Setahun BPLS : Dongengannya Pak Hardi Prasetyo seputar Segitiga Masalembo


Dalam menyambut setahun BPLS (8 April 2008), Pak Hardi Prasetyo dari BPLS kembali menuliskan makalah sains. Walaupun kali ini Pak Hardi Prasetyo berbicara soal Tampomas di Segitiga Masalembo – Segitiga Masalembo – The Indonesian “Bermuda Triangle”, namun semangat bahwa didalam setiap kebencanaan akan muncul pemikir-pemikir baru yang akan bermanfaat.

Beliau sebagai anggota BPLS mengajak pembaca untuk tidak berhenti berpikir pada apa penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo saja tetapi juga meneliti fenomena alam ini sebagai wacana ilmiah

:( “Wah Pakdhe, Sepertinya penelitian ilmiah dengan tragedi Lusi ini memang diteruskan ya Pakdhe ?”
:D “Betul Thole, Pak Menteri Teknologi Kusmayanto yang secara politis menyatakan Lusi sebagai bencana alam tidak boleh brenti disini saja. Beliau justru menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk meneruskan dan mendukung penelitian ilmiah soal Lusi ini, Thole”

Kali ini Pak Hardi melakukan flash back atau klias balik bagaimana beliau juga pernah dihadapkan pada sebuah tragedi nasional ketika sedang berpikir ilmiah.

KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’ DALAM UPAYA MENCARI ‘MIGAS’ SEBAGAI SUMBER DAYA ALAM TAK TERBARUKAN DI KAWASAN FRONTIER

Sekilas saya membaca satu kata kunci ’TAMPOMAS’ pada dongeng di atas yang juga dapat dikaitkan judul besar ‘Segitiga Masalembo’ Respon atas Komentar oleh EG Giwangkara S — 17 Januari 2007 #

Sumber Tempointeraktif Judul tersebut mengingatkan kenangan masalau yaitu dengan kejadian ’TRAGEDI TAMPOMAS’ Musibah Terbakar dan Tenggelamnya Kapal Penumpang Tampomas II di segitiga Masalembo.

Pada Tragedi Kemanusiaan Tampomas II tersebut saya bersama sahabat lama saya Dr. Herry Haryono (sekarang Deputi di LIPI) sebagai saksi sejarah (historical fact). Saat itu kami sedang melakukan survei marine geosciences (seismic refraction, reflection, graviy, megnetic) di Selat Makasar dengan Kapal Riset Sonne (Jerman), selanjutnya kita mendapatkan sinyal SOS..SOS. Ringkasnya dari rekaman dari even itu selanjutnya adalah:

1) Bagaimana kapten kapal riset Sonne untuk memutuskan pilihan Ekspedisi seismik refleksi harus segera dihentikan (termination), di sisi lain para geoscientist dari Jerman saat itu masih memikirkan apakan SAR bisa ditunda sampai selesainya satu lintasan survei?

2) Bagaimana Kapten Kapal segera membuat keputusan segera rubah haluan kapal menuju tempat ’tragedi TAMPOMAS’ di Segitiga Masalembo, persiapan2 yang dilakukan (crew, scientists, dokter, peserta Indonesia, pembagian tugas,

3) Melakukan SAR di lokasi, bagaimana standar operation prosedure diterapkan,

4) Mendapatkan dari laut 25 korban, dimana satu diantaranya masih hidup, dan bagaimana treatment dilakukan dibawah koordinasi tim medis, termasuk melakukan kami melakukan wawancara untuk lebih menelusiri apa yang terjadi sebelum, saat kebakaran, saat ia memutuskan untuk terjun dan tidak melakukan upaya apaun selain ’keep floating’ sambil membacakan ’Allahu Akbar’!,

5) Bagaimana dokter mengidentifikasi korban ’telah menjadi mayat’ dengan cermat, penuh rasa kemanusiaan, dan menyusun data base,

6) Bagaimana momen penting ketika saya dan Herry Haryono akhirnya dapat mengidentifikasi bahwa salah satu dari 25 korban tersebut adalah Almarhumah Kapten Tampomas II , Abdul Rivai, yang akhirnya jenasah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali untuk akhirnya disemayakan di Makam Pahlawan.

Segitiga Masa Lembo sangat berarti bagi saya pribadi sebagai salah satu insan ilmuwan kebumian saat itu, ketika akhirnya tahun 1995 saya mendapatkan kehormatan yang sangat bernilai dari Pemerintah khususnya melalui Dewan Riset Nasional (DRN) dan Menristek, dimana saya telah dikukuhkan sebagai Peneliti Terbaik Indonesia , dalam bidang Ilmu Kebumian, dalam Kerangka Riset Unggulan Terpadu (RUT). Dengan orasi ilmiah berjudul PERKEMBANGAN GEOLOGI; TEKTONIK “DOANG BORDERLAND” DAN CEKUNGAN SPERMONDE, LEPAS PANTAI SULAWESI SELATAN, KAWASAN TIMUR INDONESIA (KTI): Implikasi Terhadap Prospek Hidrokarbon.

Demikian pula sebelumnya saya patut bangga karena salah satu karya pemikiran telah diterima oleh Indonesian Petroleum Association tahun 1992 untuk dipresentasikan dimana wilayah cakupan termasuk Selat Makassar, Segitiga Masalembo, dengan judul THE BALI FLORES BASIN: GEOLOGICAL TRANSITION FROM EXTENSIONAL TO SUBSEQUENT COMPRESSIONAL DEFORMATION. Sebagai catatan pada makalah ini saya sudah menampilkan penemuan fenomena ’mud diapirsm and mud volcanism, dan memperkenalkan ’Bali Fold” sebagai wujud struktur ekstrusi pada rezim tektonik kompresif terhadap sedimen ’overpressure’. Mud diapir dan Mud Volcano juga diketemukan di Flores Thrust Zone sebagaimana dideteksi pada Citra Mozaik SEAMARC II dan rekaman seismik refleksi berfrekuensi tinggi (water gun).LAMPIRAN 2.

Saya juga telah mengembangkan pemikiran pada tataran global (new global tectonics) ketika dalam satu bulan pelayaran di Zona Kerjasama Celah Timor (Timor Gap Zone of Cooperation) menggunakan Kapal Rig Seismic milik AGSO (Australian Geological Survey Organisation), saat itu saya menjadi wakil Pemerintah Indonesia dalam Joint Research ‘deep seismic profiles’ untuk mendalami arsitektur struktur dalam (deep structural architecture) Celah Timor untuk mendukung eksplorasi Migas, saya mendapat inspirasi untuk menyusun tulisan ilmah yang intinya membuat perbandingan perkembangan tektonik antara Doang Borderland di Segitiga Masalembo yang merupakan bagian dari ‘Eastern Sunda Shield Margin‘ dengan Cekungan Bonaparte merupakan ‘Southwest Australian continental margin’. Paper ini COMPARISON OF THE BONAPARTE BASIN, TIMOR SEA AND SOUTHWEST SULAWESI MARGIN, EASTERN INDONESIA saya tulis bersama rekan dari Australia Chris Pigram, kita presentasikan pada pertemuan CCOP di Bali? LAMPIRAN 3.

Nah, ternyata dari Misteri Masalembo (Barmudanya Indonesia) dan khuusnya ‘TRAGEDI KEMANUSIAAN TAMPOMAS’ telah melahirkan beberapa pemikiran inovasi dan kreatif di bidang Ilmu Kebumian, bahkan saya mendapatkan gelar ‘Peneliti Terbaik Indonesia bidang Kebumian versi DRN’.

Sari makalah atau makalah lengkap bila mungkin akan saya tempatkan pada situs, yang segera akan saya diluncurkan dikaitkan dengan umur satu tahun Badan Pelaksana, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BAPEL BPLS), dimana saya saat ini terlibat, dan berupaya berkontribusi.

Bagi yang berminat untuk mendapatkan makalah silahkan hubungi saya pada samenergi@yahoo.com.

Salam Hormat

Hardi Prasetyo

‘DIRGAHAYU BAPEL BPLS 8 APRIL 2007-2008’ BERORIENTASI KE DEPN MENUJU SOLUSI YANG KOMPREHENSIF, INTEGRAL DAN HOLISTIK

Detail abstract tulisan-tulisan diatas dapat diperoleh disini : http://geoblogi.wordpress.com/2008/04/10/hardi-prasetyo/

About these ads

4 Tanggapan

  1. [...] Setahun BPLS : Dongengannya Pak Hardi Prasetyo seputar Segitiga Masalembo Posted on 10 April 2008 by Rovicky   Sumber: http://rovicky.wordpress.com/2008/04/10/setahun-bpls-dongengannya-pak-hardi-prasetyo-seputar-segitiga-masalembo/         [...]

  2. DINAMIKA LUSI OKTOBER 2010: PARADIGMA BARU DARI KONTROVERSI KE SOLUSI YANG HOLISTIK

    Dikontribusikan Oleh: Hardi Prasetyo

    Benang Merah

    Tulisan singkat ini ingin menginformasikan kepada rekan-rekan Ahli Kebumian, terhadap dinamika Lusi. Dimana telah terjadi perubahan-perubahan mendasar dari dua tahun ke belakang, khususnya terkait pada postur dan perilaku Lusi dimana sebagai mud volcano yang aktif, yang saat ini mempunyai kemiripan tahapan kegiatan dengan mud volcano Bleduk Kuwu mendekati perioda istirahat (dormant period). Diindikasikan kecepatan semburan telah menurun drastis menjadi sekitar 15.000m3/hari, yang sebelumnya selalu disebutkan antara 100.000m3/hari dan material yang dimuntahkan terutama didominasi oleh air, sebelumnya masih lumpur panas. Kick lumpur masih ada terkadang tinggi mencapai 5 m, namun tanpa dibarengi dengan luapan lumpur panas.

    Kontroversi yang sebelumnya mengemuka terkait causing and triggering Lusi, cenderung lebih kondusif menuju kebersamaan untuk mencari solusi yang holistik.

    Khususnya terkait apakah semburan Lusi sebagai mud volcano perlu/tidak, dapat/tidak dihentikan, terdapat kesepakatan umum yang intinya perlu terlebih dahulu dilakukan pemahaman lebih actual terhadap anatomi dan pengendali mekanisme Lusi pada durasi tahun ke 5.

    Para ahli dari Rusia dimana negaranya yang paling kaya dengan mud volcano, menyajikan hasil kajian Lusi berbasis GIS-3D, dengan kesimpulan-kesimpulan tidak terlepas dari pengalaman mereka hidup berdampingan dengan mud volcano yang bahkan banyak diantaranya sebagai indikasi keberadaan lapangan Migas.
    Dinamika Penanggulangan Lusi Oktober 2010 dicirikan oleh adanya perubahan musim penghujan yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, hal ini menjadi umum dikaitkan dengan terjadinya fenomena perubahan iklim global (global climate change). Sehingga telah memacu percepatan kesiapan BPLS untuk mengantisipasi turunnya hujan dalam intensitas yang ekstrim.

    Aktualisasi Postur Lusi di permukaan

    Postur Lusi dipermukaan terus dipantau antara lain dengan memanfaatkan keberadaan Citra Satelit berselang waktu, yang terakhir 26 September 2010, dipadukan dengan pengamatan langsung dilapangan, dengan beberapa aktualisasi sebagai berikut.
     Postur Lusi terus mengalami reorganisasi dari gunung berbentuk kerucut (cone) menjadi mud volcano tahap pembentukan kaldera, dengan bentuk yang asimeteri melebar ke utara dan timur, semakin landai ke selatan.
     Kawah utama semakin lebar dan berbentuk tidak beraturan dengan sumbu panjang timurlaut baratdaya, citra sateli sangat jelas memperlihatkan kawah yang diisi air.
     Zona depresi atau dataran di sekitar kawah tampak semakin meluas di sebelah utara dan timur, semakin lebar dibandingkan dengan perkembangan pada bulan Agustus 2010.
     Zona subduksi (collision zone) berlanjut dengan titik awal di Osaka yang saat ini telah ditangani dengan pengerukan lumpur padu yang dibuang kearah Pond Ketapang, dan berlanjut ke arah timur (TAS) telah memberikan efek tekanan pada tanggul serta kenaikan muka lumpur, serta ke barat (sektor Siring-Putul) memberikan dampak kenaikan muka lumpur yang cepat.
     Zona subduksi (subduction zone) terjadi di selatan, dimana bagian utara Pond Utama yang relatif padu berlanjut menunjam ke utara (ke arah Titik Semburan), bagian lereng bawah dan masa air yang berekspansi ke selatan, sehingga danau Lusi menjadi semakin meluas. Aliran air dan koloida mulai mengalir melalui jalan lama, yaitu Kanal Barat, sehingga mulai terjadi interval perulangan (recurrent interval) aliran ke selatan.
     Efek domino banjir bandang yang terjadi sebelumnya di P25, dan P43, pada 5 Oktober 2010 disertai longsor lereng bawah di sektor Glagah-Reno, sehingga memisahkan daerah depresi antara Pond Reno dan Pond Glagaharum.
     Tumbukan TAS telah membendung aliran air di barat (Osaka) ke timur Cekungan Glagah, sedangkan tumbukan di Siring membendung aliran air ke selatan.
     Bagian lereng bawah gunung yang diperkirakan akan mengalami longsor adalah di sektor Glagaharum dan P43 di timur-laut Pond Utama.
     Pada hujan yang ekstrem yang perlu diwaspadai adalah 1) tekanan berlebih ke tanggul pada zona tumbukan (Siring-Osaka-TAS) dan 2) akumulasi air di sektor Jatirejo.

    Posisi semburan Lusi saat ini: implikasinya
     BPLS terus melakukan peningkatan pemahaman terhadap perilaku semburan saat ini baik dilakukan dengan sumber daya yang dimilikinya, bekerjasama dengan beberapa institusi terkait, dan menginventarisasikan dinamika yang berkembang;
     Perilaku semburan masih berlanjut dimana kecepatan semburan semakin diterima berbagai pihak berkisar antara 20.000-15.000m3/hari, didominasi oleh material air dengan temperatur relatif menurun, pada tanggal 5 Oktober 2010 kembali diamati terjadinya titik semburan kembar (twin eruption point), masih terjadi kick lumpur dengan pola ’geyser’ namun tidak disertai dengan gelombang (wave) lumpur panas sebagaimana masa-masa lalu ketika kecepatan semburan tercatat rata-rata 100.000-60.000-m3/hari;
     Semakin diterima secara universal oleh para ahli di dalam negeri dan manca negara bahwa Lusi merupakan salah satu fenomena geologi berupa mud volcano aktif yang terdahsyat, unik dan masih penuh diselimuti misteri tentang asalusulnya (origin);
     Bapel BPLS tetap berpendapat bahwa semburan SULIT dihentikan, walaupun sebagian pakar kebumian termasuk presentasi dari Tim Rusia yang menyatakan semburan Lusi TIDAK MUNGKIN DIHENTIKAN. Sedangkan kondisi semburan yang mendekati ciri periode tenang/istirahat (dormant period) tidak dapat dipastikan kelanjutannya akan total dormant atau kecepatan semburan Lusi panas meningkat kembali (>50.000m3/hari).

    Anatomi dan daya pengendali semburan Lusi
    Sampai lebih tahun ke empat masa hidup masih belum dapat dipastikan terhadap anatomi dan sistem mud volcano Lusi, antara lain:
    o Publikasi terbaru dari ahli Australia (Mark Tingay, 2010) yang dikontribusikan ke Perpustakaan Lusi, cukup mengejutkan kembali mengusulkan perubahan kerangka stratigrafi dari yang sebelumnya selalu dianut berdasarkan sumur Banjar Panji-1 (Manzzini, 2007). Antara lain Batugamping Formasi Kujung, satuan batupasir volkanik sebagai ekstrusi hasil gunung Penanggungan;
    o Sumber air yang disemburkan Lusi masih terdapat 3 opsi yaitu (i) dari reservoir batugamping dalam (Formasi Kujung), (ii) berasal dari sumber lebih dangkal yaitu dari Formasi Kalibeng Atas dengan proses transformasi mineral lempung smektit-ilit (dianut oleh Tim Rusia), dan (iii) berasal dari imbuhan sistem gunung api dari komplek Arjuno-Penanggungan. Penentuan sumbe air akan sangat penting untuk menentukan kemungkinan masa hidup (longity) dari semburan Lusi;
    o Sistem pengumpan (feeder system) semburan Lusi masih terdapat dua alternatif yaitu sebagai suatu bidang patahan dari sistem Patahan Watukosek atau suatu saluran mengkerujut (conical channel).
    Posisi penyebab dan pemicu Lusi
    o Pasca fenomena diluncurkannya film Mud Max Lusi telah memerikan dampak positif, menurunnya kontroversi penyebab dan pemicu Lusi antara kubu dipicu gempabumi versus kubu dipicu pemboran sumur Banjar Panji-1;
    o Tim Geologi dari Rusia berdasarkan penyelidikan menggunakan metoda 3-D berbasis data seismik refleksi (2002-2006) kembali mengaktualisasikan temuan ilmiahnya yang tentunya harus dilakukan klarifikasi dan pengujian oleh Para Ahli Kebumian Indonesia, yaitu:
     Asal usul Lusi merupakan kombinasi dari penyebab (causing) dan pemicu (trigerring), sebagai suatu bencana geologi yaitu mud volcano;
     Diawali oleh pembentukan struktur lumpur (mud diapir) selain Lusi juga diidentifikasikan dua lainnya, di timurlaut korelasi dengan struktur runtuh (collapse structure) Porong-1, sedangkan yang di baratdaya dari Lusi belum banyak diketahui sebelumnya,
     Berkembang struktur patahan yang komplek baik sistem Patahan Watukosek (arah utara-selatan), maupun patahan berarah timur-barat (orde ke 2 patahan Watukosek);
     Struktur lumpur yang telah eksis sebelumnya dipicu oleh 2 (dua) even gempabumi yaitu Juli 2005 (memberikan implikasi lebih besar) dan 27 Mei 2006 (sebagai ’kick off’).
    Keberadaan geohazard terutama diluar PAT
    o Secara umum keberadaan penurunan tanah (subsidence) telah semakin diterima secara universal sebagai konsekuensi Lusi telah memasuki tahap pembentukan kaldera (caldera formation), dikombinasi oleh efek pembebanan (loading) akumulasi lumpur di dalam PAT, dan reaktivasi sistem Patahan Watukosek;
    o Publikasi dari Tim ITB di presentasikan di Australia (2010) menyebutkan bahwa terjadi perubahan kecenderungan bahwa pola rekahan di sekitar Lusi cenderung membentuk Pola Radial;
    o Keberadaan bubble yang oleh ahli Australia (2010) disebut sebagai sumburan sekunder, semakin diterima dikaitkan dengan reaktivasi sistem patahan Watukosek termasuk dengan perkembangan ’conjugate’ orde ke 2 pola patahan geser (strike slip fault).
    • Dari dinamika semburan tersebut, perspektif ke depan:
    o Diharapkan hal-hal yang masih menjadi ketidakjelasan (dispute) atau misteri pada anatomi dan daya pengendali semburan Lusi saat ini, termasuk dua opsi penyebab dan pemicu, serta kesimpulan masa hidup Lusi ke dapan akan dapat disimpulkan pada saat pelaksanaan even Seminar Internasional Lusi yang diselenggarakan Babel BPLS tahun 2011.
    o Hal ini mencakup kesimpulan hasil penelitian Lusi yang akan dilaksanakan BPLS bekerjasama dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri, dan pengambilan data seismik 3-d dikoordinasikan oleh Badan Geologi.
    Upaya Penanggulangan Semburan
    a. Meningkatnya secara signifikan upaya dan langkah dikaitkan dengan penanggulangan semburan yaitu:
    i. Kesepakatan nasional untuk terlebih dahulu memahami anatomi atau arsitektur di bawah permukaan serta daya pengendali semburan Lusi, sebelum diambil suatu keputusan dan kebijakan terkait kelanjutan semburan Lusi ke depan.
    ii. Badan Geologi (KESDM) didukung BPLS telah menindaklanjuti tahap awal untuk opsi melakukan pengambilan data seismik refleksi 3-D;
    iii. Penyajian hasil studi bawah permukaan Lusi oleh tim gabungan dari Rusia di Singapur dan Jakarta, termasuk pertemuan dengan Dewan Pengarah.
    iv. Telah mengaktualisasikan anatomi dan daya pengendali Lusi, sekaligus potensi ancaman kemungkinan munculnya semburan mud volcano baru;
    v. Pemantapan proposal penyelidikan geologi dan geofisika Lusi oleh pihak luar negeri bekerjasama dengan Bapel BPLS, yaitu dari Arizona State University (ASU), USA; dan Konsorsium Rusia di bawah koordinasi Badan Geologi Rusia;
    b. Hasil sementara:
    i. Banyak pihak terkait telah semakin memahami bahwa untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan bijak terkait apakah semburan Lusi dapat/tidak dapat dihentikan terlebih dahulu harus dilakukan pemahaman yang lebih mendalam terhadap anatomi ataru arsitektur Lusi pasca semburan-saat ini dilanjutkan dengan analisis pengendali mekanisme dan skenario sistem mud volcano.
    ii. Badan Geologi KESDM telah menindaklanjuti upaya mendapatkan data seismik refleksi yang berada dibawah otoritas BP Migas-PT Lapindo Berantas sebagai pemegang Kontrak Production Sharing (KPS), sebelum diambil opsi pengambilan data baru penampang seismik refleksi 3-D.

    Penanganan Luapan dan Antisipasi Menghadapi Musim Penghujan
    a. Walaupun ancaman yang dapat ditimbulkan secara langsung oleh semburan Lusi telah relatif menurun, sehubungan dengan perubahan perilaku Lusi dimana kecepatan semburan (rate of flow) menurun menjadi sekitar 15.000m3/hari dan didominasi oleh air.
    Namun potensi ancaman yang ditimbulkan oleh luapan Lusi dikendalikan oleh daya longsoran bagian lereng gunung dan banjir bandang lumpur dingin sebagai dampak langsung fenomena pencairan (pelelehan) morfologi gunung lumpur Lusi semakin meningkat.
    b. Kejadian tumbukan antara lereng bawah gunung dengan penahan lumpur terus berlangsung sehingga membentuk Zona Tumbukan (collision zone) di sektor Osaka (baratlaut), sektor TAS (utara) dan Siring (barat). Tumbukan lereng ini terus memberikan efek tekanan pada horisontal pada tanggul (mendorong ke luar), bersamaan dengan itu muka lumpur di bagian tepi tanggul (dike margin) akan terus menaik (waking menurun). Sehingga terutama di sektor Osaka telah dilakukan penanganan dengan pengerukan lumpur padu untuk dipindahkan ke Pond Ketapang, dan lainnya dilakukan perkuatan dan peninggian badan tanggul..
    c. Kejadian longsor lereng bawah pada bulan September 2010 telah berlangsung di sektor Glagaharum-Reno utara, sehingga dalam waktu 1 hari saja muka lumpur telah naik maksimum sekitar 60 cm.
    d. Khususnya sektor barat (Jarirejo-Siring-Osaka) yang merupakan perlindungan terhadap infrastruktur strategis jalan arteri dan rel kereta api, saat ini masih dalam kondisi sebagai bagian dari Zona Tumbukan (di utara) dan daerah jebakan air baik dari aliran langsung dari arah Kaldera Lusi (di selatan). Sehingga pada kondisi hujan yang ekstrim wilayah tersebut harus mendapatkan perlindungan yang khusus.
    e. Atas dasar dinamika tersebut sehingga BPLS telah mengantisipasi potensi ancaman yang mungkin ditimbulkan oleh kejadian hujan dalam intensitas ekstrim, yaitu: (i) telah melakukan perkuatan dan peninggian tanggul bahkan pada sisi luar sedang dibangun konstruksi bronjong (batu dan ram kawat); (ii) akan menambah kekuatan kapal keruk di selatan P25 dan satu Pompa Booster di P35; dan (iii) melanjutkan normalisasi Kali Porong dan substitusi Kali Porong serta menyempurnakan drainase dan kesiapan pompa-pompa air, khususnya di luar PAT sektor barat (Siring-Osaka-Ketapang).
    Penanganan deformasi dan khususnya Bubble
    a. Pada awal musim hujan (September-Oktober) secara umum intensitas bubble memperlihatkan peningkatan dengan kecenderungan yang agak berbeda, dimana untuk pertama kalinya bubble baru telah cenderung berpropagasi ke arah timur melewati PAT timur (pada P 42 dan P 41diseberang Jalan Tol), lainnya di sektor selatan yaitu Desa Besuki dan Mindi (bubble baru dan bubble lama yang aktif kembali).
    b. Sedangkan di sektor Siring walaupun telah muncul bubble baru, namun bubble besar yang lama intensitasnya sangat berfluktuatif (naik dan turun).
    c. Pasca terjadinya kebakaran pada bubble di sektor Siring beberapa yang lalu, bersamaan dengan terus meningkatnya tuntutan warga 9 RT dari 3 Desa di luar PAT yang dinyatakan tidak layak huni berasarkan Perpres 40/2009 untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan 3 Desa di luar PAT (Perpres 48/2008), sehingga BPLS telah meningkatkan intensitas baik terkait monitoring, survei maupun penanganan geohazard.

    Inovasi Pengembangan LUSI LIBRARY sebagai kegiatan pelengkap (komplemen):
    o Gagasan Pengembangan Perpustakaan Lusi tidak terlepas dari tuntutan perubahan paradigma:
     Dari kontroversi terkait penyebab dan pemicu menuju kebersamaan mencari solusi semburan Lusi yang lebih komprehensif dan holistik.
     Dari kondisi bencana ditimbulkan semburan lumpur panas menuju kemanfaatan dan pemulihan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
    o .Sarana tersebut akan digunakan bagi para ahli kebumian, industri perminyakan terkait Lusi untu melakukan komunikasi dan pertukaran informasi.
    o Perkembangan cukup mengejutkan bahwa secara informal beberapa pakar utama yang selama ini memimpin kelompok teori terkait penyebab dan pemicu semburan Lusi secara sepontan telah mengkontribusikan artikel yang dipublikasikan (published papers) antara lain: Richard Davies (UK), Mark Tingay (Australia), Andriano Manzzini (Oslo), Kadurin (Rusia), Bambang Istadi dan Sawolo (EMP-Indonesia), Awang Setyana (BP Migas), Prof. Eli Silver dari UCSC , USA.
    o Pengembangan LUSI LIBARY pada aspek semburan dan luapan Lusi akan dihimpun berbagai aspek ilmiah kurunpada waktu 2006-2011 antara lain:
     Baseline artikel diterbitkan dan dipresentasikan di dalam dan di luar negeri (2006-2011).
     Galeri-galeri foto lapangan terutama dihasilkan oleh BPLS; citra satelit dan penafsirannya yaitu CRISP, SPOT, ASTER NASA, INSAR; citra penerbangan helikopter oleh BPLS.
     Baseline informasi mencakup:
    1. Tektonik dan geologi yang telah dipublikasikan: kedudukan tektonik lempeng, struktur dan stratigrafi Cekungan Jawa Timur (East Jawa Basin), Stratigrafi Lusi dan sekitarnya berdasarkan Sumur BJP-1 dan korelasi Porong-1, keberadaan Sistem Patahan Watukosek.
    2. Analisis Geokimia, isotop terhadap contoh air, lumpur dan gas.
    3. Penampang seismik refleksi dan penafsirannya yang telah dipublikasikan, dimana memegang peran penting untuk memahami anatomi dan struktur mud diapir dan mud volcano Lusi serta dampak deformasi geologi.
    4. Geofisika umum dan penafsirannya yang telah dipublikasikan termasuk kegempaan (seismicity), gayaberat (gravity), kemagnitan (magnetic), geolistrik (resistivity).
    5. Deformasi geologi (geohazard) termasuk pergerakan tanah (land displacement) yaitu subsidence dan uplift; semburan sekunder atau ’bubbler’ dinamika dari waktu-ke waktu dan skenario daya pengendali.
     Rekaman (recorded) dan tinjauan even khusus Lusi di manca Negara termasuk:
    1. Seminar Internasional Lusi (2007) di Indonesia (IAGI-BPPT), di Surabaya (2008), dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Organisasi Profesi (IPA, IAGI, HAGI dan lain-lain).
    2. Seminar Internasional Lusi di Inggris (2008), Geological Soceity of London, Debat Lusi antara dipicu gempabumi dan pemboran di Afrika Selatan.
    3. Peluncuran Perdana Film Mud Max Lusi di Arizona State University (ASU), USA diselenggarakan oleh Immodiscus (2009) dan di Sidney Australia (2010).
    4. Even ’From Russia With Lusi” di Moscow, Singapur, dan Jakarta (2010), sebagai even perdana pasca Perpres 40/2009 dimana upaya penanggulangan semburan Lusi dan pengaliran ke laut melalui Kali Porong sepenuhnya ditangani Pemerintah/BPLS.
    5. Pandangan dan komentar berbagai ahli kebumian yang antara lain telah dihimpun secara komprehensif dan holistik pada Rovicki.Wordpress.com.

    EPILOG
    Suatu realitas kita dihadapkan pada paradigma baru dari Kontroversi ke Solusi yang holistik, Dari Bencana Menuju ke kemanfaatan dan pemulihan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
    LUSI LIBRARY yang sedang saya kembangkan, merupakan salah satu media atau perekat para ahli untuk dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan mengkontribusikan pemikiran cerdas yang muaranya untuk mencari solusi yang elegan.
    Forom Rovicky.Wordpress.Com merupakan sarana yang baik untuk menampung aspirasi teman-teman yang mempunyai perhatian.
    Pengalaman menelusuri Wacana, Makalah diterbitkan tentang LUSI, menjadi realita bahwa kita belum menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Mudah-mudahan evaluasi ini dapat memacu Teman-teman untuk berbenah diri mulai menulis secara cerdas dan elegan tentang Lusi dari berbagai perspektif, dan yang penting adalah dipublikasikan di berbagai media.
    Mohon doa restunya agas Bencana Lusi dapat segera ditangani secara terbaik.
    Salam Hormat Hardi Prasetyo

  3. Dongeng dari pa hardi ini memberikan pengetahuan yg banyak buat saya!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.216 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: