India saja punya PLTN dan teknologi Nuklir


Sahabat netterku RIrawan barusaja balik dari India. Beliau dulu saya titipin untuk ngintip teknologi energi di India. Dan tulisan dibawah sana ini oleh-olehnya tentang Energi nuklir di India. Sebagai gambaran India ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 1.1 Milyar manusia, padahal luas tanah airnya total: 3,287,590 sq km ( terdiri atas daratan : 2,973,190 sq km lautan : 314,400 sq km). Ternyata India memang tidak hanya sekedar memproduksi film “nehi .. nehi “.

- :( “Dhe, ikonnya India kok masjid to dhe ?
+ :D “Itu bukan masjid, itu ikon Tajmahal, ingat pelajaran sejarah SD nggak. Islam dibawa ke Indonesia oleh pedagang-pedagang dari Gujarat ? Padahal di Gujarat yg letaknya di India utara ini sekarang muslimnya hanya 9%”

Lantas apa kata RIrawan soal energi nuklir India ini …
Energi di India.
Oleh: RIrawan

India pesat sekali membangun sumber-sumber energinya, sehingga data-data cepat sekali usang. Total daya terpasang terakhir dilaporkan 130 Gwe lebih, 75% dari batubara. Setiap 2 minggu 1 blok pembangkit listrik baru didirikan, terbanyak masih PLTU-batubara sehingga India tidak lama lagi bakal menjadi negara ke 3, setelah AS dan RRC, yang paling merusak atmosfir bumi dengan gas buang PLTU nya.

Topik energi di India ini pelik. India sama seperti RRC, pengembangan sumber energi dikedua negara itu ambisius. Mereka punya SDM, industri manufaktur dan konstruksi yang sangat banyak untuk melaksanakan pembangunan pembangkit listrik secara besar-besaran. Tetapi tokh order dari ke 2 negara itu bahkan memenuhi kapasitas pabrik-pabrik ternama di negara-negara maju. Uang mereka kini melimpah, sehingga nafsu belanja meningkat drastis, tetapi tokh rasionil, mengejar pencapaian target-target, terutama mengentaskan kemiskinan atau memakmurkan rakyatnya. (Ini memprihatinkan, di sana sibuk membangun dan tiap hari makin baik dan makin kaya, sedangkan kita di Indonesia masih berputar-putar mengurusi bencana-bencana yang tidak kunjung beres. Oh …).

Bhabha dibalik PLTN dan Bom Atom India.

PLTN dan isu nuklir di India selalu hot sejak dulu, dipacu kekuatiran dan persaingan lawan RRC dan musuh bebuyutannya Pakistan (belakangan jauh tertinggal karena kekacauan ekonomi, fanatisme dan terorisme). Maka India diam-diam melakukan riset tentang senjata atom di Bhabha Atomic Research Centre, meskipun resminya diumumkan sebagai riset teknologi Atom Untuk Perdamaian. Tanpa mencolok dan tanpa tanda-tanda minat pada tujuan militer, India berhasil membeli sebuah reaktor riset Cirus 40MWt dari Kanada, lalu mengekstrak plutonium sisa pembakaran dari reaktor riset Cirus itu. Hampir 20 tahun berkutat dengan riset siang malam, akhirnya plutonium itu dipakai untuk percobaan bom atom India pertama pada 18 Mei 1974 yang berkekuatan ledak 4-6 KT. Pemerintah India mengumumkannya sebagai sebuah “Ledakan Nuklir yang Penuh Damai”. Sesudah itu, 24 tahun India sepi dari berita tes bom atom. Tiba-tiba perdana menteri Vajpayee memerintahkan serangkaian percobaan peledakan atom yang dinamakan “Operasi Shakti”, yakni Shakti 1 (11 Mei 1998) hingga Shakti 5 (13 Mei 1998), gara-gara diprovokasi oleh peluncuran rudal-percobaan Ghauri oleh Pakistan tgl 6 April 1998.

Keberhasilan India memposisikan diri ke dalam jajaran negara bersenjata nuklir, menjadi negara pertama dari dunia ketiga yang membangun PLTN dan sekaligus sebagai negara dunia ketiga yang memiliki program nuklir terbesar, adalah berkat seorang ilmuwan fenomenal India, Dr H J Bhabha, yang memimpin dan merintis dunia ilmu dan program nuklir negara. Ia membangkitkan ambisi India atas nuklir, membawanya ke realitas di tanah India dan memperoleh segala prioritas utama dan dana besar dari negaranya. Semasa ia studi hingga meraih gelar doktor fisika di universitas Cambridge 1935 dan sebelum pulang ke India 1939, Bhabha sempat akrab dengan para fisikawan seperti Niels Bohr, James Franck, Enrico Fermi dll, yang di kemudian hari berperan besar dalam program persenjataan nuklir AS dan Inggris. Ia juga ikut aktif dalam penemuan dan pendalaman tentang fisi nuklir. Sohib kentalnya seregu dari uni Cambridge, W B Lewis, belakangan menjadi ketua Program Energi Nasional Kanada. Hubungan pribadi dengan Lewis inilah yang memungkinkan Bhabha memperoleh reaktor Cirus (heavy water) di tahun 1955 dari Kanada dengan panji tujuan riset damai untuk peningkatan kualitas hidup, namun kemudian selama puluhan tahun ditekuni oleh ahli-ahli India dan dipakai membuat plutonium untuk bom atom.

Di Bombay, Bhabha mendirikan institut riset ilmu-ilmu inti 19 Desember 1945. Ia mencanangkan visi nuklir India dan menekuninya selama 20 tahun hingga akhir hayatnya. Ia adalah perintis sejati dibalik keberhasilan nuklir India, baik pada pembangunan PLTN India maupun penciptaan bom atom India kelak. Ini sekilas mirip dengan mantan politisi hi-tech kita. Tetapi Bhabha tidak one-man-show, ia rajin merekrut dan mendorong ilmuwan-ilmuwan cerdas India, seperti Homi Sethna, P.K. Iyengar, Vasudev Iya, Raja Ramanna dll, yang kemudian menjadi tokoh-tokoh besar kemajuan energi di India. Meskipun Bhabha juga sangat dekat dan punya pengaruh besar pada kebijakan perdana menteri Nehru dan Shastri, yang menetapkan prioritas dan program negara untuk pengembangan nuklir di India, namun ia tidak larut dalam politik praktis. Konsentrasinya tetap pada urusan riset dan pengembangan energi. Bhabha tegar di dunia ilmu, mengutamakan meritokrasi demi kemuliaan dan kejayaan segenap warga bangsanya, tidak terjebak oleh silau kekuasaan, tidak pernah tampil sebagai politikus karbitan yang menunggangi sentimen dan fanatisme sempit. Sebagai ilmuwan, ia rajin menghimbau rasionalitas bangsanya agar mampu membebaskan diri dari belitan primordialisme dan bangkit sejajar di antara bangsa-bangsa maju di dunia. Meskipun ambisi nuklir Bhabha juga menggerogoti ekonomi India, tetapi ia berhasil menaikkan pamor India sejajar dengan negara-negara pemilik nuklir. Ia menggairahkan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang terbukti menjadi motor kekuatan dan kemakmuran India. Lagi pula, saat itu resiko dan kerumitan PLTN belum sepenuhnya disadari dan belum nyata terbukti. Perdana menteri Indira Gandhi mengabadikan nama Bhabha pada nama institut yang didirikannya, setelah ia meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat 24 Januari 1966. Bhabha dikenang sebagai ilmuwan yang sangat memimpikan kemandirian bangsanya, tidak suka rendah diri atau menjilat, tetapi ia bukan demagog dan tidak pernah mengajak rakyatnya petentang-petenteng membenci bangsa-bangsa lain yang sudah lebih makmur. Kebanyakan orang India sangat mendukung pengembangan sumber energi di negaranya secara besar-besaran dan sampai sekarang masih dengan yakin mengutip kata-kata Bhabha ½ abad lalu: “No power is costlier than no power”, artinya kekurangan energi berakibat mandeknya ekonomi karena produktivitas rendah.

Perjalanan Ambisi PLTN India.

India memenuhi kebutuhan energinya 82% dari fosil dan 14% dari tenaga air. Konsumsi minyak saat ini 2,5 juta barel/hari, 70% impor, sehingga tiap tahun harus membelanjakan 25 milyar USD untuk impor minyak mentah. Batu bara adalah sumber energi utama untuk 75% pembangkit listrik India, sehingga India saat ini merupakan produsen batu bara nomor 3 terbesar dunia dengan cadangan yang cukup untuk 100 tahun lebih, karena India memiliki cadangan batu bara nomor 4 terbesar di dunia. Tetapi batu bara India kualitasnya buruk, kandungan abunya 15-45% dan nilai kalorinya rendah.

Situasi dan alasan-alasan di atas dari dulu mendorong orang India sangat mendambakan energi nuklir. Tetapi meskipun sudah ½ abad lebih India berjuang dan membelanjakan dana yang luar biasa besar (25% dari total dana riset dan pembangunan nasional) untuk pengembangan dan percobaan nuklir, tokh sampai saat ini tidak lebih 3% pasokan energi yang diperolehnya dari PLTN. Di ballik reputasi dan pamor penguasaan teknologi oleh India yang mengharumkan negara itu, program PLTN nyaris membenamkan ekonomi India, yang menimbulkan ancaman anarki dan kemelut politik akibat ketidak-puasan rakyat atas kemiskinan yang berketerusan.

Banyak kisah tragis dan gawat dalam kinerja PLTN India. Pada reaktor Rajasthan air berat yang mahal bocor terus yang berarti mengalirkan uang percuma ke selokan. Pencemaran radioaktif pada ribuan pekerja dan penduduk sekitar reaktor Tarapur diperkirakan dampaknya masih mengancam hingga 20 tahun. Hingga 1995 ada 9 reaktor PLTN dengan kapasitas total 1800 Mwe yang beroperasi di India, 2 di Tarapur, 2 di Rawatbhata, 2 di Kalpakkam, 2 di Narora dan 1 di Krakapur. Semuanya pernah bermasalah dengan keamanan dan kebocoran radiasi, sehingga seringkali harus di non-aktifkan selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Kecilnya output PLTN-PLTN India, sebab rata-rata kinerjanya cuma 45%, padahal nilai ekonomisnya harus beroperasi di atas 70%.

India hampir sepenuhnya tergantung pada pasokan bahan bakar dan teknologi dari AS. Ibarat sudah kepalang basah, India mungkin akhirnya bisa berhasil dengan program energi dari nuklirnya, sebab pengetahuan dan kemampuan sudah dikuasainya, tetapi pasti masih dengan skala yang sangat tidak ekonomis. Kisah PLTN India membuktikan, betapa uang yang ditanamkan ke sana, sesungguhnya bisa dipakai untuk membangun dan mengoperasikan sumber energi lainnya dengan hasil yang jauh lebih menguntungkan. Sekaligus membuktikan, betapa sulitnya menghasilkan prestasi hanya dengan idealisme semata, tetapi sambil kelaparan. Akibat fakta-fakta negatif tentang energi nuklir ini, resiko dan rawannya keamanan, serta merebaknya tentangan para evironmentalis, dipastikan bahwa nuklir belum akan punya peran berarti sebagai sumber energi di India untuk setidaknya 20 tahun kedepan.

Masa Depan PLTN India.

Saat ini India dan AS hampir merampungkan pakta nuklir bersama, yang memungkinkan India untuk pertama kalinya dalam 33 tahun, bisa memperolah bahan bakar dan reaktor modern dari AS, setelah melalui perjuangan serta perundingan panjang dan mahal. Sebelumnya India diembargo AS atas segala barang yang berkaitan dengan nuklir akibat percobaan bom atom India 1974. Tetapi AS masih keberatan mengijinkan India membeli mesin-mesin AS untuk mengolah sendiri sisa bahan bakar PLTN, yang rawan disalahgunakan untuk membuat bom atom dan kuatir ancaman teroris. Namun tampaknya AS bakal makin merangkul India, yang menginformasikan bahwa belanja militer RRC sudah melebihi 120 milyar dollar (wouuu … 2x APBN RI hanya buat mesin perang), meskipun RRC bilang cuma 40 milyar dollar, sehingga AS blingsatan dan minta RRC lebih transparan.

Terakhir jumlah kapasitas PLTN terpasang dilaporkan 3,31 Gwe atau kurang 3% dari seluruh sumber energi India. Ketua komisi energi atom India, Anil Kalkodhar, mencanangkan peningkatannya menjadi 20 Gwe hingga tahun 2030 dan ditambah dengan proyek yang masih ditahap pembangunan mencapai skala 40 Gwe, yang akan dilaksanakan dalam skema kerja sama internasional dengan biaya $ 40 milyar. AS sendiri malah memperkirakan bakal adanya potensi bisnis bernilai lebih dari $ 100 milyar yang muncul dari sedikitnya 30 reaktor baru di India, jika kesepakatan AS – India mengenai pengembangan energi nuklir India bisa dituntaskan. Bisnis “nyam-nyam” itu bakal dijaring melalui United States GE, Westinghouse Electric Co, ASE, Framatome ANP, Electricite de France, Atomic Energy of Canada Ltd dll. Perusahaan-perusahaan ini sedang bergerilya untuk meyakinkan pemerintah dan parlemennya, agar cepat mencapai kesepakatan guna mengijinkan export untuk barang-barang sensitif tersebut. Namun andaipun ambisi ini tercapai, dan India sanggup konsisten mengeluarkan dana spektakuler itu, PLTN pada saat itu baru akan memenuhi 12,5% kebutuhan energi di India.

Bahan Perbandingan bagi Negara-negara Dunia Ketiga.

Realitas PLTN di India memberikan contoh bagi negara-negara di dunia ketiga untuk dapat membuat keputusan dengan arif. Banyak institusi internasional yang sepintas kelihatan berbobot ilmiah dan pakar-pakar yang seolah-olah memaparkan hasil kajian scientific, tetapi sesungguhnya bekerja sesuai arahan pemesannya, yakni para CEO multi-korporasi pembuat mesin-mesin PLTN dari negara-negara industri maju, demi sales dan order yang menghasilkan profit cemerlang, Di negaranya, PLTN diputuskan tidak akan dibangun lagi dan yang terlanjur ada satu-persatu akan ditutup. Maka kini para CEO itu giat melobi pemerintahnya dan meyakinkan bahwa meskipun mesin-mesin PLTN itu disupplai ke negara-negara dunia ketiga, tetapi ketergantungan dan kontrol penuh atas mesin-mesin itu tetap mutlak di tangan mereka. Paralel mereka juga mensponsori banyak lembaga dan pakar untuk membuat makalah-makalah tentang kecanggihan, keamanan dan kelayakan PLTN modern. Dukungan luas juga diperoleh akibat kekuatiran atas emisi gas CO2 dan pemanasan global, sehingga masyarakat di negara maju menginginkan negara-negara berkembang melakukan expansi sumber energi yang tidak merusak atmosfir bumi, termasuk PLTN. Padahal mereka sangat anti dengan pembangunan PLTN di negaranya dan lebih menyukai saat ini reaktor-reaktor yang dipropagandakan canggih dan aman itu diuji-cobakan dulu di negara-negara lain yang belum maju. Kalau perlu dengan slogan bantuan atau sumbangan kerja sama untuk kemakmuran. Maka kearifan sungguh diperlukan bagi para pemimpin negara-negara berkembang, apakah arogansi, ambisi dan pamor politik akan merelakan negaranya dijadikan kelinci percobaan, mempersembahkan untung besar dan menambah kemakmuran bagi bangsa-bangsa kaya pemasok mesin-mesin PLTN, sekaligus memaksa seluruh rakyat anak negeri sendiri memikul biayanya terus-menerus selama puluhan tahun.

- :( “Pakdhe, mungkin India awalnya kelinci percobaan ya dhe ?”
+ :D ” Kalau baca tulisan diata, mungkin saja awalnya India hanyalah ‘kelinci percobaan’ untuk melariskan industri PLTN. Tetapi karena radiasi nuklir lah ‘kelinci ini bermutasi menjadi serigala kecil‘ yang harus diperhitungkan. Itulah salah satu ‘side effect’ yg mungkin tidak terlihat sebelumnya.
- :( “Looh emang India ber-evolusi karena radiasi ya Dhe ?”
+ :D ” Hust .. ini cuman analogi tole “

Program energi nuklir India memang kontroversial, tetapi India selamat berkat sukses pertumbuhan ekonomi yang berhasil secara konsisiten diwujudkannya sejak 16 tahun lalu, yang menurunkan angka buta-huruf, kebodohan, pengangguran, kemelaratan dan serentak menjadikan India sebagai calon pemain ekonomi terkuat dunia dalam beberapa dasawarsa berikut.

Kini di India sebagai negara demokratis terbesar dunia dengan meluasnya peran kaum intelektuelnya, juga muncul gerakan “wisdom” yang sangat kuat, yang mengkoreksi strategi pengembangan energi di India. Gaung untuk memprioritaskan tumbuhnya sumber-sumber energi non-konvensional atau sumber energi terbarukan, seperti: panas-bumi, angin, matahari, biomass dan air makin gencar dan bergema kuat di India. Meskipun investasinya sangat mahal (dulu tidak dilirik akibat terdesak oleh batu bara yang cadangannya berlimpah di India), kini pemerintah India memberikan insentif yang besar. Secara persentual, saat ini peran sumber energi terbarukan ini masih sangat kecil. Namun kita bisa menengok lagi 10-20 tahun ke depan. Apakah India tidak cuma bisa menghapus kemiskinan dan menjadi negara kuat, tetapi juga bisa menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan energinya secara bijak, tanpa pemborosan biaya serta mandah dieksplotir oleh negara-negara barat yang lebih dulu maju. Apakah India bisa menghindari hujatan dunia yang menuduhnya sebagai penyebab utama perusakan global atmosfir bumi. Dan akhirnya, apakah India yang kaya dan maju kelak juga sekaligus menjadi penunjang perdamaian abadi dunia.

About these ads

75 Tanggapan

  1. nuwun sewu pak dhe numpang tanya neh apakah d daerah penambangan pt.freeport indonesia dgn batuan ofiolit dgn 3 tipe magmatisme dgn umur geologi oligosen- miosen, apakah bisa terbentuk cebakan bahan galian uranium? mohon penjelasannya ke email sy roki95@yahoo.com

  2. @ Ma’rufin: terima kasih info teknis tentang PLTN, Reaktor dan Sumber Radioaktif, kalau saya menyimak uraian Mas Ma’rufin yang panjang lebar tersebut saya yakin penguasaan teknis nuklirnya sangat mumpuni dan kalau boleh tahu berapa banyak kawan2 ahli nuklir seperti ini, karena tidaklah bermanfaat bila penguasaan ini hanya kesendirian saja tanpa adanya dukungan manajemen yang baik. Sebagai contoh adanya beberapa staf karyawan yang idealismenya tinggi penguasaan teknis mumpuni tapi akan tidak berguna dalam keadaan kesendirian saja karena kurang kedekatannya dengan pimpinan.
    Kalau demikian terjadi maka seberapa jauh mereka yang karena kesendirian tadi mendukung program ??? Saya yakin bila institusi ini dipimpin oleh seorang ahli nuklir seperti Mas Ma’rufin ini kajian tapak PLTN tidak perlu dilakukan selama 39 tahun dan boleh jadi 40 s.d 50 tahun kedepan masih saja melakukan studi tapak dan pencarian tempat penyimpanan limbah nuklir atau sumber radioaktif.

    1). Bicara bahaya, kita sepakat bahwa umur radioaktif itu sangat panjang jadi kalau Mas Ma’rufin mengatakan masa paro 1-30 tahun itu pendek, saya katakan panjang karena untuk mencapai luruh memerlukan waktu 300 tahun dan bahkan ada unsur radioaktif yang masa paro-nya mencapai ratusan dan bahkan ribuan tahun contoh Cs-137 = 30 tahun, Am-241 Be = 433 tahun, Ra-226 =1600 tahun pertanyaannya berapa masa luruh sumber radioaktif tadi?? jawabannya ya masing2 dikalikan 10 kali saja sehingga Cs-137= 300 tahun, Am-241= 2.410 tahun, Be = 4.330 tahun dan Ra-226= 10.600 tahun, kalau demikian perhitungannya bila seseorang terkena kontaminasi radioaktif sampai dikuburanpun radioaktif tadi masih hidup dan mencemari tanah kubur heeeee … heeee… serem.
    Apa saja dampak terkena paparan radioaktif, info Batan yang pernah saya baca lho“ mengatakan bahwa bahaya terkena paparan radiasi dapat berakibat merusak sel organ tubuh, so pasti kerusakan sel tersebut mampu menyebabkan terganggunya fungsi organ tubuh dan bahkan radiasi tadi dapat terurai dalam tubuh manusia. Bagaimana dengansel2 yang masih hidup ??????? sel2 yang masih hidup akan tetap hidup namun mengalami perubahan akibat ionisasi radiasi yang telah diterima oleh tubuh manusia dalam jangka panjang dapat menginduksi adanya penyakit tumor, kanker dan terganggunya fungsi genetika sehingga keturunannya mengalami cacat dan sebagainya “.
    Sumber radioaktif dapat berbentuk padat, cair dan gas dan wujudnya seperti siluman artinya tidak berbau, tidak berwarna, tidak bisa dirasakan, tidak bisa dicium namum keberadaannya sangatlah berbahaya, oleh karena itu penanganan radioaktif diperlukan kecermatan dan kehati2an. Loyalitas pekerja dan sarana dukung yang handal sangat diperlukan dari segi teknis dan non teknis, mampukah manajemen memenuhi persyaratan2 tersebut??? loyalitas personil akan sangat terganggu kalau terjadi salah asuh, kawan samping memberikan saran bila dibolehkan dilakukan survey tentang loyalitasnya para pegawai terhadap pimpinan saat ini, maka kawan samping mengatakan dengan yakin bahwa bahaya yang diakibatkan oleh human error kemungkinan besar akan terjadi.

    2) Bicara radiasi janganlah disamakan antara radiasi nuklir dengan radiasi alam, pada dasarnya radiasi nuklir adalah radiasi yang telah diperkaya dalam arti kalau ibarat senjata hulu ledaknya sudah dipasang sangat bahaya. Dan berapa lama umurnya telah disampaikan diatas dan dampaknya telah dikutipkan dalam info Batan, namum oleh beberapa ahli kedokteran radiasi dalam jumlah terkontrol dan cukup dapat menyembuhkan beberapa penyakit dan dapat mendeteksi suatu penyakit dan tulang yang retak dalam tubuh manusia (Rontgen sinar-X).
    Radiasi alam adalah radiasi yang belum diperkaya adapun dampaknya juga ada maka beberapa kawan mengingatkan pada anaknya “ kalau nonton TV jangan dekat2 nanti bisa sakit mata matanya rusak min dsb.
    Pancaran radiasi nuklir sifatnya sama dengan pancaran cahaya yaitu menyebar kesegala arah sehingga banyaknya partikel yang dipancarkan per satuan waktu dari suatu sumber radiasi merupakan ukuran intensitas atau aktivitas suatu sumber radiasi.
    Mengingatkan kita pada waktu peristiwa meledaknya reactor nuklir Cernobyl 25 April 1986 dalam fakta menunjukkan bahwa akibat ledakan tadi area seluas 142.000 kilometer persegi tercemar radioaktif, mari kita bayangkan bila terjadi di wilayah P. Jawa dan bahkan info Batan IAEA mengatakan pada akhir 2009 adanya terdeteksi dan terindikasi adanya beberapa anak di suatu kota jarak dan jauhnya 1.100 kilometer dari pusat ledakan nuklir Cernobyl mengedap penyakit yang disinyalir akibat dampak paparan radiasi nuklir Cernobyl.
    Pertanyaan reactor nuklir Cernobyl meledak kenapa kok dampak dan potensi bahayanya sampai radius 142.000 kilometer persegi???????????????????????? Radiasi nuklir sifatnya mengkontaminasi segala bentuk material padat, cair dan gas, ledakan reactor seperti halnya ledakan bom mengakibatkan kerusakan dan ber habur2annya material disekelilingnya debu dan benda lain beterbangan sejauh kemampuan ledakan yang membawa radiasi nuklir, abu sangat ringan mas sehingga wajar dengan didorong ledakan dan angin akhirnya sampai 142.000 kilometer, air terbawa aliran dan hujan dan akhirnya juga sampai sejauh 142.000 kilometer, air diminum ikan terkontaminasi dimakan orang, orang ikut terkontaminasi radiasi nuklir.
    Sifat material yang telah terkontaminasi radiasi nuklir sifatnya sama dengan aslinya dari segi bahaya dan umur dan juga sifat bahan nuklir tadi.

  3. @ Bejo

    Betul, memang hingga hari ini tragedi Chernobyl belum berumur 10.000 hari. Namun aktivitas radiasi itu bisa diperhitungkan mas, termasuk untuk hari2 ke depan. Kurva2 aktivitas yang saya sebutkan, telah diperbandingkan dengan data pengukuran di lapangan oleh IAEA dan match sesuai dengan prediksi, sehingga ke depannya pun nggak akan berbeda karena mengikuti hukum perluruhan radioaktif.

    Jangan lupa, ketika tragedi Chernobyl terjadi, manusia tidak diam saja mas. Lapisan tanah yang tercemari radiasi dikeruk dan dikumpulkan di satu tempat, dipadatkan dan dikecilkan volumenya untuk kemudian diprotect sebagai limbah padat. Sementara perairan yang tercemar, dibersihkan dengan teknik khusus, salah satunya fitoremediasi, yang selain murah juga sangat efektif. Teknik ini belajar dari alam juga mas, bahwa ternyata banyak sekali spesies2 di alam semesta ini, khususnya tumbuhan, yang mampu bertahan terhadap radiasi tinggi dan bahkan mampu menyerapnya ke dalam batang/akarnya sehingga tidak tersebar. Ketika Hiroshima dijatuhi bom nuklir, dalam beberapa minggu saja di episentrumnya (ground zeronya) sudah tumbuh tunas-tunas bambu mas, dan itulah yang bekerja membersihkan kota itu. Di Chernobyl, fitoremediasi memanfaatkan bantuan bunga Matahari mas, yang ditanam untukperiode tertentu dan kemudian dipanen, dikeringkan dan dikecilkan volumenya sehingga lebih gampang disimpan.

    Kita manusia juga memiliki daya tahan terhadap radiasi mas, meski nggak sekuat tumbuhan atau hewan tertentu. Jika tidak, tentunya sejak masa Nabi Adam AS kita sudah sakit-sakitan atau malah mungkin punah akibat radiasi yang menghujani Bumi kita daris egala sumber di alam semesta, yang jumlahnya jauh lebih besar ketimbang radiasi Chernobyl. Atas alasan itu pula maka kota2 dis ekitar Chernobyl bisa dihuni manusia kembali, meski dikontrol secara ketat, terkecuali Pripyat yang sengaja dijadikan kota matis ebagai monumen peringatan.

    Radiasi yang paling berbahaya sebenarnya berasal dari sumber-sumber radioaktif berumur pendek mas, seperti Sr-90 itu dan Cs-137. Apakah yang berumur panjang tidak berbahaya? Berbahaya jika jumlahnya sangat besar. Sementara dalam tragedi Chernobyl jumlah sumber radioaktif berumur panjang adalah sedikit. Jika sumber radioaktif berumur panjang berbahaya bagi kita, maka seharusnya kita sudah lama mati mas, karena bahkan Bumi yang kita pijak ini memiliki sumber panas internal (yang menggerakkan lempeng2 tektonik Bumi) akibat sumber radioaktif berumur panjang yang terkandung di dalam Bumi mas.

    So, ndak masalah ketika menjadi antinuklir, ataupun sekedar pasifis. Namun mbok yao dengan argumen yang nalar dan selalu mengikuti perkembangan terkini. Ketika belakangan sejumlah negara, bahkan di ASEAN sendiri, mulai berpaling ke nuklir (seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam) guna memenuhi kebutuhan energinya dan mengurangi emisi CO2, ketika bahkan salah satu pendiri Greenpeace mulai melirik nuklir sebagai alternatif substitusi untuk batubara (yang memanaskan Bumi dengan gas CO2nya itu), so menjadi antinuklir dengan argumen2 seperti yang panjenengan paparkan itu menjadi sulit dinalar kecuali menggunakan semboyan “pokoke….”

    Masyarakat Babarsari Yogyakarta sudah 20-an tahun hidup bersama reaktor dan adem ayem saja. Demikian pula dengan masyarakat Serpong Tangerang. Betul bahwa kita harus menekan BATAN untuk lebih terbuka, transformatif dan partisipatif. Namun jangan hal itu membuat kita jadi picik terhadap perkembangan teknologi nuklir, yangs elalu berjalan dinamis dari hari ke hari.

  4. @ pemerhati nuklir

    1). kita bicara soal radiasi terlebih dahulu. tanpa reaktor nuklir pun, alam raya ini sudah berlimpah ruah dengan radiasi mas dan jika saja anda bisa merasakan visualisasinya, mungkin akan merasa serem sendiri. Tiap hari kita dihujani sinar kosmik dengan kekuatan yang luar biasa sehingga baru akan terlemahkan setelah menembus lautan sedalam 200 meter. Tiap hari batuan di permukaan Bumi juga memancarkan radiasi yang tak kalah dahsyatnya. Bahkan panas akibat aktivitas radiasi dari mineral2 radioaktif dalam tubuh Bumi merupakan bahan bakar arus konveksi yang menjadi penggerak lempeng-lempeng tektonik di Bumi. Dan tiap hari pula kita menerima radiasi dari sumber artivisial seperti dari layar televisi, layar komputer hingga ke rokok. Seorang perokok dengan konsumsi 1 bungkus/hari menerima radiasi jauh lebih besar ketimbang seseorang yang berdiam di pusat kontrol reaktor nuklir, bagian yang paling dekat dengan reaktor.

    Kalo radiasi memang dicap berbahaya, sekecil apapun adanya, maka seharusnya kita sudah punah akibat radiasi sejak masa Nabi Adam AS mas.

    So, jangan paranoid begitu. Operasi reaktor nuklir hanya menambahkan radiasi yang sudah kita terima dari sumber-sumber lain dalam kuantitas 1 – 10 %. Dan berbeda dengan sumber-sumber lain, reaktor nuklir memiliki mineral radioaktif dengan aktivitas radiasi tinggi, namun terkungkung dalam lokasi yang jauh lebih aman dengan sistem pengaman berlapis. Sehingga jauh lebih aman. Kita bisa melihatnya dalam kasus Three Mile Islands, ketika salah satu reaktornya mengalami pemanasan luar biasa sehingga bagian dalamnya sampai meleleh. Namun karena sistem pengaman berlapisnya bekerja sangat baik, maka tak ada radiasi yang terpancar keluar dan sampai saat ini masih tetap aman terlindung di dalam kubah betonnya. Jangan bandingkan dengan Chernobyl, itu kasus khusus. Kalo mau diibaratkan, Three Mile Islands ibarat gas dalam tabung berganda yang terbuat dari titanium (logam terkeras saat ini), sementara Chernobyl adalah gas yang sengaja ditampung dalam drum rombeng sejak awal oleh Uni Soviet.

    Benar mas, semuanya memang bergantung pada kuasa Tuhan. Namun bukankah Tuhan sendiri (lewat Rasul-Nya) telah menggaris bawahi bagaimana manusia harus menjadi khalifah di muka Bumi ini, memanfaatkan apa yang tersedia di alam dengan bijak, menggunakan akal dan rasionya untuk kemajuan dan kebaikan umat manusia sendiri ? Itulah ijtihad-nya mas, kita punya akal, kita dianugerahi akal budi, mari dimanfaatkan untuk perbaikan peradaban. Jika kita tetap sekedar seperti hari-hari ini, lebih banyak diam dan bicara antinuklir, orang di sekitar kita yang akan bersorak mas. Indonesia punya kandungan Uranium di papua dan itu mungkin sudah dikeruk freeport, yang dikalimantan sudah diincar Perancis. Ketika SDA2 penting itu sudah diambil, masih adakah waktu tersisa kecuali menyesal ?

    2). limbah radioaktif itu umurnya bermacem-macem dan sebenarnya yang paling berbahaya adalah yang waktu paruhnya singkat (1 – 30 tahun), jadi berlawanan dengan persepsi anda. Kalo volume limbahnya sak hohah (bayangkan saja seukuran lapangan bola atau lebih besar), itu baru jadi masalah, Namun tahukah anda, limbah radioaktif hasil operasi PLTN bertenaga besar selama satu tahun penuh hanya memiliki volume sebesar 30 x 30 x 30 cm kubik? Sama dengan ukuran kotak kardus mas. Sehingga lebih mudah ditangani.

    Nah prosedur standar penyimpanan limbah nuklir memang salah satunya disimpan di kedalaman tanah. Apa ndak bahaya disimpan di tanah? Kita belajar dari alam sendiri mas, dari contoh2 yang secara gemilang disajikan Tuhan seperti halnya ketika dulu Tuhan mengirim sepasang burung untuk menunjukkan kepad Qabil bagaimana cara memakamkan orangd engan baik. 1,8 milyar tahun silam Bumi pernah memiliki reaktor alaminya sendiri, salah satunya di Oklo (Afrika Barat). Reaktor ini jauh lebih besar ketimbang calon PLTN kita mas, dengan daya yang sangat besar dan beroperasi selama ratusan ribu tahun, tanpa campur tangan manusia. Dan kini reaktor alam itu sudah mati. Namun limbah2 radioaktifnya masih ada di lokasi semula, ya di Oklo itu. Dan luar biasanya, daerah2 di sekitar Oklo tidak menunjukkan adanya kontaminasi radioaktif akibat operasional reaktor alami ini, baik di tanah maupun sistem air tanah. Itulah yang kini diterapkn dalam penanganan limbah nuklir.

    3). justru alam sendiri telah menyajikan contohnya mas. Dalam gempa Yogya 2006, reaktor Kartini milik BATAN hanya terletak sejauh 11 km dari episentrum gempa dan hanya 5 km dari lintasan patahan Opak, yang bergerak kala itu. Reaktornya aman2 saja mas, tanpa masalah berarti, dibandingkan dengan ribuan bangunan modern di Yogya yang letaknya lebih jauh namun justru malah porak-poranda, termasuk yang dari beton bertulang sekalipun.

    Pelajaran kedua hadir dari gempa Chuetsu 2007 di Jepang barat mas. Gempa ini lebih dahsyat ketimbang gempa Yogya 2006 dan sumber gempanya persis berada di bawah PLTN Kashiwazaki-Kariwa, PLTN terbesar di dunia. Dan besarnya intensitas guncangan melebihi ambang batas yang bisa ditahan PLTN menurut rancang bangun desainnya. Namun reaktornya tetap aman, nggak bocor dan kini sudah beroperasi normal kembali.

  5. @cayo: lha kalau begitu datanya ya agak bingung aku…..seminar pltn gak banyak yang datang….tapi giliran anti nuklir tempatnya banyak kurang sampai tidak muat……..lha…lha….kalau hitung2an antara pro dan anti lebih banyak atau lebih sedikit…….
    Apa yang akan dikejar kalau sekedar memberikan pasokan listrik untuk masyarakat luas, gunankan saja teknologi yang masyarakat umum gunakan sedikit berrisiko dan bahkan tidak berrisiko (dengan air) banyak ditayangkan oleh media beberapa daerah yang tidak menikmati pasokan listrik PLN beberapa penduduk memanfaatkan pancuran air sebagai penggerak turbin menghasilkan tenaga listrik.,….

  6. saya newcomers nih, mau ngikut coment ya…

    @karin: gimana ahli nuklir pada mau menjawab, kalo ada seminar tentang pltn aja yang ga’ banyak yang dateng, tapi kalo ada seminar anti nuklir kayak di uc ugm(thn 08) yang dateng banyak banget ampe ngak pada kebagian tempat duduk.

  7. eeee…..oom agam ini kaya seperti panglima perang saja berani2nya memberi perintah pada TNI, belum tentu lho para TNI tahu tentang masalah nuklir dan bahayanya…….kecuali akan mengorbankan atau dikorbankan dengan sia2.
    Menurut saya semua pihak harus belajar banyak tentang nuklir itu apa dan bahayanya sejauh mana jadi kalau kita diperintahkan maju sudah jelas kemampuan kita.
    Ingat benar atau tidak apa yang disampaikan Mas Bejo dari Deso bahwa nuklir bahaya….ahli nuklir yang akan menjawabnya dan masyarakat harus tahu banyak sebelum menerima atau menolaknya.

  8. eee…..oom agam ini kaya seorang panglima perang saja

  9. whaduhh…whaduhhh Mas Ma’rufin dan Paul sedang berdiskusi hitung2an ala SMP, bagaimana tidak peluruhan dosis kecelakaan Chernobyl dalam waktu 10.000 hari, ya dasar Mas Paul mungkin menyimak milis sebelumnya yang juga ditulis Ma’rufin tentang bahayanya dampak radiasi dan masa paro-nya 29 dan 30 tahun catatan pengamat Mas Ma’rufin tidak konsisten dan bahka ada sumber yang masa paro-nya ratusan hingga ribuan tahun AM-241 Be= 433 tahun, Ra-226 = 1600 tahun dan berapa ribu tahun masa luruhnya.
    Menurut Mas Pail beralasan kalau menolak teori yang disampaikan oleh ahli nuklir Ma’rufin.

    Berapa bahayakah nuklir?
    Dampak terkena radiasi yang dapat memunculkan penyakit bermacam-macam?
    Dengan melihat umur nuklir sebegitu panjang, bertanggungjawabkan pemimpin yang hidup sekarang?

    Kembali terserah masyarakat luas, menurut Kyai NU Jepara dan sekitarnya lebih banyak manfaat atau tidak.

    Salam,

    Bejo

  10. Pro dan kontra hal yang wajar terjadi, kedua belah pihak tentunya mempunyai argument masing-masing dan sama2 ahli dan keduanya mempunyai keyakinan hal yang sama2 benar menurutnya.
    Sebagai contoh yang pro mempunyai keyakinan hal yang berhaya ini nuklir dapat sangat berpanfaat untuk kemajuan bangsa dan negara sedangkan yang kontra sangat kuatir karena bahayanya kerugian terhadap bangsa dan negara tidak terbayangkan.
    Kalau demikian siap yang benar dan salah anda yaqng mennetukan, terima kasih

    salam,

    Paijo

  11. Mas Ma’rufin kalau boleh ikut nimbrung dalam milist ini saya menggaris bawahi 3 (tiga) aspek kritikal yang mungkin terjadi terhadap reaktor nuklir dan dampaknya dapat membahayakan masyarakat secara luas:
    1)bocor maka telah terjadi penyebaran paparan radiasi din sekelilingnya, setahu saya terkena radiasi itu dapat menyebabkan segala macam penyakit karena radiasi dapat merusak sel organ tubuh manusia. Kita sama2 tahu radiasi itu tidak bisa dilihat, diraba dan dibau sehingga hanya dapat terdeteksi dengan alat proteksi radiasi baru tahu besaran paparan radiasinya.
    2)limbah radioaktif, kita tahu bahwa limbah radioaktif itu umurnya sangat panjang sebagai contoh Cs-137 masa paro-nya 30 tahun dan untuk mencapai luruh sampai 300 (tiga ratus) tahun yang artinya 2 s.d 3 generasi kedepan baru luruh.
    Budaya kultur kita, bisakah limbah radioaktif hilang?
    Kalau terjadi hilang maka keberadaannya akan memancarkan radiasi sepanjang umur zat radioaktif yang saya contohkan di atas yang secara lambat dan pasti merusak sel organ tubuh manusia dan mahluk hidup lainnya yang bisa terjadi mutasi genetikanya.
    Bahayakah ini Mas?
    3)lokasi/geologi kalau alam ini terganggu tidak seorangpun dapat memprediksi kuasa alam gempa contohnya dan jangan dibandingkan secara teknologi reaktor tidak akan apa2 kalau ditabrak F16.
    Kurang sepandan menurut hemat saya kalau dibandingkan kekuatan alam dan terlebih budaya kultur kita saat ini.
    Hal lain Mas membahas kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl dalam milis lain menyebutkan cukup banyak koerban dan cakupan paparan radiasi mencapai 142.000 (seratus empat puluh dua ribu) kilometer persegi.
    Bagaimana ini….?
    sekedar hasil baca2 milis sana sini Mas.

  12. maju terus TNI, tolong bekerja sama dengan ITB jurusan BATAN (Badan Teknologi Nuklir)karena otak berliannya Ilmuwan BATAN-ITB dapat digunakan untuk Pertahanan Negara Indonesia dan jangan disia-siakan otak para Ilmuwan-Ilmuwan Batan-ITB dengan tujuan TNI dan Negara Indonesia kuat berhadapan dengan Negara-Negara Lain terutama Negara Tetangga sehingga jangan menganggap remeh Negara Indonesia…..Maaaaajuuuu Teeeruuuusss TNI……

  13. saya mendukung kalau pemerintah Indonesia membangun PLTN, demi kelangsungan hidup rakyat indonesia. saya yakin bangsa ini itu mampu, banyak oarang-orang inodnesia pinter yang mau bekerja keras demi bangsa indonesia tercinta.
    segala sesuatu itu mesti ada pro dan kontra. jangan itu di jadikan sebuah batu penghalang. bangsa ini sudah cukup miskin segala-galanya, terutama pasokan listrik, minyak dll.
    saya dukung bangsa indonesia bikin PLTN. India aja bisa masa indonesia tidak bisa.
    kita punya kampus-kampus hebat serta orang-orang yang ahli di bidangnya.
    saya dukung indonesia maju…………………terimakasih……

  14. Pak Dhe,
    Bagaimana kita bisa maju, wong kita semua tidak cinta akan produksi barang kita sendiri. Bayangkan, para orang kaya kita pada semua belanja barang buatan luar negeri pada setiap saat.
    Seharusnya kita bisa seperti China, India dan Japan mereka cinta terhadap barang produksi mereka,sehingga di China dan India atau Jepang barang dari jenis Ballpoint, pensil, Hp dll harus buatan dalam negeri walaupun jelek tapi mereka bangga.
    Makanya duit mereka tak mengalir ke luar dan Devisa dalam negeri bertambah dan ekonomi makin lama makin kuat karena industri dalam negeri berkembang terus tidak mati.
    Dengan Demikian apapun yang akan dituju akan tercapai, jadi kesan ” I love U Indonesia ” tak akan pernah ada karena kharakter bangsa kita banyak yang masih bodoh yang selalu terobsesi dengan produk luar, walaupun sebagian dari otak bangsa kita banyak yang Jenius dimana menjadi guru besar di negara Paman Sam.

  15. Teknik fitoremediasi dan bioremediasi berperan dlm mengurangi Stronsium. Apalagi sifat radiasi dari Stronsium-90, T1/2=28.8 tahun. Turunannya segera menjadi Y-90 dan berubah stabil menjadi Zr-90. Jadi prediksi T1/2 dibulatkan ke 30 tahun adalah normal. Kemudian, prediksi Sr mendekati nol dalam 10ribu hari adalah prediksi yg moderat. Sehingga benar bahwa banyak kawasan dalam area 30 km yang sudah bebas dari Stronsium. Mengingat peluruhan radiasi adalah exponensial decay dan T1/2=30 tahun, kalaupun masih tersisa Sr, pasti dalam jumlah yang sangat kecil. Begitu bung Paul dan bung Usil.

  16. Akhirnya , datang juga “pesanannya”…..walo telat baca!
    Makasi pak Ma’rufin.

  17. Ma’rufin wrote :
    “Dosis sinar gamma eksternal di Chernobyl telah menurun hingga 1/1000 kali dosis awal dalam 10.000 hari pasca bencana. Konsentrasi Stronsium dan Iodium dalam 10.000 hari pasca bencana juga sudah susut jauh hingga mendekati nol. Iodium dibiarin saja memang lenyap dengans endirinya, sementara Stronsium dibereskan dengan beragam teknik termasuk salah satunya adalah teknik fitoremediasi dan bioremediasi (terutama menggunakan varian Bunga Matahari), sehingga banyak kawasan yang ” 100 %” bebas dari ancaman Stronsium. Yang masih tersisa disana memang Cesium.”

    Bos, 10.000 hari itu = 27 tahun. Tragedi Chernobyl itu tahun 1986. Ditambah 27 tahun = 2013.
    Hari ini baru tahun 2007. Jadi saya bingung, kalau dibilang sekarang sudah 100% bebas ancaman Stronsium, atau bebas radiasi, karena dalam 10.000 hari saja sudah mendekati nol. (seakan sekarang sudah lewat 10.000 hari)
    Anda dapat artikel itu dari mana ? Mbok dicek n ricek dulu. Jangan bikin opini atas fakta yang salah donk. Kasian rakyat yang sudah terlalu lama dibodohi terus sama pemerintah ini.

  18. Pertama, soal korban Chernobyl. Bener, korbannya memang hanya sekitar 60-an, dan itu pun akumulatif sejak 1986 – sekarang. Jadi tidak single-shot, sekali ‘tepuk’ langsung 60. Kalo korban aslinya, ketika kecelakaan itu terjadi, ‘hanya’ 2 orang, yakni para petugas likvidator (pemadam kebakaran Russia) yang berjibaku menghadapi kebakaran Chernobyl TANPA DIBERITAHU apa yang terjadi sehingga hanya mengenakan baju tipis saja dan masker standar.

    Kedua, seberapa lama dampak radiasi Chernobyl? Limbah nuklir produk fissil yang utama dan berpotensi paling berbahaya adalah Stronsium-90, Iodium-131 dan Cesium-137 (kalo tidak salah). Stronsium bisa menyubstitusi Kalsium sehingga suka mengendap di tulang, umur paro-nya 29 tahun. Iodium, sukanya ngendon di kelenjar thyroid dan punya umur paro cuman 8 hari (!). Cesium, juga hobi menggantikan peran Kalium/Natrium dalam tubuh makhluk hidup dan ia punya umur paro 30 tahun. Kalo dalam fisika, radioisotop dengan umur paling pendek justru yang paling berbahaya karena tingkat aktivitas jenisnya dan juga pelepasan energinya jauh lebih tinggi.

    Dosis sinar gamma eksternal di Chernobyl telah menurun hingga 1/1000 kali dosis awal dalam 10.000 hari pasca bencana. Konsentrasi Stronsium dan Iodium dalam 10.000 hari pasca bencana juga sudah susut jauh hingga mendekati nol. Iodium dibiarin saja memang lenyap dengans endirinya, sementara Stronsium dibereskan dengan beragam teknik termasuk salah satunya adalah teknik fitoremediasi dan bioremediasi (terutama menggunakan varian Bunga Matahari), sehingga banyak kawasan yang ” 100 %” bebas dari ancaman Stronsium. Yang masih tersisa disana memang Cesium.

    Memang, kalo bicara ideal, sampai kapanpun radioisotop akan tetap aktif dan memancarkan energinya. Namun dalam praktiknya digunakan pendapat umum, bahwa jika sebuah radioisotop telah melewati 2 kali waktu paro-nya, aktivitasnya boleh dikata sudah aman.

    Ketiga, soal ‘meledak’. Ada yang perlu diluruskan disini. Reaktor Nuklir bukanlah bom nuklir yang terkendali, sehingga potensi meledaknya (akibat ledakan nuklir) sebenarnya tidak ada. Ledakan di Chernobyl terjadi akibat tekanan uap air yang luar biasa akibat penguapan brutal dengan terjadinya ekskursi nuklir. Ini disusul dengan ledakan hidrogen yang dibentuk dari reaksi grafit dan uap air panas. Seperti sudah saya tulis, Chernobyl adalah kasus anomalik, reaktornya sudah memiliki cacat bawaan, kemudian ditempatkan di bangunan yang sangat rapuh dan cilakanya operatornya ditekan oleh Partai Komunis saat itu. Ada juga gelagat kalo Chernobyl adalah reaktor sipil yang ketitipan untuk memproduksi Plutonium, jadi bebannya berat. Dan jangan lupa, teknologi Chernobyl (juga Three Mile Islands) adalah teknologi 4 dekade silam yang dalam dunia nuklir sendiri sudah tidak dipakai. Tidak bisa satu hal yang anomalik kemudian dipakai untuk melakukan generalisasi, meski dalam praktiknya di Indonesia hal itu sudah umum.

    Sepakat 100 % jika dikatakan radioisotop itu berbahaya. Ini juga disepakati oleh para ahli nuklir. Makanya ketika mereka merancang PLTN, masalah pengelolaan bahan nuklir, limbah dan penyimpanannya menjadi hal yang utama sehingga di setiap lini aliran bahan bakar dan limbah PLTN (baik padat, cair maupun gas) selalu terdapat perangkat2 pengolahnya dan dijalankan dengan prosedur teramat ketat. Dalam perkembangan sekarang, selain double containment yang mengurung reaktor dalam kubah beton (dome) – bentuk yang secara geometri lebih tahan gempa dan benturan – disekeliling reaktor juga dibentuk zona eksklusi yang selain bebas pemukiman juga dihijaukan dengan tanaman2 khusus yang memang memiliki kemampuan menyerap radioisop dengan cepat ANDAIKATA terjadi kebocoran nuklir. Jika anda2 pernah merasakan susahnya menjalani training pengelolaan lingkungan versi ISO, yah semacam itulah prosedur ketat dalam pengelolaan limbah nuklir, karena dalam sejarahnya memang standarisasi ISO itu diturunkan dari alur proses pengelolaan limbah nuklir (dengan sedikit penyesuaian).

    So, karena terlalu peduli soal limbah dan keamanan inilah yang membuat biaya pembangunan PLTN jadi membengkak. Di itung2 untuk membangun 1 PLTN sama dengan biaya untuk membangun dua unit PLTU. Dan karena ini pula harga listrik PLTN memang tidak murah. Meski, jika mau dibanding2kan, apabila PLTU juga diberi kewajiban mengolah limbahnya dengan sempurna seperti alur p[roses dalam PLTN (termasuk Uranium removal dalam batubara, yang dosisnya ternyata cukup besar), biayanya menjadi setara koq. Jadi titik persoalannya memang karena PLTN itu harus bersih dan perfect, makanya mahal.

    Jika PLTN Muria bocor, memang, kata Australian National University, radiasinya bisa menyebar ke Australia dan mencemari seluruh ASEAN. Nah, persoalannya sekarang, apa kira2 faktor yang bsia menyebabkan PLTN ini bocor diluar kesalahan operasional (yang bisa diperbaiki dengan pelatihan dan pengetatan prosedur operasi) ?

    Konon karena gempa, apalagi Pulau Jawa termasuk dalam margin lempeng Eurasia yang potensi goyangan gempanya cukup besar. Namun kalo kita liat peta distribusi hiposenter gempa dari USGS, selama 15 tahun terakhir ini tidak ada gempa dengan M > 3 skala Richter dengan episentrum di sekitar Muria. Sehingga USGS pun menempatkan kawasan Muria dan sekitarnya sebagai lokasi teraman di Jawa terhadap guncangan gempa (lokasi terawan justru pantura Jabar, Jakarta dan dataran tinggi Bandung) Memang Muria berdekatan dengan patahan besar RMKS (dari Rembang melintasi Madura dan Pulau Kangean) serta patahan transversal Jawa Tengah (yang menjadi tempat berdirinya gunung2 api Ungaran, Telomoyo, Merbabu dan Merapi), namun keduanya tidak aktif. Andaikata kasus terburuk terjadi, dimana transversal Jawa Tengah ini bangun lagi, dengan panjang patahan 400-an km (dari ujungnya di Semarang melintasi patahan Opak hingga ke lepas pantai Samudra Hindia) maka gempa maksimum yang bisa dibangkitkan adalah 8 Mw (alias 7,5 + skala Richter). Anggap saja episentrum gempa di bawah Gunung Ungaran, yang jaraknya 70-80an km dari tapak PLTN, maka dengan menggunakan model perambatan gelombang Gempa Yogya, intensitas guncangan di tapak PLTN maksimum sebesar 6 MMI, yang berpotensi menghasilkan kerusakan ringan-menengah pada bangunan yang buruk.

    salam

    Ma’rufin

  19. Uiiih….Oom! kali ini respon dari pak Dhe, super kilat…grrrrr.
    Untuk PR dari pak Dhe diatas, ya…giliran omPapang ya??
    Btw, usil rindu komennya pak Ma’rufin lho!

  20. Whaddduh … Kalau anginnya ke barat kan aku kena juga …..
    Sakjane mesti dibandingin juga berapa orang meninggal di Chernobyl, dan berapa pula yg meninggal waktu pengoperasian PLTU (gas, batubara, maupun diesel) … nanti kita hitung2 mana yang lebih sering celaka, barangkali bisa dipakai sebagai pembanding utk memperkirakan seberapa besar “exposure” kita terkena kecelakaan.
    Pesawat terbang memang ngeri kalau jatuh, tapi yg mati kecelakaan di jalan raya sakjane ya buanyak buangeth ! tanpa ada yg protes dan teriak.

    Lalu lintas merupakan pembunuh nomor 3 di Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata 30.000 nyawa melayang di jalan raya.

  21. Jangan “MELEDEK” Om!
    Kalau benar MELEDAK dipulau Jawa yang populasinya
    nomor wahid sedunia…..walahualam!
    Pak Dhe sih aman, jauh di KL sana. Tapi… kitenye???

  22. Mana kutahu pak Usil, ompapang bukan ahli nuklir, yang kutahu sekarang orang sudah pada berani datang ke Chernobyl. Bahkan Hirosima dan Nagasaki tempat bom atom dijatuhkan sekarang menjadi tujuan wisata “MALAPETAKA”.
    Btw, untuk menarik kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) dan wisnu (wisatawan nusantara) ke Jateng pada obyek tujuan wisata “BENCANA”, barangkali tahun 2020 pemerintah perlu menambah satu lagi, selain Merapi, Dieng, Klaten dan Bantul ditambah satu lagi Muria, tempat PLTN “MELEDAK”. Kan bisa nambah PAD, pak Usil. . . . .He 3x.

  23. Om Papang! Usil mau tanya neh…
    Suatu wilayah yang pernah terkena “bocor” nuklir setara Chernobyl skalanya, berapa lama baru bisa dinyatakan
    aman/steril bagi kehidupan?

  24. mas agus oang kalo mati gara-gara ketabrak mobil yang terkait cuma si mobil ama yang ketabrak, kalo karena nuklir yang terkait bisa ampe generasi berikutnya jadi sangat berbeda lah…

  25. Mas Agus, yang luka dan mati karena kecelakaan mobil relatif dikit demi sedikit, bukan masal, misal sekaligus 80.000 orang sakit dan meninggal seperti di Chernobyl.

  26. kata simbah sekarang coba dihitung berapa orang yang mati karena PLTN, dari pada yang mati karena ketabrak mobil tapi koq gak ada yang protes tentang teknologi kendaraan…hayo

  27. yaa.. sebagai orang yg tau ‘dikit’ ttng nuklir mungkin mengharapkan dibangun PLTN pertama kali di Indonesia tapi disini saya netral aja menaggapi PLTN..
    Saya sedikit agak terkejut kemaren di Trans 7 ada sedikit ( bahkan banya kali..) hal-hal yg tidak benar mengenai PLTN seperti :
    Korban Chernobyle itu cuma sekitar 60 org bukan 200.000 org ( nyeleweng udah jauh bgt…).
    Di Three Mile Islands tidak ada korban.
    Lalu mengenai ketersediaan energi alternatif selain nuklir kayak:
    Matahari (emang mau nutupin seluruh Indonesia dengan Solar Cell apa..)
    Air + angin ( berapa daya yg dibangkitkan apakah mencukupi kebutuhan ampe 10-20 tahun mendatang..)
    Biomass (Emang tiap hari orang kudu buang sampah ama buang hajat ampe berkilo-kilo.. Ya klo tiap hari makan klo nggak…)

    Ya udah gini aja lo semua mau nggak saat lo operasi tiba-tiba mati lampu lalu dokter berkata ” maaf mas/mbak operasi dilanjutkan nanti karena ada pemadaman..” Padahal perut lo udah dibuka gitu…
    Aku sendiri jadi heran mengapa orang klo mo protes tidak pake ilmu.. pokoknya ngikut aja…Orang klo mo protes tolong tau ilmunya bagaimana nuklir sebenarnya dan bagaimana karakteristik reaktor nuklir sebenarnya bukan asal ngomong gitu..
    Pokonya gini klo PLTN nggak dibangun silakan aja yg penting lo yg pada protes jgn ampe merengek-rengek minta dibangun PLTN pada kami (org2 Nuklir) karena kehabisan energi.. Ingat bentar lagi Malaysia dan Vietnam mo bangun PLTN yg dimana ketika PLTN dibangun maka teknologi di negara tersebut akan maju pesat karena semakin memacu penduduk negara tersebut membuat teknologi yang membuat PLTN semakin aman juga resiko semakin kecil dan Indonesia emang akan jadi negara buruh jika melihat tetangga-tetangganya yg akan maju pesat… ( Silakan klo mo nanggapin..)

  28. Lebih baik punya PLTN???? menurut saya yang lebih baik bukan PLTNnya tapi punya listrik alias semua bisa menikmati listrik…apa dengan PLTN semua bisa menikmati listrik?? saya sangsi tuh, karena yang bisa nikmatin PLTN paling (mostly) Jawa, daerah-daerah yang belum dapet listrik gimana?ya kagak dapet lah orang kabel transmisinya belum ada gimana mau menikmati listrik????
    sebenernya alesan kenapa PLTN itu dibuat kan karena (saya denger dari seorang ahli) menurut analisisnya perkiraan kebutuhan listrik di Jamali akan meningkat pesat yang disebabkan karena meningkatknya pertumbuhan penduduk dan industri yang ada dijawa, sedangkan kebutuhan pelabuhan penerimaan batubara di jawa semakin terbatas oleh karena itu terpilihlah PLTN dengan asumsi-asumsi yang ia gunakan (asumsinya apa, maf saya kurang tempe eh tahu).
    Dan kata beliau juga, sebenernya PLTN ga perlu dibangun kalau pertumbuhan industri dan penduduk itu bisa disebar tidak terpusat di jawa saja…jadi sebenernya kebijakan yang seharusnya diambil itu bukan medirikan PLTN tapi melakukan pemerataan pembangunan di daerah-daerah lain di luar jawa. Istilahnya melakukan Relokasi Industri dan Itelektual. Kalo PLTN tetep dibangun, kayanya kedepannya Indonesia bakal tetep belum bisa mewujudkan Pembangunan yang Adil dan Merata dong (Pancasila banget)

  29. PLTN murah? Apakah Pak Bud’s bisa memberikan bukti? Perhitungan saya justeru menunjukkan sebaliknya. Bisa dilihat di artikel berjudul “Sebelas asumsi keliru tentang harga listrik PLTN“. Mari kita budayakan berdiskusi berdasarkan data dan logika.

  30. Lebih baik punya PLTN daripada enggak sama sekali !
    Hari gini masih ribut begituan.. telat … harusnya kita sudah menikmati murahnya listrik dari PLTN MURIA…..

  31. Indonesia tidak bisa maju bukan karena selalu dikaitkan dengan yang buruk buruk mas…karena emang mental orang Indonesia yang buruk mas (jangan tersungging ya dan ga semua loh)…hal yang buruk tidak bisa kita abaikan ketika kita akan melakukan segala sesuatu, apapun itu termasuk menjalankan teknologi. Karena dengan yang buruklah kita bisa tau sesuatu itu baik atau engga. Satu hal lagi, kalo bangun PLTN cuma buat pengen naikin pamor bangsa duhhh capee deh…coba ingat ketika dulu kita pengen punya pamor sebagai negara yang disegani dengan kemampuannya ngebuat pesawat terbanng….emang bener pada awalnya kita mampu ngejalanin proyek ambisius itu dan terus terang aku bener-bener bangga jadi orang Indonesia waktu itu (sekarang masih kok), tapi karena itu tadi mental yang buruk akhirnya pesawat kita cuma mampu dituker dengan beras ketan. Sakiiiiittttttt mas bener sakit banget dimana lagi kebanggaan itu, yang ada jadi ilfil sekarang. Parahnya lagi sekarang proyek itu bubarrrrrrrr, makin ilfil aja dah…
    Bagi saya akan lebih membanggakan kalo ngeliat Indonesia bisa mengurangi anak-anak atau tua jompo yang terpaksa harus ngemis dijalanan mas karena kesulitan ekonomi yang dihadapinya….

  32. Sebuah teknologi pasti akan memberikan dampak positif ataupun negatif.. Lha dari sini lah kita hendaknya belajar bukan memperdebatkan.. Indonesia dari dulu tidak pernah maju dikarenakan apa..?? Setiap ada teknologi baru selalu dikaitkan dengan buruk-buruknya bukan baiknya.. Hendaknya kita memperhatikan dua-duanya yang baik digunakan untuk memajukan teknologi sedang yang buruk digunakan sebagai fungsi pengawasan dan sebagai pertimbangan untuk meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan.. Dengan beginikan Indonesia jadi maju bukan teknologi hanya sebagai wacana saja..

  33. Salut kepada Pak Ma’rufin, yang mengaku pengetahuannya cethek tetapi ternyata serba komplit.

    Salut juga kepada Mas MetNet yang ternyata mengikuti perkembangan di BATAn dari dekat.

    Dengan bantuan KOMPAS, yang kelihatannya sudah berubah pikirannya terhadap energi nuklir, kita semua mengharapkan dukungan masyarakat semakin meluas.

    Namun membaca masukan mas RIrawan, yang faktanya betul hampir 100 persen tetapi interpretasinya bernada menggemboskan minat negara berkembang, saya jadi agak tersenyum.
    Mungkin karena rubriknya Dongeng Geologi, maka komentar tentang nuklir dikaitkan dengan sumberdaya alam. Sebenarnya, politik India membangun PLTN, seperti kita juga, berlandaskan keekonomiannya. Listrik nuklir itu dalam jangka panjang menghasilkan listrik yang lebih murah ketimbang dari batubara. Di India, ini berlaku bagi daerah-daerah atau wilayah yang jauh dari sumber batubara yang terdapat di bagian timur. Jadi persaingan nuklir terhadap batubara disebabkan tambahan biaya transportasi batubara jarak jauh. Begitu juga di Indonesia, biaya angkutan dari tambang dan biaya penanganan lainya menambah harga batubara di lokasi PLTU di Jawa.
    Mengenai biaya litbang nuklir memakan anggaran sampai 25 persen, saya kok ragu; lebih mungkin adalah litbang nuklir 25 persen dari seluruh anggaran litbang.
    India memang harus berjuang untuk membangun PLTNnya, tetapi dipaksa oleh negara adidaya untuk berdikari, sebagai hukuman terhadap tindakannya mengadakan percobaan bom nuklir th 1974. Akibatnya, pembangunan PLTN memakan waktu lama. Tetapi tentu bisa bangga karena 90 persen hasil produksi dalam negeri.
    Baru belakangan ini India membuka ekonominya lebih lebar, dan sekarang pertumbuhan ekonominya 8 persen, tidak hanya 3 persen lagi. PLTN buatan Rusia pun sedang dibangun di India.

  34. Enak dibaca, sistimatis, pemahamannya dalam, kental
    pancaran intelektualnya…bravo pak Ma’rufin!!!
    Teruskan pada lain kesempatan, ya pak??
    RIrawan, Ma’rufin, jelas asset bangsa. Siapa menyusul??

  35. Terima kasih mas Ma’rufin, saya jadi bertambah wawasan.

    Info yg ingin saya tambahkan, Batan sebagai litbang iptek tdk 100% mandiri. Tapi beberapa keahlian khusus sudah diperoleh. Pernah ikut tender di Thailand untuk pembangunan reaktor nuklir (kalah lawan westinghouse). Bahan bakar nuklir untuk reaktor riset di Serpong diproses dan difabrikasi sendiri. Saya juga melihat kegigihan rekan2 Batan mencoba mendesain&membuat control rod (batang pengendali neutron) yg pd awalnya mengalami banyak kegagalan, namun akhirnya sukses. Batan melakukan modernisasi instrument reaktor dan sistem monitoring reaktor riset di Bandung dan serpong. Di High Temperature Reactor (di Oarai, Jepang), monitoring sistem yg mampu mendiagnosis gejala kerusakan atau anomali sukses dikembangkan dan diaplikasikan bersama peneliti Batan. Dan masih banyak hal lain yg berhubungan dg PLTN

    Tetapi sudah tentu masih banyak bidang lainnya yg sedang diperjuangkan. Riset MOX (gabungan bahan bakar uranium dan plutonium) baru saja dimulai, sedangkan negara lain sudah berpengalaman puluhan tahun. Hal tsb memberikan kemungkinan prosesing bahan bakar bekas secara mandiri. Pada rencana PLTN, bahan bakar nuklir bekas akan di-re-export ke negara lain. Sehingga kita tdk perlu memikirkan penyimpan limbah nuklir dalam waktu dekat ini. Krn plutonium dalam bahan bakar bekas (limbah) bernilai tinggi untuk energi masa depan, riset prosesing bahan bakar bekas menjadi perlu sekali. Tetapi tdk ada jaminan, hal tsb efektif atau hanya buang2 uang. Sampai skr, sdm Batan fokus ke PLTN dan tdk memiliki target jangka pendek untuk prosessing bahan bakar bekas.

    MetNet

  36. Ada lima aspek kritikal dalam isu PLTN : 1). bisa bocor apa tidak (aspek keamanan), 2). limbahnya dibuang ke mana (aspek limbah), 3). lokasinya aman apa tidak (aspek geologi), 4). boros duit apa tidak (aspek finansial) dan 5). bisa mengelola apa tidak (aspek kultur). Biar ga panjang2 amat, disini dibatasi ketiga aspek pertama saja.

    Mulai dari aspek keamanan. Isu PLTN dimanapun selalu berhadapan dengan kekhawatiran terjadinya kebocoran radioisotop yang dikandungnya. Terlebih dunia punya pengalaman menyakitkan dengan tragedi Chernobyl. Berangkat dari tragedi Chernobyl terus muncul ‘gebyah uyah’ (pukul rata), kalo semua PLTN pasti (!) serentan Chernobyl.

    Mas MetNet tentu bisa menjelaskan lebih lanjut, tapi pada dasarnya sepanjang pengetahuan saya yang kedodoran, Chernobyl adalah “worst case scenario” dimana reaktor RBMK-1000 ini (demikian tipe reaktor`nuklir di Chernobyl) tidak dirancang dengan memperhitungkan tingkat keamanan sesuai standar IAEA. Reaktor ini menggunakan moderator grafit dan berpendingin air ringan, kombinasi yang dalam fisika nuklir cukup rentan karena berpotensi menghasilkan reaktivitas gelembung positif. Apa artinya? Ketika reaktor dioperasikan pada daya rendah (yakni dibawah 50 MWt dari kemampuan operasinya`yang 1000 MWt), sering muncul gelembung2 pada air pendingin yang membuat populasi neutron susah dikendalikan, sehingga pengendalian reaktor pun rada sulit. Kondisi ini tidak dijumpai di reaktor-reaktor komersial lainnya.

    Selain itu arsitektur Chernobyl`bener-bener ‘gila’ karena hanya terdapat 1 (satu) dinding beton`tipis saja yang membatasi reaktor dengan atmosfer. Jadi bayangkan saja situasinya, sudah reaktornya mengidap cacat bawaan, ia ‘disimpan’ dalam bangunan yang ‘keropos’. Tragedi terjadi saat reaktor dipaksa beroperasi pada daya rendah dan gagal dikendalikan`sehingga muncul ekskursi nuklir dimana daya naik dengan cepat sekali hingga mencapai 10.000 MWt hanya dalam beberapa detik. Terjadilah penguapan teramat brutal yang memproduksi tekanan ekstratinggi dan kemudian menjebol atap beton nan tipis itu (!). So, ‘ledakan’ Chernobyl sesungguhnya hanya ledakan uap biasa dan sebenarnya bisa dicegah.

    Kita bisa bandingkan misalnya dengan standar IAEA tentang double containment. Ada lima lapis yang menghalangi radioisotop terpapar ke lingkungan, mulai dari fabrikasi bahan bakar nuklirnya, penggunaan bejana reaktor yang tepat, penggunaan sistem pendingin darurat, bangunan penyungkup reaktor dan sistemnya serta kubah beton pengungkung teramat tebal. Selain itu grafit pun dihindari. Seberapa kuat dobel containment ini? Mari bayangkan saja, standarnya kubah beton itu tidak rusak meskipun ditabrak F-16 (!).

    Secara teknis sebenarnya ada kasus yang lebih parah dibanding Chernobyl, yakni kasus Three Mile Islands di Goldsboro, Pennsylvania, AS (Maret 1979). Di sini inti reaktor sampai meleleh akibat hilangnya pendingin. Namun begitu ‘magma’ ini tidak sampai keluar dari lingkungan pengungkungnya berkat kinerja lima lapis penghalang tadi. Ada memang emisi gas radioaktif yang sempat keluar, namun itu segera bisa ditangani. Mengapa hal-hal positif dari pengalaman Three Mile Islands ini ‘tenggelam’ di bawah horor Chernobyl? Lagi-lagi perkaranya terletak pada kurangnya informasi. Mas MetNet dan timnya di BATAN musti lebih agresif untuk ini.

    Aspek kedua, soal limbah. Selalu muncul`kekhawatiran dimana limbah nuklir harus disimpan, apalagi di bumi Indonesia yang aktif secara geologis dan dikhawatirkan bisa membuat limbah yang disimpan di bawah tanah menjadi bocor.

    Untuk hal ini ada pelajaran menarik dari Bumi kita. 1 milyar tahun silam Bumi pernah mempunyai reaktor-reaktor alami raksasa yang dioperasikan Bumi sendiri selama kurun waktu ratusan ribu tahun, sebelum ‘mati’ karena insersi pengotor lewat sistem air bawah tanah. Satu contoh dari ‘fosil reaktor’ ada di Oklo, Gabon. Menarik sekali, meski reaktor alami Oklo dikendalikan oleh sistem aliran air bawah tanah disekitarnya, tidak ditemukan jejak-jejak yang menunjukkan transpor Uranium maupun material fissilnya keluar dari lingkungan Oklo. Demikian pula di lokasi-lokasi pertambangan Uranium, seperti di Australia. Uranium itu tetap terkonsentrasi di titik-titik tertentu dan tidak terbawa keluar oleh aliran air, bahkan ketika lokasi tersebut terpatahkan. So, menyimpan limbah nuklir di kedalaman bumi juga demikian. Apalagi lokasi-lokasi penyimpanan yang dipilih selalu yang berkondisi geologis stabil (seperti Canadian Shield).

    Dalam demo besar antinuklir di`Jepara ada disinggung kebutuhan air laut bagi PLTN yang mencapai 2,5 juta meter kubik per jam. Lagi-lagi, persoalannya adalah kekurangan informasi. Kebutuhan air yang sama juga digunakan bilamana yang dioperasikan adalah PLTU maupun pembangkit termal lainnya, dan pembangkit termal selalu menggunakan sistem pendingin tertutup yang tidak kontak dengan fluida luar. Air laut itu hanya`digunakan untuk mengoperasikan kondenser, supaya pendingin yang`sudah menjadi uap bisa mengembun dan digunakan kembali. Pada beberapa PLTN, bahkan kebutuhan air lautnya nol karena menggunakan`menara pendingin.

    Satu alasan kenapa sejumlah negara mulai melirik PLTN kembali adalah pada limbahnya. Volume limbah nuklir`hasil operasi selama setahun hanyalah beberapa meter kubik dan itupun tidak dibuang, melainkan diproses, dipadatkan, untuk kemudian disimpan di ruang tertutup. Jika radiasinya yang dipersoalkan, radiasi di ruang kendali reaktor lebih rendah dibanding di lokasi industri pengguna batubara dan pembuatan pupuk fosfat. Musababnya baik batubara maupun fosfat sering berasosiasi dengan Uranium dan turunannya dan sejauh ini belum ada rekayasa Uranium removal di dua industri tadi. Demikian pula, seorang operator PLTN menerima radiasi yang lebih kecil dibanding mereka yang perokok berat, atau yang tinggal di rumah dengan ventilasi buruk (problem gas Radon).

    Dan sejauh ini PLTN merupakan satu-satunya pembangkit daya bertenaga besar yang bebas dari emisi CO2. Dalam tahun 2004 saja negara-negara G-8 ‘mengekspor’ 14.000 milyar ton h!) ke atmosfer, dan jumlah itu baru 40 % dari total emisi CO2 dunia. Jika keadaannya begini terus (apalagi sudah ada tanda2 AS,`China dan India menolak protokol Kyoto, padahal tiga negara itu`menyumbang CO2 yang signifikan), dalam 70 tahun ke depan kita akan menyaksikan suhu Bumi naik 5 derajat Celcius dari nilai sekarang dan akan memusnahkan 20 – 30 % organisme yang peka kenaikan`suhu. So, tanpa harus menunggu jatuhnya asteroid/komet, kita ternyata bisa menciptakan ‘pemusnahan massal’ sendiri dengan membakar bahan bakar fosil dan senyawa karbon.

    Di Indonesia kasusnya lain. Kita lebih dipusingkan dengan naiknya harga minyak, sehingga gagasan yang muncul adalah bagaimana menyubstitusi minyak dengan sumber energi non nuklir seperti batubara, gas alam dan bahan nabati. Outputnya sama saja, ketiganya juga produsen CO2. Disinilah paradoksnya lembaga-lembaga yang getol berkampanye antinuklir, dengan menyarankan penggunaan sumber-sumber energi lain hterutama tiga tadi) sebagai alternatif bagi Indonesia. Padahal isu pemanasan global sudah menjadi bahan jualan Greenpeace sejak`lama.

    Bener, memang masih ada air (untuk PLTA) dan sumber-sumber alternatif seperti panas bumi, angin, matahari, OTEC, pasang surut dsb. Namun jika kita belajar konfigurasi pembangkit daya, pembangkit-pembangkit alternatif ini hanya menempati porsi 10`% saja dari total kebutuhan daya dunia, terutama disebabkan oleh efisiensinya yang rendah dan mahalnya biaya pembangkitan listrik. Sisanya ditempati oleh pembangkit hidro (PLTA) dan pembangkit termal (PLTU, PLTGU, PLTG dan PLTN). Dan dalam konfigurasinya,`pembangkit termal selalu digunakan sebagai basis daya sementara`pembangkit hidro diletakkan sebagai cadangan untuk mengantisipasi daya puncak. Mengandalkan pembangkit hidro sebagai basis sama`saja dengan bunuh diri karena ketergantungannya pada kondisi cuaca.

    Aspek ketiga, soal geologi. PLTN itu bakal ditempatkan di Jepara, ‘segaris’ dengan Yogya yang baru saja dilanda gempa. PLTN juga bakal menempati lahan di kaki Gunung api Muria. Inilah`kekhawatirannya, bakal ada gempa/erupsi yang membuat PLTN bocorn

    Dari pengetahuan saya yang cethek, memang calon lokasi PLTN ini berlokasi di lintasan patahan besar Kebumen-Muria-Meratus yang membentang dari Karangbolong di Jateng selatan hingga ke Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Namun patahan besar ini sudah sangat tua (terbentuk 65 juta tahun silam) dan kini sudah mati. Yang masih dikhawatirkan dari keberadaan patahan ini bukanlah gempanya, namun sifatnya yang konduit bagi magma untuk naik ke permukaan. Kompleks vulkanik Dieng, Ungaran dan Muria menjadi`bukti hal ini.

    Bagaimana dengan tektonik lokal di sekitar Muria? Menurut van Bemmelen, Muria adalah gunung api yang berdiri`di atas sedimen plastis seperti hampir keseluruhan gunung api di Jawa, sehingga mengalami evolusi tektono-vulkanik. Beratnya Muria dan lunaknya sedimen dasarnya membuat tubuh gunung ini terbelah dua oleh beratnya sendiri sehingga muncul rekahan besar ‘memotong’ puncaknya, yang berarah SBD-TTL dan kini dialiri Sungai Gelis. Proses ini membuat kaki Muria terlipat, salah satunya di kubah/perbukitan Patiayam yang kaya fossil. Barangkali retakan yang ditemukan tim ITB bulan April 2007 lalu terkait proses ini. Apa masih berlanjut prosesnya? Menurut saya koq tidak. Berkaca pada gunung-gunung api lainnya, jika sudah terjadi kolaps ya sudah, dia berhenti pada titik kesetimbangan yang baru itu.

    Jadi mengaitkan lokasi PLTN dengan patahan dan gempa, itu sulit. Muria relatif jauh dari generator2 gempa yang eksis di Jawa saat ini. Bila dikaitkan dengan kemungkinan erupsi Muria, nah itu yang sulit dijawab. Porsinya pak Dhe saja :).

    Gempa Yogya memberikan pengalaman baru bagi kita bagaimana sebuah reaktor berhadapan`dengan gempa, dan ternyata aman-aman saja. Reaktor Kartini di Babarsari (reaktor eksperimen dengan daya 100 KWt) tidak menemui masalah meski daerah ini mengalami guncangan berskala 8 MMI dengan percepatan gerakan tanah mencapai 75 % G (G : percepatan gravitasi Bumi), yang cukup untuk memproduksi kerusakan berskala menengah, padahal reaktor ini dikonstruksi hampir 30 tahun silam. Bandingkan dengan bangunan2 baru di Yogya yang umurnya kurang dari 3 tahun, seperti Plaza Ambarukmo, yang rontok oleh guncangan yang sama. Memang setiap reaktor dirancang tahan menghadapi gempa`8 skala Richter.

    So secara teknis PLTN itu aman2 saja koq. Namun saya pribadi tidak 100 % pro dengan PLTN. Ini tetap harus dilihat dengan kritis. Dalam cerita mas RIrawan ada satu ‘missing link’ yang hilang. Bahwa, India membangun kekuatan nuklirnya dengan semangat swadeshi, dengan kemandirian yang luar biasa. Betul, mereka memang beberapa kali membeli reaktor dari luar, namun`sejalan dengan itu mereka juga tetap mengembangkan reaktornya sendiri, sebagai puncak teknologi, dengan dasar industri berat dan elektronikanya sendiri yang sudah mereka kuasai.

    Inilah yang membedakan dengan kita, yang lebih suka membeli produk jadi dan selanjutnya tergantung terus kepada pihak luar. Indonesia belum memiliki basis industri yang capable guna mendukung pengembangan reaktor sendiri. Tidak usah jauh-jauh dengan PLTN, lihat saja di Krakatau Steel ataupun kilang2 Pertamina yang sudah lama eksis. Pabrik baja besar itu ternyata mengandalkan pasokan bijih besinya dari impor, demikian juga sebagian besar kilang-kilang Pertamina. Kemana bijih besi dan minyak mentah kita? Diekspor, dengan alasan lebih menguntungkan bagi negara. Inilah paradoksnya, punya bahan galian malah diekspor mentah-mentah, sehingga ketika`membutuhkan bahan baku yang diolah dari bahan galian tersebut, kita terpaksa mengimpornya.

    Salam

    Ma’rufin
    ——-
    ++`mung biso nulis ++

    catatan :
    MWt = mega watt termal

  37. “…kelinci ini bermutasi menjadi serigala kecil…”

    Bener nich, ada2 aja bikin quote… gw sendiri salut bgt kebangkitan ala India… Kapan ya Indonesia bener2 bisa bangkit… gw sendiri setuju adanya PLTN, sdm qt khan byk yg jago2 masalah ginian… sayang kl harus jd budak (ter-)asing, mendingan jd pimpinan alien(-si)…. Mm mo bikin (nuclear/geothermal/etc) power plant dmn yg kira2 ga bikin byar pet, males jg kl lampu mati seenak udele dewe…

  38. bung MetNet, thanks penjelasan anda, dapat juga
    menambah wawasan kita. Tapi dalam case ini, akhirnya
    kita kan harus memilih. Tidak mungkin netral. Ibarat
    pil-pres, kita jangan gol-put to?

  39. Nuklir di Indonesia

    Saya cukup banyak mengamati perkembangan atau kemunduran nuklir Indonesia. Tdk harus PLTN, banyak sekali produk2 pertanian yg dihasilkan dari rekayasa nuklir, misalnya beras IR (jaman dulu), kedelai dll. Peralatan kedokteran scan ginjal, jantung, dan otak juga dikembangkan dg baik, bahkan sudah mencapai produk komersil. Jadi dg dana yang sangat minim, saya pikir nuklir sudah berkembang dengan baik.

    Rencana pembangunan PLTN memang menimbulkan pro-kontra. News di kompas ttg keharusan PLTN dalam strategi energi mix membuat optimis pro-PLTN. Sedangkan kontra-PLTN berusaha mengingatkan berbagai kelemahan PLTN. Saya pikir ini kondisi yg baik, kalau Indonesia go PLTN, ada corrector, kalau tdk jadi go PLTN juga karena ada corrector.

    Terlepas dari pro-kontra, tampaknya perusahaan besar MEDCO sudah bersiap-siap ekspansi ke energi nuklir, entah rencana jangka panjang/pendeknya seperti apa. Yang pasti seandainya PLTN jadi di bangun, operator PLTN bukan orang pemerintah, bisa jadi BUMN atau swasta murni yang sahamnya sekian % dimiliki pemerintah atau swasta murni. Pengembangan PLTN oleh pemerintah mungkin ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dengan cara melakukan banyak riset, baik PLTN masa sekarang maupun PLTN masa depan. Sudah jadi rahasia umum, banyak sekali peneliti PNS dari Batan yg diminati oleh perusahaan besar, seperti MEDCO, PLN, Indosat, bahkan termasuk Mitsubishi.

    Dilain pihak, budaya korupsi berusaha dilawan seperti melawan anggota badan kita sendiri. Bisa dibayangkan kesulitan2 di tengah2 target kemajuan iptek. Sekarang tinggal kita, hanya diam atau ikut bergerak. Demikian juga posisi kita sebagai pro atau kontra PLTN, semua adalah pilihan baik kalau tujuannya membuat bangsa kita jadi lebih besar.

  40. omPapang itui ada2 saja.
    Tapi, dengar2 justru yang “akal-akalan” seperti ini yang
    membuat mahasiswa (setelah bekerja) kaya ide dan sukses.
    Sedangkan mereka yang semenjak mahasiswa terkesan
    “alim”, malahan saat bekerja, katanya “Kurang Kreatif”

  41. Pak Usil, masih sekitar SMA nya Pak Dhe, ada cerita yang mengharukan: Teman-temanku alumni SMA seangkatanku yang waktu sekolah dulu sering “nggabro” (membayar kurang dari yang dimakan) atau “ndhoglas” (istilah mengambil dan memakan tanpa mbayar) makanan ditempat kantin Pak Bon (Tukang kebun Sekolah), sewaktu mendengar Pak Bon meninggal, mereka beramai-ramai mengumpulkan sumbangan yang lebih dari biasanya, dengan maksud “nyaur utang” (mengembalikan hutang) kepada keluarga almarhum atas makanan /jajanan yang di”gabro” atau di “dhoglas” saat masih menjadi siswa di sekolahan tersebut likuran tahun sebelumnya.
    “Nggabro” adalah bentuk kenakalan siswa tempo dulu, biasanya mulai SMP. Kalau sekarang mahasiswa kost sering “ngebon” makanan diwarung makan dan dibayar saat kiriman dari ortu datang. Tapi banyak yang nakal gak bayar tepat waktu, sehingga ada warung makan lengganan mahasiswa yang melengkapi karyawannya dengan membentuk “TIM PENJINAK BON” , yang bertugas sebagai debt colector terhadap mahasiswa yang “mbeler” mbayar bonnya.

  42. Lho pak Usil belum tahu kalau bandeng ASAP Sidoarjo sudah diekpor ke Malaysia, lumpur berASAP & SENGSARA nya rakyat Sidoarjo juga akan diekpor ke Singapura, dengernya gitu.

  43. Adooww! pantesan omPapang sama pak Dhe bahasanya suka nyambung…..rupanya satu almamater to?
    Wah! ini mah, perlu reuuuni dong.
    Rupanya, elmu makan 5 bayar 1, udah dari jaman dulu
    ya om?

    Pak Hime Furuumun93, memang APBN kita terbatas.
    Tapi jangan lupa ada dana non-bujeter, seperti yang
    dipakai di IPTN dulu. Sapa tahu untuk PLTN malahan
    sukses? Saat ini kita baru bisa expor asap ke Malaysia
    dan S’pore tanpa devisa. Lain kali kita bisa ekspor “asap
    radio aktif” dengan devisa ke negara tetangga.

  44. Saya setuju.. apalagi kalo teknologi nuklir bisa dihasilkan dari air laut? katanya bisa ya?! Tks.

  45. Hmm… Ada yg perlu diingatkan dari tulisan RIrawan…
    Bahwa memang India telah 50 tahun memulai penelitian nuklirnya, dan tidak ada kemajuan yang signifikan terhadap kehidupan rakyatnya. Tapi harus kita ingat juga bahwa 50 tahun lalu teknologinya tidak semaju sekarang. Jadi jika Indonesia mulai risetnya dalam nuklir, maka Indonesia tidak harus melewati waktu 50 tahun untuk memperoleh keberhasilan. Juga seperti yang dikatakan tadi, bahwa banyak negara-negara maju yang mendukung pengembangan teknologi nuklir di negara-negara berkembang. Kita tidak harus menjadi “kelinci percobaan” saja, tapi bisa mengambil keuntungan dari hal tersebut. Siapa tahu bisa mendapat sumbangan dana.

    Tapi bukan berarti saya mendukung pengembangan tenaga nuklir di Indonesia. sekarang kita lihat dari fakta dasarnya saja dhe…:
    -Sampai sekarang, untuk mengolah sumber tenaga yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia, pemerintah belum becus. Gimana mengolah uranium untuk PLTN?

    -India untuk penelitian PLTNnya saja menetapkan anggaran sebesar 25% dari total dana untuk pembangunan negara. Itu pun kemajuannya masih “encrit-encrit”. Sudah tidak usah dipertanyakan lagi bahwa untuk Indonesia, akan membutuhkan dana yang lebih besar. Nah, sanggup nggak Indonesia untuk menetapkan 25% dari APBN untuk nuklir? Belum lagi kontroversinya di kalangan masyarakat

    -Seperti yang tadi disebutkan, di India sulit untuk mencegah kebocoran dalam pengembangan tenaga nuklir, yang akhirnya berujung pada pengrusakan alam. Jadi artinya, dengan mengadakan penelitian tenaga nuklir, Indonesia lagi-lagi mau merusak alamnya sendiri, yang sebetulnya sudah rusak cukup parah. Nah, apa semua itu perlu? Di saat Indonesia sudah berhasil mencetak rekor dunia, sebagai perusak hutan nomor 1 di Indonesia, Indonesia sekali lagi mau menorehkan namanya sebagai 5 besar negara perusak atmosfer? Terserah dhe, tuh, India mau merusak alamnya sendiri, toh memang dari awal sudah gak subur, tapi Indonesia kan nggak perlu ikut-ikutan!

    -Dengan memilih mengembangkan tenaga nuklir, artinya Indonesia menutup diri untuk mencari sumber tenaga lainnya, karena keterbatasan dana. Kalau ada dana, tidak mungkin digunakan untuk membiayai pencarian dan pengoptimalan sumber tenaga lain. Dana itu pasti akan digunakan untuk nuklir kan? Tapi hitung-hitungan saja dhe. Aku tadi sudah bilang, mungkin untuk Indonesia, tidak perlu waktu 50 tahun untuk keberhasilan nuklir. Tapi berapa sih paling singkat? Paling juga 25 tahun. Jadi selama 25 tahun kita cuma bertumpu sama satu sumber tenaga saja, yang keberhasilannya 50:50???

    Itu masih sedikit dari fakta dasar yang ada… Jadi menurut saya memang nuklir blom dibututhkan Indonesia saat ini…
    Itu sih menurut saya… Kayaknya itu saja dhe..

    -Hime-

  46. Wee lha, Pak Dhe Rovicky jebulannya jape methe dari TLD to ! Jaya Mahe pak Dhe !!
    Pak Usil, biar mengerti, “jape methe ” itu bahasa walikan macam “dagadu”, yang artinya ” cahe dhewe” dari kata “bocahe dhewe” alias teman sendiri. Pak Dhe ternyata “adik kelas” ompapang di SMA. Dari buku alumni, pak dhe masuk 1 Januari 1978, sedang ompapang 4 Agustus 1960. Selisih satu generasi. Aku gak ngira ketemu sodara tunggal guru yang masih ninggal utang tahu dan tempe sama mbahMo atau ngremet peyek lima ngaku cuma satu ! he 5X . . . .

  47. Ini dia!!! saintis kombinasi pujangga ho…ho…
    produknya? sereeem…..om.

    Tuh!! pak Dhe jadi nostalgia….
    ngkali sampe sekarang masih ngutang tahu-tempe sama mBah Mo? …ayo ngaku! he3x

  48. Whadduh
    Om Papang ini jebolan pasar Kuncen juga rupaya
    Teladan Jaya Mahe !!!
    Tapi pohon cemaranya kayaknya masih ada ya ? :P
    Kalau di depan Gedung Asri dulu ada mBah Mo yang juwalan tahu-tempe … walaupun makannya sama tiap hari mbayare bedo-bedo :P

  49. eh pak Usil, sebagai pemandu sorak, sekali-sekali buka web nya BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), biar dapat njelasin yang MANIS-MANIS tanpa bahaya TERORIS tentang PLTN yang menurut berita terakhir dari sidang APEC di Ostrali , mulai 2016 Indonesia mengoperasikan PLTN.
    Menurut ompapang, India memiliki PLTN itu adalah gaya hidup India, dan kalau Indonesia ikut-ikutan memiliki PLTN berarti Indonesia ngikuti gaya hidup India, seperti orang daerah yang suka belanja di Hyper Mal meniru gaya hidup orang Jakarta.
    Btw, tentang manfaat dan mudarrat NUKLIR ( dulu dikenal dengan istilah ATOM), waktu aku masih remaja, kubuat puisi monolog berjudul ATOM,sbb:

    ATOM
    Atom. . . .
    Kau paraf surat kami
    binasa
    bahagia

    Atom . . . .
    Cahayamu tembus segala apa segala
    menyilaukan
    kami ‘kan buta

    Atom . . . .
    Kau tinggalkan debu
    menyesakkan
    kami ‘kan mati

    Atom . . . .
    gelakmu memekakkan
    nafasmu membakar kami

    Tapi Atom . . . .
    Kau bimbing pula kami
    kau beri tongkat
    tunjukkan kami
    arah bahagia . . . . .sejahtera

    Teladan,
    22/11-’62 jam :9.21 pagi.

    (ctt: ditulis waktu ompapang kelas 3 SMA, saat istirahat pertama dibawah pohon cemara halaman depan SMA Teladan Negeri Yogyakarta dikala mana pak Usil belum lahir ! )

  50. Saya newcomer di sini. Tulisan RIrawan memang menarik dari sisi dampak ekonomi penggunaan PLTN.
    Disebutkan bahwa kinerja rata2 PLTN India adalah 45%, sedangkan kinerja ekonomis harus di atas 70%. Sehingga bisa disimpulan bahwa hal tsb yg menyebabkan dampak ekonominya tdk besar bagi perekonomian India.

    Berdasarkan data di

    http://www.world-nuclear.org/info/inf53.html

    Nilai ekonomis PLTN di India sampai tahun 1990 memang terendah di dunia. Tetapi secara mengesankan berhasil ditingkatkan dari 60% pada tahun 1995 menjadi 85% pada tahun 2002.
    Masa depan PLTN di India juga sangat cerah terkait dengan pencemaran dari batu bara yg sanga parah dan perlu sekali di kurangi. Sehingga pemerintah India menjalin kerja sama dengan banyak pihak untuk mewujudkan impiannya membangun 20 PLTN yang berdaya total 21,18 GWe (penambahan 20%). India berpacu dengan Korea Selatan dan Cina dalam hal pembangunan PLTN.

    Cina berencana membangun 35-40 PLTN yg berdaya total 40 GWe pada tahun 2020, dan pembangunan 23 PLTN akan dilakukan setelah itu (proposed)

    http://www.world-nuclear.org/info/inf63.html

    PLTN di Indonesia
    Saya pikir news ttg rencana pembangunan PLTN di Indonesia sudah tersiar kemana-mana. Aspek ekonomis bisa dipelajari nilai ekonomi PLTN di negara lain.

    http://www.world-nuclear.org/info/inf02.html

    MetNet

  51. Wadoh!!! pak (Hadianto_a?) ces pleng buanget sih?
    Tapi saya suka pikiran anda yang kritis itu…..bravo!!

    Nah!! sudah mulai muncul yang berbobot, teruskan
    pak Ma’rufin. Mana yang lainnya? Biar kita gak salah
    pilih gitu lho….

    Kalau salah pilih, bisa perot…eh repot (kata omPapang lho)

  52. Ikut komentar…

    Soal bahaya radiasi, setiap hari sebenarnya kita juga ‘dicelup’ ke dalam ‘lautan radiasi’ selama 24 jam tanpa henti koq. Baik dari natural radiation maupun yang artifisial. Kita tahu ada sinar kosmik, yang dosisya ‘bisa bikin bulu kuduk berdiri’ karena baru punah energi radiasinya jika kita sudah berada pada kedalaman 100 m dari permukaan laut (!). Yang artifisial banyak sekali, ada yang dari layar komputer/tv/hp (ingat2 prinsip fisika : benturan elektron dengan materi selalu menghasilkan bremstrahlung process yang meradiasikan continuous X-ray photon) sampe dengan rokok. Rokok ? Ya ! Rokok mengandung radioisotop Po-210 yang sangat toksik, sehingga mengkonsumsi 2 batang rokok/hari selama setahun penuh membuat dada penderitanya mengalami paparan radiasi yang lebih besar dosisnya dibanding mereka yang bekerja di lingkungan reaktor nuklir.

    Demikian juga dengan PLT Batubara. Mungkin tidak banyak yang tahu, dengan sistem filter terbaik pun, cerobong asap PLT Batubara masih meradiasikan radioisotop yang bahkan lebih tinggi dosisnya dibanding PLT Nuklir. Minyak ? Sama saja. Ada laporan di Cina yang menyebutkan terjadinya perubahan genetik pada perempuan2 yang menggunakan kompor minyak tanah sebagai alat masaknya (!)

    Kalo soal kebocoran nuklir, memang tidak ada sistem yang 100 % aman. Namun teknologi nuklir saat ini sudah jauh berkembang dari teknologi 40 tahun silam. Kini para desainer reaktor sudah merancang reaktor-reaktor tertentu yang bisa mati (shut down) secara otomatik saat pendinginnya hilang, misalnya. Juga bahan bakar nuklir sendiri difabrikasi dengan lebih baik (mirip bola pingpong) dengan pendingin berupa gas (CO2 atau Helium) sehingga jauh lebih aman. Bahan bakar ini tetap menyekap sisa-sisa sampah nuklir yang diproduksinya.

    Persoalannya tinggal kita mau apa tidak. Mau apa tidak mempelajari sesuatu yang baru, mengambil resiko2 yang ada dan meminimalisirnya. Hidup toh semata sebuah pilihan. Jika kita di Indonesia memutuskan untuk tidak pake PLT Nuklir, tentu pilihan berikutnya, apakah mau pake gas / batubara. Tentu juga memperhitungkan resiko yang dibawanya secara azali.

    Salam

    Ma’rufin

  53. makasih mas antoni.
    sori lo, aku ga maksud ketus.
    waktu aku send tulisanku diatas, aku belum baca komennya mas antoni.
    salam rekan.

  54. terserah deh. orang kite kalo disuruh mikir yang berat2 susah. kelasnya penggembira ato bonek. dijelasin, india aja 50 taon buang duit buanyak cuma bisa 3% energinya dari PLTN, itupun masi byar pet, eh tetep ngotot. biar melarat pokoke bangga dan pride punya PLTN. biar ga ada duit pokoke bisa tereak2 awas loe….. gue punya PLTN.
    aku pikir lagi, terserahlah. kalo banyakan yang maunya itu. asalkan beneran ga bahaya 7 turunan pada cacat mental ama fisiknye. Ada yang bisa ngasi bukti ga, di india itu ada yang kena radiasi ampe modar ato cuma ketakutan paranoid doang?

  55. Mas Hadianto,
    Mbok ikutan milistnya indoenergy kayak pakdhe http://groups.yahoo.com/group/IndoEnergy/
    seru buangeth looh :D

  56. kalo cuma tereak: aku setujuuuuuu PLTN …………. ane proooooo PLTN…………….., itu guampang, semua anak bisa, sama sekali ga ada artinya.
    tapi yang aku tunggu tunggu itu alasannya, pemikirannya, argumentasinya, angka-angkanya, disertasinya, studi pendalamannya, rujukannya. pokoke yang berbobot gitu.
    trus terang aja. sampe sekarang jauh………….., jauh buanget………………sama sekali ga sebanding ama tulisan diatas, yang datanya solid dan kompre. PLTN itu sama sekali belum layak buat Indo. cari penyakit, cari susah, bikin tamba ruwet, tamba repot………………
    ayo dong, mana tulisan para pro yang solid gitu.
    biar kita-kita tamba pengetahuan.
    kalo ga punya argumen yang matang, udalah, lupain aja PLTN. daripada jadi ladang korupsi model badan pengawas tenaga nuklir (bapeten), yang pejabat2 nye baru ditangkep gara2 rugiin negara rp 8 miliar lebih.

  57. Pak Antoni,
    Kan beda, punya tapi tidak ditambang = tidak produksi . Apa begitu pak Dedi?
    Atau memang Indonesia sudah produksi?

  58. Pak Dedi
    Indonesia kan punya uranium. Kalau ga salah ada di web pakde sini juga kok.

    http://rovicky.wordpress.com/2006/04/11/ini-energi-bukan-sekedar-komoditi-2/

    mestinya dua-duanya berjalan. Penambangan dan juga pembangunan PLTN.

  59. Hebat juga, tanpa memliki tambang Uranium bisa membangun PLTN.

  60. Kayaknya pakar2 fisika nuklir (FN) kita masih pada bertapa nih.
    Belum ada satupun yang muncul memberi tanggapan atas
    tulisannya RIrawan. Padahal kita sudah tidak sabar menunggu komentar para ahli itu. Apa pak Teddy dari UGM, dan yang lain dari FN ITB, UI dll memang sudah pada setuju bahwa Indonesia belum saatnya memanfaatkan teknologi
    nuklir di Indonesia?
    Kalau ya! kita sih setuju aja, karena memang terlalu bahaya buat kehidupan rakyat banyak.

  61. Pasokan listrik kita jelas masih kurang, sehingga kita
    butuh. Tapi dengar2 kalo PLTN sampai bocor, katanya
    dampaknya mengerikan. Bisa berbuntut sampai puluhan
    tahun. Wah!! bagaimana ya??

  62. Pak Muli,
    Kalau memproyeksikan hingga 2030 sesuai KEN (Kebijakan Energi Nasional) kebutuhan energi listrik masih belum cukup. Ini kalau targetnya pemenuhan listrik non PLTN terpenuhi. Jadi PLTN harus juga dipersiapkan.
    Gitu ya dhe ?
    Emang geothermal energi hanya utk PLN saja Dhe ?

  63. Kalau untuk kepentingan memajukan kecerdasan, mungkin perlu ditiru, tetapi kalau untuk menambah energi, khususnya listrik, apa yaa sudah saatnya. Sementara energi geotermal masih tersedia cukup banyak dan masih sangat sedikit dikembangkan.

    Mbook Yaaaoo, pemerintah cepet-cepet meng-akselerasi pemanfaatan energi geotermal. Ini maunya kami dari penggemar dan penggembira energi geotermal.

  64. nuklir salah satu energi alternatif yang patut dicoba, mempunyai potensi yang tak terbatas dalam pengembangan energi kelistrikan khususnya.
    ketakutan akan efek negatifnya adalah wajar tapi didunia kan sudah ada teknologinnya jadi kenapa harus takut untuk mencoba. untuk pembiayaan itu bisa dipikirkan, dimana lebih baik membangun satu yang bertenaga besar daripada membianyai banyak tapi sering kurang.

  65. Iya, betul Usil itu laki-laki, mas Antoni juga kan?
    Menarik! pendapat mas Antoni bahwa issue nuklir bukan
    sekedar alasan ekonomi & lingkungan semata. kalau begitu, menurut mas lebih ke alasan politik. Sama dengan pendapat mas Arul to? Ini sih memang soal pilihan, yang
    mana yang harus diprioritaskan.
    Kita bisa pilih biar kelaparan, tapi ada kebanggaan.
    Tergantung, saat ini prioritas rakyat kita yang mana.

  66. Ini bukan tuk bicara kebanggan tapi faktanya kita sedang mengalami krisis energi kok. Sudah banyak para ahli yang bilang produksi minyak kita yang 1.1 juta barrel per hari itu mulai jauh berkurang dan cadangannya hanya cukup tuk sekian puluh tahun lagi. Walau BP Migas tengah menggalakkan pencarian sumber2 baru ke Kawasan Timur Indonesia tapi Pertamina yang ikut2an ngebor di Libya, Irak dan Vietnam setidaknya mengisyaratkan ada apa dengan produksi minyak kita.

    Mau beralih ke gas dengan menggelontorkan dana milyaran rupiah tuk mengajarkan wong ndeso tuk beralih dari minyak tanah ke kompor gas saja sulit. Mbah Marijan pasti protes!. Regulasi pemerintah untuk merangsang investasi gas tuk konsumsi dalam negeri bikin pusing karena harga jual dalam negeri yang dipatok rendah dari mekanisme pasar. Walhasil mendingan diekspor terus ke Jepang, Cina dll. Jangan heran terjadi krisis LPG diberbagai daerah (walau pejabat negeri ini bilang itu hanya kelambanan jalur distribusi).

    Demikian juga bentuk energi yang lain seperti geothermal, angin, terpinggirkan karena daya yang dihasilkan tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan alias tidak ekonomis.

    Dan PLN cuma bisa kampanye penghematan daya listrik pada saat beban puncak karena jujur tidak bisa mengatasi kebutuhan energi listrik yang melonjak, tidak sebanding dengan daya yang mampu disuplai.

    Mau beralih ke biodiesel saat harga CPO di belahan bumi sedang naik tentu saja tidak masuk akal. Harganya sama saja dengan harga minyak, tidak signifikan.

    Mungkin sudah saatnya kita punya PLTN. Agar siap punya alternatif lain ketika semuanya mengalami penurunan. Kalo mau bicara resiko sekarang sama saja. Ujung2nya human error juga. Ane pikir kalo human resource kite ude pada siap maka kagak ade alasan lain bagi kita tuk tidak mencobanye..

    Menurut ane sih Indonesia sudah selayaknya punya PLTN. Ane Pro PLTN dah..

  67. nuklirkan isu politik….. kalo iran dilarang karena alasan politik. kalo india di dukung karena tidak bermasalah politik dengan negara2 besar yah… :

  68. Pak Dhe kurang dikit komentarnya

    Mnurut saya fakta-fakta yg diungkap Pak Rirawan justru menunjukkan tepatnya keputusan India mengambil tekno nuklir pada waktu dulu itu, baik untuk PLTN maupun senjata. Fakta-fakta beliau justru menunjukkan India sukses dengan nuklirnya, bukan sebaliknya.

  69. Mas Usil, (laki-laki kan ?) :)
    Aku malah stuju pakdhe bahwa memilih PLTN atau bukan bukan sekedar masalah ekonomi. Cobak seperti yg Pakdhe sitir sama si tole, India menjadi ditakuti oleh Amrik sendiri. Walaupun saat memulainya India juga sedang kesulitan ekonomi, sampai sekarang.
    Bicara bangsa bukan sekedar soal ekonomi, berbicara bangsa itu soal kebanggaan atau pride.
    Walaupun India disebut negara miskin tapi bangsa India ini bangga dengan dirinya sebagai bangsa India looh. Termasuk bangga memilki tekno nuklir.
    Kalau berpikir bahwa nuklir masalah ekonomi itu masih level pengusaha atau enterpreneur. pemimpin bangsa harus mampu berbicara soal “kebanggaan”

    Pakdhe Saya Pro-PLTN !!

  70. Pak Dhe, sebetulnya saya tidak mau terprovokasi dengan
    tulisan pak RIrawan. Tapi kalau tidak ada “bantahan” yang
    kuat dari kelompok pro PLTN, maka terpaksa saya harus
    percaya bahwa: Indonesia belum saatnya membangun
    PLTN. Terlalu besar resikonya dan tidak sebanding dengan
    benefit yang didapat, terutama dari sudut manfaat ekonomi
    dan lingkungan.

  71. Betul Pak Dhe, siapa tahu dari kelompok pro PLTN
    muncul juga penulis yang handal sekaliber RIrawan.
    Bisa pecah tuh…rekor postingan muri he..he..

  72. ya India itu memang kaya, sedangkan Indonesia juga kaya akan hutang

  73. Silahkan saja yg Pro PLTN, sehingga kita tahu dua sisi dan menentukan berdasarkan pendapat sendiri.
    Gimana, Sil ?

  74. Ada baiknya dari kelompok yang “pro PLTN” juga dapat
    diberikan kesempatan menulis dan dimuat di blog ini.
    Terus terang gaya menulis yang disajikan RIrawan sangat
    menarik dibaca, datanya terkesan solid, juga kompre.
    WAH, INI BARU NAMANYA TULISAN.

  75. Salam Kenal Pa’dhe. Saya Rio saat ini training di salah satu perusahaan pemboran nasional.

    Dhe.. Sejak dahulu khan putera2 Indonesia sudah merintis jalan ke arah pengembangan teknologi nuklir. Kalo tidak salah dirintis oleh Alm Prof Baiquni sampe tercetus untuk membangun PLTN di Gunung Muria segala.

    Saya pikir sudah saatnya bangsa ini beralih ke bentuk energi alternatif. Minyak mulai menunjukan trend penurunan. Kampanye Pa’dhe untuk beralih ke Goethermal saat ini belum didukung oleh regulasi pemerintah, ya terakhir mana mau Pertamina jor2an kesana lha wong harga jual energinya (ESC = Energy Sales Contract) ke PLN tidak ekonomis.

    Energi nuklir juga berimplikasi menaikkan derajat bangsa ini menjadi bangsa terhormat. Siapa yang tidak bangga pada Ahmadinejad yang berani melawan standar ganda Amerika atas hak pengelolaan energi nuklir. Energi ini bukan monopoli satu negara saja walau mereka beralasan takut dikembangkan menjadi senjata pemusnah massal.

    Kekekhawatiran masyarakat akan kebocoran radiasi nuklir seperti kasus Chernobyl yang selama ini dipropagandakan oleh LSM hendaknya dijawab oleh ilmuwan kita akan data2 yang faktual yang bisa meyakinkan akan tingkat keamanan fasilitas yang tinggi. Tentunya hal ini harus menjadi prioritas utama agar musibah lingkungan seperti Lusi tidak terjadi.

    Jangan sampai kekhawatiran yang berlebihan malah menghambat langkah kita untuk maju.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.210 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: