Dinner dengan Pak SBY (Bag2)


Meneruskan critaku ttg dduduk bersama SBY selama sejam lebih di
Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur 14 Desember 2005.

RDP%20dan%20SBY[1]

Duduk dalam satu meja itu terdiri dari enam wakil yaitu: dari IATMI-KL (ikatan Ahli Teknik Perminyakan) saya sendiri, dari PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), Wakil dari ahli ekonomi Dr Subarjo Joyosumarto – Executive Director of Seacen (South East Asia Central Bank), Seorang bekas pekerja PTDI (dulu IPTN) yg sekarang bekerja di KL, Tetua masyarakat Aceh di Malaysia, serta seorang dokter Specialis Jantung Anak dari Indonesia yg sedang bertugas di IJN (institue Jantung Negara) di KL, Malaysia. Duduk pejabat lain dalam meja tersebut adalah Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda beserta Istri, dan Dutabesar Indonesia untuk Indonesia di Malaysia Drs. KPH Rusdihardjo beserta Istri. Dari beragamnya yg hadir semeja tersebut sehingga muncul perbincangan yg beragam pula. Dan dibawah ini adalah ragam perbincangan lain waktu itu.

– Tsunami Aceh

Pada saat makan malam itu kebetulan ada ketua masyarakat Aceh duduk satu meja. Setelah diperkenalkan bahwa yg hadir salah satunya wakil dari Aceh, Pak SBY mengungkapkan rasa prihatin dengan musibah yg terjaditsunami pada tahun lalu . Dan Presiden SBY bercerita bahwa akan mengadakan peringatan detik-detik menegangkan itu sebagai ungkapan rasa duka, juga sebagai “pengingat” akan kejadian alam yg menimpa di Aceh dan sekitarnya. Beliau tidak banyak menyinggung masalah “early warning system” yg sering diributkan “wong pinter2”. Namun beliau sepertinya saat ini lebih berpikir untuk “membangun” kembali Aceh yg sudah hancur ini. Beliau beberapa kali menekankan untuk lebih berpikir ke depan dibanding mengingat masa lalu (ya seperti saya, rdp).

Masih banyak pekerjaan pembangunan (sarana fisik) kembali yg harus dikerjakan pada beberapa kota yang hancur. Dan sepertinya pembangunan fisik ini yg sedang diprioritaskan. Problem utamanya adalah masterplan. Saya tdk begitu faham ketika beliau menjelaskan tentang masterplannya. Karena banyak sekali kota-kota yg harus di-rebuild.

Pendidikan kebencanaan yg dulu saya fikirkan mungkin dimaksudkan dengan diadakannya serta dilakukannya peringatan detik-detik tsunami yg akan beliau lakukan nanti pada tanggal 26 Desember 2005. Pada tanggal ini Pak Presiden akan berada di Aceh.

Kompleksitas Aceh tentunya tidak hanya hancurnya banyak kota akibat tsunami namun juga dengan kondisi politik yg berlarut. Tetua Masyarakat Aceh, yg kebetulan juga duduk semeja dengan saya ini, sangat berharap bahwa perbaikan keamanan terus dilakukan pasca perdamaian Aceh kemarin. Dan sepertinya akan ada penarikan pasukan TNI lagi yang disaksikan Pak Presiden pada bulan Desember ini juga.

– PTDI PT Dirgantara Indonesia (dulu IPTN)

Duduk dalam satu meja kemarin ada satu orang bekas pekerja IPTN (PTDI). Pak SBY terlihat sangat konsen dengan industri dirgantara di Indonesia. Beliau melihat ada potensi bagus yg dapat dikembangkan lagi dengan industri kedirgantaraan. Beliau bercerita telah berdiskusi dengan Pak Habibie soal ini. Dan ternyata masih ada “pesanan-pesanan” baik komponen maupn pesawat yg masih mungkin dipenuhi. Menurut Pak SBY (mungkin setelah diskusi dengan Pak HBB, pesawat jenis2 CN235 maupun 250 masih mungkin dikembangkan dengan kondisi kedirgantaraan saat ini.

(my note: Indonesia ini dulu punya PTDI yg mungkin juga ada salah tanggap di masyarakat seperti juga yg terjadi di Pertamina yg salah urus sehingga perlu dibenahi. PTDI yang seharusnya dapat menjadi kebanggan bangsa Indonesia ini ditanggapi dan direcokin dengan komentar politik, dan juga karena tidak tahan terpaan badai krisis ekonomi 97 yg akhirnya meruntuhkan PTDI, sayang sekali).

– Demokrasi media yg kebablasan

Wah lah ini, sangat menarik ketika aku cerita soal demokrasi di Malaysia membandingkan dengan demokrasi di Indonesia. Saya cerita bagaimana sulitnya kami masyarakat Indonesia untuk menerima berita langsung dari Indonesia, wong memakai satelit parabolla saja tidak diijinkan. Pak SBY malah tersenyum, “Ya jelas jangan hanya membandingkan dengan demokrasi media Malaysia”. Beliau malah membandingkan dengan demokrasi liberalnya Amerika dan Eropa. Kalau komunis di satu sisi dan demokrasi Amerika dan Eropa disi lain maka demokrasi media di Indonesia sudah berada diluar skala melebihi Amerika. Itulah barangkali yg beliau sebut malah demokrasi kebablasan.

Beberapa contoh diberikan beliau adalah komentar seorang dubes (Rusia kalau ngga salah) yg menyatakan langsung ke Pak Presiden SBY. Dubes yg di negaranya mengenal Glasnost (reformasi ala Rusia) tersebut melihat pemberitaan media di Indonesia ini sudah terlalu terbuka bahkan kebablasan. Dan dubes ini juga heran berita buruk lebih mendominasi ketimbang berita bagus yg memberikan impresi tidak proporsional (sesuai) dengan kenyataan. (mungkin maksud SBY kalau ada 10% keburukan yg diberitakan semestinya 10% porsi berita. Jadi kita semestinya dapat melihat apa adanya Indonesia di media itu sesuai dengan proporsianya). Kalau beritanya saja yg buruk-buruk seolah terkesan minder, bagaimana mau mengundang investor asing ? Hal ini juga beliau ungkapkan ketika dialog terbuka tentang berita TKI yg beliau sendiri pernah berbincang dengan 40 orang TKI di bandara. Dan ternyata 35 orang menyatakan diperlakukan baik dan ada 5 yg diperlakukan buruk. Jadi tidak seluruhnya benar kalau TKI diperlakukan buruk. Tentunya dengan data statistik yang benar akan memberikan proporsi penanganan yg tepat.

Soal “isi” dari setiap pemberitaan media ini, sepengetahuan saya, Pak SBY tidak suka dengan berita fitnah !. Kalau berita kebenaran silahkan saja diungkapkan. Tapi kalau fitnah tentunya nanti proses hukum dan aturan yg akan menanganinya. (Ini tidak mudah, karena perangkat hukum juga perlu dibenahi, kan ?).

– Guyon, lelucon dan rileksnya Pak SBY

Menu makan malam waktu itu diawali dengan sop tekwan. Pak SBY berbicara ke ibu menanyakan sambel xxx, tapi yang diberikan sambel yyy. Wah ternyata semua sambel botol disebut sambel xxx ya. Nah Pak SBY jadi inget semasa kecil ketika dirumah beliau masih dengan penerangan lampu petromax yg selalu saja harus disetel ‘spuyer‘-nya.
Nah, suatu saat ketika sepeda motor beliau susah distarterpun dia diberi saran bapaknya, “wah, mbok diperiksa dulu ‘spuyer’nya”, sambil beliau tersenyum.

Pak Presiden SBY yg rileks.

Pak presiden “yg ini” bebrapa kali menunjukkan hal-hal dimana beliau ingin deket dengan rakyatnya. Bebrapa contoh akan saya berikan dibawah. Namun hal ini tentunya akan menjadi tantangan buat security paspampres.

– Ketika acara dialogue terbuka. salah satu dari wakil PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) ingin menyampaikan amplop surat yg langsung diburu oleh paspampress utk menyampaikan. Tapi Pak SBY dengan sigap kedepan menerima “langsung” dari tangan-ke-tangan. (my note: sepertinya beliau ini juga risk taker apa ya?“).
– Pada kesempatan ini pula ada kasus seorang gadis bernama Lastri seorang korban “woman trafikking” (wanita yg dijual). Lastri ini mengalami musibah ditipu oleh PJTKI dikampungnya di Sumatra Utara. Dikirim ke Malaysia, namun dengan passport palsu. Kemudian pura-pura ditangkap polisi dan dipaksa utk dipekerjakan sebagai PSK. Namun entah saya kurang tahu kisah detilnya, singkat kata akhirnya Lastri dapat bertemu dan mengadu ke Ibu Ani (ibu presiden). Dengan cepat hanya dalam satu hari pelaku yang ada di Indonesia berhasil ditangkap oleh polres setempat. Dan juga komplotannya yang ada di Malaysia. Jadi sebenarnya terbukti dalam satu haripun kasus kejahatan riil ini dapat diseleseikan. Namun Pak SBY menyadari bahwa ada banyak “Lastri-Lastri”
yg terancam diluar sana.

Saya melihat kasus Lastri ini dalam berbagai sisi.
– Bersedianya Ibu presiden menerima Lastri bisa saja dipakai sebagai sebuah kemudahan menemui pejabat tertinggi di Indonesia ini. Namun apakah mudah juga ketika di Jakarta ? Saya ngga tahu pasti tetapi kalau saja anda memiliki kesempatan bertemu pejabat negara, sampaikan saja keluhan yg anda miliki.
– Kasus Lastri Ini juga sebuah contoh kongkrit bahwa “kalau kita mau … kita pasti BISA“. Kalau Kepolisian itu mau mereka pasti bisa menyeleseikan kasus dalam waktu cepat. Namun bisa mengundang pertanyaan kritis, apakah setiap kasus Lastri harus harus dengan pengaduan ke Ibu Presiden ? Apakah kepolisian harus menunggu perintah dari The One ?. Bukan kemampuan polisi tetapi kemauan-nyalah yg perlu
dipertanyakan.
– Prestasi Polisi ? … Anda bisa melihat dg kacamata macam-macam terhadap kasus Lastri ini. Boleh saja anda menyatakan kehebatan Polisi. Namun kalau kacamata anda negatip, bisa saja kita bilang, “Lastri yg lain gimana ?”, Kenapa polisi baru gerak menunggu Ibu Presiden menerima laporan langsung ?. Ini juga “challenge” berat buat kepolisian dan buat siapa saja.
– Politis ? … Kejadian Lastri ini dapat merupakan kampanye positip buat seorang “The One” yg ingin dekat dengan rakyatnya. Loh kalau celebritis kan perlu menaikkan rating, itu perlu juga kan ?

Nah diatas itu kasus Lastri yg cukup menarik perhatian masyarakat yg hadir di Gd kedutaan Indonesia di KL semalam.

Ada beberapa kawan netter yg bertanya, Saya beruntung dapat bertemu dengan The One. Nah apakah harus bertemu dengan The One supaya usulannya dapat didengar ? Jadi bagaimana dengan usulan supaya didengar ?
Ada banyak sarana, salah satunya kirim sms beliau di yg langsung akan diterima oleh staff beliau sebanyak 7 orang. Saya ngga tahu pasti apakah ada impactnya, namun usaha beliau lumayan cukup banyak untuk menampung saran2. Termasuk surat IATMI-KL yg saya sampaikan ke Andi Malarangeng semalam. Yg jelas kalau tidak disampaikan sudah “pasti” beliau tidak akan tahu … itu saja. Dan khususnya dengan Pak SBY, beliau tidk banyak bertanya. Kita harus aktif bertanya, memberi pernyataan sehingga beliau akan menanggapi.

Apakah usulan akan dilaksanakan ? Saya hanya dapat menyarankan “KEEP TALKING, KEEP SAYING !” (sampai meniren ya ngga apa-apa🙂 … namanya juga usaha. Setelah itu … ya sudah … “is the President Call” … sudah menjadi wewenang dia. Beliau yg menentukan prioritas. Sayapun juga begitu. Saya hanya menyampaikan. Apakah diterima atau tidak … walaah itu masih jauuh. Dan bukan tugas saya lagi sebagai rakyat bangsa Indonesia, kan ?

Informal

Ketika pembawa acara menyatakan “Bapak Presiden beserta Ibu berkenan meninggalkan ruang pertemuan”, Eh, Pak SBY langsung berbicara lagi di mikrofon. meminta satu lagu lagi dari pengisi acara … dan akhirnya … “Wiiiduri …. elok bagai rembulaaan … oh sayaaang“, swara Pak SBY dengan lantunan lagu ini pun terdengar dari speaker di gedung pertemuan ini .

Salam
RDP

2 Tanggapan

  1. […] Ini meripakan kesempatan kedua duduk “jejer” Presiden setelah Dinner dengan Pak SBY 1  Dinner dengan Pak SBY 2  tahun […]

  2. […] Selanjutnya sila diklik -> Dinner dengan Pak SBY (Bag2) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: