PILKADA : Populer - Berani - Mampu
17 April 2008 at 12:55 pm | In Dongeng Geologi, RuPa-RupI |
Intermezo dulu ah, soalnya ada kawan yang konsen dengan PILKADAL yang selalu marak dalam perbincangan media akhir-akhir ini katanya :
Rano Karno memenangkan PILKADA Tanggerang, sebagai Wakil Bupati
Dede Yusuf memenangkan PILKADA Jabar sebagai wakil Gubernur
Oneng dan Syaiful Jamil kabarnya juga dicalonkan ikut-ikutan Pilkada karena survey membuktikan bahwa Selebritis punya nilai jual tinggi di Kancah Perpolitikan di Indonesia yang kita cintai ini. Oneng dicalonkan/di plot sebagai calon Wakil Walikota Bandung.
Dia akhirnya mulai nyeleneh :
Jangan-jangan Pejabat di Negeri ini nantinya penuh diisi oleh Para bintang Iklan, bintang Sinetron dll …
Kalau itu yang terjadi, Dewi Persik kira-kira jadi pejabat dalam bidang apa ya?
Kawan itu memang ngga serius blass, guyonan ndesit yang mungkin mulai terasa jadul
Kalau mau sdikit serius
Btw, busway, aku pernah jumpa Dede Yusuf sewaktu ada dengar pendapat dengan IAGI beberapa tahun lalu. Waktu itu IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) mengadakan acara dengar pendapat dengan Komisi VII DPR. Kayaknya sih orangnya “gitu deh” … yang bisa aku lihat secara cepat adalah”Popularitas” lah lebih berada didepan “kemampuan” dan “keberanian” tampil “berbicara”.
Walaupun ketiganyanya sebenernya sangat diperlukan untuk seorang pemimpin dan pasti bukan hal yang kontradiksi tetapi malahan complimentary atau saling mengisi dan saling diperlukan. Cuman sulitnya mintak ampyun mendaptkan ketiganya sekaligus
Kalau ada yang mampu dan berani biasanya katrok ngga populer. Kalau yang populer dan berani seringkali ngga punya kemampuan alias bego atau pra-pura pinter. Banyak yang mampu tetapi kurang PeDe dalam berpendapat (Mesti pakai simpati .. wuspt !). Sedangkan yang tahu masalahnya justru seringkali diam. Yang mampu dan PeDe kok ya seringkali ngga populer
. Barangkali itulah sebabnya Roy Suryo-pun bisa jadi ahli IT mendampingi Menkominfo.
“Pakdhe, hati-hati jangan sampai salah kutip pak RS nanti diciduk sama pulisi”
Sebenernya yang aku lebih konsen adalah urutan-urutan ini …
Bisa saja sih orang yang awalnya modal beken/populer ini misale jadi artis atau selebriti. Selanjutnya karena keberaniannya dan mau kerja keras dan berkembang menjadi rajin belajar akhirnya mampu juga. Wah ini sih cita-citanya Si Doel dan Dede Yusuf kali ya …
Cuman sayangnya kalau sudah mulai mampu dan pinter … eee jabatan harus diganti. Halllah mleset lagi !!!
Tetapi mengapa jarang seseorang maju tampil berperan yang diawali karena → kemampuan trus → berani tampil dan akhirnya → populer ?
Keberanian tampil
Seringkali keberanian tampil ini menghantui orang rata-rata timur terutama orang Jawa (maksudte seperti aku) yang low profile (tapi high profit wupst !). Lebih banyak yang nunduk dan mengandalkan ilmu padi dan anti ilmu-tong (Tongkosong yang nglondhang).
“Lah hiya Pakdhe … mau ngisi meninggalkan komentar dibawah sini aja ragu-ragu je … pripun ?”
![]()
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.







Mbok ya o Pakdhe mencalonkan jadi ketua IAGI ? Katanya IAGI mau pemilu juga … hahahaha Pakdhe juga takut.
Komentar oleh HermanST — 17 April 2008 #
Syaiful Jamil??? *siyok*
Komentar oleh -kiMi- — 17 April 2008 #
Gimana gak berani tampil…dah tau ketauan korup duit negara…masih gak ngaku,,,pake pasang muka innocent lagi….weh…weh berani tampil dia…ha..ha
Komentar oleh sahrudin — 17 April 2008 #
Pak Dhe, saya bukan pendukung PKS, tapi partai masa depan adalah partai kader. Kalau anda tertarik silahkan baca artikel saya tentang potensi PKS di masa depan…
http://junarto.wordpress.com/2008/04/16/dede-yusuf-dan-fenomena-politik-baru-di-indonesia-ketika-unsur-ketenaran-dan-kaderisasi-menentukan/
Komentar oleh Junarto Imam Prakoso — 17 April 2008 #
Saya: Populer-Berani-Mampu … tapi gak ada yang milih saya jadi gubernur atau bupati
Komentar oleh Rindu — 18 April 2008 #
jarang ada yg maparin visi & misi krn mungkin boros dan melelahkan, dan blon tentu dipilih pula.Mangkanya mereka bs naik jabatan krn mereka udah populer krn sebelonnya artis, ato penyanyi
Komentar oleh toim — 18 April 2008 #
Om Rovicky, orang pinter memang tidak populer. Sebab orang pinter tidak mengatakan dirinya pinter. Contohnya aku
Komentar oleh Katrok — 20 April 2008 #
waduh, ilmu padi itu ilmusesat pakdhe, padi kalo kebanyakan nunduk, kena ujan dikit aja lagsung dlosor, jadi busuk lah padi itu, gak bisa dipanen.
seharusnya kita pakai ilmu tong, tong itukan yang bisa berbunyi nyaring hanya tong yang masih bagus dan berkualitas, kalo udah banyak kareatnya kan gak bisa nyaring kalo dipukul. (apalagi kalo kita di pukul polisi, kita harus berani nyaring)
Komentar oleh NdaruAlqaz — 20 April 2008 #
Saya Mencalonkan Pak Rovicky jadi Menristek saja, biar ada transformasi dahsyat, soalnya kebanyakan Menristek berasal dari Akademisi melullu…
Mas Tri dari Pakem
Komentar oleh Tri H — 21 April 2008 #
hehehe,asyiiik coy..cuma orang2 dungu yg menganggap para selibriti atau pesohor lndonesia dari kalangan artis pop akan bisa melakukan sesuatu yg baik dan benar yg berhubungan dgn dunia politik yg menyangkut kepentingan umum..biasanya dan kebanyakan kalau sdh jadi artis terkenal-kalo disini lho dan sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya yg sangat amat banget sungguh2 cetek ini- beliau2 ini menjadi sosok2 ajaib aneh..seperti rata2 orang kaya kagetan,banyak melakukan adab perbuatan nakal,jahil,cengeng dan…bodoh!terus terang saya gak pernah ikutan pemilu dan pilkada..soalnya kita seperti membeli iblis dalam kantung plastik transparan..hiiiy,teyem tekayi oom..
Komentar oleh gus oepiel — 22 April 2008 #
“Lah hiya Pakdhe … mau ngisi meninggalkan komentar dibawah sini aja ragu-ragu je … pripun ?”
lha ini yang nyindir saya,sudah lrutin berkunjung ke blognya mas rovick yang suangat bermanfaat ini,tapi gak pernah ninggalin komentar.
dengan sindiran thole ini tergugah untuk ber-komen.
btw selain popularitas,kemampuan dan keberanian, masih ada satu yang saya anggap penting yaitu keikhlasan memimpin/mengabdi untuk rakyat.
kalau kata sultan HB9 tahta untuk rakyat.
sanggup untuk jadi panutan dan tauladan bagi kawulonya.
Komentar oleh sapto — 24 April 2008 #
kita nantikan kiprah mereka dlm “panggung sandiwara” itu…
Komentar oleh taufik — 25 April 2008 #