Kegiatan “ritual” yg sangat personal


Freespeech …
free expression tanpa tanggung jawab hanyalah masalah buang hajat saja … iya itu sama saja berak kok. kalau anak kecil mau berak ya sembarangan ajah, mau berak di kamar tamu kek, mau berak di dapur kek … itu kan sembarangan aja … karena masih anak-anak makanya ngga pakai tangung jawab…. ngga pakai ba bi bu …. …. iih jijay dech gwe !.

Hal yg sama dengan kebebasan berekspresi. Siapa saja berhak untuk berekspresi, siapa saja berhak untuk berbicara. Tapi kalau berbicara disembarang tempat, dan berbicara sembarangan tanpa tanggung jawab … maka yg terjadi hanyalah seperti anak kecil melaksanakan hajat genital-nya. Membuat orang lain sebel. Lah kalau nyokap bokapnya tentunya maklum. Lah kalau anak tetangga yg berak sembarang dihalaman kita ?

Berak emang sangat-sangat personal, private dan ngga boleh ada yg liat.
Ada yang berak sambil jongkok ada yg berak sambil baca koran, ada juga yang berak trus dicuci pakai air, tapi ada juga yg pakai kertas. Tapi kalau ada orang sedang berak jangan sesekali diintip deh, apalagi diolok-olok pasti orang tersebut marah.

Kayaknya beragama juga hal sama …paling tidak mirip,lah … Kalau anda mengintip orang sedang melaksanakan kegiatan agamanya trus dikritik tentunya dia akan menyatakan bahwa ritual ini adalah urusan pribadinya. Hal ini termasuk juga pada orang-orang yg selalu meneriakkan free speech dan free expression Jadi jangan heran kalau ada yg berdoa sambil membungkukkan badan, ada yg sambil menengadahkan tangan, ada yg tangannya sambil didekep didada, ada yg sujud dsb. Jangan sesekali menyalahkan atau mengajari kalau kamu emang ngga bener-bener deket dengan orang tersebut. Dan jangan sesekali mengkritik cara orang lain menjalankan kegiatan “ritual”nya kalau anda tidak tahu tentang upacara “ritual” itu. Setiap orang akan melakukannya dengan cara masing-masing.

Jadi kalau ada orang mengintip orang lain yg sedang menjalankan “ritual” dan ternyata berbeda dengan ritual yg sering anda lakukan … wis ta lah, diem aja … meneng wae … mereka menjalankan sesuai dengan kayakinannya, dan kebiasaan yg dilakukannya. Asalkan “ritual” itu tidak menganggumu, biarkan dia mau jungkir walik sekalipun.

Kalau ada orang yg sakit mencret tentunya akan bauk banget ya … nah kalau orang yg sakit mencret ini anda tegur tentunya dia sakit dua kali, sakit hati dan sakit perut. Jadi anda harus menahan amarah atau rasa kesal karena terganggunya orang lain yg menjalankan “ritual” …. yg diperlukan disini adalah toleransi … ya toleransi !

Siapa saja pasti ingin melakukan kegiatan “ritual” ini secara personal ….
tanpa diketahui orang lain.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. diamput sampeyan niku …. masak agamane uwing dianggep ndik wese. tapekno emang ngono ya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: