Andang Bachtiar : Kunci penyelesaian masalah bencana lumpur Sidoarjo


:( “Wah Pakdhe, sepertinya memang keterbukaan data yang Pakdhe teriakkan sejak awal dahulu sekarang menjadi konsen siapa saja ya ?”
:D “Memang tidak mudah thole. Dahulu masih banyak yang menganggap data-data itu sebagai data negara dan harus dirahasiakan. Itu memang aturan bakunya. Lah sekarang karena sudah menyangkut orang banyak semestinya dibuka demi rakyat, supaya data itu bisa disantap para peneliti-peneliti”
:( “oooh aku pikir disembunyiin :P
:D “Pada awalnya memang disembunyikan dalam arti untuk diselamatkan, Thole. Harus dijaga kerahasiaan dan juga keasliannya. Ada undang-undangnya. Lah kalau menunggu undang-undang khusus kan lama. Makanya perlu ijin khusus untuk Lusi ini agar dibuka. Jangan suudzon ah !” :P

Keterbukaan data dan manajemen riset geologi-geofisika-engineering: Kunci penyelesaian masalah bencana lumpur Sidoarjo.

Andang Bachtiar

Judul presentasi tersebut saya bawakan kemarin Kamis 28 Pebruari 2008 di Surabaya dalam kesempatan diskusi sehari yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Jatim yang menampilkan pembicara: Ibu Yuni (Lapindo), Soffian Hadi (BPLS), Sukendar Asikin (ITB), Koesoemadinata (ITB), Agus Guntoro (Trisakti), Andang Bachtiar (ETTI), Rudi Rubiandini (ITB), Hasanuddin (ITB), Edi Sutriyono (Lapindo), Doddy Nawangsidi (ITB), dan Adriano Mazzi (Norwegia). Ada 2 pembicara lain yang membahas masalah sosial ekonomi, tapi karena sudah jam 5 sore, saya tidak mengikutinya karena harus kejar jadwal pesawat balik ke Jakarta jam 7 malam.

Sengaja saya mempresentasikan kegalauan saya tentang penyelesaian masalah LuSi dengan mengambil sudut yang berbeda dari para “pendekar” geosains dan drilling lainnya daripada sekedar saling unjuk pesona membuat opini memihak pada masing-masing kubu di hadapan sekitar 150 audience yang awam soal G&G&R&E oil&gas, karena saya anggap percuma saja membahas, berdiskusi, dan berdebat dalam forum yang sangat singkat seperti itu untuk menyelesaikan masalah. Yang kita butuhkan bukan show-case di hadapan masyarakat awam seperti itu, tetapi duduk tenang bersama-sama dalam satu forum 3 hari 3 malam, membahas dengan kepala dingin data-data yang ada, interpretasi yang dilakukan, dan sintesis yang ditawarkan. Itulah esensi dari presentasi yang saya. Audience yang terdiri dari masyarakat yang sangat awam GGRE dan sebagian kaum professional migas yang hadir (pada umumnya kawan2 dari group EMP, maupun beberapa pejabat ESDM pusat maupun daerah, tapi tidak ada satupun dari BPMigas) pada umumnya setuju dengan apa yang saya sarankan. Tidak mungkin kita menyelesaikan masalah saintifik hanya dengan presentasi masing2 1/2 jam dan tanya jawab 10-15 menit. Beberapa cuplikan ringkasan dari presentasi saya, masih senada dengan tema yang selalu saya suarakan setahun terakhir ini soal LuSi (yang senada juga dengan teriakan kawan muda brilliant kita Firman GEA dan juga ungkapan2 RDP yang sangat bijak) sbb:

Latar belakang:

- Pro dan kontra tentang pemicu bencana sampai sekarang tak kunjung terselesaikan
– Cara penanggulangan sedikit banyak ditentukan oleh pengetahuan tentang pemicunya
– Solusi engineering mutlak memerlukan interpretasi geologi-geofisik permukaan dan bawah permukaan (dalam dan dangkal)
– Sifat data geologi-geofisika yang multi interpretasi
– Data terkait operasi migas dianggap data rahasia
– Eskalasi politis bencana membuat sekat-sekat psikologis diantara sesama geosaintis maupun engineer
– Belum pernah dilakukan temu kerja / kupas tuntas saintifik – engineering yang komprehensif, bukan sekedar show case “information-opinion session”

Data: Bukan interpretasi atau opini

- Rekaman-rekaman seismik, gravity, dan magnetik sebelum kejadian semburan 29 Mei 2006
– Mudlog, wire-line log, dan hasil-hasil uji formasi sumur-sumur di sekitar daerah bencana (termasuk sumur-sumur eksplorasi Yodium dan eksplorasi air tanah)
– Deskripsi / pemerian batuan dan struktur geologi permukaan di sekitar Surabaya, Sidoardjo, Mojokerto
– Rekaman-rekaman (micro) – seismic, (micro) – gravity, geolistrik, magnetik (VLF) dalam 2 tahun terakhir pasca kejadian semburan
– Data monitoring GPS berkala paska semburan
– Data kimia-fisika air, lumpur, gas berkala paska semburan
– Data mudlog dan kromatografi sumur relief
– Data yang diakuisisi oleh tim Bola Beton
– Data yang diakuisisi oleh Badan Geologi ESDM
– Geolograph dan real-time chart sumur Banjar Panji-1
– Dan berbagai data G&G&E lainnya yang dianggap perlu

Manajemen riset:

  • - Melibatkan semua ahli G&G&E yang mau terlibat termasuk dari LN
  • - Screening alamiah voluntarism – operation cost dicarikan sponsornya tapi MAN-HOUR tidak dibayar
  • - Mekanisme data terbuka lewat web
  • - Ditambahi dengan 2 s/d 3 kali pertemuan intensif tertutup, minimum 2 hari sekali pertemuan dg MEMBAWA SEMUA DATA DASAR dan ANALISIS/INTERPRETASI-nya
  • - Fase pertama 2 bulan, diikuti implementasi AKUISISI data tambahan 3 bulan
  • - Mekanisme yang sama diulangi untuk 2 bulan berikutnya paska akuisisi data tambahan
  • - Forum riset akan menghasilkan gambaran mutakhir bawah permukaan dan permukaan daerah semburan yang bersifat MULTI-INTERPRETASI
  • - Pembuatan ranking alternatif interpretasi berdasarkan signifikansi implikasi bahayanya (bencana lebih lanjut) dan biaya engineering solutionnya
  • - Engineering solution secara bertahap
  • - Total waktu yang dibutuhkan sebelum implementasi engineering solution 7 bulan

Data rahasia vs data publik:

- Karena data-data “migas” yang terkait dengan kondisi geologi-geofisik-engineering dari semburan lumpur sangat dibutuhkan untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas, maka seharusnya “otoritas data” tergugah untuk membuat data data itu menjadi DATA PUBLIK sehingga masalah bencana ini dapat segera diselesaikan

Contoh penyelenggaraan forum tertutup saintis-periset-praktisi multi-kubu:

  • - 17 Juni 2006, ketika sudah 19 hari lumpur menyembul, di Shangrilla Surabaya, 18 orang
  • - 23 Juni 2006 di ITS 35 orang
  • - 30 Juni 2006 di Shangrilla 30 orang.
  • - 18 juli 2006 di Sommerset 35 orang
  • - 29 Juli 2006 di Unpad 30 orang
  • - 1 September 2006 di Sheraton Bandung 45 orang
  • - 27 Januari 2007 di Graha Pena Surabaya 37 orang

Salam

Andang Bachtiar

Tulisan lain ADB di DG

About these ads

20 Tanggapan

  1. numpang nitip link artikel tentang bencana yang dibuat Lapindo di Sidoarjo :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/05/26/inilah-para-penjahat-lingkungan-kasus-lumpur-sidoarjo/

    terima kasih

  2. Memang lucu kita bangsa Indonesia ini. Jadi ingat pengalaman di bengkel, selalu saja pemilik mobil minta “tolong diakali aja, biar ngirit”.

    Gile kan, urusan tekni kok minta diakalin. Kalau orang bisa diakali tapi eksakta dan hukum alam, mana bisa ?

    Sedih juga melihat sikap pemerintah kita, kok nggak ada sense of crisis. Malah lebih mengutamaakan kepentingan investor daripada keselamatan rakyat.

    Pokoknya, kalau mau bikin rapor Presiden SBY, lihat saja apa yang dia lakukan di Sidoarjo.

    Salam Merdeka

  3. Black Box dibuka setelah ada kesetujuan pemerintah bahwa itu bencana alam…..?????
    Capek deh…

  4. Sudah setahun lebih, tidak ada juga amblesan besar yang mengisisi rongga bawah tanah. Kemungkinan ada massa raksasa yang menggantikan ruang yang didiami oleh lapisan lumpur.

    Saya menduga sedang ada intrusi magma yang mendorong lumpur ke permukaan. Sebab intrusi magma selalu mencari lapisan kerak bumi yang paling lemah. Jika menembus lapisan lumpur, getarannya tidak dapat terdekteksi.

    Jika itu karena dorongan intrusi magma, maka usaha manusia tidak dapat menghentikan pertumbuhan gunung. Sebab intrusi magma yang mendorong magma beku sekaligus lumpur kawah di gunung Kelud saja manusia profesor tidak dapat menghentikannya.

    Jika magma semakin dekat kepermukaan, lumpur akan semakin panas. Jadi perlu terus diukur suhu lumpur dalam kondisi kekentalan yang sama. Sebab jika lumpur telah bercampur air hujan atau air tanah suhunya bisa terpengaruh.

    Mohon maaf atas kebodohan saya.

  5. seandainya masalah ini hanya ditinjau dari solusi teknis barangkali segera dapat diatasi, masalahnya solusi politis ikut membekapnya.

    mohon pakar-pakar lebih berani lagi “bersenandung” dan “menari”.

  6. kalau membuat tanggul setinggi 16.36 meter lebih (info dari sroestam http://sroestam.wordpress.com/) seharusnya bisa dikerjakan oleh bangsa indonesia. kenapa belum ada yang berbuat ya?.

  7. semua masalah pasti bisa selesai, cuman waktunya kapan ya, moga lumpur ini cepet mampet nya

  8. Pak Andang dan Kawan2 Yth,
    Sorry, ada kesalahan penulisan.
    Tekanan Lumpur =18.000 kg/meter-persegi, dan Berat Jenis Lumpur= 1.100 kg/meter-kubik;
    Jadi tinggi Bendungan untuk menghentikan semburan adalah = 18.000/1.100 =16,36 meter.
    Semoga bermanfaat.
    Wassalam,
    S Roestam

  9. Pak Andang Bachtiar dan Kawan2 Yth,
    Dengan mengesampingkan permasalahan politis, saya sependapat bahwa untuk menghentikan semburan Lumpur Sidoarjo secara ilmiah perlu diungkapkan semua data-data explorasi yang ada sebelum dan sesudah munculnya semburan lumpur, kemudian dianalisis secra teliti untuk menyimpulkan metode terbaik untuk menghentikan semburan lumpur.

    Saya bisa mengerti kalau pihak Lapindo keberatan membeberkan data-data explorasi miliknya kepada publik, sebab ini adalah data yang mahal/confidential untuk dibuka dan merupakan kunci bisnis-nya.

    Jalan tengahnya, para pakar explorasi minyak dan geoscientist yang akan berdiskusi berjanji untuk tidak membuka data-data ini ke publik, sehingga bisa dilakukan diskusi tertutup oleh para pakar dengan data-data yg lengkap termasuk data-data yg confidential tersebut, yang akan membuahkan kesimpulan cara terbaik dalam menghentikan semburan lumpur. Para pakar yg ikut diskusi bisa berasal dari DN maupun LN, setelah menandatangani “Non-Disclosure Agreement”.

    Pada kesempatan ini, saya ingin bertanya paad para pakar, apakah Teori keseimbangan (Archimedes) tekanan lumpur diatas permukaan tanah dan dibawah permukaan tanah bisa dipakai untuk menghentikan semburan lumpur?

    Dengan teori ini, maka ketinggian bendungan yang diperlukan adalah Tekanan Lumpur/Berat Jenis Lumpur. Bila Tekanan Lumpur= 18.000 kg/meter-kubik dan Berat Jenis Lumpur= 1.100 kg/meter-persegi, maka ketinggian bendungan untuk menghentikan semburan adalah =16,36 meter saja! Jadi hanya diperlukan untuk menambah ketinggian setinggi 4,36 meter, sebab saat ini tinggi bendungan sudah mencapai 12 meter.

    Teori lanjutannya adalah sbb:
    1. Setelah semburan lumpur berhenti, maka lumpur panas akan menjadi dingin, mengendap dan mengeras, menjadi semacam lapisan yg mengisolasikan tekanan “mud volcano” bila memang ada MV.
    2. Karena tidak ada aliran lumpur lagi, maka proses penggerusan lapisan tanah dibawah permukaan akan berhenti, sehingga mengindari pembentukan rogga kosong dibawah tanah yang bisa sewaktu-waktu rontok kebawah, menimbulkan malapetaka manusia yg ada diatasnya.

    Kesimpulannya, bila membiarkan lumpur meluap ke kali porong, maka malapetaka pada butir 2 diatas akan terjadi sewaktu-waktu. Jadi, segerakanlah menghentikan luapan lumpur ini secepatnya. Khabarnya memang ada upaya untuk meninggikan bendungan, namun dengan kecepatan 30 cm per bulan, Jadi masih perlu waktu sekitar 15 bulan lagi sebelum semburan lumpur terhenti?

    Silahkan ditanggapi,
    Wassalam,
    S Roestam

  10. kayaknya kunci utamanya adalah niat dan nurani para pemegang keputusan republik ini aja.

    bagi kawula alit na awam kayak saya ini, rasanya sih nyaris gak mungkin zaman semodern ini kok gak ada satupun jurus pendekar goosains, teknologi negara2 maju plus peralatan2 canggih perusahaan2 tambang dunia yg tak mampu menyelesaikan masalah ini.

    So far saya belum pernah denger pemerintah minta bantuan resmi ke negara2 maju ato perusahaan tambang dunia, atopun PBB sekalian utk turut membantu menyelesaikan masalah bencana ini.
    Kalo mereka ada niat menyelesaikan masalah scr serius dan nurani terhadap rakyatnya sendiri, rasa2nya pihak2 yg dimintain bantuan pun akan dg semangat (tidak berarti gratis) membantu menyelesaikan masalah ini.

    Lha kalo minta bantuan aja ndak pernah, kata mereka: ya sori aj lah yau

  11. Ayo Para pendekar geosains tunjukkan jurus2 kalian,

  12. Pak Dhe ternyata bukan pemerintah ma lapindo aja berseteru ya…. Geoscientist ikut-ikutan juga!!! daripada terus berseteru mendingan mari kita ingatkan kembali semboyan SBY yang bunyinya begini pak dhe ” Bersama Kita bisa” . buat apa kita ngabisin waktu buat berseteru terus dan perseteruan itu keburu buat sidoarjo tenggelam lumpur !!!
    Lagian kalo menurut saya kalo berseteru terus jangan nyebut dirinya seorang geoscientist padahal setiap ahli ilmu itu harus memberikan yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat mending sebut aja sekalian Politikus Teknik yang kerjaannya berseteru terus!!! kenapa gak bikin ikatan ahli tukang berseteru !!! dan kemana salam Pangeanya ya Pak Dhe…
    Lagian kalau menurut saya yang salah juga pihak lapindo…. masa mereka tidak memikirkan dampak terburuk dari pengeboran malah saya dengar sement pengeborannya tidak dilakukan dengan benar , Kok yang disalahin malah gempa!! Otomatis kiy\ta nyalahin Allah S.W.T untung aja kita masih dipinjami tanah dan bumu sebagai tempat tinggal!!!!

  13. OK Taufik :”…masak sih Mud Vulcano body se besar itu (huge) tak terdeteksi mereka dari seismic??.”

    Mendeteksi adanya paleo mud volcano tidak pernah saya lihat dari penelitian East Java Basin terdahulu, “sebelum” ada insident Lusi. Kecuali laporan fieldtrip yg melewati Bledug Kuwu. Tetapi identifikasi MV dar seismic belum pernah saya temukan.
    Kalau mas OK Taufik melihat di tulisan sebelumnya disini

    http://rovicky.wordpress.com/2006/09/27/penampakan-mud-volcano-dalam-rekaman-penampang-seismik/

    Anda dapat melihat bagaimana MV dalam seismic. Papernya Kusumastuti, tidak secara eksplisit mengatakan colapse itu sebagai caldera MV.

  14. Issue Mud Vulcanokan muncul setelah terjadi underground blowout keluar ke surface (ke permukaan), sewaktu mereka drilling sumur ini (mungkin juga di well proposalnya) mud vulcano kan tidak ada di intepretasikan sama sekali. taroklah setelah mereka drilling dan melewati Mud vulcano yg tak diexpektasi ini kondisinya dalam over ballance (pressurenya mud vulcano bisa di cover sama densitynya drilling mud/lumpur pemboran) kenapa sekarang bisa keluar ke surface/..Muncul pertanyaan presure yg mendorong keluarnya lumpur tesebut apa dari bawah (Fm.kujung) atau dari Mud vulcano itu sendiri???/, disinilah perlunya data-data drilling yg selalu di tekankan oleh ADB perlu disebar luaskan ke masyarakat. Kalau memang blowout ini asalnya dari Formasi di bawah Mud vulcano (atau Fm.Kujung?) maka jelaslah bencana ini disebabkan kelalaian drilling (bukan bencana). Tapi kalau juga blowout ini berasal dari Mud Vulcano itu sendiri..tetap saja ini merupakan kesalahan proses operational drilling, mulai dari intepretasi, well design dan operational drilling!!!..kenapa??, masak sih Mud Vulcano body se besar itu (huge) tak terdeteksi mereka dari seismic??..kalau juga mereka sebenarnya paham disana ada mud vulcano..kenapa sih mereka harus drilling di lokasi itu??..atau ditanya juga..siap nggak mereka menghadapi hi pressure hazard dari mud vulcano tersebut???..bail secara metoda, operational drilling maupun logistik??. Ini yg perlu dikejar ke BPMIGAS dan Lapindo, Perlu dicamkan DRILLING DI MANAPUN DI MUKA BUMI INI SELALU ADA POTENTIAL HAZARD (hi pressure, hi H2S content,Mud Vulcano etc)..masalahnya siap tidak pihak terkait mengantisipasinya.

    OK Taufik

  15. Iya nih masalah ini kok nggak selesai selesai ya :(

  16. Pak Adang Bachtiar,
    Semoga ‘Black Box’ cepat terbuka, saudara-2 kita di Jawa Timur sudah terlalu lama menanggung derita.

    I am proud of you. Appreciate & Thank you so much.

    w. widyanto
    Melbourne

  17. semoga lumpur tidak sampai merambah ke utara, karena tawaran solusi katanya sudah ada. Betul nggak ya?

  18. BILA KOTAK HITAM (BLACK BOX) SUDAH MULAI DIBUKA: SUATU ERA BARU KETERBUKAAN DAN KETERSEDIAAN DATA DAN INFORMASI DI DEPAN KITA

    Pak Adang yang sangat saya banggakan,
    Sebagai salah satu key person yang terlibat pada Tim Pakar masa Timnas PSLS, sangat relevan bila Bapak dapat menulis Catatan Tersisa dari Seminar Nasional LUSI 29 Feb tersebut. Ada hal-hal positif diantara kegalauan Pak Adang.
    Satu kemajuan terkait paper yang dipresentasikan adalah ketika Ir Edy Sutriyono (Lapindo) dengan penuh semangat dan kadang-kadang emosional membuka ‘black box’ yang selama ini ditunggu-tunggu, salah satunya untuk meluruskan Asumsi-asumsi densitas lumpur versus kedalaman,sebagaimana yang digunakan oleh pembicara pengusul ‘Relief Well’ Dr. Rudi Rubiandini (Yang Juga Pelaku Sejarah LUSI di era Timnas).
    Bila suatu saat data primer ‘black box’ terkait dengan hasil urutan batuan bisa dibuka, kiranya perlu di uji sebagaimana Mazzini menyatakan BJP-1 tidak pernah menyentuh Formasi Kujung (karbonat), sedangkan sinopsis yang digunakan davies dan juga karton Prof Koesoemadinata dan lain-lain (maaf bila saya salah mengamati slide PPT dimaksud) pemboran menembus Formasi Kujung.
    Perbedaan pendapat mengenai sumber air dimana Mazzini bersikukuh berasal dari proses hidrasi mineral lempung (smektit-illit), sedangkan pada umumnya sebagaimana davies dll. umumnya mengadobsi bawa sumber air dari formasi Kunjung atau yang lebih dalam selanjutnya melalui rekahan hidrostatik menembus batuan penutup (Lempung tebal overpressure) seperti mode ‘jet steam’.
    Adalah sangat arif dari salah satu butir kesimpulan antara lain tersirat ‘Jangan melakukan upaya mematikan semburan (yang dimaksud dengan relief well), bila dua skenario mud volcano atau underground blow out belum dapat dipertemukan’, atau ‘jangan melakukan upaya mematikan semburan LUSI, bila kondisi bawah permukaan belum jelas’. Dengan demikian presentasi Pak Adang menjadi relevan.
    Mudah-mudahan Semangat Mencari Solusi yang telah dikumandangkan pada Seminar Nasional Lusi 29 Feb tersebut dapat bergulir seperti bola salju yang semakin lama akan padu’ (wait and see).
    Hardi Prasetyo

  19. Ajukan dalam bentuk petisi, Rek!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.216 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: