Merayu Si Genit LuSi (dari logis hingga magis)


dam.gifWah sudah buanyak sekali poroposal usulan pengendalian Si Genit Lusi ini. Pertimbangannya pun juga bermacam-macam.

  • Ada yang berpikir ekonomis hingga berpikir politis
  • Ada pula yang berdasarkan geologis ada pula memilih ekologis
  • Sampai pula yang mengaku dengan pikiran logis tetapi juga dengan cara magis

Kalau dikelompokkan mungkin bisa dibagi dalam beberapa kategori. Nah aku buat saja versiku, nanti bisa ditambah lagi, usulmu apa ?
Dua kelompok besar yaitu usulan logis dan usulan non-logis, karena aku ngga ngerti soal yang magis ini, makanya dibabar duluan aja deh, takut kalau ada yang tersinggung

Usulan NonLogis :

Boleh saja toh, mengusulkan penanggulangan cara non logis, lah wong kenyataannya yang katanya orang paling logis (tuh geologis 😦 ) sudah angkat kaki, dan angkat tangan kok. Mereka yang mengaku para ahli logika ini secara aklamasi langsung menyatakan itu gunung lumpur (mud volkano), gejala alam yang ngga mungkin disetip apalagi disetop. Lah, kalau yang ngaku normal (logis) aja ngga mampu tentunya yang paranormal boleh dong menunjukkan usulannya.

Coba saja dipikir, orang yang sakit aja pergi ke dokter dulu, tapi kalau dokternya sudah menyatakan angkat tangan, ya pergi ke pengobatan alternatip tak iye, wajar kan ?. Minum obat sudah kagak sembuh, ya uwis pakai jampi-jampi pun boleh lah. Toh ada juga yang sembuh, kan ?.

  • Yang agamis:
    pray2.gifpray3.gifUsulannya kebanyakan meminta kepada Gusti Yang MahaKuasa. Pasrah sama yang membuat dunia, karena toh Dia juga yang membuat gunung, termasuk gunung lumpur. Bagi Nya, gunung lumpur bukan karena salah design, tapi emang Beliau maunya gitu. Ya, kita sebagai manusia yang lemah harus minta ke Beliau yang membuatnya, kan?.
    pray4.gif Bentuk serta kegiatan agamis yang diusulkannya pun bermacam-macam ada yang mengusulkan berdoa bersama, ada yang usul bagaimana kalau melakukan prosesi pengakuan dosa besama-sama.
    pray1.gifLah iya wong katanya ada juga pabrik miras yang terkubur di dekat semburan. Ini pabrik barang haram, ini jelas penyumbang dosa, lah wong miras jelas dilaknat je. Bahkan pabrik yang paling dekat dengan semburan itu pabrik tempat kerja Marsinah, yang terkena kasus penganiayaan pekerja lemah. makanya disitulah sumber dosa, gitu katanya.
    Bahkan dalam acara takbiran serta sholat Ied lebaran kemarin juga ada yang dilakukan diatas tanggul. Ini sebagai unjuk rasa pada yang Maha Kuawasa, agak memberikan ampunan akibat dosa-dosa manusia.
    pssst …. Kenyataannya pompa menyala lagi setelah didoakan, baca disini.
  • Yang non agamis :
    dukun.gif Lah ini seru banget looh. Banyak yang usaha menutupnya mendekati dengan urusan perklenikan. Termasuk menggunakan tenaga dalam dan tenaga luar, barangkali juga tenaga listrik (yaaah … paling enggak listrik batu baterei, karena ada yang mengajukan syaratnya harus dikerjakan tengah malam, beneran di malam hari yang gelap gulita, kan bahaya kecemplung juga kan. Tak kurang Pak Lurah pun melombakannya, termasuk lomba yang diikuti Ki Sakiyun yang kisahnya ditulis disini. Bahkan tercatat lebih dari 35 yang dianggap memenuhi syarat.
    Tapi lucunya banyak yang memberikan syarat yang memang sulit bagi yang bepikiran logis. Ada yang mengaku dukun top minta dihubungi langsung , mintanya dihubungi lewat handphone … ada yang minta ditlipun, tapi juga ada yang minta dijemput … waduh yang ini sih pede aja lagi 🙂
    Ada juga yang memberikan syarat “bunga dari tujuh samodra” … wedian opo samodra mana yang ditumbuhi bunga. Lah wong ini soal klenik bukan soal pikiran, makanya jangan dipikirin.
    Ada juga looh yang menghubungkan peristiwa kali ini dengan ramalan-ramalan masa lalu. Termasuk kisah dongeng Timun Emas, udah baca kan critanya disini. Coba baca disini. Mereka yang ikutan sebagai peserta lomba ini juga ada yang adu untung-untungan, walaupun ada juga yang kemekelen kalau disuruh nutup keran bocor tapi kranya ga boleh disentuh. Bayangin aja kalau sampek ada yang pol “ngeden” (mbah Dipo, apa ya bhasa Indonesia-nya?). ” hueghhhh …” Malah bisa-bisa punya sendiri jadi bocor kan ?
    Ya …. kran air dingin aja kagak bisa nutup, lah gimana mau nutup semburan yang 120 ribu meter kubik sehari, dengan suhu diatas seratus derajat lagi.

Usulan Logis

Usulan logis juga bermacam-macam, lain kepala lain buah pikirannya. Ini tentunya membingungkan bagi yang mengikutinya. Lah sakjane ini karepmu mau ngapa to ? kalau semua dikumpulin maka yang ada adalah “usal-usul asal-asalan”.

Bum !Gimana ngga asal-asalam wong mengusulkan kok di BOM. Bukan masalah susahnya mencari ahli bom karena ahli BOMnya sudah ketangkep dan sekarang sudah masuk penjara. Tetapi mengebom itu efeknya seberapa sih ? Iya kalau kalau nutup, lah kalau malah tambah gede gimana ngontrolnya ? terlebih lagi kondisi bawah tanahnya saja kagak tau tuh.
Usulan ini mungkin menduduki rangkin pertama dalam kelompok logis, maksudte usulan yang juga dengan diawali proses berpikir “out of the box“, karena dalam usaha kepepet siapa saja harus memutar otak untuk mengatasi masalah. Dengan modal hong wilahengmemang kalau sulit ya wis lah karuan di Bom saja … BUM !.

Nampaknya usulan bom bisa dipertimbangkan kalau saja semua kondisi bawah tanah atau bawah permukaannya sudah diketahui, sudah dipetakan secara 3dimensi, suhu, debit, komposisi, geometri dan lain-lainnya sudah “terukur”.

Usulan yang tidak kalah kontroversialnya adalah ditableg … BLEGH !

Lah iya lah, pakai beton dengan tulangan besi yang kokoh ditutupkan kedalam lubang.

– 😦 ” Secara logika memang iya gitu caranya mbimpetin semburan kan, iya ta PakDhe ?”
+ 😀 ” Lah iya boleh saja ditutup, itu kalau semburannya kecil. Kayak ngampet kentut saja, kalau ndak kuat malah semua denger gimana hayooo … ?, belum lagi kalau ada ‘yang lain’ ikutan “

Problem utamanya adalah karena ketidak-tahuan kita akan apa yang sebebernya terjadi. Tetapi secara mudah begini, kalau asumsinya gejala ini akibat pemboran, maka cara menanganinya ya dengan pemboran juga. Artinya semua masih dalam koridor “engineering controlable“, (walaupun semburannya ngga terkontrol ya 🙂 . Controlable disini dimaksudkan sebagai – Sumber diketahui, besarnya “potensi” diketahui (tekanan, volume, bentuk geometri dll), juga memiliki tool dan metode yang teruji. Nah metode teruji ini yang sulit karena bisa saja ini yang pertamakali terjadi. Artinya secara metodik ada unsur coba-coba.

Kegiatan yang saat ini masih terus dikerjakan adalah menutup dengan “relief well”. Seperti yg ditulis sebelumnya disini bahwa kemungkinan sukses (successs chance) yang diharapkan hanya 10%. Ntah darimana angka 10 %nya, lah wong statistiknya belum pernah ada. Tetapi engineering estimate 10% ini sudah cukup memberikan jastifikasi dalam sebuah pemboran sumur eksplorasi, loh. Lah kalau ini sumur juga berprinsip untuk mengurangi kehilangan yang lebih besar dari 10 kali harga sumur, berarti program pengeboran sumur ini layak untuk dikerjakan.

Ada satu hal sangat penting agas sumur ini bernilai optimum, yaitu menggali mengambil semua data bawah permukaan yang dimungkinkan. Mengambil data geofisika, geologi, geokimia dan jangan lupa mengambil data-data geoekonominya.

Sedia Payung dari Rusia Sebelum Hujan

Usulan terbaru juga datang dari Rusia weleh-weleh dari jauh dengan teknologi lama dengan nama baru. Pavel membawa ide yang disebut “umbrella”, membuat payung menggunakan polymer. Polimer ini semacam “gel” yang akan mengeras dibawah sana sehingga menutup pori-pori dan “pipa” jalannya air serta lumpur ini. Namun si Pavel Rusia ini, tidak tanggung-tanggung dengan biaya yang akan ditanggungya 90% kalau tidak berhasil. Namun biaya total 50 juta dollar, jadi 10%nya saja sudah senilai 5 juta dollar. Lah siapa yang mau membayar biaya coba-coba yang 10% ini hayoo !. Apalagi Pavel ini minta dibayar dimuka. Lah nek trus “tinggal glanggang colong playu piye, jal?”
Mengapa kusebut teknonya Pavel termasuk tekno lama ?
Teknologi polymer sudah lama dilakukan di perminyakan salah satunya dipakai untuk menahan aliran air (water) sehingga air tidak masuk kedalam lubang sumur ketika diambil minyaknya. Bukannya air selalu dibawah minyak ? Nah karena secara alim minyak dan air terpisah, maka dibuat polimer untuk membatasi kedua fluida ini, supaya airnya tidak ikut terproduksi ketika disedot minyaknya. tetap[i dalam teknonya Pavel polimer ini akan disemprotkan supaya air tidak masuk ke lubang. Katanya sih mau ditiup dengan pompa raksasa melwan tekanan semburan. Yang baru barangkali melawan tekanan ini. Karena biasanya polymer digunakan untuk lapangan yang sudah sangat mature karena tekanan rendah, sehingga perlu memisahkan air dan minyak dengan cara canggih.

Belum selesai dengan usulan Rusia, dari dalam negeripun mengajukan usulan dengan “direct caping” … hikhik dikasi nama baru, tetapi intinya sama dengan diatas dengan menutup plat beton. Kalau ini usulannya ditutup dengan plat baja. Apakah visible ? Silahkan dilihat sendiri bagaimana mengangkatnya, menaruhnya, dan yakin bahwa tekanan dibawah tidak “tertumpuk” yang sewaktu2 meletus seperti fenomena gunung api biasa.

Banyak hal yang diusulkan untuk mematikan semburan ini, tetapi saya kok lebih cenderung “dikelola” saja, ya ?

Dibenak semua orang bahwa Lusi ini ini musuh, lusi ini bencana, Lusi ini laknat, juga lusi ini akibat keserakahan. Dan semua yang bernada minus jauuuh lebih nyaring terdengar ketimbang melihatnya sebagai potensi. Lusi ini akan menjadi anak manis kalau kita ajak “bercengkerama“. Yaaah seperti mendidik anak lah … kalau masih kecil, mereka akan manja, “spoiled” dan membutuhkan biaya. Kalau dikerasin malah ngamuk, tetapi kalau dielus-elus bisa jadi Si Manis LuSi 😀

Dikelola adalah ditangani dari permukaan (surface controlled), diketahui dengan baik, dihitung propertiesnya, dihitung potensinya dengan baik, diteliti, dirayu-rayu, …

– 😦 “Dhe, emangnya Lusi ini anak cewek apa, kok tahu dhe ?
+ 😀 “Hust ! … lah emangnya kamu usul apa, le ?”

8 Tanggapan

  1. He hee…. setiap masalah ada beberapa sudut pandang… jadi wajar kalau beda 😀 dan TIDAK ADA KEBENARAN MUTLAK 😉

    Yang ada PERSANGKAAN BENAR dan PERSANGKAAN SALAH

  2. kok berdoa dimasukkan ke non-logis sih…
    bukankah itu logis, berdoa kepada pencipta Lusi itu sendiri?

    🙂

  3. Looh sudetan itu sudah ada, namanya spill away.
    OK Deh nanti aku postingkan peta yang terbaru.

  4. Pak dhe, kalo itu dari pond sampai K. Porong dibuat sudetan bisa ndak to? seberapa jauh, resikonya apa?

  5. Saya kira teknology polimer nya pavel itu dulu umum dilakukan, malahan tidak usah pake polimer juga biasa dikerjakan.

    dulu saya sering nutup water bearing zone cukup dengan gunk plug, jadi formulasi dehydrated mormorilonite powder di mixed dg diesel.

    begitu mixture ini ketemu air, mormorilonite nya swelling, terus menutup porositas nya sampai plek kelemek ngak ada air keluar.

    sekarang polymer disukai mungkin karena more controlable gelling time time nya jadi testing lanjutan melihat keberhasilannya.

  6. Pakdhe,
    Ini tentang bapak dan anaknya yang manis bernama Lusi.

    SIAPA YANG HARUS JADI PENGASUH?
    ================================
    Problemnya, kita tidak akan pernah tau yang layak, pantes, migunani dan ngayomi untuk ngelus2 Lusi sampe besar kuwi sapa?
    BApaknya Sekarang atau perlu pengasuh?

    BAPAK JAMAN JAHILIYAH
    ================
    Bapaknya ,yang punya si manis Lpd?) nganggep itu anak seperti anak perempuan di jaman jahiliyah, harus dibunuh hidup-hidup,
    Tapi Bingung Deh.
    DITUSUK masih hidup saja,ditusuk dari samping tidak juga mati.
    DIGOROK tidak mempan, DICEKIK ga juga mati, DIGLONGGONGI kayak sapi juga
    ga kembung-kembung, pusing neh bapaknya.
    Apa dibuang saja ke laut biar mati sendiri ?
    Nek dikubur hidup-hidup bisa mati ra?

    PENGASUH TANPA RUMAH
    Siapa yang mau dan harus jadi pengasuh si Lusi?
    Mengasuh anak manis Lusi menjelang musim hujan ya bisa repot.
    Lagi ngelus-elus, hujan deras, bisa masuk angin sendiri.
    KAlo jamu tolak angin ga punya, yang ngerokin tidak ada, lha bisa mati menggigil kedinginan ta?

    Salam dari Jogja,
    Joyo.S

    Joyo.S

  7. Pa’ Dhe……..

    KOq repot2 ya pemerintah nangani Si Lusi,….lek menurut aku,….ganti ae lemah karo omah’e penduduk sekitar semburan, permeter’e piro..ngono lho ( kudu ssi karo harga tanah saiki ). mari ngono buat kanal ben banyune iso ngalir nang laut, lek lumpur’e jiaarrno ae menggunung, lak… terus di manage buat objek wisata, lek perlu bangun hotel opo semacam resort..lah cieedhek’e semburan, kan menarik…hehehe. Karep’e Sing Kuoso koq dilawan…..

    Salam Lumpur Panas

    Mutiarasingsekonjombang

  8. Memang seharusnya kita mengelola sesuai dengan kemauan alamiah
    LUSI. Kita tahu bahwa LUSI mau membentuk gunung dan kita tahu
    sudut kritis (angle of repose) lumpur (clay) tidak lebih dari
    20 derajat. Kita tahu di laut Kaspia tinggi gunung lumpur
    mencapai 100 m (karena ada bongkah-bongkah yang terbawa), di
    NTT tinggi gunung lumpur 50 m (hampir lumpur semua).
    Kalau dibiarkan maka LUSI akan membentuk gunung melingkar dan
    akan menenggelamkan banyak desa, sampai terbentuk kestabilan
    alami gunung.
    Kalau kemauan LUSI seperti gunung lumpur spt tsb diatas maka
    kita kelola dan batasi sebaran gunung satu arah saja menuju
    ke timur, lusi dibentengi dengan benteng berbentuk tapal kuda
    yang terbuka ke arah timur. Bagian terbuka ini untuk
    mengarahkan LUSi membentuk gunung lumpur.
    Sehingga nanti akan terbentuk kaldera gunung lumpur dan terbuka
    ke arah timur untuk memenuhi kemauan alamiah LUSI. Bayangkan
    melihat gunung Bromo dengan kaldesra dan kawahnya serta ada jalur yang terbuka mengalirkan lava (lembah lava).
    Ini pikiran sepontan saja
    Semoga bisa diphami

    AW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: