Ribuan Gunung Ribuan Artefak : Prasejarah Gunung Seribu (Sewu)


http://gregoriusnekschot.nl/mans/media/sapiens.1.3_01.jpgSejarah untuk dipelajari bukan untuk dinilai benar salahnya. Itu yang sering aku ajarkan ke anak-anakku. Ketika mempelajari masalalu seringkali manusia cenderung memberikan nilai baik-buruk dan benar salah pada setiap tokoh-tokoh-nya. Ada pahlawan dan ada penjahat, dan “pembaca” dipaksa untuk berdiri pada satu sisi.

:) “Pakdhe, ibarat kalau nonton filem ngga ada tembak-tembakannya kan ngga seru Pakdhe”
:D “Haiyak, nanti jagoan-ne kalah dulu, trus penjahatnya mati dan akhirenya jagoan menang gitu ya le ? Lah pelakon sejarah ki mesti akhirnya mati, je. Trus sing menang sapa?”

Untunglah Geologi mempelajari sejarah masalalu bukan perilaku manusia, sehingga tidak”dipaksa” mengatakan baik buruk. Tapi masih juga ada yang menganggap bahwa gempa itu buruk, hujan itu baik, tapi kalau banjir maka si hujan jadi penjahat … we alaah kejadian alam wae kok ada yang baik buruk …

Kebetulan Pak Awang yang juga ahli geologi di BP Migas selalu tertarik dengan sejarah alam yang nyrempet-nyrempet manusia, misalnya jaman paleolitikum. Litho itu artinya batu, orang geologi mempelajari lithologi atau ilmu batu. Pak Awang selalu menyempatkan membuat tulisan menarik tentang peninggalan sejarah Pegunungan Seribu.

- :( “Pakdhe, Pak Awang ini japemethe bukan dhe ?”
+ :D “Kabeh yo japemethe tole”
:( “Haiyak Pakdhe niku , kabeh-kabeh kok jadi koncodewe”
+ :D “Whallah kowe kuwi kok seneng cari musuh tole?”

gk1.jpgPak Awang menuliskan dibawah ini :

Sebuah buku baru (2007) tentang geologi dan arkeologi bisa dilihat di toko-toko buku besar. Buku ini berjudul, “Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu : Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur”, diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) yang bekerja sama dengan banyak lembaga : Ecole Francaise de’Extreme-Orient, Institut de Recherche pour le Developpement, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas), dan Forum Jakarta-Paris. Buat rekan-rekan yang kemarin ini (mid-Juni 2007) sempat ke pameran buku selama seminggu di Istora Senayan, beruntunglah karena buku ini dijual dengan harga discount yang lumayan. Buku ini semula adalah disertasi doktor Hubert Forestier dari Museum National d’Histoire Naturelle, Paris yang mengajukan disertasinya pada tahun 1998 di Paris. Buku diterjemahkan oleh tiga orang dan disunting oleh Prof. Dr. Truman Simanjuntak, ahli arkeologi terkenal dari Puslitbang Arkenas.

Dalam pengamatan saya, tahun-tahun belakangan ini buku-buku populer maupun teknis tentang kepurbakalaan Indonesia masuk ke toko-toko buku umum. Sebelum ini, ada Prasejarah Asia Tenggara (Belwood, 2004), buku bagus dan sangat lengkap – patut menjadi referensi-tentang kepurbakalaan Indonesia dan sekitarnya, lalu ada “Prasejarah Gunung Sewu” (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2004) yang memuat puluhan artikel hasil penelitian arkeologi di Gunung Sewu, disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. Lalu, tahun lalu pun ada “Arcahaeology, Indonesian Perspective : R.P. Soejono Festschrift” (LIPI dan International Center for Prehistoric and Austronesian Studies, 2006) yang memuat 45 paper penelitian arkeologi di Indonesia (ada tiga artikel geologi di dalamnya). Buku ini pun disunting oleh Prof. Truman Simanjuntak dkk. “Festschrift” (jerman) adalah mélange dalam bahasa Prancis, atau bancuh dalam bahasa Indonesia alias bunga rampai atau anthology – kumpulan tulisan macam-macam.

Buku-buku tentang prasejarah Cekungan Bandung hasil penelitian KRCB (Kelompok Riset Cekungan Bandung –Budi Brahmantyo, T. Bachtiar dkk.) juga bisa ditemukan di Gramedia Bandung (kalau masih ada). Menggembirakan, buku-buku kebumian sudah masuk ke toko-toko buku umum. Hanya, bidang arkeologi kelihatannya lebih agresif dibandingkan bidang geologi.

gk3.jpgCatetane Pakdhe : Disebelah kanan ini disebut sebagai kolom stratigrafi. Atau kolom urut-urutan batuan dari bawah keatas. Yang bawah lebih tua dari yang atas. Sehingga bisa diketahui perkembangannya dari yang tua ke yang muda.

Perubahan yang diamati antara lain bentuk alat-alat batunya. Kemudian diinterpretasikan bagaimana cara memakainya dan akhirnya bisa diperkirakan cara hidupnya.

Material batu yang dipakai sebagai alat-alat inilah yang menarik para geolog. Sepertinya jam an dulu itu sudah ada geologist di jawa :D

Kembali ke buku Prasejarah Song (Gua) Keplek, Gunung Sewu (Forestier, 1998, 2007), ini adalah buku yang bagus dan komprehensif walaupun teknis. Meskipun wilayah penelitiannya lebih kepada industri litik Song Keplek termasuk analisis detail tipologis ribuan alat batu yang ditemukan di gua ini, cukup banyak keterangan tentang tatanan geologi dan arkeologi Gunung Sewu secara umum. Gunung Sewu adalah salah satu “taman firdaus” prasejarah Indonesia.

gk4.jpg“Bahan alat-alat serpih ini semestinya berasal dari Pegunungan Selatan”, demikian kurang lebih kata-kata salah seorang perintis penelitian arkeologi Indonesia G.H.R. von Koenigswald ketika dia menemukan artefak serpih di Bukit Ngebung, Sangiran pada tahun 1934. Setahun kemudian, Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie dari museum Raffles di Singapura mengunjungi wilayah Punung, Pegunungan Selatan, dan di situlah taman firdaus situs arkeologi paleolitik yang sangat kaya baru terbuka : Kali Baksoko. Betapa senangnya Koenigswald kala itu, konon kabarnya sampai ia menggelar pertunjukan wayang tujuh hari tujuh malam untuk masyarakat Punung. Kala itu, 3000 artefak telah berhasil ditemukan dari wilayah Punung. Dan lebih dari 70 tahun kemudian sampai sekarang melalui berbagai penelitian arkeologi yang intensif kita menjadi tahu bahwa wilayah Gunung Sewu adalah suatu wilayah kompleks hunian prasejarah yang sangat luas, intensif, dan berkesinambungan dalam rentang Plistosen-Holosen.

Proses adaptasi terhadap lingkungan dan pengaruh luar telah menciptakan dinamika budaya yang berkembang, mulai dari yang bercorak paleolitik, mesolitik-preneolitik, neolitik, sampai paleometalik pada masa prasejarah. Manusia datang ke wilayah ini dan mendiami lembah-lembah sempit di antara perbukitan karst yang membentuk gua-gua dan daerah aliran sungai seperti Lembah Sungai Baksoko. Ketersediaan berbagai sumberdaya, seperti batuan yang baik untuk perkakas, air, fauna, dan flora di lingkungan sekitarnya menjadi penopang kehidupan berkelanjutan dalam rentang ratusan ribu-jutaan tahun.

Catetane Pakdhe : Alat-alat ini dipakai untuk kebutuhan hidup jaman itu. Tentunya tidak alat transportasi, semua alat merupakan alat berburu mencari makan. Pada saat itu kebutuhan makanan masih dipenuhi dengan cara berburu. belum ada kebudayaan cocok-tanam. Cocok tanam berkembang ketika binatang buruan semakin sulit dicari. Dan itu terjadi jauuuh setelah masa Paleolithicum.

gk2.jpgGunung Sewu dikenal sebagai tempat yang secara geologi dan geografi terpisah dari bagian Pulau Jawa lainnya. Daerah ini terjal dan memanjang antara Parangtritis dan Pacitan. Di tengah-tengah iklim yang cukup kering sepanjang tahun, relief bukit-bukit kapur yang bentuknya tidak seragam dan menghadap ke Lautan Hindia menyediakan banyak gua, aliran sungai serta rijang. Rijang berkualitas baik ini dipakai manusia prasejarah untuk membuat berbagai perkakas yang diperlukan. Gunung Sewu adalah tempat ideal bagi hunian masa lalu, bukit-bukitnya sangat sering didatangi oleh manusia prasejarah dari periode manapun. Alat-alat bifasial, kapak, dan aneka ragam alat padat merupakan karya dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Homo erectus, sebagai pembawa ketrampilan teknis dan kebudayaan Acheulean (Acheulean = sekuen kebudayaan Paleolitik Bawah yang dicirikan oleh perkakas kapak genggam dan kapak pembelah).

Benda-benda padat Acheulean yang juga ditemukan orang di Eropa, Afrika, negara-negara Iran-Irak, India, Nepal dan Cina lalu Indonesia menunjukkan bukti kedatangan Homo erectus setelah perjalanan jauh yang dimulai sedikit kurang dari dua juta tahun yang lalu dari daratan Afrika (“out of Africa” theory). Dan, justru di alur Sungai Baksoko, yang terletak tidak jauh dari kota Pacitan inilah perkakas Acheulean ini ditemukan. Situs ini kemudian menjadi sangat terkenal di dunia arkeologi dan memberikan nama pada salah satu kebudayaan Paleolitik Bawah yang termasyur : kebudayaan Pacitanian.

:( “Pakdhe, itu Pak SBY termasuk Pacitanensis ya ?”
:D “Hust !”

Dan itu ada di Pacitan, Jawa, tak jauh dari kita. Semoga kita mengenal dan menghargai situs-situs penting buat dunia ini. Buku-buku arkeologi yang belakangan banyak diterbitkan sangat membantu pengenalan akan hal itu.

About these ads

65 Tanggapan

  1. Pakdhe … matur nuwun ceritanya… mengisi episode yang masih gelap antara zamannya Meganthropus paleojavanicus sampai ke zaman-zaman pembangunan candi-candi…

    Jawa ini memang menyimpan banyak misteri… bahkan kenapa sampai pulau Hawaii itu asalnya bernama Java Iki (jawa kecil) dengan ibukota Honolulu… apa ada hubungannya dengan Honocoroko…
    Bahasa bangsa Maori di New Zealand juga ada pengaruh linguistik Jawa. Misalnya dalam hitungan: 3 = toru, 4 = fa , 5= rimo, 6 = ono, 7 = fitu, 8 = woru…

    Sampai ke bangsa Madagaskar di ujung barat Lautan Hindia, pengaruh linguistiknya juga ada. Saya pernah ketemu orang Madagaskar, dan persis sama orang jawa posturnya dan unggah ungguhnya. bahasa mereka: segarai = laut = segara(Jawa), krambi = kelapa = kerambil (Jawa).

  2. trus, pas terbentuknya itu airnya pada kemana pakdhe??
    tsunami dong?? daratan klelep pakdhe?? :D

    –> Terbentuknya kan selama jutaan tahun. Jadi tidak terasa. Umur satu manusia tidak mampu mendeteksinya.

  3. ada dua gunung yang unik.. selain gunung sewu…… yaitu gunung kembar.. wkwkwkwkwk

  4. gambar,ny cuman satu jaddi ghag seru

  5. keren pakdhe…mau memberikan sedikit koreksi “untuk peta yang bawah, ada kesalahan penempatan label…jadi gunung lawu dinamai merapi merbabu. label gunung sewu itu di atas gunung sewu pacitan. pantai di wonogiri dinamai parangtritis. agaknya terjadi pergeseran label pakdhe”…btw, mau tanya gunung sewu yang di pacitan jenis apa? kok bentuknya bedha ma yang di gunungkidul&wonogiri?

  6. tolong bagi pemerintah,, tolonh dilindungi hasil” sejarah yang lalu,jangan pada di jual,, kasian anak cucu kita mendatang… jgn cuma iya” saja klo rakyat bicara…. imbasnya keluarga anda yg kene baru tau rasa… makasih..

  7. zaman prasejarah itu perlu kita ketahui,agar kita dapat menambah wawasan,dan pengetahuan.sy senang dngan crita di buku geologi dan arkeologi,itu mmbuat sya tahu,zaman2 prasejara mskpun hanya sedikit,tp sya senang sebab mnmbah pngetahuan saya.is vey good…..

  8. Asal usul nama Buwono Keling, adalah prajurit majapahit yang kemudian masuk Islam dan berdakwah di Pacitan. Dan kemarin saya sempat ziarah di Makam Ki Ageng Buwana Keling. Ini yang kemudian berdiri tidak jauh dari Sungai Baksoka suatu Museum Pra Sejarah Buwono Keling, yang mengangkat branding : Pacitan sebagai Ibukota Prasejarah Dunia dengan ikon Budaya Pacitanian..

  9. sangat mengagumi dongeng ini n smoga artefak nie bsa ter jaga…,,,,,

  10. Untuk artikel ” Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu, Prasejarah Song Keplek : Gunung Seribu Jawa Timur ” saya senang dengan buku tersebut, dan menjadi salah satu referensi untuk Tesis yang saya buat. Judul penelitian saya adalah “Pemanfaatan Museum Prasejarah Buono Keling Sebagai Sumber Belajar Sejarah” ( Studi Kasus pada Siswa di SMA Negeri Kabupaten Pacitan ). Dengan buku itu, saya lebih banyak mendapatkan beberapa deskripsi tentang artefak di Punung Pacitan. Terima Kasih.

  11. besok2 kalo tulis tentang sejarah yang lengkap ya..
    oya.. jangan lupa fotonya yang banyak ..

  12. waduh…
    saya kok ndak ngerti ya artinya yang di bahasa jawakan…
    hehe…
    sepertinya lucu tapi gak tau maksudnya jadi gak bisa ikut tertawa…
    hanya cengengesan saja…
    hatur nuwun…

  13. buat gambar-gambar yang lain donk!!!

  14. wwwwwwwwwwwwwaaaaaahhhhhhhh,,,,,,!!!!
    Baaaaagggussss Sangaddddd…..

  15. pak dhe..
    aku ju9a mau tau tentan9 kawasan karst pegunungan sewu…
    sejarah terbentuknya goa, kawasan karst terbentuknya 9imana, dsb
    trims

  16. pakdhe,minta tolong donk.ada tugas tentang potensi ekokarst di kab tulungagung dan trenggalek nih.tolong ya pakde…kl obs segera nggih.matur nuwun

  17. pakdhe……………!!!!!!!!!!!

    besok-besok kalau mau nulis tentang zaman sejarah yang lengkap dhoooooong………..!!!!!!!!!!!!!!

    gue kan jadi susah nyarinya………..????????????????

    mohon segera di tanggapi okre!!!!!!!!!!!!!!!!

  18. tujukkin tentang prasejarah di mana aja untuk tugas

  19. ponorogo kebanyakan yang ditemukan tulang harimau karena digunakan untuk buat reog terutama di daerah slahung sama ngebel >>>

  20. ehmm pakdhe, minta tulung donk buat tugas saya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan…. “Klasifikasi bentuk geologis dari jaman Paleolitikum, Mesolitikum, en Neolitikum”… Pakdhe adalah harapan saya untuk bisa memperbaiki nilai!

    Betewe, di jaman batu, ada yang mirip Mas Afgan gag? Kayaknya kok muka manusianya satu tipe semua(dengan stereotype brewok dan bugil)

    Chooffy
    Bentuk bentuk geologis atau morfologi pada jaman Paleolithicum, Meso lithicum dan Neolithicum bagi orang geologi ya sama-saja atau mirip-mirip saja. Yang mungkin berbeda adalah iklim pada saat itu
    Palaeolithic itu kira-kira 300 000 tahun lalu. Kalau menurut geologist yang umur batunya bisa sampai puluhan juta, maka jaman paleolithic itu baru kemarin sore, atau malah masih tadi pagi :)
    Kalau mau ya coba baca artikel wiki ini

    http://en.wikipedia.org/wiki/Paleolithic#Paleogeography_and_climate

    Moga-moga nilainya ngga brewokan lagi :P

  21. oi coy coy yang lg buat tugas dan yang terbitkan dongeng geologi untuk yang laen kali nya keluarin dong informasi yang lbih banyak biar tugas ku tambah beres……..**

  22. terimakasih untuk dongeng geologi karena telah membantu saya menyelesaikan tugas saya.dan senang untuk berkenalan dengan teman-teman dongeng bgeologi…see u …..

  23. siapa tahu pegunungan sewu yang kering tersimpan harta didalamnya biar rakyaknya jadi lebuh makmur

  24. Pakdhe saya mau nambah dikit nih infonya
    daerah pegunungan sewu sudah dicanangkan sebagai Kawasan Ekokarst Pegunungan Sewu
    dan dari Badan Geologi sedang membangun Museum Karst Indonesia di daerah Pracimantoro, Wonogiri
    Insya Allah tahun 2009 sudah bisa dibuka untuk umum.
    Monggo Pinarak!!!

  25. pak de ada nga web yang membahas tentang masalah ini dan oh ya apa benar manusia itu berasal dari kera seperti teorinya darwin

  26. wah buagus banget yah

  27. Pak De,Pak De… ! Lek Ngono ManusiaPra sejarah itu sakti-sakti ya, wong dia tidak pakai baju, hanya dengan batu bisa bertahan hidup dan ber pinak cucu kayak kita.
    Pada hal orang sekarang lebih lengkap, tapi kok Ngersulo …. apa dhak hebat!!!!!

  28. kalu ada gambar zaman batu ada keterangannya yaaaaaaa biar yang cari ga repooot OK

  29. Tak Acungi JempolPak Dhe, Salut terhadap cara ngajar nya, tentu anak-anaklebih tertarik dengan cara gini !

    Tak doain sukses, nanti tak tiru !!!!!

  30. wah. .pakdhe, ,aku sakjane kebagian maping di sini juga, ,tapi terus diganti di purworejo. .kira2 “menantang” jg ga ya. .

  31. keren jg…

  32. ggjhgkjygyuruyturgkjhkyguhlrughjgrkjughrihglhkjhurhukjhgjrhuhuh

  33. ak baru aja ikut posa,ternyata situs-situs arkeologidi indonesia itu ga kalah menarik ama yang ada di mesir.
    heeeheeheeee

  34. bagussssssssssssssssssssssssssssssssss!!!!!!!!!!!!!!

  35. Pakdhe Rovicky yang pinter memberikan pencerahan, kira2 dari sejarah arkeologis Indonesia, yang paling tua kebudayaan mana ya ? Kira2 hasil penelitian doktoralnya Orang prancis di atas cukup akurat kah ?

    Soalnya kalo di tataran kehidupan alam, orang2 pacitan itu cukup luwes dan mengerti ttg alam (musim dll).

    Kalo di level sosial, malah sampe ada istilah, orang pacitan itu “Awu”ne lebih tua. Itu kata orang2 di sekitar saya.

    Btw, kalo suatu saat jalan2 ke pacitan, boleh dong mampir di rumah saya. Dari Punung (Baksoko) masih ke timur lagi. Tepatnya Ds. Losari, Kec Tulakan.
    Palagi kalo saya pas di rumah.

    Banyak gua yang belom tereksplore.

    —-
    Mukhlason, belum belajar Geologi, tp baru aeronotik.

  36. ass.pa de q mo tanya nih mank di daerah gunung sewu da pa ja sih?yang berkaitan dengan ilmu geologi,lebih tepatnya di daerah mananya?coz q butuh bwt referensi lokasi PKL nih,sukron b4 yupz^–^

  37. wah lucu banget komennya

    kalo sama alatnya berarti dulunya orang-orang jaman dahulu masih temanan ya.

    trus kok sama persis alatnya padahal nun jauh disana. padahal sekarang orang indonesia masih belum bisa buat bom nuklir dewe, lho…

    berarti ada kemunduran tehnologi ya pak de

  38. aduh, ada yang bisa nolong nggak, saya harus nyari artikel tentang artefak , tapi kira2 di mana ya? soalnya ga ada yang asik buat di kumpulin!!

  39. Memang pakdhe daerah Gunung Sewu sangat kaya akan tinggalan arkeologis. Tidak hanya di daerah Pacitan saja, daerah Wonogiri dan Gunung Kidul yang ada di sebelah barat Pacitan juga kaya akan tinggalan arkeologis dari masa prasejarah. Sehingga daerah Gunung Sewu (Pacitan, Wonogiri, dan Gunung Kudul) dikatakan sebagai kawasan arkeologis yang cukup potensial. Hingga saat ini penelitian untuk mengungkap prasejarah di kawasan tersebut masih terus berlangsung. Namun sayangnya kendala terbesar yang dihadapi adalah kerusakan ekologi seiring dengan eksploitasi manusia modern, seperti penambangan fosfat dan batu kapur di gua-gua yang memiliki kandungan arkeologis. Bisa jadi penelitian arkeologi kalah sama penambangan yang bernilai ekonomi semata. Ini fakta ada di kawasan Gunung Sewu saat ini.

  40. weeh menarik juga ky nya neeh….

    aku mau tanya bwat admin nya nii..
    kalau dilihat dari tipe batu budaya pacitanian maupun yang baru-baru seperti budaya sampung dsb…
    kayanya ada kemiripan dengan alat batu yang di australi seperti tula, tjurunga, pirri, burren, eloeura dsb. sy bingung apa memang ada hubungan diantara keduanya???

  41. heheh, Pakde DIpacitan ada Masjid Tiban, di Desa Tanjung Pura Kec. Ngadiraja, konong dahulu masjid tersebut berada di tengah lautan, pendiri masjid konon adalah sunan Geseng, waktu dahulu sebelum 90 an atap masjid terbuat dari ijuk yang sudah berumur ratusan tahu, ceritanya tiap musim arah kubah ( puncak kubah selalu berbeda ) terpengaruh angin manson. Sejarah pacitanian, ada juga ki Ageng Petung, klau pakde ada cerita lain boleh dong. Ada lagi gua gong yang katanya waktu Nyi Roro Jongrang Mantu di tabuh.

  42. tolong dong apa yang dimaksud artefak dan macamnya???

  43. thx bratzz pakdhe udah bikin artikel tentang ini. coz aku butuh banget buat tugas zaman prasejarah gitchu deCh!!thx bratZZ yo!!

  44. Ooo gitu ya pakdhe tibake sedulur Pacitan dah punya sejarah yg puanjang, saya koq lagi ngerti stlh pakdhe ndongeng. Makanya orang2 Pacitan banyak yg pinter2 mulai dr bupati gubenur mentri sampek presiden kita yg hebat n murah senyum; jangan2 pakdhe juga keturunan orang Pacitan. Dongengan pakdhe amat disukai anak2 SMP sy kebetulan ngajar IPS/Geo di SMP 5 Ponorogo. Kapan pakdhe cerita situs di Guo Lowo Sampung Ponorogo.

  45. hayo……. hati-hati jangan maen2 ama pak SBY SSSSSSSSSSSSSSST

  46. Waktu kecil-ku digunungkidul, sering denger cerita waktu jaman OPK dan petrus, penjahat yg sudah dead banyak di buang ke lueng-2. Ada yang terbawa aliran sungai bawah tanah dan nongol di pantai selatan… Jangan-2 tulang yg ditemukan dalam goa, tulang beluluang para eks Gali dan Penjahat…

  47. saya punya temen, dia punya artefak berupa batu bertulis ditemukan dipinggir kali. dan batu itu malah buat pondasi rumah. hurufnya kayaknya kuno banget. sayang ga ada gambarnya (foto) http://sajira-sajira-somang.blogspot.com/ ini alamat untuk infonya.

  48. menurut oom harun yahya, jaman batu itu ndak ada… gimana pakde? linknya di http://www.thestoneage.org/

  49. pak dhe apakah di daerah pegunungan sewu dapat ditemukan kandungan emasnya, gimana pak dhe???

  50. Pakdhe, kalo yang daerah Pacitan ke timur (Trenggalek – Tulungagung – Blitar – dst) masih masuk zone Pegunungan Sewu mboten? Masuk klasifikasi zone nopo nggih?

    Matur nuwun

  51. Mas Bumisegoro, diGunung kidul bagian selatan,dekat Rongkop, ada desa yang namanya Dadap “Ayu “dan Goa Song “Putri”. Mungkin Geolog atau sejarahwan dapat menjelaskan makna nama itu yang berkaitan dengan sifat KEWANITAAN nama tersebut dan barangkali juga ada hubungannya dengan legenda yang ada.

  52. adakah geolog kita yang secara ilmiah berhasil menguatkan legenda-gelenda seperti di atas?

  53. Whadduh
    MazTegh asal-usule Slahung ya ? Aku ini dulu pas penelitian geologiku memetakan daerah Bungkal-Ngrayun-Slahung … Kira-kira tahun 1986-1987 aku nginep beberapa minggu di tempat Pak Lurah Bungkal.
    Tiap pagi aku brangkat naik speda motor ke atas trus jalan kaki kluar masuk kali blasakan ….
    Kalau ke Ngrayun (diatas) senengnya duduk di pinggir tebing menghadap ke utara menikmati pemandangan ke arah Ponorogo ….. :D

  54. Kebudayaan Pacitanian…..?
    wah cedak banget karo asal usule mbahku, Kec. Slahung, Ponorogo. Mungkin mbahku dulu pernah ketemu dg homo erectus yg out of africa itu ya…hehehe… :) terus diskusi gimana caranya bikin reog…

    Kenapa ya Pak Dhe, kebanyakan artefak2 dan fosil2 itu ditemukan di skitar pegunungan? banyak goanya kali ya… Ada gak ya, yg ditemukan di lembah2, atau dataran/padang? spt Ponorogo, hehehe…

  55. Pak . pernah tak anda mendengar cerita orang bahawa di gunung ada puteri, kadang-kadang mereka dakwa kita boleh dapatkan emas disana. Kalau tentang artefek ini perkara biasa,memang boleh diperolehi disana. Yang pasti memang disana banyak jin bertendang .Saya heran juga dizaman it ini masih ada orang berfikiran begitu.

  56. weleh lengkap banget kang ..!! sip buat nambah imluku

  57. waduh berarti orang jaman dulu yg kukunya panjang2 bwat kukur kukur kali yah kalo pas gatel digit nyamuk hehehe…..pasukan wanita yah ompapang waduh pasti perkasa yah…..

  58. Wadduh repot banget manusia zaman dulu, potong kuku dan rambut menggunakan batu artefak. Tapi gara-gara rambut dan kuku memanjang terus, pikiran manusia terus berkembang sehingga dapat menciptakan alat potong rambut yang modern.

    Kalau rambut dan kuku manusia enggak tumbuh memanjang terus menerus ya seperti kera, enggak perlu mikir membuat batu artefak untuk motong rambut yang banyak kutu dan ketombe.

  59. Pak Dhe, menurut legenda perang Pajang dan Mataram (Sultan Hadiwijaya vs Panembahan Senopati ), Panembahan Senopati dapat menang karena dibantu Kanjeng Ratu Kidul dengan prajuritnya yang semuanya wanita. Walaupun akhirnya menang,namun dalam perang membela Mataram tersebut, sebanyak 500 orang prajurit Kanjeng Ratu Kidul telah gugur dalam perang melawan prajurit Pajang dan 500 JENAZAH PRAJURIT WANITA tersebut berserakan dimedan pertempuran dilokasi mana sekarang disebut PEGUNUNGAN SEWU. Jadi menurut legenda, Pegunungan Sewu dibentuk dari 500 jenazah prajurit wanita, pasukan Kanjeng ratu Kidul.

  60. Gatot,
    Duluuu sekali ketika jaman prasejarah paleolithikum ini manusia belum mikir cocok tanam. Merka masih berburu binatang. Lah barangkali saja banyak binatang disana :)
    Sapa tau dulu disitu banyak kijang atau “trewelu” gemuk2 yang bisa dijadikan sasaran :P
    Lah, cara mbuktiiinya ya dicari apakah ada sisa-sisa tulang belulang juga di gua-gua ini.

  61. Duluuuuuu banget…! mungkin Gunung Sewu daerahe subur ijo royo2, gemah ripah loh jinawi

  62. Dataran kedu iku ndik endi seeh ?

  63. ayooooo mendongeng soal dataran kedu pakdhe

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.211 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: