Bencana alam sebagai ancaman nasional (Belajar dari banjir Bangkok)


Daerah tangkapan (DAS) Chao Praya. Mirip dengan dengan DAS Ciliwung Jakarta. (Wikipedia)

Banjir yang saat ini (Oktober 2011) terjadi di Thailand dan ancaman banjir terhadap ibukota Bangkok, dengan volume air yang begitu banyak, yang disebut-sebut sebagai banjir terburuk dalam 5 dekade terakhir, betul-betul membuka mata kawan saya, Minarwan, bahwa kurangnya pengalaman manusia dalam menanggulangi sebuah bencana besar membuat kita tidak siap sehingga tidak bisa meminimalkan ancaman tersebut.

:( “Pakdhe, Lik Minarwan ini kan seorang dokteor dari Indonesia kan ? Kok kerjanya di Thailand ?”

:D “Barangkali Pak Lik Minarwan masih ingin menimba ilmu disana thole. Siapa tahu di Eropa ilmunya tidak sebanyak di Thailand” ;)

Minarwan baru beberapa bulan bekerja di Thailand setelah sebelumnya bekerja di Eropa. Menceriterakan pengalamannya mengamati dan mengalami situasi yang sangat bagus untuk menjadi pelajaran bersama. Bagaiamana menghadapi sebuah ancaman bahaya bencana alam yg mengancam stabilitas nasional.

Tanggal 19 Oktober: Nasib Kota Bangkok bersandar pada dining penghambat - Warga di banyak daerah provinsi tetangga Bangkok - Pathum Thani, Nonthaburi dan Nakhon Pathom - dievakuasi sehari sebelumnya, sementara kesempatan untuk keluar dari ibukota banjir mengamuk sekarang tergantung pada beberapa dining penghambat (barrier) sementara

Awalnya dari hujan

Situasi yang saat ini berlangsung di Thailand dimulai ketika curah hujan tinggi menyebabkan bagian utara negara ini, di mana DAS Chao Phraya berada, mendapatkan pasokan air yang berlebihan. Keadaan memburuk ketika ketidaksiapan pemerintah baik lokal maupun pusat bercampur dengan permainan politik dan egoisme pemerintah lokal membuat wilayah tertentu dikorbankan dan wilayah ibukota dipertahankan tapi kemudian ancaman menjadi lebih besar. Bagaimana kalau tanggul-tanggul penahan air sementara yang dibuat dengan terburu-buru itu jebol? Air banjir mungkin bisa menjadi air bah untuk kota Bangkok.

Sebenarnya pemerintah Thailand telah berusaha menangani banjir yang kerap datang. Mereka telah membangun banyak saluran irigasi berukuran besar atau kanal untuk mengendalikan kelebihan air dan mengalirkannya ke laut. Tapi curahan air hujan kali ini sungguh besar. Hujan lebat telah berlangsung hampir 3 bulan di DAS Chao Phraya dan ada pula badai yang datang dari Vietnam serta bersamaan dengan pasang naik di Teluk Thailand sehingga jumlah air yang berhasil dibuang ke laut terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah air yang membanjiri berbagai propinsi.

Berdasarkan berita di media massa berbahasa Inggris di Thailand, ada 16 milyar meter kubik air banjir yang perlu dibuang ke laut secepatnya. Tapi air yang bisa dibuang ke laut lewat kanal dan pompa-pompa yang berfugsi maksimal hanya sekitar 550 juta meter kubik per hari. Jadi, tanpa tambahan air hujan lagi, akan butuh waktu 30 hari untuk membuang air banjir ini ke laut. Jika hendak dibuang secepatnya, yaitu dengan melewatkan air pada tempat alirannya yang alami, air banjir akan lebih cepat surut.

Mengalirkan air lewat jalan alamiah berarti kemungkinan besar harus membanjiri Bangkok, ibukota Thailand, pusat ekonomi dan bisnis paling penting negara tetangga kita ini. Inilah salah satu sumber masalah krisis banjir berkepanjangan saat ini. Gubernur metropolitan Bangkok memutuskan untuk hanya membuka sebagian pintu air di wilayah administrasinya demi “mengontrol” level air di kanal Bangkok dan “mempertahankan” ibukota agar tidak kebanjiran. Jadi, air yang seharusnya bisa melewati kanal-kanal Bangkok dengan maksimal untuk kemudian dipompa ke laut ternyata tidak sampai ke stasiun pemompaan.

Pada tanggal 20 Oktober: Pemerintah mengorbankan timur Bangkok - Dalam upaya untuk menyelamatkan jantung ekonomi, pemerintah akhirnya memilih untuk menggunakan bagian timur Bangkok untuk menguras sejumlah besar banjir dari pinggiran utara

Pak Lik Minarwan menuturkan selanjutnya. Seorang petugas di propinsi Samut Prakan yang berada di sebelah tenggara wilayah metropolitan Bangkok mengatakan bahwa mereka sudah siap menerima air dari Bangkok sejak 3 minggu lalu, tapi air yang mereka tunggu hanya datang dengan volume sedikit sekali. Demi bisa memanage krisis secara terpusat dan terpadu, PM Yingluck Shinawatra kemudian mengambil alih semua kontrol operasi penaggulangan banjir secara nasional mulai hari Jumat tanggal 21 Oktober 2011, sehingga tidak ada lagi pemimpin lokal yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk wilayah yang ia kuasai dengan mengorbankan wilayah lain.

Kerugian yang diakibatkan oleh banjir Thailand kali ini sungguh besar. Sebagai contoh, Bang Kadee, salah satu daerah khusus industri di propinsi Pathum Thani, yang baru terendam sejak beberapa hari lalu, memiliki 47 pabrik dengan perkiraan kerugian sebesar Rp 9 T. Masih ada daerah khusus industri lain yang terkena dan infrastruktur yang juga rusak. Industri yang terkena mulai dari industri pemrosesan makanan untuk restoran-restoran Jepang di Thailand, industri alat elektronik, pabrik perakitan mobil seperti Honda hingga industri penyuplai spare-part untuk pabrik mobil. Ratusan ribu orang harus kehilangan pekerjaan mereka, paling tidak untuk beberapa bulan mendatang. Dari sisi investor, kelihatannya investor Jepang yang harus menanggung banyak kerugian kali ini.

Banjir mengepung Bangkok.

Persediaan Bahan Makanan

Di saat bersamaan, sebagaimana yang terjadi saat krisis, stok makanan pokok diborong pembeli karena mereka takut tidak kebagian. Air minum botolan, makan kering dan makanan kalengan di berbagai supermarket besar sudah kehabisan pasokan. Kalaupun ada barang, harganya menjadi jauh lebih tinggi daripada harga normal sehingga konsumen harus membayar lebih di saat mereka mungkin tidak punya uang.

Bagi pemerintah PM Yingluck yang hingga sekarang tidak mau mendeklarasikan negara dalam keadaan bahaya/darurat, sepertinya ada ketakutan bahwa pihak militer akan memanfaatkan deklarasi negara darurat ini untuk merebut pemerintahnya. Entah ketakutan yang beralasan atau tidak dan terlepas dari mana yang lebih baik, mendeklarasikan negara dalam keadaan darurat atau tidak, gosip ini menunjukkan ada kalkulasi politis juga dalam penanganan sebuah krisis bencana alam seperti banjir Thailand ini.

Banjir Bangkok (sumber internet)

Apa yang bisa kita pelajari dari krisis banjir yang terjadi di Thailand?
Sejauh yang bisa kita amati bersama, hal yang bisa kita pelajari adalah:

  1. Menahan kekuatan alam adalah sebuah kesia-siaan, apalagi jika dilakukan tanpa perhitungan yang benar karena kita tidak tahu apa yang kita hadapi, belum pernah mengalaminya atau kita terlalu percaya diri. Mitigasi bencana alam dengan cermat dan mencari jalan keluar tanpa melawan kekuatan alam secara frontal akan lebih bijaksana.
  2. Penanggulangan sebuah krisis perlu terpusat dan dipegang oleh orang-orang yang kompeten tanpa campur tangan politis. Saat ini, usaha untuk mengalirkan air dari propinsi di utara Bangkok adalah dengan melewati propinsi lain di sebelah timur dan barat wilayah metropolitan Bangkok, yang lebih tinggi daripada wilayah Bangkok sendiri.
  3. Praktek penanggulangan krisis di lapangan tidak akan pernah semudah melakukan simulasi dan tidak akan pernah sama dengan simulasi sebelum bencana terjadi sehingga akan ada saat ketika sebuah keputusan harus diambil di tingkat bawah dalam keadaan cepat. Dengan demikian manajemen krisis perlu dipegang oleh level komunitas/masyarakat yang lebih rendah dan tidak hanya di level tinggi. Ketika bencana telah terjadi dan orang-orang yang terlibat di lapangan tidak bisa menilai dan memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan, lalu menunggu keputusan dari pusat, maka ancaman akan menjadi lebih besar.
  4. Bersatu ketika sedang mengalami bencana memang sulit. Dalam keadaan krisis orang akan lebih mementingkan diri mereka sendiri. Bagaimana menciptakan persatuan untuk mengendalikan krisis?
  5. Mengamankan pasokan/suplai makanan/minuman saat bencana datang juga harus direncanakan dengan baik
  6. Bencana alam dapat menjatuhkan sebuah pemerintahan. Jika tidak bisa mengendalikan krisis ini, karir PM Yingluck Shinawatra mungkin tidak akan bertahan lama, pihak oposisi sudah mengeritiknya dan mempertanyakan kemampuannya sebagai pemimpin. Sebuah bencana besar akan membuat ekonomi melemah, karena banyak yang kehilangan pekerjaan, banyak kerusakan dan perlu banyak biaya dan waktu untuk memulihkan keadaan. Pada akhirnya, bencana alam dapat memperlemah pertahanan sebuah negara.
  7. Bencana alam adalah national security threat, bukan cuma sekedar kemalangan atau hukuman dari Tuhan.

Dengan belajar dari peristiwa ini dan tentunya juga peristiwa di tanah air, kita mestinya dapat kembali memahami bumi tempat kita berpijak ini bukan sekedar untuk hidup dan beranak-pinak. Ada saat-saat tertentu dimana bencana datang tanpa permisi. Waspada !

Bacaan terkait tentang seluk dan beluknya Jakarta:

9 Tanggapan

  1. turut prihatin atas apa yang terjadi di Thailand
    Semoga ini bencana banjir seperti ini tidak melanda negeri kita.
    Waspada !! Waspada !!!

  2. Bencana banjir besar di thailand moga tidak terjadi di indonesia. Kalaupun terjadi bencana banjir, saya minta semua rakyat dan pemerintah bersatu dalam menanggulangi bencana, hilangkan kepentingan pribadi,politik…mari kita bersama-sama bergotong royong menanggulangi bencana. sesuai pengamalan dari pancasila.

  3. keren pak, terima kasih sharingnya :)

  4. [...] sumber -7.265278 112.742500 Share this:TwitterFacebookEmailPrintLike this:SukaBe the first to like this post. [...]

  5. indonesia memang benar ya berada garis lempeng, apa gitu namanya, sampe2 sering gempa

  6. Wah paper yang ngebahas permasalahannya utamanya tuh pak de. Judul papernya “Optimum offset” seismic reflection mapping of shallow aquifers near Bangkok, Thailand oleh R. J. Whiteley, J. A. Hunterz, S. E. Pullanz, and P. Nutalaya. Kebetulan jadi bahan persentasi kuliah, hehe.

  7. turut prihatin…

  8. “…Penanggulangan sebuah krisis perlu terpusat dan dipegang oleh orang-orang yang kompeten tanpa campur tangan politis. …”

    Pak Dhe, kesihatan dan persediaan bagi mengurus risiko ini akibat bencana alam memerlukan banyak wang dan tenaga tapi campur tangan politis memang tiada guna. Mungkin kita perlu fikir macam mana nak potong tangan mereka! ;) Melalui hukum “Hudud” ? ;)

  9. tidak ada apa berita/laporan kah mengenai letusan gunung berapi krakatoa?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.208 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: