Lumpur Lapindo : “Mengapa tanya geoscientist ?”


slide6.gifIAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) dikatakan berseteru soal semburan Lumpur Porong. Diskusi persoalan inipun berlanjut di IAGI-net. Karena selama ini seolah-olah yang menjadi “hakim” tidak resmi adalah ahli geologi. Blaik !! Lah wong scientist kok ditanyain soal hukum !

:( “Looh Pakdhe, katanya sekarang sudah mulai ada profesi forensic engineer
:D “Betul thole, dulu pernah ditulis disini. Tetapi ilmu forensic science itu juga jalannya pelaaan … thimik-thimik seperti perkembangan science juga”

Apa ada efek gempa ?

earthquake trigger lusi ?Looh ini soal gempa atau soal drilling ? ” perseteruan itu ada sejak awal kejadian karena kebersamaan waktu. Dan gambar yang selalu dipasang adalah gambar disebelah ini. Namun pendapat Pak Awang Harun dari BPMIGAS, menurutku juga valid beliau menyangkal:

Kata siapa gempa dengan M > 9.0 yang hanya bisa memicu MV ? Manga & Brodsky (2005)tak mengatakan begitu. Lihat juga publikasi Aliyev et al. (2002) : Catalogue of recorded eruptions of mud volcanoes of Azerbaijan for period of years 1810-2001, Nafta, Baku, Azerbaijan, 88 ps. Gempa sekecil M = 4.6 pun bisa memicu sebuah MV. Gempa Aceh M=9 26 Desember 2004 pun diikuti semburan lumpur di Alaska pada 28 Desember 2004. jarak Aceh-Alaska kita tahu itu sangat jauh.

Sayapun sepakat dengan Pak Awang, siapa bilang gempa kecil ngga bisa mentriger ? “Evidence” (bukan prove/bukti) yang ada saat inipun hanyalah hubungan temporal-relational bukan bukti relasi kausal ! Pak awang menyebutkannya dalam 4 point dibawah.

Korelasi itu jelas ada; tetapi kita tak tahu banyak soal ini :
(1) the robustness of the correlation,
(2) the exact triggering mechanism,
(3) magnitude thresholds and triggering distances,
(4) possibility of delayed triggering

Kurva Manga & Brodsky menyangkut no. (3). Sekali lagi, kurva itu dibangun dengan analisis statistik dengan mekanisme sebenarnya yang kita tidak ketahui dengan baik. Nah, apakah untuk sesuatu yang tidak kita ketahui dengan baik akan kita gunakan 100 % sebagai pisau bedah, lalu menggunakannya sebagai alat pengambilan keputusan yang eksesnya sangat besar, sementara kita sebenarnya tidak mengertu dengan baik dan berbagai kemungkinan lain bisa saja terjadi ?

Tulisan senada dari artikel terbaru yang bisa saya ambil terbit tahun 2007 “Correlations between earthquakes and large mud volcano eruptions“. Ini mirip hubungan antara bulan dengan gempa, yang selama ini hanya diketahui temporal relationnya. Asal jangan sampai nanti menyalahkan bulan looh ya :) Karena hubungannya hanyalah kebersamaan waktu saja, bukan sebab akibat. Penulisnya menyatakan:

“The volcanic triggering likely results from some aspect of the seismic wave’s passage, but the precise mechanism remains unclear“.

Dalam kasus hukum setahuku kalau masih ada dispute atau ketidak sepakatan, maka teori yang diajukan tidak dapat dipakai dalam memutuskan kasus hukum. Jadi teori hubungan gempa-MV ini menurutku (semestinya) akan batal demi hukum … bukan buat geoscientis ya. Buat ahli geologi fenomena ini tentusaja masih bisa dijadikan objek penelitian, kan ? Jadi betul seperti kata Pak Awang bahwa relasi itu tidak diketahui kausalnya. Lebih tepatnya belum diketahui proses-prosesnya. Syapa tahu nantinya ada teori yang menjelaskannya. Sabar dulu, nape !

Kunci untuk membuka tabir misteri ya tentusaja “realtime measurement” data, yang akuisisi datanya dilakukan pada saat drilling dilakukan.
Banyak sekali chart-chart yang dibuat selama drilling. Tentusaja data inilah yang akan membuka pintu tabir ini. Do we have that ? I believe
we do somewhere ?
Kata Pak Andang ada di kantor pulisi … Whallah !

- Drilling sequence (urutan pengeboran), atau drilling activities (aktifitas pengeboran) selalu dicatat dari jam-ke-jam, bahkan setiap langkah harus ada note atau catatan (sesuai yang ada dalam chart IADC)

:D ” IADC itu International Association of Drilling Contractor. Yaitu kumpulannya para pekerja pengeboran yang memiliki database cukup besar dn juga prosedur serta catatan-catatan selama dilakukan proses pengeboran. Kowe mau tanya, kan ?”

- Interpretasi kejadian misalnya “partial loss, total loss” yang dilansir oleh Pak Awang ini mestinya tercatat dalam salah satu chart yang ada. Masih inhget lost gain ? Lihat lagi disini. Kenapa saya sebut interpretasi ? Karena datanya (yang beruba chart) hanya menunjukkan mengecilnya jumlah lumpur total. Bisa saja lumpurnya tumpah, misalnya, dan ini bisa dicross chek dng kesaksian Mud Engineer (orang yang tugasnya ngurusin jumlah total lumpur pengeboran, atau adanya penurunan jumlah lumpur dalam lubang. (btw, yang dimaksud disini lumpur pengeboran bukan lumpur yang keluar dari lusi looh).
– Tentusaja kalau ada “partial loss dan total loss, skali lagi kalau ada” yang “bersamaan” dengan gempa juga semestinya akan gugur dalam kasus hukum (dengan pertimbangan diatas tadi yaitu “unknow causal relation“).

Kuncinya ada di data pengukuran selama pengeboran.

Kunci utamanya hanyalah DATA OTENTIK yang ada sewaktu pengeboran. Menurut issue yang saya dengar dan baca dari media, kebanyakan data yang diperoleh pihak yang “dianggap” netralpun justru datang dari kantor pulisi …. whaddduh … Masak data ilmiah malah ada disana ?
Dari sisi keamanan barangkali sudah benar. Artinya aman dari siapa saja yang ingin “mengubah” baik yang pro maupun kontra. Kata Pak Andang Data Lumpur Lapindo Harus Dibuka Untuk Publik.

Bukan melulu kesalahan publik kalau ada sebuah data kunci yang bisa dipakai sebagai petunjuk kebenaran tidak diketahuinya… menurutku ketidak tahuan berbeda dengan kesengajaan untuk tidak mau tahu. Kaidah ilmiah adalah menggunakan asumsi bila data tak tersedia. Namun asumsi-pun bukannya bebas tak terbatas. Asumsi dalam hal ini juga harus dibatasi oleh kaidah lain, misalnya analogi, kaidah fisika-kimia-mekanika, dll. Jadi kalau memang ada data yang benar ya semestinya diberitahukan ke publik. Asumsi dan hipotesa (teori) bisa disalahkan kalau ada data baru dan itu menurut sependek pengetahuanku memang begitulah protokol ilmiah-nya.

Saya sering skeptis menghadapi ketidak tahuan. Kalau Mas Edi (VP drilling EMP) yang dalam surat terbukanya (link disini) mengatakan tahu ada data yang lebih authentique dan mendukung hipotesa yang diajukan tentunya publik akan banyak belajar dari situ. Dan saya akan dengan senang hati mendongengkan dengan bahasa awam.

Satu sisi lain yang harus diketahui adalah bahwa kebenaran ilmiah itu tidak statis, demikian juga hukum memiliki sisi kebenarannya sendiri.
Keputusan politik jelas beda lagi. Ya, memang kalau keputusan hukum, ilmiah maupun keputusan politik akan bagus kalau ketiga-tiganya sama (inline).

Dengan demikian sependek pengetahuan saya, maka kajian kausal dengan “tersangka-nya” proses pengeboran yang tepat adalah dilakukan oleh Drilling Engineer bukan Geoscientist ! Lantas mengapa Ahli geologi yang ditanyain soal hukum terus ?

:( “Pakdhe, ya pantes aja kalau geologistnya berseteru !”
:D “Thole, geoscientist itu bukan engineer !”
:( “Lah Pakdhe kok gelar di KTPnya, kok insinyur ?”
:D “Hust !!”

Geoscientist (ahli kebumian) terutama Geologist (ahli geologi) dan Geophysicist (ahli geofisika) barangkali akan lebih tepat kalau ditanya soal ilmiah science-nya saja. Tapi jangan paksa seorang Geoscience ini untuk mengatakan hitam putih, pikiran mereka rata-rata akan abu-abu :(

Refrensi terkait :

About these ads

15 Tanggapan

  1. bagus artikel nya gan

  2. Sudah banyak solusi untuk memperbaiki, tapi dalang nya kok diem2 aja ya??

  3. ketawa sendiri… artikel bagus pak.

  4. alooo..

    saya salah satu mahasiswa geologi yang tertarik dengan mud volcano. mau menanyakan adakah perbedaan genesa dan karateristik mud volcano bledug kuwu dan sidoarjo?

    terima kasih

  5. sementara no comment ah… ndah ngerti aku :((

  6. Nyuwun Sewu…, menimpalin tulisan/komentar dari Mas Hardi Prasetyo, kami sangat SALUT dan BERHARAP sekali terhadap Bapel-BPLS yang sudah susah payah tanpa kenal waktu untuk membantu memikirkan jalan tentang kelangsungan Kehidupan dari Warga korban Luapan Lumpur, Memang yang kami inginkan sampai dengan saat ini sebagai salah satu dari sekian Ribu Warga Korban Luapan Lumpur, baik Warga Desa maupun Perumahan (PerumTAS-1), adalah KEJELASAN SECEPATNYA MENGENTASKAN KAMI WARGA KORBAN LUAPAN LUMPUR INI MAU DI KEMANAKAN, KALAU MEMANG MAU DI BAYAR TUNAI, MOHON DI JELASKAN MEKANISMENYA BAGAIMANA, DAN KALAUPUN MAU MENDAPATKAN RUMAH ( RESELTEMENT ) MEKANISME KEJELASANNYA JUGA BAGAIMANA. Karena Tuntutan dan Aspirasi Warga Korban Lumpur ini HANYA ITU. TIDAK ADA YANG LAINNYA. SEBAB selama ini MEKANISMENYA SELALU ABU-ABU, SEHINGGA “BANYAK-PEMAIN” YANG MEMANFAATKAN HAL ITU, DAN INI YANG MENJADIKAN BUMBU “MESIU-MESIU” UNTUK MEMBAKAR WARGA KORBAN LUAPAN LUMPUR. Oleh karena itulah KAMI sangat berharap agar BAPEL-BPLS bisa menjadikan FASILITATOR yang benar-benar BERDIRI DI TENGAH untuk menjembatani SKIM penyelesaian Ganti-Rugi dan Masalah Sosial Warga Korban Terdampak Langsung maupun yang tidak terdampak Langsung. Wassalam…..

  7. pakdhe, kalo misalnya itu bencana alam, apakah rakyat sidoarjo akan dibiarkan menderita?
    tidak akan mendapatkan bantuan dari pemerintah? rakyat sidoarjo harus sambat kepada siapa dhe???
    ini sudah 2 tahun…..benar2 edan…

  8. tapi khan gak mungkin tanya pakar telematika khan pak dhe? :lol:

  9. MELIHAT KE DEPAN UNTUK MENCARI SOLUSI LUSI YANG INTEGRAL DAN HOLISTIK
    (Koreksi bagian penutup)

    Yth Komunitas GeoNet,
    Saya pribadi sangat menikmati sajian para Pakar ‘Geoscientists’ dan Ahli Perminyakan (termasuk ahli pemboran) yang telah berkontribusi dengan pemikiran cerdas, inovatif dan arif yang disampikan pada seminar Nasional Lusi, 29 Februari 2008.
    Selain itu Seminar menjadi bernilai tinggi karena telah berhasil mengadirkan ‘Mbahnya Geologiawan Indonesia’ yaitu Prof Sukendar dan Koesoemadiata, Prof Hasanudin, juga hadirnya Mazzini mewakili komunitas Internasional ‘Ahli di bidang mud volcanoes’.
    Saya juga menyimak dengan seksama Presentasi Prof. Rudi Rubiandini, yang dengan sangat optimis mengusulkan ‘Relief Well’ untuk membunuh Lusi yang mendekati durasi 2 tahun (29 Mei 2008). Sayang beliau meninggalkan seminar setelah presentasi, sehingga tidak dapat merespon secara langsung pendapat dari Ir Edy (Lapindo) yang dengan tegas dan berani menyatakan ‘asumsi yang dibuat tidak menggunakan data atau fakta yang benar’.
    Adanya perbedaan antara fenomena geologi/alam versus underground blow out merupakan suatu realita yang masih berkembang. Untuk itu saran Dr. Adang Bahtiar agar ‘Dilanjutkan Forum Pakar dengan menanggalkan semua baju dan atribut untuk melihat data primer, bila perlu diwasiti oleh pihak independen termasuk dari Internasional, dengan muara untuk mencari solusi’ kiranya perlu diakomodasi dan direspon.
    Pada kesempatan pembicaraan informal Dr. Adang menyampaikan harapan ditujukan kepada Bapel BPLS agar mengambil inisiatif sebagai ‘fasilitator’ karena dipandang relevan pasca berakhirnya masa bakti Timnas PSLS (saat itu ada Tim Pakar), untuk itu kami ucapkan terima kasih atas recognization kepada institusi Bapel Bpls.
    Karena kebetulan kami dan Soffian Hadi berada di BPLS, maka pada hal yang paling mendasar kami berkomitmen untuk mendukung bila ada para ahli kebumian, perminyakan, pemboran dll yang akan melihat langsung perkembangan Lusi di lapangan. Lebih jauh lagi bila ada pihak yang berminat untuk menggunakan fenomena Semburan Lusi bagi penulisan karya ilmiah S1, S2, dan S3, karena bila kita menyimak secara obyektif makalah-makalah ‘berskala internasioal’ KEBANYAKAN justru ditulis oleh pakar dari luar negeri, dua diantaranya yang kami anggap mencerminkan perbedaan pandangan ’cause and trigger Lusi’ adalah makalah dari Davies dan Mazzini (2007).
    Saya kagum dengan judul dan kata kunci utama dari Seminar Nasional Lusi 29 Feb di Surabaya tersebut untuk melihat ke depan dengan MENCARI SOLUSI. Sehingga biarkan para ahli bertempur/berdebat secara ilmiah atau akedemik mengenai penyebab dan pemicu Lusi, yang penting bagaimana Sendi-sendi Kehidupan masyarakat sebagai dampak sosial, ekonomi termasuk infrastruktur dapat secara bertahap dipulihkan.
    Satu benang merah yang dapat diambil secara obyektif hampir semua pakar sudah menggunakan terminologi yang universal Lusi sebagai mud volcano, sebagaimana bila kita melakukan ‘browser’ Sidoarjo Mudflow yang muncul akan didominasi ‘Sidoarjo mud volcano’, termasuk SPOT yang mengkontribusikan Time Series Citra Satelit SPOT-5 dan FORMOSAT-2 menggunakan hedading ‘SPOT AND FORMOSAT SATELLITE IMAGE LUSI MUD VOLCANO’. Dalam kontek ini, apapun nama/terminologi yang ditetapkan, yang pling penting adalah bagaimana kita dapat berkontribusi untuk mewujudkan impian bersama ‘memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di sekitar Lusi’. Sehingga the worst scenario sebagaimana dipresentasikan Prof. Hasanudi, tanpa suatu upaya yang serius Luapan Lusi pada kurun waktu s/d 30 tahun dapat meluas dari Peta Area Terdampat yang ditetapkan tanggal 22 Maret 2007.
    Kami yang kebetulan diberi kehormatan dan kepercayaan Pemerintah terlibat dalam Bapel BPLS tidak dalam posisi menjanjikan apapun terkait kill or not to kill atua Kapan Lusi akan berhenti/dihentikan? Kami komit untuk bekerja keras dalam upaya penanggulangan Lusi secara integral dan holistik, dan disertai PerMohonan Doa Restu agar cobaan dan musibah Lusi yang sangat Komplek/Rumit ini dapat diakhiri menyeluruh (total) atau minimal diperkecil dampaknya…Amin
    Hormat dan apresiasi kami kepada seluruh pihak yang telah dan akan berkontribusi dan merespon tantangan/misi besama (common challange and missions) tersebut.

    Hardi Prasetyo

    Masa Lalu Mantan Aktivis pada Organisasi Profesi:
    Pengurus/Ketua MAPIN, IAGI, HAGI, ISOI, MKI, dll

  10. MELIHAT KE DEPAN UNTUK MENCARI SOLUSI LUSI YANG INTEGRAL DAN HOLISTIK

    Yth Komunitas GeoNet,
    Saya pribadi sangat menikmati sajian para Pakar ‘Geoscientists’ dan Ahli Perminyakan (termasuk ahli pemboran) yang telah berkontribusi dengan pemikiran cerdas, inovatif dan arif yang disampikan pada seminar Nasional Lusi, 29 Februari 2008.
    Selain itu Seminar menjadi bernilai tinggi karena telah berhasil mengadirkan ‘Mbahnya Geologiawan Indonesia’ yaitu Prof Sukendar dan Koesoemadiata, Prof Hasanudin, juga hadirnya Mazzini mewakili komunitas Internasional ‘Ahli di bidang mud volcanoes’.
    Saya juga menyimak dengan seksama Presentasi Prof. Rudi Rubiandini, yang dengan sangat optimis mengusulkan ‘Relief Well’ untuk membunuh Lusi yang mendekati durasi 2 tahun (29 Mei 2008). Sayang beliau meninggalkan seminar setelah presentasi, sehingga tidak dapat merespon secara langsung pendapat dari Ir Edy (Lapindo) yang dengan tegas dan berani menyatakan ‘asumsi yang dibuat tidak menggunakan data atau fakta yang benar’.
    Adanya perbedaan antara fenomena geologi/alam versus underground blow out merupakan suatu realita yang masih berkembang. Untuk itu saran Dr. Adang Bahtiar agar ‘Dilanjutkan Forum Pakar dengan menanggalkan semua baju dan atribut untuk melihat data primer, bila perlu diwasiti oleh pihak independen termasuk dari Internasional, dengan muara untuk mencari solusi’ kiranya perlu diakomodasi dan direspon.
    Pada kesempatan pembicaraan informal Dr. Adang menyampaikan harapan ditujukan kepada Bapel BPLS agar mengambil inisiatif sebagai ‘fasilitator’ karena dipandang relevan pasca berakhirnya masa bakti Timnas PSLS (saat itu ada Tim Pakar), untuk itu kami ucapkan terima kasih atas recognization kepada institusi Bapel Bpls.
    Karena kebetulan kami dan Soffian Hadi berada di BPLS, maka pada hal yang paling mendasar kami berkomitmen untuk mendukung bila ada para ahli kebumian, perminyakan, pemboran dll yang akan melihat langsung perkembangan Lusi di lapangan. Lebih jauh lagi bila ada pihak yang berminat untuk menggunakan fenomena Semburan Lusi bagi penulisan karya ilmiah S1, S2, dan S3, karena bila kita menyimak secara obyektif makalah-makalah ‘berskala internasioal’ KEBANYAKAN justru ditulis oleh pakar dari luar negeri, dua diantaranya yang kami anggap mencerminkan perbedaan pandangan ’cause and trigger Lusi’ adalah makalah dari Davies dan Mazzini (2007).
    Saya kagum dengan judul dan kata kunci utama dari Seminar Nasional Lusi 29 Feb di Surabaya tersebut untuk melihat ke depan dengan MENCARI SOLUSI. Sehingga biarkan para ahli bertempur/berdebat secara ilmiah atau akedemik mengenai penyebab dan pemicu Lusi, yang penting bagaimana Sendi-sendi Kehidupan masyarakat sebagai dampak sosial, ekonomi termasuk infrastruktur dapat secara bertahap dipulihkan.
    Satu benang merah yang dapat diambil secara obyektif hampir semua pakar sudah menggunakan terminologi yang universal Lusi sebagai mud volcano, sebagaimana bila kita melakukan ‘browser’ Sidoarjo Mudflow yang muncul akan didominasi ‘Sidoarjo mud volcano’, termasuk SPOT yang mengkontribusikan Time Series Citra Satelit SPOT-5 dan FORMOSAT-2 menggunakan hedading ‘SPOT AND FORMOSAT SATELLITE IMAGE LUSI MUD VOLCANO’. Dalam kontek ini, apapun nama/terminologi yang ditetapkan, yang pling penting adalah bagaimana kita dapat berkontribusi untuk mewujudkan impian bersama ‘memulihkan sendi-sendi kehidupan masyarakat di sekitar Lusi’. Sehingga the worst scenario sebagaimana dipresentasikan Prof. Hasanudi, tanpa suatu upaya yang serius Luapan Lusi pada kurun waktu s/d 30 tahun dapat meluas dari Peta Area Terdampat yang ditetapkan tanggal 22 Maret 2007.
    Kami yang kebetulan diberi kehormatan dan kepercayaan Pemerintah terlibat dalam Bapel BPLS tidak dalam posisi menjanjikan apapun terkait kill or not to kill atua Kapan Lusi akan berhenti/dihentikan? Kami komit untuk bekerja keras dalam upaya penanggulangan Lusi secara integral dan holistik, dan disertai PerMohonan Doa Restu agar cobaan dan musibah Lusi yang sangat Komplek/Rumit ini dapat diakhiri menyeluruh (total) atau minimal diperkecil dampaknya…Amin
    Hormat dan apresiasi kami kepada seluruh pihak yang telah dan akan berkontribusi pada merespontantangan/misi besama tersebut.

    Hardi Prasetyo

    Masa Lalu Mantan Aktivis pada Organisasi Profesi:
    Pengurus/Ketua MAPIN, IAGI, HAGI, ISOI, MKI, dll

  11. Bagaimana dengan mereka yang melakukan penebangan hutan, pengembangan pemukiman, penyempitan lahan genangan air, pembuangan sampah ke saluran air yang menyebabkan bencana banjir, apakah mereka juga yang harus menanggung kerugian bencana banjir.

    Hi…hiii…AMDAL…AMDAL…
    Hi…hiii…kalau terjadi SESEORANG menyebabkan Kematian Banyak orang kita sebut PEMBUNUH Masal.
    Hi…hiii…kalau terjadi AMUK MASSA menyebabkan Kematian Banyak orang kita sebut KERUSUHAN. No one fault!!!!

  12. Lah apa tanya aburizal ?

  13. Sebelum gempa Jogya, apakah ada gempa-gempa lain yang sumbernya berdekatan dengan Porong? Apakah setiap gempa menimbulkan adanya fenomena aneh di sekitar Porong?

    Setelah gempa Jogya, apakah ada gempa-gempa lain yang berpengaruh terhadap munculnya fenomena baru di Porong?

    Barangkali pemboran adalah aktivitas manusia yang turut mempercepat munculnya semburan lumpur di samping gempa, yang secara alami walaupun tidak ada pengeboran, semburan lumpur cepat atau lambat akan muncul juga. Lubang bor itu seharusnya mengeluarkan lumpur juga.

    Bagaimana dengan mereka yang melakukan penebangan hutan, pengembangan pemukiman, penyempitan lahan genangan air, pembuangan sampah ke saluran air yang menyebabkan bencana banjir, apakah mereka juga yang harus menanggung kerugian bencana banjir.

  14. Dalam mailing list IAGI Pak Bambang Istadi dari Lapindo sudah bersedia membuka datanya
    Rame iki rek !

    “Cak Noor, Oden, pak Nyoto,

    Jangan berkecil hati,… silahkan datang ke Lapindo, nanti saya mintakan teman2 Lapindo untuk membukakan data2 Banjarpanji. Selama bapak2 masih
    objektif dalam menyikapi masalah ini dan masih dalam koridor peraturan pemerintah soal informasi dan atas persetujuan partner Lapindo, akan saya mintakan untuk dibuka, silahkan datang,… saya tunggu.

    Undangan yang sama telah saya lontarkan ke Richard Davies dan Mark Tingay beberapa waktu yang lalu. Tapi mereka tidak nongol. Daripada
    bapak2 mengambil konklusi dini dengan basis data dan fakta yang salah seperti Davies lalu menghujat Lapindo,… silahkan saya tunggu.

    Beberapa waktu yang lalu KMI dan IATMI berinisiatif untuk menyelenggarakan Drilling Forum mengupas data Banjarpanji, dan kami setuju untuk berbagi data,.. tapi kandas ditengah jalan karena ada pihak2 tertentu yang tidak setuju,.. yang jelas bukan Lapindo, tiada niatan kami untuk menutup-nutupi.

    Satu hal yang saya ingin garis bawahi,.. kita boleh berdebat dan berpolemik terus soal penyebab dan trigger lumpur, tapi selama ini kami lebih banyak diam karena berkonsentrasi untuk terus berbuat menyelesaikan masalah2 sosial kemasyarakatan, juga berbagai macam persoalan dilapangan. Kami tidak akan lari dan akan terus menyelesaikan masalah2 sosial kemasyarakatan. Ini suatu komitmen dan tidak memikirkan
    untuk menagih ke Pemerintah biaya yang sudah dikeluarkan saat ini sebesar Rp. 2.9T maupun yang akan dikeluarkan dan tetap patuh amanah PerPres 14 tahun 2007.

    Silahkan,.. saya tunggu
    Wass.w.w.
    Bambang Istadi

  15. datanya mana, datanya mana
    *ngorek – ngorek nyari data*

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.371 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: