Gelombang Pasang akibat Astronomical Force dan Meteorological Force


Gel Pasang di Bantul - Sumber antaraGelombang pasang yang melanda pantai selatan Jawa minggu lalu (18-19 May 2007) merupakan gejala alam yang disebabkan oleh gerakan-gerakan benda-benda langit luar angkasa bersamaan dengan kondisi meteorologi yang mendukung. Gaya-gaya Astronomi ini terutama disebabkan oleh matahari dan bulan. Bulan merupakan benda langit yang paling dekat dengan bumi yang menyebabkan hampir 70% efek pasang surut. Sedangkan matahari memiliki pengaruh sebesar 30%.

Menurut Velly Asvaliantina seorang rekan dari BPPT menyatakan:

Graphic on how the Moon and Sun affect the tides

Gelombang pasang yg melanda pantai Selatan Jawa dan Barat Sumatera terjadi karena adanya daerah tekanan udara yang tinggi di Samudera Hindia di sebelah barat Australia, sedangkan di selatan Jawa/barat Sumatera tekan udaranya lebih rendah. (Note: angin bertiup dari daerah bertekanan tinggi ke tek.rendah) Di atas Samudera Hindia, dekat australia sendiri pada saat itu sedang terjadi front dingin (cold front). Kecepatan angin di daerah front tsb dapat mencapai 30 knot. Sehingga dapat membangkitkan swell (alun) yang cukup besar.
Dari software pasut yg saya punya (WXTide), tanggal 17-18 Mei kemarin adalah termasuk kondisi neap tide (bulan mati), shg terjadi pasang yang tinggi, seperti halnya pada saat pasang purnama. Swell yang datang bersamaan dg saat pasang tinggi inilah yang menjadi faktor dominan kerusakan2 ditepi pantai Jumat lalu itu. Selain karena bangunan/rumah2 penduduk yg dibangun terlalu dekat dengan garis pantai. :)

Wis kumplit dah. Adanya gelombang pasang akibat neap tide (bulan mati) digabung dengan kondisi meteorologi adanya perbedaan tekanan udara di Samodra Hindia.

Tidak hanya pasang surut saja yang di”kontrol” oleh benda-benda langit. Masih ingat tulisan tetang hubungan gempa dengan pasang surut ?

Pasang surut air ini memang sangat mempengaruhi banyak sekali gejala-gejala alam di bumi. Salah satunya gempa bumi. Nah mana yang menyebabkan mana itu yang sulit. Semua saling terkait. Tetapi bahwa ada hubungan korelasi temporal antara jumlah (frekuansi) gempa dengan pasang surut terlihat jelas seperti digambar ini.
Beberapa hari lalu juga tercatat gempa-gempa dibeberapa tempat di Indonesia yang cukup intens

gempa-sepekan.jpgMW Tanggal Lokasi
4.7 5/18/2007 17:19 OFF THE WEST COAST OF NORTHERN SUMATRA
5.1 5/18/2007 15:57 NORTHERN SUMATRA, INDONESIA
4.7 5/18/2007 4:14 NIAS REGION, INDONESIA
4.7 5/18/2007 2:01 SUNDA STRAIT, INDONESIA
5 5/18/2007 0:12 NIAS REGION, INDONESIA
4.5 5/17/2007 16:46 MOLUCCA SEA
4.8 5/17/2007 13:03 PAPUA REGION, INDONESIA
5.5 5/17/2007 2:59 NEAR THE NORTH COAST OF PAPUA, INDONESIA

Pak Awang tak lupa mengungkapkan adanya teori yang disebut Vortex-tectonic dan beliau bercerita juga.

AxisKebersamaan gelombang pasang yang melanda Sumatra-Jawa-Nusa Tenggara dan terukurnya gempa secara fluktuatif di wilayah Indonesia, dan terjadinya posisi segaris antara kedudukan Bumi-Bulan-Matahari bisa saja mengindikasi kemungkinan kebenaran hipotesis “vortex tectonics

Vortex tectonics” (Mandeville, 2001) berteori bahwa gravitasi Bulan dan Matahari telah mempengaruhi gerak poros Bumi ketika Bumi berputar. Karena Bumi berputar secara miring, maka porosnya pun membuat gerak berputar sedemikian rupa sehingga sedikit terhuyung (wobbles). Milutin Milankovich, ahli matematika dan meteorologi Serbia telah mengetahui ini dan telah membuat siklus periode gerak huyungan Bumi ini pada tahun 1920-an. Kini, gerak terhuyung ini diaplikasikan ke fenomena gerak kerak Bumi dan atmosfer di atasnya.

Memang benar bumi ini tidak bulet-let tetapi mirip seperti gasing. Ya, tentunya tau gasing kan ? Waktu kecil pasti kalau anak laki-laki suka sekali main gasing. Nah sumbu bumi ini juga terhuyung-huyung persis seperti gasing. Sambil terhuyung-huyung ber-rotasi, bumi ini juga berputar ber-revolusi memutari matahari.

- :( “Whaddduh Pakdhe, pantesan saya ini merasa pusing minggu lalu. Ternyata bumi ini yang terhuyung-huyung ya dhe”
+ :D “Hust, bumi ini terhuyung-huyung ya sudah sejak jaman dolo, tole”
:( “Woooh hiya to, soale kemarin aku ada ujian dink”
+ :D “wis ah kok trus ngelantur, kembali ke LAPTOP soal gelombang pasang “

About these ads

25 Tanggapan

  1. [...] Gelombang Pasang akibat Astronomical Force dan Meteorological Force [...]

  2. Kenaikan itu sangat mungkin sekali karena memang kenaikan pasang banyak dipengaruhi oleh pergerakan atau predaran bulan.
    Kalau ada acara ya siap-siap saja kalau ada air datang. tetapi datangnya air tidak seperti tsunami looh. Air naik ya mengalir dari laut ke darat gitu saja.
    Usahakan kegiatannya ditempat yang agak tinggi.

    Banjir tahun lalu di Jakarta juga bertepatan dengan kondisi bulan seperti tanggal 7-8 nanti. Dan kalau disertai hujan deras juga akan menambah sulitnya air menyerap ke dalam tanah dan menyebabkan banjir besar. Kalau tidak disertai hujan barangkali tidak akan banjir seperti tahun lalu. Ber-Doa aja lah. Atau bersiap-siap basah-basahan …
    btw, kalau ke pantai ngga mau basah … ya udah “ke gunung ajeee !”

    Coba lagi yang ini :

    http://rovicky.wordpress.com/2007/11/29/mengintip-gempa/

  3. pak, saya dengar dari teman tanggal 7-8 februari 2008 ini akan ada kenaikan gelombang laut di laut jawa. apakah benar pak?apakah memang itu sehubungan dengan posisi bumi-bulan-matahari seperti penjelasan di atas, karena saya ada acara di dekat pantai pada tanggal2 tersebut.makasih sebelum dan sesudahnya.

  4. yang jelaas pas pasang besar enak buat mancing …he3xxxx

  5. sangat baik dan penting/perlu untuk meanmbah wawasan.

  6. Aswr.wb. Pak saya ingin gabung. saya sangat membutuhkan literatur tentang dinamika pantai yang terjadi di maluku utara. Info ini sangat membantu saya dalam penulisan desertasi saya. Boleh kan saya copy. Thanks.

  7. hem…………..

  8. Kewujudan sistem cerapan pasang surut berdigit, teknologi komunikasi menggunakan gelombang radio dan satelit, teknologi perkomputeran dan sebagainya pada ketika ini membantu aktiviti atau usaha pemantauan kejadian bencana alam secara samulajadi seperti banjir, tsunami,paras pasang surut dan sebagainya.
    Apa pendapat anda dan diharap anda dapat memberikan ulasan anda secara terperinci.

  9. Selamat bergabung mpokneh, asyik deh disini, sesama tamu kita punya pemandu yang canggih yaitu pak Usil. Mpok baru menyebut Pak,Mas,bu dan mbak.Masih ada sebutan lain belum mpok tulis, yakni Pak Dhe untuk pengasuh blog ini :Pak Rovicky Dwi Putro Hari (silahkan buka WHO diblog ini ) dan saya Om(papang).
    Btw,saya, seorang PITHECANTROPUS walau sudah berkepala enam namun masih ERECTUS (belum bongkok he3x) juga punya kesan yang sama seperti mpok dan tamu-tamu lain terhadap penyelenggaraan blog ini pada saat pertama berkunjung seperti mpokneh.
    Bravo Pakdhe.

  10. baru dini hari ini, kebanggaan puncak kok ya ternyata masih ada, lho pada diri yang da setengah abad. Luar biasa web ini, betul-betul deingein sekali…otak jadi balans, serasa qt hirup ozon, huaah..Ide web ini, cerdas, jeli, kritis, sopan, pendeknya cemerlang. Tiap malam sampai pagi, baru kali ini saya jumpa web ini…Andai semua website punya gaya dan energi otak dikelola seperti web ini, saya yakin hueh hueh…pasti virus kkn yang horor ntuh, minimal terisolir, ndak jadi cancer stadium 3 geneh, pak, mas, bu, mbak, yaaa. saya kulonuwun dulu, neh, dengan kekaguman walo ndak ‘gumunan’,karena komunitas ini cuma segelintir manusia di antara ntah berapa riboean phetican-trophus, jei. Salut untuk semua partisipan web ini….

  11. Ikut komentar sedikit.

    Ketika terjadi gelombang tinggi 18 Mei 2007 pukul 07:00 WIB lalu dimana di Parangkusumo (juga Logending Kebumen) tingginya mencapai 7-8 meter dan menghempas ke daratan hingga 200 m, koq sepi ya dari analisis konspiratik. Beda dengan kejadian tsunami 26 Desember 2004, juga tsunami 17 Juli 2006, yang segera memunculkan beragam ‘teori’ dan yang paling diminati adalah peledakan scalar weapon di Samudera Hindia seperti dikupas sebuah majalah intelijen. Mungkin karena korban (jiwa)-nya tidak ada, jadi tidak heboh. Padahal, kalau kita berkaca pada ujicoba nuklir bawah laut dangkal seperti Baker, gelombang-gelombang laut yang tinggi dengan periode gelombang pendek itulah yang menjadi ciri khas tsunami produk ledakan (bisa dibaca di bukunya Dolan, 1972, The Effects of Nuclear Weapons, terbitan Pentagon). Namun dengan area yang terpapar gelombang tinggi begitu luas, dari NAD hingga Bali, itu juga bukan disebabkan oleh ledakan nuklir karena, percaya saja, ledakan nuklir itu ‘laksana menggarami samudera’ dalam pembangkitan bencana berskala besar.

    Kalo masalahnya pasang surut oleh pengaruh Bulan, kita bisa melihat data-datanya. Merujuk MoonCalc v6.0, konjungsi Bulan – Matahari terjadi pada 17 Mei 2007 pukul 01:28 WIB, sementara perigee (posisi terdekat Bulan dengan Bumi) terjadi 27 jam sebelumnya dengan jarak Bumi – Bulan (centre to centre) 359.400 km. Jadi konjungsi terjadi saat Bulan berada dalam posisi perigee, dan disini terjadi “spring tide” : pasang naik maksimum. Kondisi yang sama juga terjadi pada bulan April (konjungsi-perigee hanya berselang 6 jam dengan jarak perigee 357.100 km), Maret (konjungsi-perigee berselang 15 jam dengan jarak perigee 357.800 km) dan Februari silam. Karena pada pertengahan bulan April, Maret dan Februari lalu tidak ada gelombang tinggi di pantai selatan, bisa dikatakan pasang-surut karena posisi Bulan bukan faktor utama penyebab kejadian gelombang tinggi. Jika kasus ini dependen terhadap variabel pasang-surut karena posisi Bulan, seharusnya pada pertengahan April juga terjadi hal yang sama, apalagi perigee Bulan saat itu lebih dekat.

    Mungkin hal ini yang melatarbelakangi pemikiran Muslim Muin dan Andojo Wuryanto (Muin & Wuryanto, 2007, “Gelombang Alun Dapat Diprediksi”, Kompas 23/05/2007 hal. 45) untuk menyatakan gelombang tinggi itu disebabkan oleh gelombang panjang (swell) yang sudah terdeteksi sehari sebelumnya di lepas pantai timur Afrika Selatan berdasarkan release ESA (European Space Agency). Swell ini mirip tsunami, sama-sama gelombang panjang sehingga sulit diredam batimetri setempat, bedanya swell memiliki periode jauh lebih kecil (T ~ 10 detik) dibanding tsunami (T 10 menit – 2 jam dan panjang gelombang > 500 km, kecuali tsunami Krakatau dengan T ~ 5 menit). Sebagai pembanding, gelombang laut biasa (yang dipicu angin) memiliki periode 5 – 20 detik dengan panjang gelombang 100 – 200 m menurut NOAA.

    Karena periodenya lebih pendek, secara teoritis energi swell sudah terkuras dalam perjalanannya, sehingga daya rusaknya pun lebih kecil. Sebagai pembanding, ketika terjadi bencana tsunami 17 Juli 2006 di Pantai Suwuk (Puring, Kebumen) tinggi gelombangnya hanya 1,3 m (berdasar jejak di sisa-sisa tembok/pohon, kalo alat ukur yang saya pake bisa dipercaya), namun hempasannya ke daratan mencapai 300 m dengan daya rusak yang sungguh luar biasa. Sementara swell ini, meski tingginya disebut mencapai 7 m, namun hempasannya ‘hanya’ sejauh 200 m saja.

    Baik swell atau tsunami, kembali kita dihadapkan pada persoalan klasik : ketidaksiapan, khususnya pemerintah kita. Swell 18 Mei ini sudah terdeteksi 24 jam sebelumnya oleh ESA, dan lagi-lagi pemerintah kita tidak memberikan warning apapun dan lebih disibukkan dengan urusan menangkis ‘serangan’ dana nonbujeter DKP. 17 Juli 2006 pun sama, 45 menit sebelum tsunami sudah ada warning dari Jepang, namun dengan santainya administrasi SBY-JK memutuskan tidak perlu disebarkan, karena hanya membuat kepanikan banyak orang.

    Best regards

    Ma’rufin

  12. “….Pasang surut air ini memang sangat mempengaruhi banyak sekali gejala-gejala alam di bumi. Salah satunya gempa bumi. Nah mana yang menyebabkan mana itu yang sulit…” ini hubungan antara peristiwa pasang surut air (kalo di artikel di atas juga ditulis gelombang pasang) dengan gempa atau gaya pasang surut dengan gempa?

    Kalo masalah “…“Jumat Kliwon” seperti kepercayaan nelayan di Selatan Jawa Tengah…”, kayaknya ini bukan hanya terjadi dikalangan nelayan ya,tetapi juga di kalangan elite loh. “Atmosfer” metafisika itu begitu kental di negeri ini, dan tidak terpengaruh oleh “gerak gasing Bumi” :-)

    salam kenal pakde,

  13. “…… Dari software pasut yg saya punya (WXTide), tanggal 17-18 Mei kemarin adalah termasuk kondisi neap tide (bulan mati), ….”

    Maaf pak, sedikit koreksi…. kondisi bulan mati / bulan baru itu termasuk spring tide. Ini blog lain pak rovicky ya? soalnya saya sudah ngelink yang “hotmudflow”. Yang ini saya link juga ya pak?

  14. Wah artikel Pak Djamal ada disini :D

    http://www.antara.co.id/arc/2007/5/23/bulan-purnama-picu-pelepasan-energi-di-lempeng-bumi/

    Chrsttncw
    Untuk yang satu itu (seamount dan gempa2 di Jawa) baca saja di :

    http://rovicky.wordpress.com/2006/10/03/gempa-yogya-dan-dinamika-palung-jawa-gempa-kobe-vs-gempa-jogja/

    Ditulis oleh Dosen dari UPN Yogyakarta.

  15. wah, pak rovicky memang hebat, kok bisa mengatur waktu dengan baik??. Sempat-sempatnya menulis dongeng geologi walaupun lagi sibuk bekerja. Semangatnya jangan sampai hilang ya pak rovicky…..
    Pak rovicky bisa dijelaskan tentang seamount2 yang ada di palung selatan jawa ga? termasuk “silent zone” nya. Bisa memacu gempa yang dahsyat tidak?

  16. Pikiran saya kebetulan sama dalam menganalisis bencana gelombang pasang sekitar 17 – 18 Mei 2007. Kemarin (22 Mei) baru sempat saya tuliskan dan kirim ke detik.com dan beberapa media massa (untuk mencerdaskan masyarakat, bukan karena “Jumat Kliwon” seperti kepercayaan nelayan di Selatan Jawa Tengah) serta dimuat juga di blog saya http://t-djamaluddin.spaces.live.com/. Pagi ini ketika saya cek pemuatan oleh media massa, saya temukan ulasan di situs ini. Klop lah, saya meninjaunya dari aspek astronomis sesuai latar belakang saya. Saya jadi belajar banyak dari teman-teman geologist dan meteorologist.

  17. wah.. hebat ni penjelasan pak Rovicky. kami yang orang langit aja sampe kalah ngejelasinnya. Lebih gampang dicerna ni penjelasan.. nanti tak minta copynya ya.. bt tulisan di kayanganku.

  18. wah sumber nya saya copy habs pak poknya ampek entek kurang golek. Pak yang dimultiply tolong dong saya di ad jadi kontak. Jadi ngIdol nih sama pak Rovicky.

  19. Monggo saja kalau mau dikopi paste-kan
    Asal jangan lupa sumbernya saja :)

  20. Lha iya to, saya posting dengan temen di MP, malah saya serasa dipenthungi. hehehe. yo wis lah…..
    Sekalian matur nih buat pak Rovicky . Ijin embed artikelnya ya pak. habisan enak bener dikunyahnya, bahkan replynya juga enak-enak. I Like it… hehehehe. Sekalian saya paste saja disclaimernya disini biar mantep pisan.
    #
    Copyleft
    Anda dapat memperbanyak dan menyebarluaskan isi website ini seutuhnya, sebagian trus dicetak dijual ataupun dipakai bungkus kacang, ataupun dijadikan pesawat-terbang kertas, atau didaur ulang, dst-nya, asalkan tidak menghapus ‘catatan hak cipta’. Karena banyak karya orang lain tersadur juga dalam dokumen website ini juga.

    Makasih pak Rovicky, jadi saya sudah syah ya kalau nyontek tulisan bapak. Makasih-makasih.

  21. Wah wah wah… Buat orang awam seperti saya, cuma mlongo dan mlongo yang bisa saya perbuat :(

  22. Gertak, hubungannya dalam peristiwa angin kencang dari arah Australia, malahan pulau Jawa yang bergeser ke arah Utara. Gedung-gedung tinggi, pepohonan, dan perbukitan yang ada di pulau Jawa menahan angin dari Australia dan pasti ada gaya dorong angin terhadap pulau Jawa kearah Utara. Berapa besarnya gaya dorong ini, tidak tahu. Yang jelas perhatikan kekuatannya pada jutaan kubik air laut yang terdorong angin berupa gelombang besar.

    Namun, permukaan air laut yang meninggi bisa menahan dan mengurangi kecepatan angin.

    Nah, percaya yang mana? Masing-masing hanya dugaan.

  23. Dan apa ada hubunganya dengan cerita pasca gempa Jogja yang waktu itu diperkirakan lempeng Australia bergeser : berikut berita yang kami dapatkan kembali setelah lama “tidak terbukti” :
    “Menurut CNN,disiarkan 3 hari yang lalu bahwa lempeng bumi di australia sedang bergerak ke utara menuju asia.diperkirakan bisa bertubrukan dengan lempeng bumi di selatan pulau jawa.Diperkirakan 11 hari setelah gempa jogja, atau rabu besok (7 juni) akan ada gempa dahsyat dan memungkinkan terjadinya tsunami.Mohon doanya n plis forward ke temen-temen laen, jangan sampai putus di tangan kamu”

    itu berita yang kami terima, apakah ada kemungkinan terjadi pengunduran waktu prediksi tersebut. Mohon maaf kalau kami salah bertanya.
    Terimakasih.

  24. mungkin ga pak fenomena ini menyebabkan terdamparnya ikan coelecanth yang notabene ikan laut dalam di perairan maluku ?
    misal medan magent yang ditimbulkan oleh bulan dan matahari menyebabkan ikan tersebut kehilangan arah dan sensor kedalamannya menjadi terganggu.

  25. Pak mohon ijin sharing ke Multiply boleh nggak?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.217 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: