Kasus Cepu : Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !


cepu-reeftrendmap.jpg
Disebelah ini Peta yg dibuat Prof Koesoemadinata tahun dibuat pada Januari 1995, sewaktu blok ini akan di “farm-out”.

(“Sumur2 Exxon-Mobil saya yang plot di atas peta prospct yang aseli. Sebagai bukti bahwa yg mengidentifikasi pertama bukanlah ExxonMobil“, (Koesoemadinata, via iagi-net).

Mungkin yang ditulis Mas Syaiful Jazan ada benarnya. Pada akhirnya mungkin putusan politis yg dipergunakan dalam memutuskan operatorship Cepu Block.”

On 2/27/06, Syaiful Jazan wrote:
>
> Sudah kelihatan dengan jelas bahwa block Cepu sarat dengan nuansa Politisnya,jadi apapun kehendak kita semua tidak akan terlaksana,dan sebaiknya ikuti aja dan biarkan masyarakat setempat yang akan menentukan nantinya,yang penting agar hydrocarbon segera bisa dimanfaatkan.
>
> sjn

Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !

Technical Background

Sejak awal saya selalu berusaha mencari dan berusaha memberikan informasi yang berdasarkan atas penelaahan secara ilmiah-akademis. Salah satunya krono-logis, melihat urut-urutan terjadinya benang kusut dalam kerangka waktu. Juga pendekatan saintifik akademis harus lebih didahulukan dalam setiap evaluasi. Banyak istilah-istilah yg merancukan dalam keputusan lanjut yg menjadikan keputusan tidak tepat. Awalnya saya sangat keberatan ketika banyak menyebutkan BanyuUrip sebagai Giant Field. Tentunya ada kaidah-kaidah tertentu dalam menyebutkan Giant Field. Pertama perhitungan dengan kaidah ilmiah dan akademis yg benar. Apakah benar “dia” sebesar angka itu. Kedua apakah angka itu masuk dalam kategori Giant Field ? Istilah giant field hanya utk satu individu lapangan, bukan kolektif dalam satu block. Jadi tidak ada istilah Giant Block. Lapangan Banyu Urip-pun sudah membusang (mirip kasus busang dengan eksagerasi jumlah cadangan).

Konsekuensi logis dari pemberian istilah ini saja sudah akan memberikan dampak yg cukup berat ketika kelanjutan proses ini berjalan alot dengan munculnya kalimat “Mampukah Indonesia mengelola GIANT field“. Beberapa komentar bernuansa politis serta merta bermunculan. Apakah Pertamina mampu, apakah orang Indonesia mampu. Nuansa inipun sudah mulai sarat dengan muatan politis dan kepentingan.

Hanya dengan istilah ini saja sudah akan sangat memojokkan Pertamina bahkan secara khusus meragukan keahlian bangsa Indonesia. Disisi lain ada beberapa yg menganggap bahwa teknologi untuk mengelola giant field adalah teknologi canggih. Tentunya anggapan ini sudah menjadi kelirumologi. Teknologi yg dipergunakan untuk memproduksi lapangan giantpun bukan secanggih teknologi NASA, bukan ? Teknologi mengelola lapangan besar sudah dibuktikan mampu dikerjakan oleh perusahaan nasional. Medco berhasil mengembangkan lapangan dengan kondisi mirip (carbonates reservoir di Selatan Sumatra). Istilah giantpun terpelintir untuk mempengaruhi keputusan.

Hukum

Proses lain yg berjalan paralel dengan evaluasi teknis adalah perjalanan kasus hukum yg dimulai sejak awal daerah ini dioperasikan oleh Humpuss, sebagai TAC contract area. Namun situsasi politik dalam negeri yg berubah serta awal dari sebuah kesalahan dalam “awarding
the block yg semakin runyam. Akhirnya kontrak yg sebelumnya berupa TAC menjadi PSC inipun banyak dipertanyakan bahkan oleh Indonesian Petroleum Association. Dahulu, sekitar tahun 90an ketika aku masih bekerja di LASMO New Venture, pernah terbesit issue bahwa daerah-daerah prosepct di daratan Pulau Jawa hanya akan dioperasikan oleh perusahaan nasional. Namun keputusan2 kemaren menjadikan impian yg masih issue tersebut buyar. Pada prinsipnya PSC (Production Sharing Contract) ini mirip BOT (Build Operate and Transfer). Artinya pada akhir kontrak daerah tersebut dikembalikan dahulu ke negara. Proses perpanjangan yg aslinya dalam setiap kotrak “optional“-pun sudah terpelintir menjadi sebuah “keharusan” demi menjaga masuknya investor asing. Sesuatu yg seharusnya sebuah pemberian approval perpanjangan diplintir menjadi “dispute“. Bener-bener pemelintiran kontrak yg akhirnya membuyat.

Indonesia may take over dispute in Cepu oil field Tuesday
http://www.chinaview.cn 2006-02-27 16:26:52

JAKARTA, Feb. 27 (Xinhuanet) — The Indonesian government may take over a dispute between the state oil firm PT. Pertamina and U.S.-based oil company Exxon Mobil on Tuesday, if the two companies cannot reach an agreement on the operatorship on the 2-billion-U.S.-dollar Cepu oil field in East Java province, a minister said here Monday.

Ekonomi

Pada saat berlangsungnya “negosiasi” (maaf dalam tanda kutip karena bisa saja yg terjadi adalah pemaksaan :), kondisi perekonomian di Indonesia sedang carutmarut juga kondisi kondisi politis ygtegang menjelang pemilihan presiden langsung. Busung lapar-pun pernah diusung sebagai issue untuk sesegera mungkin mendapatkan income dengan mengocorkan minyak dari lapangan-lapangan ini. Harga minyak yg melambungpun menjadikan keinginan ini semakin berubah menjadi “nafsu” untuk sesegera mungkin mengucurkan minyak. Namun pada saat ini dan hari ini semua sudah melupakan si korban “busung lapar” yg namanya pernah dicatut dalam “negosiasi“.

Keekonomian ini tentunya bisa saja sebagai dasar dalam memutuskan. Tentunya ini dapat dilakukan setelah memiliki angka cadangan yg benar dan diperoleh dari kaidah ilmiah dan akademis diatas. Bila angka-angka cadangan dan keekonomian sudah siap, mungkin lebih mudah memutuskan siapa diantara kemungkinan2 perusahaan-perusahan EP yg paling banyak memberikan manfaat ekonomi pada negara, pada bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan mengadu masing-masing draft POD-nya lah (POD=Plan Of Developement) yang paling tepat untuk dibandingkan. Belum tentu Pertamina memberikan yg terbaik buat negara dan bangsa, belum tentu ExxonMobil, bisa jadi third option company (bukan diantara keduanya). Namun sayangnya keputusan berdasar keekonomian inipun juga tidak pernah terjadi.

Politis.

Karena beberapa langkah awal sudah terpelintir (twisted), maka memutuskan dengan kaidah bisnis sudah menjadi begitu sulit. Pemerintah Amerika-pun ikut-ikutan mengutik-utik lewat presiden.

Kamis, 25 November 2004 | 20:11 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Amerika Serikat George W. Bush meminta pemerintah Indonesia mengefektifkan kembali beberapa kontrak minyak dan gas bumi di Indonesia, yaitu di ladang gas Tuban (Jawa Timur) dan Cepu (Jawa Tengah). Permintaan tersebut disampaikan ke Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, saat pertemuan bilateral pemimpin kedua negara, di Santiago, Cili, akhir pekan lalu.

Aspek bisnispun sudah tercoreng, bahkan aspek hukum yg harus dijunjung terkena cipratan noda, dimana TAC berubah menjadi PSC menjadi preseden buruk di dunia perminyakan di Indonesia. Masing-masing yg bertikai menggunakan segala cara untuk memperoleh bagian. Keputusan inipun akan melukai semua pemain-pemain industri migas di Indonesia. Mulai dari aspek ilmiah-akademis, aspek hukum, aspek ekonomi semua runyam karena masalahnya sudah menjadi masalah politik.

Nah apa yg bisa kita pelajari dari kasus ini ?

Saya selalu mengajak untuk memulai dari menelaah sesuai kaidah “ilmiah akademis” dalam memulai setiap assesment. Sebagai seorang yg selalu kekeuh dengan memulai evaluasi sesuai kaidah ilmiah akademis dan juga praktisi di bidang migas, terus terang saya malu. Ya malu …. mengapa keputusan yg seharusnya diawali dengan landasan pemikiran ilmiah-akademis dan evaluasi keekonomian yg benar “terpaksa” harus diputuskan secara politis.

I lost my power now,
But I will take it back !

“power = ability to make descision”

Dongeng terkait :

Iklan

12 Tanggapan

  1. Om Vick,
    Sebagai seorang explorationist, saya setuju sekali dengan pendapat Om Vick, mulai evaluasi dengan dasar ilmiah/ akademik. Setelah itu berlanjut ke ekonomiannya. Pengambilan keputusan selanjutnya memang bukan lah ranah kita lagi selaku orang teknis. Orang orang penentu kebijaksanaan lah yang menentukan mau diapakan. Celakanya kalau yang mengambil keputusan bukan berdasarkan kepentingan orang banyak tetapi hanya segelintir orang saja.

    Top markotop buat Om Vick yang menulis terus

  2. Minyak memang licin dan gas sering menguap, semoga hasil tambang diperut bumi yang merupakan ‘pusaka turunan dari nenek moyang’ ini bisa dikelola dengan baik….

  3. sudah lama saya ingin terlibat didu ia perminyakan karena ini adalah dunia keluarga sebelum saya lahirpun orantua saya sudah berurusan yang namanya BBM alias bensin dn solar serta minyak tanah keperluan rumahtangga. dengan dibawah nsaungan bendera perusahaan Sinamar . Tahun 179 ketiaka awal kebangkitan Islam saya masuk HMI aNGKATAN kEBANGKITAN Muharram 1400.H di Sabang 17 Bandung dengan teman seangkatan Lilik Muflihun, Tigor Sihite, Budi Setiawan dan saya sendiri8 Nadir Abbas Kamil. Saya beli buku biografi IBNU SUTOWO yang uraian tenang kerterlibatannya dalam PERTAMINA SOSOK KEHIDUPAN PRIBADINYA YANG CUKUP MENARIK LIBRA BINTANGNYA YANG KEBETULAN SAMA DENGAN BINTANG SAYA ‘. BERAMBISI JADI DIREKTUR UTAMA PERTAMINA. SEGALA ATRIUBUT IBNU SUTOWO SAYA INCAR SAMPAI SAMPAI SAYA KEJAR KE GOLDEN BALL ROOM SAMPAI KE LIBRA ROOM EXECUTIVE CLUB BERDAMPINGAN SATU SAF DENGAN PAK IBNU SUTOWO

  4. […] Kita sudah sering berhadapan dengan kasus-kasus multi dimensi dalam soal energi. Contoh kongkrit itu Lusi dan juga kasus Cepu. […]

  5. Dear Pak Dhe,

    Orang pintar adalah yang belajar dari pengalaman jelek orang lain, agar tidak menimpa dirinya.

    Sepertinya, masalah nya gak melulu technical, tapi juga sudah memasuki aspek lain nya, nah ini yang bikin ruwet…

    Memang me ‘modelkan’ kondisi bawah permukaan, sampai kapan pun hampir mustahil bisa tepat 100%, namun dengan kemajuan teknologi saat ini, berbagai metoda bisa dipakai untuk mendekati angka 100% tersebut…

    Jadi kalo ada usaha “penggelembungan” cadangan terbukti, dengan tujuan yang berbeda-beda, tergantung siapa yang memegang peranan, siap2 saja banyak pihak yang akan kecele dan dirugikan…, dan secara keilmuan sudah menyalahi kaidah2 yang seharusnya dianut…

    Ilmuwan itu orang jujur dan polos, kalo selain dari itu, ya apa gak malu, minta diakui sebagai scientist…???

    Namun ya itu, sekali lagi terpulang kembali kepada masing2 yang menjalani…

    Regards
    Sigit

  6. allo mas rovicky

    saya mau tanya pengaruh ekploitasi blok cepu ditinjau dari aspek lingkungan hidup

    mohon segera dijawab

    makasih
    arf.bp

  7. Mas Rovicky,

    Tenkyu Beratz…for peta block cepu itu.
    Boleh tanya lagi ?
    Bagaimanakah Formula dan prosedur Subsidy BBM di Indonesia, semisal untuk minyak tanah ? boleh dong expalanation yang comprehensive disertai dengan statistics or graphic nya.
    Terima kasih.

    salam,
    dika

  8. Hi Dika,
    Trims info broken-link nya
    Sudah diperbaiki

  9. Mas Rovicky,

    Peta Block Cepu kok ndak kelihatan ya ?
    boleh dong mas, kalau ada peta block cepunya 🙂
    Terima kasih.

    salam,
    dika

  10. Oooo… Jadi memang sekotor itu ya pemerintah kita. Seram.

  11. Copied from IAGI-net :yrsnki
    Sun, 26 Feb 2006 23:04:01 -0800

    Vick

    Kalau aku bisa nangis darah sebagai WNI danm kebetulan sebagai geologist berkewarganegaraan Indonesia , maka saat inilah aku akan nagis darah.
    Tapi apa cukup nangis darah ?

    Tentunya kita tidak bisa mengubah apapun yang kelak akan ditetapkan
    oleh Pemerintah ( ??????????? apa iya Pemerintah masih bisa yaaa ???).

    Kita semua harus memakai “cepu tragedi” (kalau lah ini mau dikatakan demikian), sebagai pelajaran paling mahal bagi Bangsa Indonesia , agar hal ini tidak terjadi lagi.

    Bagaimana ???? Saya serahkan kepada Anda – Anda untuk menentukan nasib Bangsa Indonesia agar kita tidak dicaci maki oleh anak cucu kita .

    Semoga.

    Si-Abah.

  12. Copied from IAGI-net :

    Awang Harun Satyana
    Mon, 27 Feb 2006 00:00:52 -0800

    Semula, yang mengemuka itu hanya Banyu Urip. Dokumen resmi ExxonMobil yang masih saya simpan menulis cadangan lapangan ini (bukan blok Cepu) punya kisaran 200-700 MMBO (Steve Buck, 2000). Kala itu belum seismik 3D. Setelah dilakukan
    seismik 3D katanya struktur malah membesar. “Katanya” sebab saya pun sudah tak punya akses ke data mereka sebab ExxonMobil sudah tak lapor lagi ke Pertamina MPS (saat itu).

    Lalu, di media yang ramai lebih mengemuka cadangan blok, bukan Banyu Urip lagi. Berapa besar ? Angka bervariasi sekali, dari 400-1200 MMBO. Ini sudah bias.
    Berapa sebenarnya cadangan Banyu Urip sebenar2-nya. Tak ada yang tahu, bahkan EMOI pun saya pikir tak akan tahu pasti sebab hanya ada 3 titik sumur yang berderet di tengah. Closure-nya memang gede, tetapi sangat kasar kalau mau memastikan reserve-nya sekarang ini, lalu jadi pertimbangan keputusan.
    Berbahaya !

    Sukowati-4 baru saja dibor JOB Pertamina-PetroChina, dan kering karena tight reservoir. Nah, Sukowati bertetangga dengan Banyu Urip. Pelajaran penting, siapa bisa mengira sepasti-pastinya reserve, apalagi di karbonat ?

    Salam,
    awang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: