DILEMA MENEMBUS BATAS : (Mind Reform)


> Aku punya bos yang sedang pergi cuti satu bulan,
> Sebelum pergi, beliau minta aku melakukan pekerjaan dengan
> cara A. Namun
> ditengah jalan (seminggu setelah kepergiannya), ketika
> menjalankan cara A
> ini aku menemukan cara B lebih bagus dan lebih banyak
> menghasilkan potensi
> yang sangatjelas menguntungkan perusahaan
> Aku ndak tahu apakah aku sebaiknya tetap menjalankan cara A atau aku
> menjalankan cara B karena hasilnya pasti lebih bagus dan saya
> masih punya
> waktu utk menyelesaikannya sampai Pak Bos balik dari cuti ..
> Please help, (aku ndak bisa menghubungi bos itu, HP, Fax dll
> no contact)
> Trims

> Rovicky DP

Saya sedang kesulitan mengambil keputusan, dan akhirnya imil diatas saya layangkan ke beberapa milist, mulai dari milist alumni, milist umum, milist profesi hingga milist proletar. Dilema yang saya hadapi mirip walopun tidak percis seperti itu dan hasil yang saya peroleh ada beberapa versi. Akhirnya saya tergerak menuliskannya, karena ternyata saya mendapatkan respon banyak sekali dan Saya merasa hal ini bisa di-share dengan siapa saja.

Yang sangat menarik adalah bahwa hampir semua ingin menjalankan cara B atau paling engga mengisyaratkannya. Karena memang saya juga yakini bahwa cara ini akan lebih banyak menghasilkan. Karena cara B ini akan mempunyai nilai profit yang tinggi untuk perusahaan. Namun ada juga yang menyarankan tetap dengan cara A, cara baru itu (Plan B) sebagai wacana saja. Bahkan ada yang menyarankan mengerjakan dua-duanya sajah.

> Mangsalahnya kita dulu pernah mengevaluasi cara/metode A dan B, hanya
> saja wektu itu kita sepakat menggunakan cara A saja dengan
> pertimbangan ini itu.
> Trims sarannya,

> RDP

 Surat kedua saya menjelaskan agak detil. Dan tanggapan serta saran berdatangan.

Apa sebenernya ini artinya ?

Dari dilema yang kuhadapi ini, saya ingin belajar dari apa yang saya alami. Namun saya ingin ini dianggap saja sebagai sebagaimana kita melihat kondisi bangsa kita saat ini. Dalam waktu kurang dua jam saya sudah mendapatkan jawaban lebih dari 20 surat dari temen-temen dan sahabat saya di Indonesia, yang mungkin belum saya kenal wajahnya. Sampai terakhir menulis ini saya sudah mempunyai saran hampir 100 surat…..

Its amazing. Sifat helpful ini sangat membanggakan saya…. Dengan banyaknya saran yang aku peroleh. ……….Kayaknya memang inilah salah satu kelebihan bangsa kita ini, suka menolong.

Saran untuk tetap mengerjakan cara A sangat sedikit, kalo anda termasuk yang menyarankan saya stick to Plan A mungkin ini berarti anda sudah bisa menembus batas culture, dan sangat langka. Namun paling banyak menyarankan untuk mengerjakan dua-duanya …. Hmmm ….
memang sahabat-sahabat Indonesia-ku ini banyak yang hardworker. Namun juga ada yang agak ngambang dalam memutuskan A atau B, buanyak sekali pertimbangannya. Mungkin mengambil keputusan memang tidak gampang bagi orang Indonesia ini. Termasuk saya sehingga menanyakannya kebeberapa milist.

Namun ada sisi lain yang tersirat dalam komunikasi milist yang saya alami. Yaitu mungkin sekali banyak orang Indonesia ini memang kecenderungannya mempunyai komitmen yang rendah. Kita akan lebih mudah berbelok karena keyakinan kita, kita akan mudah atau mungkin juga akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan justifikasi bahwa cara yang saya lakukan ini akan ..”well justified”. Entah dengan “risk analyses”, ataupun “thread and opportunity”, juga “gain-loss” ataupun cara-cara canggih tentang descision maker tool.

Dan apa yang terjadi ? ….
Damn … we can make a good justification ….
But not a commitment.

Dan betul juga, kita ini kalo mau beralasan sangat pinter kok. Mau bilang salah saja diubah menjadi kurang tepat. Dan akhirnya korupsi yang merajalelapun bisa jadi well justified.

Saya jadi teringat kejadian beberapa minggu lalu ketika aku menghadiri sebuah seminar yang cukup bergengsi (menurutku) yang dihadiri beberapa ahli ekonomi juga industriawan sebagai panelis. Waktu itu saya menanyakan kenapa para ekonom dan industrialis di Indonesia ini kok tidak bisa mandiri ? sering menjustifikasi bahwa dirinya merupakan akibat dari yang lain. Dari sisi ekonomi yang sedang merosot saat ini beliau (sang Ekonom) berpendapat hal ini disebabkan oleh tiga hal yang penting lain yang sangat mempengaruhi perekonomian. Ketiganya yaitu kondisi keamanan, kontrak kerja serta kondisi politik yang tidak stabil dan perlu rekonsiliasi. Hal senada juga diberikan oleh Sang Industriawan yang masih menginginkan proteksi sehingga industrinya akan kembali mendapatkan momentum untuk terus dikembangkan dan terselamatkan. Kalau tidak ada proteksi kita tidak punya momentum dan tenaga untuk bangkit lagi.

Namun dalam kesempatan lain, hal yang sama aku tanyakan juga ke beberapa teman yang berkecimpung di Hankam, serta membaca komentar-komentar serta pendapat politisi handal saat ini di koran, majalah dan televisi.

Dan apa jawabannya ? … semua menjawab sama, …. mirip, …. senada ….. bahwa problem utama yang mempengaruhi kondisi Indonesia saat ini

adalah karena :

  • – Masalah Ekonomi
  • – Masalah Kontrak (baca: Commitment)
  • – Masalah Keamanan
  • – Masalah Politik

Dan ternyata bisa aku langsung lihat bahwa ketika menanyakan ke ekonom, mereka akan menjawab tiga problem yang lain. Ketika aku bertanya ke orang hankam mereka menjawab tiga problem yang lain juga …. Dan hal yang sama ketika membaca komentar politisi di koran dan majalah.

Lantas …. Commitment …… ini aku musti tanya siapa ?

Mungkin saja satu masalah besar yang melingkupi ketiganya adalah kurangnya commitment terhadap apa yang seharusnya kita kerjakan. Mungkin sebaiknya ekonom jangan bermain politik dan jangan melihat apapun yang terjadi di percaturan politik. Tentara jangan ikutan berdagang dan ikut-ikutan menentukan langkah politisi, demikian juga politisi jangan dipersenjatai dan mengatur perekonomian. Mungkin juga bukan ngrecokin … tapi justru perasaan ketergantungan sektor lain.

Saya juga mengerti bahwa tidak mungkin ada independency ….. semua akan saling terkait … semua mempunyai hubungan korelasional (coincident) ….. tapi apakah hubungan ini juga kausal (sebab akibat) ? Sang ekonom pun tidak tahu pasti … dan juga beliau mengiyakan ketika aku tanya apakah gejala merosotnya ekonomi memang sedang melanda di seluruh dunia. Memang sulit menembus mental blok yang kita miliki. Untuk tetap komit menjalankan tugasnya sendiri-sendiri secara mandiri, tanpa dipengaruhi.

Jadi komitmen memang mustinya bukan komat-kamit. Kalau toh memang secara umum orang Indonesia mempunyai komitmen rendah …… Apakah ini jelek, ndak baik dan negatif …. ??

Eit …. Tunggu dulu. Masalah menentukan nilai baik-buruk, bener-salah, right or wrong tidaklah mudah. Kita semua juga tahu ….. Sering sekali kita ini berbelok ke arah yang lebih baik, sering sekali pula kita ini merubah arah ke tujuan yang lebih baik. Dalam arti perusahaan bisnis adalah menghasilkan profit, memunculkan prospectus ataupun menemukan oportunity yang lebih baik. Hanya saja kita sering melakukannya dengan keharusan menembus batas yang kadang kala batas-batas itu bisa bernama “commitment” …. Konstitusi ….. Kesepakatan … aturan … prosedur dll. Seringkali kita menembus batas komitmen kecil utk mencapai atau memenuhi komitmen besar …. (upst …. he he he aku sedang mencoba utk well justified juga).

Break the rule. …. Break the commitment,…..
Wrong way …. Wrong results ….
But sometimes leads to discovery.

Wah susah juga nih…… seringkali kesalahan memang membuka wawasan, menyimpang dari yang seharusnya sering menjadikan penemuan. Banyak sekali contoh kesalahan yang berharga …. Salah satunya … mmmm aku yakin anda mengenal “yelow label 3M” atau sering dikenal dengan nama “Post It”. Kertas kuning ini ditemukan gara-gara lem yang seharusnya mempunyai daya rekat tinggi akan lebih baik … eh ternyata kesalahan prosedur terjadi namun malah menghasilkan lem daya rekat suangat rendah …. Dan ternyata lem ini akhirnya bisa dipakai sebagai perekat marker kuning yang sering dipakai di kantor-kantor. Saya sendiri menggunakannya untuk berbagai keperluan termasuk notes, koreksi tanda lembaran buku dan lain-lain, ……. siapa sangka kesalahan prosedur membawa berkah.

Yang perlu saya tekankan adalah kita harus bisa menembus “mental block” yang ada. Ada yang telah menembus mental block budaya ini dengan memegang teguh komitment …. entah komitmen besar atau komitmen kecil . …. ini juga kalo memang bener dugaan bahwa orang Indonesia mempunyai komitmen rendah. Dan temen-temen yang berani mencoba plan-B pun bisa jadi telah menembus mental bloknya…. seandainya saja selama ini merasa terkungkung dengan rutinitas. Dan seringkali penemuan baru (new discoveries) bisa dimulai dari diri anda.

Rutinitas … komitmen bisa menjadi mental blok kita, budaya bisa juga menjadi mental blok, perasaan ketergantungan yang kurang mandiri pun bisa menjadi mental block juga.

Okay karawan-karawan … trims semua inputannya …. Aku mau mengambil keputusan ku sendiri dulu nih … dimana ya tadi ? kok ilang lagi ….

Upst. …

Ah aku mau melakukan caraku sendiri sajah ….

Yes I’ll do it my way

…..”

Salam

Rovicky Dwi Putrohari

2 Tanggapan

  1. Terimakasih sharing-nya Pak Dhe..

  2. Mohon maaf Pak Dhe, mungkin agak basi😦

    Kalo Pak Dhe ingin “aman”, pilih cara A. Kalo Pak Dhe ingin dikenang (jika berhasil, jika gagal juga tetap dikenang meskipun resikonya akan dikeluarkan hehehe….) pilih cara B.

    Akan tetapi, kalo menurut saya pribadi:
    Tetap kerjakan dengan cara A, karena itulah kesepakatannya.
    Dan Pak Dhe juga bisa memberikan masukan kepada bos seandainya akan disuruh mengerjakan hal sama, bolehkah menggunakan cara B?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: