Masih mungkinkah ada letusan gunungapi sedahsyat Krakatau atau Tambora ?


merapi8.jpg Ada sebuah pertanyaan yang datang dari pembaca Dongeng Geologi. Apakah di bumi ini masih ada kemungkinan gunung meletus sekuat letusan Tambora atau Krakatau ? Ataukah bumi sudah mendingin sehingga letusan besar sudah tidak akan terjadi lagi ?

Logikanya sih sepertinya OK saja, karena memang bumi ini mendingin sejak terbentuknya dulu, sehingga “mungkin” letusan besar tidak akan terjadi “lagi”. Hmm tetapi spekulasi seperti ini juga berbahaya. Mari kita dengar pendapat ahli geologi yang lain.

Apa komentar ahli kebumian Indonesia ?

Pak Yatno salah satu dosen dari ITB mengatakan ” Letusan sebesar Krakatau ataupun Tambora masih sangat mungkin terjadi. Letusan besar seperti itu tidak ada kaitannya dengan suhu bumi yang mendingin. Letusan katastropis (ultra Plinian) berhubungan dengan akumulasi tekanan yang salah satu faktornya adalah komposisi magma yang semakin asam sehingga mengental dan menyumbat lubang kepundan.”

Pak Hill Gendoet di forum IAGI-net menambahkan “Setuju dengan pendapat pak Yatno…selain itu juga perlu diperhatikan durasi lama hidup dan waktu istirahat gunung apinya…disini waktu istirahat g.api berhubungan dengan pengumpulan energi atau pengakumulasian faktor-faktor energi dalam usahanya untuk membongkar penutup kawah bahkan bodi kerucut bagian atas g.apinya. Waktu istirahat bisa mencapai ratusan tahun bahkan ribuan tahun (Ferari, 1995)…. tampaknya waktu istirahat panjang tersebut bukan umur kita, namun secara statistik apa ada gunung api di Indonesia yang sdh beristirahat selama itu (?), nah itu yang perlu kita cari atau tanyakan ke mas Igan dan Zen…..he he..ke pak Surono langsung ya. Durasi itu kemungkinan juga berujung kepada perilaku magma yang selalu menjadi lebih asam (Bowen series).

:(Whaduh, kok menakutkan ya Pakdhe?”
:D “Thole yang lebih menaktukan itu kalau kita tidak tahu. Dengan mengetahui kita lebih waspada, dan itulah pentingnya pengetahuan”.

Pak Awang yang tiap hari berkutet dan belepotan minyak juga memberikan pandangan ini secara terinci dibawah ini.

Bumi memang mendingin secara gradual, tetapi sampai sekarang pun, dari bukti-bukti pengukuran GPS, lempeng-lempeng masih bergerak. Artinya adalah bahwa meskipun Bumi semakin mendingin, ia masih cukup panas untuk mempunyai sirkulasi material di mantel dan inti luarnya. Implikasi ini adalah bahwa bencana yang berhubungan dengan gerak lempeng seperti gempa dan letusan gunungapi masih bisa terjadi, termasuk yang katastrofik seperti erupsi Krakatau atau Tambora.

Khusus Krakatau, kita cek saja geologi dan sejarah letusan atau penelitian yang pernah dilakukan di sini, sejak zaman Verbeek (1885), dua tahun setelah letusan katastrofiknya (1883) sampai penelitian2 para ahli gunungapi Indonesia seperti Pak Tikno Bronto, Pak Yatno, Pak Gendoet, Pak Igan, dan yang lainnya. Kita juga harus melihat situasi tektonik tempat gunungapi itu muncul.

Berdasarkan rekonstruksi terbaru (misalnya dari Robert Hall, 1995-2003), Selat Sunda tempat Krakatau muncul, belum ada sebelum 10 juta tahun yang lalu. Selat ini berkembang dalam 10 juta tahun terakhir. Sebelumnya, Jawa masih terikat dengan Sumatra dalam arah yang mirip Sumatra yaitu BL-Tenggara. Kalau Jawa sekarang arahnya B-T, itu karena lepas dari Sumatra dalam 10 juta tahun terakhir kemudian terputar melawan arah jarum jam. Perpisahan Jawa-Sumatra ini membuka Selat Sunda, sehingga tidak mengherankan mengapa Selat Sunda menyempit di timurlaut dan melebar ke arah baratdaya, ini adalah efek rotasi anti-clockwise dengan titik rotasi (pivot point) di sebelah timurlaut. Yang menyebabkan Jawa terpisah dari Sumatra adalah majunya Australia ke arah utara di ujung Busur Banda. Apakah rekonstrksi ini benar ? Mungkin benar, seperti dibuktikan oleh pengukuran radiometric dan paleomagnetik beberapa batuan Paleogen-Neogen di Jawa yang dilakukan oleh Ngkoimani et al. (2006) yang menyimpulkan bahwa separuh Jawa bagian timur dulunya berlokasi lebih selatan daripada posisinya sekarang.

Diatas itu video rekonstruksi tektonik untuk Indonesia yang dibuat oleh Robert Hall dari University of London. Angka disebelah kanan atas itu menunjukkan kondisi juta tahun yang lalu, dimulai sekitar 55 juta tahun yang lalu. Kalau diperhatikan munculnya gunung-gunung api yang saat ini aktif rata-rata terbentuk sekitar 1-2 juta tahun lalu.  Dan masih aktif hingga sekarang.

Sebuah rotasi Jawa yang anticlockwise dan Sumatra yang juga terputar clockwise (Barber et al., 2005) akan mengharuskan sistem retakan di Selatan Sunda sebagai retakan berorientasi BD-TL. Dan, sistem retakan ini telah dijadikan jalur lemah munculnya rentetan gunungapi di Selat Sunda dari Sebesi di selatan, Sebuku di tengah sampai Raja Bassa di utara. Gunung Peucang dan intrusi linear dykes di sepanjang pantai timur Pulau Panaitan harus dipandang sebagai bagian jalur ini. Dan, adalah Verbeek (1885) yang pertama kali menyebutkan bahwa Krakatau sebenarnya terletak di titik perpotongan dua jalur : jalur Sumatra yang BL-Tenggara dan jalur Selat Sunda yang BD-TL. Verbeek juga menulis dalam laporannya bahwa aktivitas panjang Krakatau disebabkan lokasinya yang merupakan focus injeksi magma, yang juga mempengaruhi bentuk dapur magmanya. Karena posisi tektonik Krakatau tidak berubah dalam 10 juta tahun terakhir ini, maka aktivitas erupsi yang sama yang pernah terjadi pada 1883 dan sebelumnya tak mungkin tak terjadi lagi. Hanya tingkat letusannya yang harus kita cermati.

Bila ditelusuri riwayatnya, seperti banyak gunungapi lainnya, Krakatau punya sejarah panjang periode dormant (istirahat) dan erupsinya. Suatu siklus besar dalam kehidupan gunungapi bermula dengan tumbuhnya kerucut permukaan dan berakhir dengan keruntuhan sebagian puncak ini membentuk kaldera. Krakatau telah mengalamai dua siklus besar jenis ini.

Krakatoa sebelum meletus 1883

Krakatoa sebelum meletus 1883

Siklus pertama Krakatau dimulai pada masa pra-sejarah, dan mungkin berakhir pada abad ke-5 Masehi. Selama siklus ini, sebuah kerucut andesitic terbangun sampai ketinggian sekitar 2000 meter -ini tentu disimpulkan dari rekonstruksi berdasarkan shattered remains-nya -sisa-sisa hancurannya. Ketinggian ini lebih dari dua kali ketinggian Anak Krakatau sekarang. Diameter kerucut ini sekitar 15 km di dasarnya, sekitar setengah ukuran Gunungapi Merapi di utara Yogyakarta. Kaldera selebar 10 km mengakhiri daur ini dan menyisakan bekas2nya berupa empat pulau : Verlaten (Sertung), Krakatau (Rakata), Lang (Rakata Kecil) dan Police Hat.

Uniknya adalah bahwa seorang peneliti bernama Judd (1888) menghubungkan berakhirnya siklus pertama Krakatau ini dengan “Pustaka Raja” sebuah buku berbahasa Jawa kuno yang menceritakan sebuah letusan dahsyat di sebelah barat Jawa. Terjemahan uraian dalam Pustaka Raja adalah “Dalam tahun 338 Syaka (416 M) sebuah bunyi Guntur terdengar dari pegunungan Batuwara (sekarang disebut Pulosari di utara Banten), yang kemudian dijawab oleh bunyi Guntur yang yang sama berasal dari gunung Kapi (Krakatau ?), yang terletak di sebelah barat Banten. Api besar yang menyala mencapai langit keluar dari Kapi, disertai oleh hujan badai. Suaranya begitu menakutkan, dan akhirnya gunung Kapi dengan raungan dahsyat hancur berkeping-keping.” (ditulis ulang dari Simkin dan Fiske, 1983).

Siklus kedua Krakatau dimulai ketika sebuah kerucut basalt yang kaya olivine muncul di tepi tenggara kaldera siklus pertama. Tinggi Krakatau saat itu 800 meter. Kemudian letusan-letusan berikutnya telah bergeser mengikuti jalur utara-baratlaut membentuk kerucut-kerucut Danan dan Perboewatan yang terbuat dari material andesitic kaya hipersten. Laporan-laporan dari pelayaran di Selat Sunda menyebutkan bahwa Perboewatan muncul pada 1680 dengan ketinggian yang lebih rendah dari Krakatau. Seperti juga terjadi di kaldera Tengger saat ini, maka gunung-gunung di dalam kaldera akan semakin kecil semakin muda, dan yang paling kecil berlokasi di titik geseran paling ujung.

Lukisan letusan 1883

Lukisan letusan 1883

Siklus kedua ini berakhir pada hari Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 (Simon Winchester, 2000)dalam sebuah letusan paroxysmal yang terkenal itu, yang juga melenyapkan Perboewatan, Danan, dan setengah badan sebelah utara Krakatau. Saat itu langsung terbentuk kaldera sedalam 300 meter yang berisi air laut. Pengukuran hidrografik setelah masa letusan berakhir menunjukkan bahwa kaldera siklus kedua ini hampir sama dimensinya dengan kaldera siklus pertama, tetapi ia memanjang agak ke selatan baratdaya, menunjukkan runtuhan dapur magma mengikuti struktur regionalnya.

Siklus ketiga bermula ketika Anak Krakatau (Krakatau yang kita kenal sekarang) muncul pada suatu pagi pada tahun 1927 (van Bemmelen, 1949). Sang Anak tumbuh dengan cepat, jauh melebihi kecepatan pertumbuhan makhluk hidup mana pun, yaitu sekitar 5 meter per tahun (Willumsen, 1997). Anak Krakatau saat ini dibangun oleh material basaltic. Kapan siklus ketiga ini akan berakhir, mengikuti sejarah ayah dan kakeknya, maka ia akan meletus hebat ketika material magmanya sudah menjadi asam. Mungkin letusannya tak akan sehebat tahun 416 atau 1883, tetapi dengan makin padatnya penduduk sekitar pantai Banten dan Lampung; maka jumlah korban potensial bisa lebih besar daripada letusan 416 dan 1883.

Penelitian para ahli gunungapi Belanda van Bemmelen (1949), Verbeek (1885) dan G.A. de Neve (1981) – de Neve adalah kawan senior saya sesama pemburu buku loakan di Cihapit Bandung 1977-1980 -ternyata saya juga akhirnya jadi seorang geologist seperti de Neve, saat itu saya anak SMP yang haus buku tetapi tak punya uang sehingga bisanya hanya membeli di loakan sedangkan de Neve adalah seorang gurubesar geologi…hm sedikit nostalgia-berhasil merekonstruksi kimia magma semua siklus dormant dan erupsi Krakatau. Mereka menyimpulkan bahwa Kompleks Krakatau selalu mulai dengan magma basalt, maju ke andesite, dan meletus hebat secara paroxysmal ketika magmanya menjadi asam (riolitik). Menurut rekonstruksi mereka (dikompilasi dengan sangat baik oleh Willumsen, 1997), letusan hebat Kakek Krakatau pada 416 M (?) terjadi saat komposisi magma riolitik mencapai Kadar SiO2 70 %, begitu juga dengan erupsi Krakatau 1883 yang meletus hebat saat komposisi magma mencapai 70

% SiO2.

Anak Krakatau

Anak Krakatau saat ini

Nah, si Anak Krakatau ini agak lain – plottingnya tak mengikuti kakek dan ayahnya -mungkin datanya lebih banyak; yang jelas Anak Krakatau sejak lahirnya pada tahun 1927 sampai sekarang tak pernah mencapai komposisi magma riolitik (> 65 % SiO2). Saat letusannya pertama terjadi pada tahun 1930 ia ada di level SiO2 62 %. Tahun 1960 bahkan magmanya berdiferensiasi menjadi basaltic dari andesit, sekarang tengah andesit. Saat level SiO2-nya sudah mencapai 65 % di situlah mulai membayang letusan paroxysmal. Melihat kecenderungannya, mungkin ini akan terjadi masih jauh dari sekarang, paling tidak tak sampai 100 tahun dari sekarang.

Begitu kalau mengikuti kimia magma, tetapi Verbeek (1885) dan Judd (1888) punya teori unik tentang mengapa Krakatau 1883 meletus begitu hebat. Mereka percaya bahwa air laut yang merembes ke kantong magma telah berperan dalam hal ini. Air ini akan menaikkan tekanan. Magma naik akibat tekanan tambahan dari air ini. Magma yang naik ini akan menggerogoti akar kerucut volkanik di atasnya sampai badan kerucut gunungapi menipis seperti seperti selaput saja. Ketika selaput gunungapi ini runtuh, laut akan punya akses masuk ke kantong magma dan menyebabkan erupsi besar yang melemparkan pumis (batuapung).

Kalau kakek Krakatau benar meletus pada 416 M sesuai Pustaka Raja, dan kita tahu Krakatau 1883 meletus sama hebatnya pada 1883, maka terbentang periode selama 1467 tahun. Dalam masa itu terjadi diferensiasi magma Krakatau dari riolit-andesit-basaltik-andesit-riolit. Bila kimia magma satu-satunya kunci ke letusan paroxysmal, maka periode letusan paroxysmal Anak Krakatau mungkin akan terjadi pada 1883 + 1467 = tahun 3350. Ini tentu hitungan di atas kertas dan menyederhanakan sekali banyak hal serta menggunakan banyak asumsi yang semuanya bisa salah besar seketika.

Yang penting adalah amati terus kimia magma Anak Krakatau. Hati-hati saat ia di ujung andesitic dan mau masuk ke riolitik. Kapan itu akan terjadi kita tak tahu sebab pengetahuan kita begitu tak sempurna sementara Mother Earth punya banyak misteri.

Nah, itulah dongengan dari kawan-kawan geoscentist Indonesia mengenai letusan gunung api yang besar. Jadi saat ini yang perlu kita lakukan adalah monitor setiap gerakan-gerakan tektonik ini termasuk aktifitas gunungapinya. Kalau mau tahu aktifitas ini silahkan menengok websitenya  Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi – VSI

About these ads

41 Tanggapan

  1. Mau tanya, apakah ada kemungkinan gung yang dikatakan mati bisa aktif lagi ??

  2. bagaimana dengan kisah sindoro pak Dhe…sepertinya sekarang doi lagi galau..

  3. aku sangat suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan gunung meletus……
    terutama cerita tentang gunung krakatau yg mletus pada tahun 1883
    yg merupakan letusan gunung paling dahsyat….
    yang sampai menggemparkan dunia,,,,,,,,,,

  4. mudah-mudahan ketika meletusnya gunung merapi kita semua ada dalam keadaan siap siaga jadi enggak banyak korban berjatuhan. Pemerintah juga harus siap OK….

  5. wuch, aku atut!

  6. wuich, jangan berlayar dkt situ ea?

  7. wow mantabt

  8. Belakangan muncul dugaan bahwa Jawa dan Sumatra dahulunya menyatu dalam satu garis. Tekanan lempeng Indo-Australia dan letusan Gunung Krakatau 535 Masehi membuat Jawa-Sumatra terbelah dua. Ketika saya tanyakan, hal tersebut juga didukung oleh beberapa geolog ITB.

    Ada cerita menarik disini: Krakatoa Eruption in 535 A.D.

    Bila dugaan ini benar (Jawa-Sumatra dulu menyatu), berarti videonya harus diupdate :D

  9. Menurut saya memepelajari tenatang gunung merapi adalah merupakan se buah ilmu yang sanagat penting, akarena dengan mempelajari ilmu terse but maka kita akan dapat mengetahui tentang sejarah asal muasal gunung merapi di indonesia dan mengetahui tahaun-tahun berapa gunung terse but pernaha meletus, dan menjadi motivasi bagimkita untuk menjaga kelestarian alam di sekitar kita.

  10. saya sangat menyukai kisah-kisah tentang gunung tsb.

  11. terima kasih pakde??pengetahuan saya tentang gunung berapi jadi bertambah

  12. saya sangat menyukai cerita tentang gunung meletus tapi saya tidak suka dampak negatif dari gunung meletus.namun dibalik musibah itu pasti ada makna atau hikmah yang baik seperti pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.jadi marilah kita bersikap memperbaiki diri,pasrah dan terus berusaha.SEMANGAT Okey

  13. lucunya orang2 yang ada dalam mimpi saya mengatakan bahwa hujan aneh itu hujan silikon…he he he…ada ada saja

  14. dalam waktu dekat, salah satu gunung di pulau jawa akan meletus,,langit akan berubah warna menjadi kelabu, dan setelahnya akan ada hujan yang sgt aneh…itulah yang saya mimpikan…maaf jadi berbicara tentang metafisika…hehehe..boleh percaya ataw tidak…

  15. trim banget pak dhe, salut buat dongengnya. kapan thu gunung merapi dan singgalang didongengkan ?

  16. Pak Guru, kemarin ada gempa tektonik 7.3 SR di Jabar, ada hubungannya dengan Krakatau ngga pak, apa ada kemungkinan Krakatau meletus lagi Pak?
    makasih…salam kenal Pak :)

  17. pakdhe.. mau minta didongengin soal kemungkinan gunung2 purba kya gunung toba sama gunung sunda dong.. menarik kyanya..

  18. blog ini yang gua suka….
    Gua suke tapi Sekedar hobbi tentang All About Bumi
    Link balik yah :

    http://fahripeblog.wordpress.com

  19. mauna loa itu magmanya asin.

  20. mauna loa itu gak akan meletus hebat, beda karakter letusannya.

    tapi apa gunung Tambora, Pinnatubo, visuvius masih bisa meletus PAROKSISMAL gak ya ??????

  21. Mungkin saja terjadi kalau kita lalai dalam mengantisipasi tiap perubahan.

  22. apa jadinya ya…kalau ternyata si jabang bayinya krakatoa meletus?
    saya lihat beberapa bulan yang lalu sempat mengeluarkan lahar…
    kira-kira akankah sedahsyat emaknya ya?

    atau mungkin maona loa yang di hawaii itu juga mau ambil job juga???

  23. Serius gelap saya mengenai gunung berapi.
    Thanks yah atas artikelnya.
    minta ijin juga untuk doedit dan dipostingkan di blog ku.
    tentunya disertakan alamat sumbernya.

  24. Salut..!, tulisan ini benar2 membawa pengetahuan yg baru bg saya. Mengikuti alurnya membuat saya melayang2 ke alam khayalan.. Hebat..

  25. Ada informasi ga om.. apakah teknisi2 yg mo bikin proyek jembatan Selat Sunda udah memperhitungkan kemungkinan dampak letusan Anak Krakatau ini di kemudian hari..

  26. Dahsyat Pa’Dhe,
    Saya jd ingat ketika membaca Tambo Adat Minangkabau yg menggambarkan bahwa Jawa dan Sumatera itu masih nyatu.
    Tambo adalah cerita turun temurun yg zaman dulunya wajib dipelajari dan diingat oleh semua orang Minangkabau karena menyangkut aspek sejarah nenek moyang mereka dan hukum masyarakat (orang zaman sekarang menyebutnya dgn adat istiadat agar tidak rancu dgn hukum perundag-undagan RI). Tambo hanya diceritakan dan harus diingat karena mereka tidak mengenal huruf, simbol dan tulisan, sampai akhirnya Kerajaan dari Jawa meng-empire komunitas etnik ini pada zaman sejarah. Tak jelas, kenapa baca-tulis yg dibawa dari Jawa tak berkembang di Minangkabau, tetapi akhirnya mereka menerima simbol dan hurug Arab setelah Islam masuk. Ada kemungkinan kewajiban menuntut ilmu dari ajaran Islam yg mempengaruhi mereka agar bisa baca tulis. Saat itu lah baru Tambo ditulis oleh nenek dan kakek mereka.

    Berbicara tentang volcano, dalam tambo juga dicertiakan bahwa Gunung Merapi di Sumatera Barat adalah sebesar telur itik. Ada yg menterjemahkan bahwa saat berlayar nenek moyang orang minang melihat di kejauhan Gunung tersebut tampak kecil. Itu lah yg menjadi daratan tujuan mereka untuk tinggal menetap yg menurut Tambo versi tulisan mereka di lautan karena banjir Nabi Nuh. Tapi ada pula Tambo versi tulisan lain yg menyebutkan mereka berlayar memang karena mencari daerah baru, tak jelas apakah dalam tujuan empire/koloni atau motivasi lain. Dari semua versi Tambo tertulis, skenario bahwa nenek moyang orang minangkabau punya hubungan saudara dengan pemimpin kerajaan Roma (Rum) dan Alexander (Iskandar). Tampaknya mulai dari sini ceritanya mulai kacau.

    Lha kok menjadi ngobrolin sejarah ya ? Apa memang ngobrolin ilmu geology terpaksa ngomongin sejarah ?

    Salam,

    Dirman St. Mangkuto

  27. Salam

    Mas, apa ini yang dijadikan topik ngobrol sama mbak Tika Banget itu ya?

    Kelihatannya seru banget, jadi aku terpaksa pamit, soalnya sudah ngantuk berat dan gunungku sudah mau meletus.

    TFS

  28. moga aja tidak ada lagi ledakan yang sedahsyat itu lagi

  29. wah.. kalo terjadi repot ya pak de…

  30. luar biasa pakdhe!!! sungguh menikmati tulisan ini…
    tp kok krakatau tok. tamboranya mana??? :D

  31. wah bisa kemungkinan akan terjadi pak dhe karena saat ini arus konveksi fluida masih terhitung sedang ayem belum puncak puncaknya

  32. Pak Dhe,
    apa persamaan dan perbedaan letusan Tambora dan Krakatau?
    Tentu saja di samping yang satu letaknya di darat dan satunya lagi di laut, yang satu letusannya menimbulkan tsunami dan satunya membinasakan peradaban di salah satu pulau.

    Satu lagi, kenapa referensi tentang Krakatau lumayan banyak, sedangkan referensi Tambora relatif sedikit? Bahkan di kuliahpun dulu saya tidak tahu kalau ada letusan Tambora yang mengakibatkan year without summer di Eropa.

    Menurut Pak Dhe, apakah saat ini sistem awareness terhadap bahaya gunung api di Indonesia sudah cukup baik? Misale dibandingke dengan jaman Belanda misale. Referensi apa yang bagus buat mengenalkan gunung-gunung api di Indonesia kepada anak-anak?

    salam,
    komo

    http://kulineronline.wordpress.com

  33. O ya pak mau tanya gimana dengan Rinjani

  34. Pak Ricky,
    saya iseng2 browsing eh topik yang bapak angkat ini sama dengan di IAGI-NET. saya coba iseng2 pula mau registered. Tapi kok ndak bisa yah?
    cara gabung di milist IAGI bagaimana, sih?

    terima kasih

    –> Btul, emang ini diskusi di IAGI-net. Ditambahkan dengan garam eh gambar, supaya enak dibacem. Kalau mau langganan ya ndaftar ke admin. Kirim aja ke saya alamat email mana yang mau dilanganankan.</em

    >

  35. uh, dhasyat banget ledakannya :)

  36. Pak Rovick memang jago kalau ngulik-ulik pikiran orang. Saya juga jadi kepikiran bagaimana kalau gunung Sindoro Sumbing juga menggeliat ya ?
    Apakah mungkin banyaknya semburan air lumpur campur gas di Jawa itu pertanda aktifitas dibawah sana sedang dibangun ?
    Nyuwun dongengan Pakdhe

  37. Trim’s Pak Dhe infonya, tapi yg menjadi kekuatir’an saya adalah bukan krakatau saja yg keliatannya sangar, masih banyak lagi gunung yg lebih seram, sebut saja kerinci, ciremai, slamet,……..etc. Betapa sengsaranya kalo udah ada gunung meletus, pengalaman saya th 1982 di Bdg waktu galunggung meletus hidup bener2 gak nyaman selama +/- 7 bulan. mudah2an tidak ada ya… dalam waktu dekat ini gunung yg meletus yg deket dg kota besar seperti Tangkuban perahu, Gede, Merapi…etc.
    Salam

  38. Mas Panji,
    Sesar (patahan atau fault) memang sering dicirikan dengan sebuah kelurusan (salah satunya kelurusan sungai, atau kelurusan gawir/lembah). Namun tidak setiap sungai merupakan pertanda adanya sesar (fault).
    Sungai di Jogja yang berada diatas endapan muda dari G Merapi tentunya tidak merupakan pertanda sesar.
    Kerusakan gempa banyak faktor, salah satunya kondisi bangunan dan batuan dibawahnya (bedrock). Batuan endapan merapi ini akan meredam getaran dalam artian tidak melalukan getaran, sehingga getaran energinya dihabiskan disini. Dan mengakibatkan kerusakan. Silahkan baca disini :

    http://rovicky.wordpress.com/2006/08/21/gelombang-gempa-yg-bikin-pusing/

    Disitu ada keterangan mengapa getaran gempa jogja terasa begitu lama.

  39. Alhamdulillah…. Its Amazing.
    Negeri ini begitu kaya akan misteri geologi.
    Pak, mo nanya tentang Gelogi Yogyakarta. Apakah sungai-sungai yang membelah Yogyakarta; Oya, Opak, Winongo, Progo, dan sungai-sungai (kecil) lain bisa diidentikan sebagai penampakan sesar/ foult? Dari gempa 2006 juga terlihat bahwa bangunan-bangunan disekitar wilayah sungai-sungai tersebut mengalami kerusakan sangat parah. Bahkan yang jauh dari Oya-Opak sekalipun. Di wilayah yang dilalui sungai Winongo (yang boleh dikatakan ada di`jantung` Yogyakarta) kerusakan begitu masif di Kweni, Kasihan, Sawit, sepanjang daerah aliran sungai (DAS).
    -Fans Geologi-Bantul

  40. Mampir, Bos. Wah, artikelnya dahsyat-dahsyat nih! Makasih bagi-bagi ilmunya. Kalo ada lowongan tukerin link dikabarin ya, Bos. Thanks

  41. hal-hal emergency apa saja yang mungkin terjadi? kita harus siap-siap.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.216 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: