yang sampai saat ini kok belum ada program dan target yang jelas. Bisa dimaklumi. Pertama kita perlu ingat: Yang kerja sekarang mentalnya nothing to lose. Timnas tidak punya rasa tanggung jawab maksimum karena toh itu bukan kesalahan mereka. Kalau gagal dan harus keluar duit lagi kan tinggal colek Lapindo. Kedua, untuk kerja mereka butuh modal dan cashflow yang lancar padahal Lapindo udah mulai ngadat pengeluarannya. Ketiga, usaha penanganan sudah berjalan terlalu lama dan menghabiskan energi dan uang yang besar tanpa hasil yang berarti. Ujung2nya ke psikologi para pekerja.
    Saya pernah menangani proyek bermasalah tanpa solusi yang jelas dalam waktu cukup lama. Akibatnya adalah dropnya semangat dan daya pikir. Persis seperti blog awal Pakdhe tentang punahnya dinosaurus. Kalau sebulan dua bulan gagal ga papa. Tapi kalau gagalnya udah berbulan2 sementara solusi yang muncul dari kanan-kiri banyak yang asbun alias asal bunyi dan ga visible, lama2 semangat kerja tinggal 0%.
    Harapan saya adalah timnas mendapatkan solusi yang visible dan reasonable, proven, dieksekusi sampai berhasil, mendapatkan semangat dan energi baru, dan fokus lagi pada banyak masalah berikutnya yang masih ngantri.

  21. Apapun itu jenis solusinya, Moga2 cepat direalisasikan. Selak arep musim hujan. Sebelum kejadiannya tambah gak karu-karuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: