Memonitor polah tingkah Gunung Kelud yg sedang kritis


Memonitor kegiatan gunung ini dilakukan oleh Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi – VSI yang kantornya bertempat di Bandung. Sedangkan Pos pengamatan Gunung Kelud ada di Pos Pengamatan G. Kelut di Kampung Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.

:( “Memangnya apa saja yang diamati Pakdhe ?”
:D “Nanti dulu, sabar thole, kan kalau nulis itu harus pakai pendahuluan dan kata pengantar”

Ada beberapa hal yang diamati dari sebuah kegiatan gunung api. Dibawah ini hanya didongengkan tiga hal utama saja ya. Kalau kebanyakan malah bikin pusing nantinya.

Getaran gempa Volkanik

stetoscope.jpgSeperti yang pernah digambarkan sebelumnya disini bahwa getaran-getaran gempa volkanik juga diamati dalam sebuah gunung (klik gambar kiri). Ini mirip Dokter yang menggunakan stateskop untuk mendengarkan detakan jantung serta gerakan-gerakan organ tubuh didalam.

Dalam pengamatan gunung api getaran-getaran ini memiliki arti khusus yaitu gerakan magma.

Dibawah ini ada tiga pengamatan gempa-gempa volkanik dari Gunung Kelud beberapa waktu lalu dimana dari getaran itu dapat diperkirakan dimana aktifitas gerakan itu berada.

waspada.jpg WASPADA

Pada waktu getaran masih didalam dan terekam oleh stasiun pengamat maka apabila diplot dalam diagram akan terlihat seperti disebelah ini. Getaran ini masih berada pada kedalaman 3 Km dibawah sana. Jadi memang cukup jauh, tetapi ini jelas menunjukkan bagaimana adana aktifitas (gerakan) dari magma yang harus terus diamati.

Pada kondisi aktif normal, di G. Kelud rata-rata tercatat sekitar 2 gempabumi vulkanik tiap bulan. Pada tanggal 10 September 2007, terekam 13 gempabumi vulkanik-dalam, sedangkan 11 September 2007 terekam 3 gempabumi vulkanik dalam. Pada tanggal 11 September 2007 ; pukul 23:00 status G. Kelud dinaikan dari Aktif Normal ke Waspada. Tampak pada gambar diatas, sebaran hiposenter sumber gempabumi vulkanik pada status Waspada berada pada kedalaman 3 km di bawah G. Kelut

siaga.jpgSIAGA

Pada tanggal 26, 27, 28 dan 29 September 2007, terjadi lagi serangkaian gempabumi Vulkanik-Dalam, maka status G. Kelud dinaikan dari Waspada ke Siaga. Sebaran hiposenter sumber gempabumi pada status Siaga disajikan pada gambar disebelah ini.
Dalam periode 29 September – 16 Oktober 2007, tidak tercatat gempabumi Vulkanik-Dalam seperti saat sebelum Waspada dan sebelum Siaga, hanya tercatat gempabumi Vulkanik-Dangkal dan Tremor vulkanik tidak menerus, dengan jumlah kurang dari 20 kejadian tiap hari.

awas.jpgAWAS

Tanggal 16 Oktober 2007, pukul 10:00 WIB mulai terekam gempabumi Vulkanik-Dangkal, hingga pukul 17:00 WIB terekam 306 gempa VulkanikDangkal. Peningkatan ini tentunya sangat signifikan sehingga petugas di lapangan berkonsultasi dengan Team Tanggap Darurat. Setelah konsultasi dengan Team Tanggap Darurat G Kelut, tanggal 16 Oktober 2007 pukul 17:25 WIB G. Kelut dinaikkan statusnya dari Siaga ke Awas. Pada gambar kiri ini, disajikan sebaran hiposenter gempabumi Vulkanik-Dangkal yang terekam pada 16 -17 Oktober 2007, tampak bahwa sebaran hiposenter sumber gempabumi berada pada kedalaman sekitar 1 kilometer dari dasar kawah.

wsa.jpgHingga saat ini (31 Oktober 2007) status Gunung Kelud masih dinyatakan berstatus AWAS. Gambar disebelah kanan ini memperlihatkan semua lokasi pusat getaran-getaran gempa volkanik ketika berstatus Waspada-Siaga-Awas.

Lokasi-lokasi itu menunjukkan sebaran kegiatan magma dari dalam bumi yang diperkirakan bergerak dari bawah ke atas. Ukuran penyebaran ini mungkin tidak jauh berbeda dengan penyebaran dapur magma yang ada didalam bumi dibawah Gunung Kelud ini.

Suhu Danau Kawah

Gunung kelud ini unik karena memiliki kawah yang berisi air membentuk danau. Suhu dari danau ini berfluktuasi mengikuti aktifitas gunung. Ketika suhu meningkat tentu saja ada magma yang mendekati kepundan. Dan tentunya ini harus selalu diamati sebagai pertanda aktifitasnya.

suhu-kawah.jpgPemantauan temperatur air danau kawah G. Kelut dilakukan di permukaan, pada kedalaman 10 dan 15 meter dari permukaan air. Pada gambar 5, disajikan grafik temperatur air danau kawah pada tiap jenjang kedalaman. Dalam grafik temperatur disebelah kiri ini tampak bahwa temperatur naik secara menerus hingga saat ini.
Pada hari ini, tanggal 31 Oktober 2007 Pukul 00.00 – 06.00 WIB, temperatur di permukaan 35,0 ºC; pada kedalaman 10 m: 38,2 ºC;dan kedalaman 15 m : 39,5 ºC.

Dahulu Menjelang letusan 10 Februari tahun 1990, temperatur kawah 39-40C dan buih putih memenuhi kawah (saat ini masih setempat-setempat). Jadi kalau saja suhu 39-40 itu menjadi angka kerama, maka Kondisi Gunung Kelud saat ini dalam keadaan kritis. Namun tentu saja tidak hanya suhu yang menjadi tolok ukur penentuan meletusnya Gunung Kelud ini. Dan dapat dimaklumi kalau saat ini masih dinayatakan berstatus AWAS.

Tilt atau kemiringan

tilt.jpgKarena adanya dorongan magma dari dalam bumi maka bentuk gunung itu sebenarnya berubah atau miring. Namun kemiringannya sangat kecil kalau diamati dengan mata telanjang. Namun ada pengukuran kemiringan ini yang dipantau di G. Lirang dan di G. Sumbing dengan jarak masing-masing 600 dan 700 meter dari tengah kawah G. Kelud.

tilt_g_lirang.jpgGambar disebelah memperlihatkan pemantauan kemiringan (tilt) di Gunung Lirang yang jaraknya 600 meter dari kawah. (klik untuk memperbesar gambar).

Menurut analisa dari ahli Volkanologi Bandung ini, dari grafik yang terlihat dalam gambar disebelah ini, terjadi penurunan secara tajam setelah krisis gempa bumi Vulkanik-Dalam, menjelang Siaga, kemudian naik secara tajam pada kedua komponen (radial dan tangensial terhadap kawah) mencapai maksimum tanggal 15 Oktober 2007, disusul oleh krisis gempabumi dangkal 16 Oktober 2007 menjelang status Awas. Pada 16 Oktober 2007 terjadi penurunan secara tajam, mencapai minimum pada tanggal 18 Oktober 2007, namun terjadi peningkatan/inflasi kembali pada dua komponen, hingga kini telah mencapai inflasi pada level yang sama saat menjelang status Awas tanggal 16 Oktober 2007.

:( “Wah pakdhe, jadi gunung itu sepertinya juga bernafas, tersengal-sengal mau batuk-batuk ya Pakdhe ?”
:D “Ya begitulah pengamatan gunung api itu thole. Nanti kalau sudah muntah-muntah trus glegek-en biasane trus kalem soalnya udah lega”

Selain pengamatan diatas juga ada pengamatan visual dengan menggunakan kamera. Tentusaja saat ini mungkin sudah lebih canggih dengan adanya kamera digital dengan transmisi lewat gelombang radio. Sehingga kalau tampak adanya awal-awal letusan dari kawah akan dapat dipantau dengan baik. Namun hal ini akan sangat tergantung juga deangan cuaca, kabut, hujan dsb.

Selain pemantauan kondisi gunung juga perlu dilakukan pengamatan cuaca, arah angin serta kondisi kelembaban. KArena semua ini akan sangat berpengaruh kemana arah letusan. Dan seandainya terjadi awan panas harus mampu kemana harus menghindar. Nah kalau ada yang masih ragu atau menginginkan info terbaru lainnya dapat menghubungi Pos Pengamatan G. Kelut di Kampung Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri (Telp. 0342-804400) atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung (022-7272606). Tapi jangan digangguin telepon yang tidak penting. Kasihan mereka ini pahlawan-pahlwan yang harus berjuang menunggu Gunung-api.

Menurut rekan-rekan PVMBG yang menjadi tantangan adalah

Karena waktu terjadinya letusan tidak dapat ditentukan secara pasti, maka akan menyebabkan ketidakpastian berapa lama masyarakat akan berada di tempat pengungsian. Hal ini akan menimbulkan kejenuhan bagi para pengungsi, kelelahan serta kejenuhan bagi para pihak yang melakukan penanganan bencana dan memerlukan biaya yang sulit diduga.

SALAM WASPADA

Referensi : Laporan Gunung Kelud PVMBG

About these ads

24 Tanggapan

  1. […] Memonitor polah tingkah Gunung Kelud yg sedang kritis […]

  2. […] Memonitor polah tingkah Gunung Kelud yg sedang kritis […]

  3. i love this, thanks

  4. KAMI MOHON BATUAN, TANGGAL DAN BULAN APA GUNUNG KELUT YANG MELETUS 1951

  5. pak roky.
    apakah untuk gunung merapi yogya, bisa diberikan di publish juga informasi perkembangan time-by-time in grafik or tabel seperti yang saya lihat pada dua gambar diatas…

    informasi nya bisa berupa:
    arah angin vs time/date
    kekentalan debu vs time/date
    kandungan2 lahar/larve vs time/date
    suhu di puncak/permukaan gunung vs time.date
    perkembangan volume magme dalam time/date

    dstnya

  6. [...] Pemikiran ini didasarkan pada tidak dijumpai aktifitas magma sebelumnya. Salah satu gejala aktifitas magma adalah gempa-gempa volkanik sebelum terjadinya letusan. Lihat gejala aktifitas magma di Gunung Kelud disini : “Memonitor polah tingkah Gunung Kelud yg sedang kritis“ [...]

  7. pakdhe saya mau minta info hari, tanggal dan bulan pada waktu gunung kelud meletus pada tahun 1951…terimakasih

  8. Pakdhe,,, kok danaunya bisa panas mendadak gtu?

  9. waaahhh ttteeerrrnnnyyaattaa sseerreemm jjuuggaa yyaa

  10. pak rovicky minta artikel tentang cekungan borobudur donk.dikirim ke email ya…

  11. Pak Dhe,
    Saya tinggal di Cirebon,misalkan g.kelud meletus bagaimana dengan keadaan g.Ciremai?klo ngga salah g.ciremai juga termasuk katagori gunung berapi?
    apa semua gunung berapi saling bersinggungan jikalau ada salah satu diantaranya yang meletus pasti yang lainnya batuk-batuk juga….
    mohon penjelasannya

    Matur nuwun,selamat bekerja..

  12. Kabupaten Kediri (Telp. 0342-804400)

    kode 0342, kodenya blitar, kalo kediri 0354

  13. untuk pak Paijo.

    Nuwun sewu saya numpang ngomong.

    Masalah memperkirakan kapan meletus nya .. ini sebetulnya sama dengan “masalah”nya dokter.

    Dengan gejala gejala sience nya .. para vulkanolog “bisa” memperhitungkan, tapi tidak wajib.
    Nah kemudian .. para pejabat pemerintahan .. yang berkewajiban mmpersiapkan respon bencana tentunya akan tanya “kapan ?” .. lha sang vulkanolog wong merasa pengabdi .. ya njawab .. “mbenjang jemuah legi den”.

    Nah kemudian .. prosedur (pemerintahan)memang mewajibkan sang pejabat memperingatkan bahkan sampai mengungsikan penduduk.

    Lha .. ewo dene gak njebluk seperti yang di perhitungkan .. ya itu kersaning Gusti Allah SWT.

    saya bukan orang pemerintah, apalagi pejabat, saya hanya mencoba melihat dari sisi mereka .. ya memang mreka pada kasus ini serba salah … dan mungkin untuk itulah mreka di gaji besar :)

    salam
    -bino-
    (mohon koreksi kalau ada yang salah)

  14. Mohon pencerahan.
    mengenai data vulkanologi di vsi.esdm.go.id

    1. Apakah data data tersebut “real time” ?
    2. Bolehkah kita ikut memelototi data data tersebut ?
    3. Bagaimana cara memelototi nya secara online (melalui internet)?
    Note : banyak sekali data data di indonesia ini yang seharus nya bisa di publikasi langsung di internet.

    salam
    -bino-

  15. “Berawal dari krisis ya?”

  16. Pak dhe,
    Yang saya agak sesalkan itu sebenare kok berani–beraninya pejabat menetukan kapan gunung kelud meletus,sbb dulu sempat ada berita(ini ndak tahu apa pejabatnya bener ngomong gitu atau wartawan yang melebih-lebihkan)bahwa gunug kelud akan meletus 4 hari lagi laiyo kok yo PD gitu loh,walaupun memang data udah luengkap mbok yao ojo ndikiki kerso po’o
    terus lucu lagi Ical sempat memberikan statemen “Gunung Kelud Pasti Meletus” iki lebih parah maning,lah iyo mbok yao ngasih kepastian kapan korban lapindo di lunasi.Iki iso wae lek Gunung kelud niku ngredumel, laiyo wong aku sing kate mledos wae ngenteni “perintah” tekan bos ku kok cek wani-wanine menungso mastikan mledug e.
    lah saiki kan Gusti Allah kuwi isoae ngelengake pejabat-pejabat kuwi supoyo ojo ndikiki kerso mbok,kasus seperti ngene niki kan udah 2x kan pak dhe. Merapi waktu statuse di turunkan loh kok moro-moro njeblug nah iso wae perkoro wong-wong rodo sombong kasus kuwi terulang maneh neng kelud.
    Pak Dhe Punya data Semeru ndak,Saya baca koran hari ini, kemarin semeru tiba-tiba mledug dengan suara keras loh.

  17. @atas…
    Ya tapi kita tetep harus selalu berusaha mendeteksi. Masa yang mau meletus gunungnya, yang diliatin hewan melulu?

    Aneh kan?

    Btw, emang ada ya tulisan pakDhe yang menafikkan kemampuan hewan “mendeteksi” kejadian?

  18. Tampaknya teknologi baru mampu menjelaskan kenapa suatu hal terjadi, tapi BELUM mampu jelaskan KAPAN terjadi. Malah naluri binatang2 yg menjauh dari wilayah bencana, sdh teruji kepastiannya, lha wong ciptaan Tuhan. Kenapa ilmuwan msh juga menafikan kenyataan itu, bersikeras pd mitos bhw teknologi adalah yg paling benar? Coba ilmuwan lbh bersikap terbuka. Gak rugi koq…

  19. pak de bisa diulas mengenai ini

    “Mengintip Energi di Barat Toba : Isu bencana super-volcano”

    Bayangkan, sebuah gunung api super (super-volcano) akan meletus
    tepat dari dasar Danau Toba, seperti yang diungkapkan Ray Cas,
    profesor dari Monash University?s School of Geosciences, Australia,
    pekan lalu. Kali ini, efeknya tidak lagi hanya menyemburkan tsunami,
    tetapi hingga mengacaukan iklim global…

    sumber: http://www.tempointeractive.com

    terimakasih

  20. Yang membuat letusan dahsyat di gunug kelud ini adalah air dananu yang terpanaskan secara mendadak karena berhubungan dengan magma. Untuk menghindari ini maka dibuat terowongan untuk mengurangi air danau. Cara ini pernah dilakukan dan mengurangi jumlah air danau. dibawah ini aku berikan dari Kompas bbrapa waktu lalu :

    Senin, 15 Oktober 2007
    MITIGASI BENCANA
    Merekayasa Gunung Kelud
    Nasru Alam Aziz

    Sepanjang sejarahnya, Gunung Kelud sudah meletus lebih dari 30 kali. Letusan yang tercatat mulai tahun 1000 hingga 1990. Saat ini Gunung Kelud kembali menunjukkan peningkatan aktivitas, dan sudah berstatus siaga sejak 29 September 2007.

    Sejak tahun 1300, periode letusan terjadi antara 9 dan 75 tahun. Sepanjang abad lalu saja terjadi lima letusan, yakni tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990.

    Pada letusan terakhir, 10 Februari 1990, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah, melalui 11 sungai di sekeliling gunung.

    Gunung Kelud (1.731 meter di atas permukaan laut atau sekitar 1.650 meter di atas permukiman padat penduduk) adalah gunung api strato aktif, yang di puncaknya terdapat danau kawah.

    Pemerintah kolonial Belanda baru membangun dam di sepanjang Sungai Badak tahun 1905 untuk mengalihkan aliran lahar dari permukiman di sekitar Blitar. Saat letusan tahun 1919, dam itu ternyata tak cukup efektif karena ikut tersapu lahar. Dalam tempo kurang dari satu jam, aliran lahar sudah menjangkau 38 km, merusak lebih dari 15.000 hektar lahan pertanian dan ratusan desa, serta menewaskan 5.160 penduduk.

    Sejak letusan yang sangat dramatis itu, tahun 1919 mulai dibangun terowongan untuk mengendalikan air danau kawah. Saat penggalian terowongan sepanjang 955 meter itu, permukaan danau kawah masih kering. Namun, karena suhu kawah sangat tinggi (berkisar 46 derajat Celsius), terowongan belum juga rampung hingga tahun 1923, dan danau kawah sudah kembali terisi air hingga 22 juta kubik.

    Akhirnya diputuskan membuat tujuh terowongan paralel di bawahnya untuk menurunkan permukaan air danau. Terowongan itu selesai tahun 1926 dan berhasil menurunkan volume air danau kawah hingga kurang dari 2 juta kubik.

    Setelah letusan tahun 1966, sebuah terowongan baru dibangun 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.

    “Pada letusan tahun 1990 terowongan tertutup material vulkanik. Pencarian mulut terowongan yang tertimbun dimulai tahun 1991 dan baru ditemukan setahun kemudian. Proyek Terowongan Ampera selesai tahun 1994,” tutur Suhartono, pelaksana teknik Kegiatan Pengendalian Lahar Gunung Kelud. Instansi ini berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai Brantas, Departemen Pekerjaan Umum.

    Di atas terowongan-terowongan itu juga ada Terowongan Ganesha, yang berfungsi sebagai jalur inspeksi ke danau kawah. Terowongan sepanjang 150 meter ini bisa dilalui mobil.

    Jika Gunung Kelud meletus kembali, diperkirakan akan memuntahkan 57 juta kubik lahar panas dan lahar dingin. Departemen PU telah menyiapkan 11 kantong lahar dan 135 cekdam dengan daya tampung 21,3 juta kubik. Saat ini sedang dibangun lima cekdam lagi dengan daya tampung 3,3 juta kubik.((*))

    Sumber: kompas

  21. pak dhe, seorang temen kmrn bikin usulan nyleneh “kenapa gunung ga’ di bor aja badannya biar letusannya ga’ dahsyat, logikanya kalo ada banyak jalan kan tenaganya ga’ gedhe”
    saya yg ga’ tau cuma bilang “aq tanyain pk dhe dulu ya” hehehe… gimana tuh pak dhe??

  22. makasih mas rovicky

  23. Aa’ Rovicky, sebetulnya bagaimana sih sifat kaitan antar magma. Kadang aktifnya sebuah gunung berapi diikuti aktifnya gunung lain yang berdekatan, sehingga kita membayangkan ada peningkatan keaktifan nun jauh di bawah sana. Tapi kadang gunung yang lain malah tenang, seolah tekanan yang dilepas satu gunung mengurangi tekanan pada gunung lain. Cerita donk :)

  24. Aa’ Rovicky, sebetulnya bagaimana sih sifat kaitan antar magma. Kadang aktifnya sebuah gunung berapi diikuti aktifnya gunung lain yang berdekatan, sehingga kita membayangkan ada peningkatan keaktifan nun jauh di bawah sana. Tapi kadang gunung yang lain malah tenang, seolah tekanan yang dilepas satu gunung mengurangi tekanan pada gunung lain. Cerita donk :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.380 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: