Mitos Gempa di California (San Andreas Fault)


Kluft-photo-Carrizo-Plain-Nov-2007-Img_0327[1]Patahan yg terkenal dengan gempa di Amerika namanya San Andreas Fault. Patahan ini melewati kota yg sangat super sibuk, California. Gempa besar pernah terjadi di kota ini tahun 1930-an. Dan menurut perkiraan semestinya akan ada gempa besar melanda kota ini sekitar tahun 2000-an. Namun hingga kini masih tenang-tenang saja. Sehingga memunculkan banyak mitos tentang gempa.

California yg menjadi biangnya gempa di Amerika serikat ternyata juga memunculkan mitos-mitos seputar gempa. Jadi tidak hanya di Indonesia yg muncul dengan awan gempa, bahkan negara yg menyatakan adidaya dan terpelajarpun memiliki mitos-mitos yg sulit ditepis oleh para geoscientist disana. Disela-sela simposium ini, Bob Anderson salah seorang peserta simposium kebumian di Jogja awal agustus lalu bercerita tentang hal ini ke saya. Apa saja mitos-mitos yg berkembang disana?

Mitos #1 Gempa lebih sering terjadi di pagi hari
Gempa terjadi tidak tergantung pada kemunculan matahari. Kita tahu gempa di Jogja dan di Aceh sumatra terjadi di pagi hari. Namun gempa besar di selatan Pangandaran justru terkdi sore hari, dan menimbulkan tsunami. Jadi sangat tidak berdasar menyatakan gempa terjadi di pagi hari.

Mitos #2 Gempa terjadi pada musim-musim tertentu
Gempa tidak ada hubungannya degan musim. Statistik membuktikan bahwa gempa terjadi sepanjang tahun. Perekaman gempa yg lengkap dengan episenter dimulai tahun 1960-an. gempa-gempa sebelumnya hanya dicatat besaran dan kerusakannya. Namun catatan sejak 1960 hingga kini membuktikan bahwa gempa ini tidak mengikuti musim.

GaMungkinMitos #3 California tenggelam setelah gempa
Tidak kalah dengan Jogja maupun isu yg berkembang di Jakarta. Gempa tidak akan sertamerta menenggelamkan sebuah kota ataupun daerah. Bahwa ada pergeseran ataupun pengangkatan ketika gempa itu adalah fakta. Namun kenyataan yg dijumpai pengangkatan sebuah negara bagian (California) tidak serta dalam orde waktu bulanan ataupun tahunan. Pengangkatan yg terjadi di pulau -pulau kecil sebelah barat sumatra menunjukkan pengukuruan hingga 3 meter, namun itu dengan gempa skala 9 yang keterjadiannya diperkirakan dalam periode 200 tahunan. Jadi tidak ada catatan sejarah tenggelamnya sebuah kota dalam waktu singkat seumur manusia.

Mitos #4 California memiliki undang-undang tentang bangunan tahan gempa jadi semua bangunan di california sudah aman.
Peraturan bangunan tahan gempa dibuat setelah bangunan didirikan. Dengan demikian tidak semua bangunan aman terhadap gempa, walaupun sudah ada peraturannya. Pemilik bangunan bertanggung jawab penuh untuk memodifikasi bangunannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Mitos #5 Berdiri di dekat pintu ketika gempa
Banyak orang yg percaya bahwa pintu (doorway) merupakan tempat teraman ketika gempa. Hal ini mungkin benar untuk bangunan-banguan tertentu biasanya bangunan kuno. bangunan-bangunan baru tidak memberikan sokongan khusus ada tempat ini. Masih diyakini bahwa tempat teraman ketika gempa adalah dibawah meja. Disini harus diperhatikan bahwa meja-meja di California maupun di jepang sudah dibuat disesuaikan dengan peraturan ini. Mungkin di Indonesia perlu juga ada meja-meja kuat yang tahan terhadap runtuhan atau jatuhan benda keras.

Mitos #6 Info gempa dari pejabat yg berwenang
Seperti juga di Indonsia, isue gempa akan terjadi pada hari dan tanggal serta jam sekian, juga berkembang pesat di California. Kalau disini BMG yg dicatut, kalau di sana mereka mencatut nama Caltech, tempat sekolahnya Pak Doktor Danny Hilman ahli gempa indonesia belajar dulu. Bahkan isu ini berkembang dengan angka-angka serta logika-logika semu. kalau di Indonesia awan gempa kali ye .. upst !

Mitos#7 Bumi terbuka dan terbelah saat gempa
Banyak filem serta media yg menceritakan bumi terbelah terbuka dan menelan manusia kemudian menutup lagi. Ini sangat tidak benar karena gempa besar terjadi ketika ada pelepasan energi akibat tertekan. Artinya rupture atau retakan danzona hancuran ini lebih berupa bidang tertutup yang begerak satu terhadap yang lain. getaran ini memang menyebabkan lonsoran (lihat tulisan sebelumnya), namun bukan berarti bahwa terjadi bukaan yang terus menutup.

Diceritakan ke saya oleh Robert Anderson, P.G., C.E.G. California Seismic Safety Commission 1755 Creekside Oaks Drive, Suite 100 Sacramento, California, 95833, United States of America

Mitos bola api ? Saya kebetulan kemarin siang (9 agust 06) ke pantai Parangtritis di selatan Jogja. Ketika aku tanya penduduk dan penjual disana tidak ada yg melihat “bola api” ketika gempa Jogja 27 Mei 2006 itu. Mereka (beberapa orang) memang melihat lintasan cahaya tetapi itu setelah gempa bukan ketika gempa. Pada saat gempa Jogja di Parangtritis sedang diadakan pertunjukan ketangkasan sepeda motor – “mottocross”. Sehingga pagi itu di Parangtritis sangat ramai. Cuplikan video yg saya terima memang menunjukkan ada benda seperti bola api. Video itu berisi orang berlarian ketakutan, diselatan (menghadap laut) terlihat benda merah diudara. Namun setelah saya amati, penampakan bola api itu berwarna merah di sebelah kiri (timur) arah matahari terbit. Kalau dilihat detil lagi ternyata dibagian kanan (barat) berwarna abu-abu putih. Saya kira itu sebuah awan yg terkena cahaya pagi dari timur. Kejadian gempa di Jogja pada jam 6 pagi (local time). Cuplikan video itu hanya sekitar 10 detik, sehingga saya tidak tahu apa yg terjadi setelah itu. tapi saya kok yakin yg merar di udara itu awan yg terkena sinar merah matahari pagi dari timur.

5 Tanggapan

  1. saya sangat setuju dengan pendapat bahwa “bola api” di parangtritis adalah awan yang terkene matahari dr timur. setelah saya melihat cuplikan video amatir yang saya dapat dari teman saya, saya juga berpendapat demikian. itu hanyalah gumpalan awan yang bagian atasnya terkena matahari (yang kalo pagi hari memang berwarna kemerahan)sedang bagian bawahnya tidak, karena terlihat perbedaan warna dari atas kebawah terlihat gradasi yang semakin abu-abu. kalo itu memang “bola api”, pasti perbedaan warnanya tidak gradasional, tetapi jelas tegas. walaupun memang kemungkinan terbentuknya “bola api” sesaat sebelum gempa merupakan hal yang ilmiah.

  2. Saya kok gak seyakin itu pak. Jika itu benar-benar awan, tentunya beberapa saat sebelum gempa awan itu harusnya sudah nampak di cakrawala (perhatikan kearah andong yang ada dipinggir pantai, beberapa saat/detik sebelum gempa!). Gak ada alternatif analisis lainnya pak, misal nya dari hasil seismograf gempa tersebut (jadi gak cuman sekedar perkiraan non scientific gitu loh pak). Mata bapak mungkin lebih awas untuk membedakan beda gelombang yang dihasilkan oleh gempa tektonik, gempa bom (kenapa harus nuklir? gak mungkin karena jenis bom lain pak?) atau karena sumber-sumbe gempa lain?

  3. wah teryata yang namanya mitos memang ada dimana mana, tapi cara menangapi mitos di amrik dan jepun sama dengan masyarakat kita enggak Pak D?, dihubung-hubungkan gitu, and ada orang semisal mbah Marijan enggak?, atau Orang -orang yang jadi pawang atau juru kunci. ( parangtritis ada, Pantai Pangandaran juga ada). AYO MBOK DUKUNG BLOG PAK D ROVICKY, BIAR DAPET BLOG AWARD. (Tinggal klik di blog award 2006 kanan atas).

  4. Dilanjut Pak sama mitos di Jepang dan juga Indonesia, biar tambah komplit plit!🙂

  5. Mau dong pak videonya…
    nanti saya sediain space buat bapak upload. Atau lewat youtube.
    Penasaran ( soalnya waktu gempa lagi di dalam gedung )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: