Persoalan subsidi bukan hanya soal untung rugi.


Subsidi energi awalnya persoalan ekonomi. Tapi ktika persoalan negeri tentang ekonomi ini dibahas oleh pimpinan lembaga negara selalu menjadi masalah politis dengan mekanisme jual beli, akhirnya hanya ada dagang sapi, “kamu dapet apa aku dapet apa” …. Dan rakyat akan dipihak kalah, karena terjebak dalam labirin ciptaan politikus.

Sudah banyak persoalan kriminal, persoalan bisnis, dan persoalan hukum yg ujungnya diselesaikan secara politis oleh politikus. Rakyat jelata hingga elitis kampus dan tehnokratpun ikut dalam permainan labirin politikus lembaga negara. Saling beradu konsep, beradu data, beradu pendapat. Kerugian subsidi bukan sekedar banyaknya biaya yg dikeluarkan tetapi lebih banyak hilangnya potensi karya serta waktu berargumentasi yg merongrong masa bekerja yg produktip

Termasuk kita, saya dan anda yg merugi

Politikus mengalahkan teknokrat dan pemikir bangsa ini.

Jelas subsidi itu masalah ekonomi, memang menjadi ruwet ketika harus diputuskan secara politik. Ya akhirnya semua yang berkepentingan masuk dalam jebakan labirin bikinan politikus. Keharusan diputuskan secara politis itu karena ulah politikus yg telah merubah cara berpikir dan cara menjalankan negeri kita. Tatacara dan protokoler pengambilan keputusan ini  ada dalam kesepakatan politikus yg saat ini sedang menjadi pejabat negara, baik pemerintahan, DPR, serta lebaga-lembaga politis negara lainnya.

Didalam labirin politikus ini, para tehnokrat, serta ahli pemikir bangsa ini awalnya berbeda pendapat saja, namun ketika masuk didalam laga labirin menjadi berseberangan, bertentangan dan akhirnya saling menyerang. Sedangkan sang politikus ngekek-ngekek diatas balkoni. Saat ini birokrat, teknokrat, pemikir serta ahli-ahli tehnis negeri ini dipaksa oleh politikus untuk bermain berlaga  didalam labirinnya, ya mesti wae yang ikut membuat labirin yang memenangkannya.

Jadi tehnokrat serta ahli pemikir dan pakar ilmiah Indonesia saat ini kalah dalam percaturan politik yg menentukan masa depan bangsa ini. Prihatin !

About these ads

7 Tanggapan

  1. Pada dasarnya para politikus kan mementingkan dirinya sendiri dan golongannya, jadi saya berharap para ahli pemikir dan pakar ilmiah Indonesia bisa mengambil tindakan yang tegas

  2. Salam kenal,,,tulisan bos memang benar dan saya sependapat,,negara kita saat ini kaya negara kethoprak bos..lulusan S1..S2..dAn S3 Sudah kalah dengan lulusan S teler, S kopyor dan S mamboo, yg notabene MEREKA ADALAHpara preman/ bandit.MAFIA… yg punya power politik dan kekuasaan atas sumber daya keuangan…maka nya trend sekarang gx jaman lg sekolah tinggi2,,yg penting punya otot dan bacot dan berani malu….semua bisa dibeli bos….termasuk tehnokratnya…kasihan rakyat kecil…cuma plonga plongo koyo kebo.Nonyon wae …….. h eheeeee

  3. makanya PakDhe gaji politikus itu perlu dipangkas habis, agar tidak ada motivasi mencari uang dalam politik

  4. Permasalahan adlah sistem uang yg kita pakai. Gampangnya kembali ke sistem dinar/emas & dirham/perak. Masalahnya kemauan dan keberanian pemerintah menentang sistem keuangan yg tidak adil di dunia ini.

  5. sabar pak…

  6. Kalau presiden dipilih bukan dari partai, tapi dari jalur independen, apa bisa??? Lalu menterinya diuji dulu seperti UNAS. Baru yg lulus dipilih oleh presiden sebagai menteri yg sesuai dengan hasil ujian UNAS. Kira-kira bagaimana, ya?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.513 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: