Kemana “lari”nya minyak bumi ini ?


Bosen ah ngomong LuSi terus … anak genit yang susah diatur
Gantian menengok peta energi dunia tentang minyak yang selalu saja menarik perhatian. Lah iya wong pakdhe kerjone ngurusin minyak terus. Tapi mestinya juga disadari semua bahwa minyak dan gas serta batubbara dan sumber energi ini bukan hanya sekedar komoditi, tetapi haris difikirkan bahwa “This is energy not just comodity“. Energi ini diperlukan untuk bekerja, diperlukan untuk hidup. Energi juga diperlukan buat blogging :) . Sayangnya di Indonesia lebih banyak yang lebih ngeh bahwa minyak itu lebih baik dijual ketimbang dipakai sendiri. Ya akhirnya kita kekurangan energi, listrik byar-pet, minyak tanah ngantri ….

- “Lah iya, Dhe, memang minyakbumi ini energi, tapi belum-belum kok nggrundel. Lantas gimana critanya perjalanan minyakbumi ini, Pak Dhe ?”

oilprice_bp2005.jpgStatistik yang dikeluarkan oleh BP tahun 2006 yang merupakan gambaran akhir 2005 dan juga statistiknya OPEC cukup menarik untuk dilihat. Sepertinya melihat peta dalam ruang global ini akan menunjukkan seberapa deras aliran minyak ini.

Seperti biasa setiap ngomongin statistik minyak selalu memberikan grafik fluktuasi harga minyak. Mengapa ? Karena secara intuitif usaha mencari minyak akan meningkat pada saat harga tinggi. Ya mesti saja mengharapkan keuntungan yang besar bukan ? Tetapi nanti kita tengok apakah bener eksplorasi migas yang sedang naik harganya memang akan sangat menguntungkan ? Terutama para BIG Player ini, apakah mereka untung besar atau untung sedikit seperti yang mereka gemborkan.

world-resources-bp2005.png opecresources.gifCadangan minyak saat ini tersebar di bumi ini secara tidak merata. Coba tengok gambar disebelah kiri ini. Kira-kira 60% ada di Middle East (Timur Tengah). Sedangkan dari kepemilikannya hampir 80% dimiliki oleh negara-negara anggota OPEC yang terlihat disebelah kanan. Wah , kalau dibandingin negara-negara OPEC maka cadangan minyak di Indonesia mah cuiliiik nemen cuman seperti garis doank ! :( . Tapi jangan kuwatir ini hanya mencatat minyak bumi saja, kan kita juga punya gas bumi, juga punya sumber energi geothermal, belum lagi batubara. Ditambah lagi beberapa bulan lalu (june 2006) di Pertemuan pengembang Gas dunia, CEO Chevron menyatakan bawah saat ini saatnya menengok gas alam (natural gas).

- “Nanti crita lain juga tentang kondisi gas alam ya, Pakdhe ?”
+ “Sik ta, ini tak selesei-in dulu”

opecflow.jpg oilmovement_bp.jpg Disebelah kiri ini terlihat bagaimana aliran minyak mentah dari negara-negara anggota OPEC. Walaupun tidak menggambarkan secara total di dunia (karena ada non OPEC 20%) tetapi mungkin lebih baik daripada kita buta total tentang pergerakan minyak bumi. Lah yang disebelah kanan ini versinya BP-Statistics tahun 2005 tentang aliran crude oil. Tapi dalam Tonnes …. emangnya minyaknya ditimbang ? Ya. Seperti kita tahu bahwa minyak ini kualitasnya salah satunya dilihat dari derajat API, dimana angka API ini berasosiasi dengan berat jenis. Nah untuk menormalisasi (menyeragamkan) makanya diukur dan dibandingkan berdasarkan beratnya :D .

Yang perlu diketahui disini adalah bahwa aliran itu adalah aliran CRUDE atau minyak mentah, bukan aliran energi, karena minyak mentah inipun harus dproses di refinery (kilang) sebelum menjadi FUEL (bahan bakar atau BBM).

Siapa saja yang untung dalam bisnis energi minyak ?

Bisnis migas ini bisa dibagi dua yaitu upstream/hulu (E&P – exploration and production) dan downstream/hilir (R & M refinery and marketing). Upstream/Hulu ini “tugas“nya mencari dan memproduksi minyak mentah. Usaha eksplorasi dan produksi ini yang di Indonesia dikenal dengan sistem PSC (production sharing contract). Lah, Pakdhe ini urusannya di hulu karena tugasnya mencari dan memproduksi minyak dan gas. Downstrem/Hilir ini “tugas“-nya memproses barang juwalannya industri hilir yang berupa crude (minyak mentah) dan juga gas. Untuk gas memang rada beda karena gas ini dijual dalam bentuk LNG, atau CNG, LPG dll yang seringkali berhubungan erat antara industri hulu dengan industri hilir, karena langsung dengan pemakai (user) mirip seperti BBM. Industri hilir ini lebih banyak untuk urusan refinery hingga pemasaran. Di Indonesia baru saja dibuka untuk perusahaan luar ikut-ikutan, makanya sudah ada beberapa pompa bensin SHELL dan juga PETRONAS.

Hampir semua perusahaan besar migas di dunia ini memiliki dua usaha ini, baik hulu maupun hilir. Mereka memilki usaha mencari dan juga memiliki usaha hingga menjual ketengan (retail/marketing) dengan memiliki pompa bensin.

refinery-margin.gifMenurut statistik BP, kemungkinan keuntungan terbesar saat ini diraih oleh downstream, coba tengok gambar disebelahkanan ini. Grafik yang menunjukkan seberapa besar margin keuntungan di sisi refinery. Dan tengok seberapa besar peningkatannya pada pada akhir5 tahun ini. Dan juga tentunya anda inget tulisan sebelumnya tentang oil boom yang terjadi akibat kelangkaan BBM bukan kelangkaan minyak mentah.

Sangat terlihat jelas dari gambar diatas kenaikan keuntungan dari usaha downstream. Saat ini perusahaan E&P tidak mendapatkan untung besar seperti yang klaim oleh BIG oil and gas E&P. Seperti yang disitir disini dulu bahwa mereka tidak untung dari sisi E&P. Nah disinilah mereka mengelak bahwa usaha EP tidak menguntungkan, namun sakjane hasil usaha/keuntungan dari sisi downstream, ya masih saja untung besar.

Tentunya menarik kalau anda nanti mengetahui bahwa ternyata Singapore merupakan negara produsen minyak diesel (solar) yang cukup besar di Asia, walaupun negeri liliput ini tidak memilki lapangan minyak :p tetapi merupakan negara eksportir BBM (Fuel), bukan minyak mentah (crude). Dan Singapore ini sering terlewat dari percaturan distribusi energi (fuel). Selain Singapura, negeri China juga net exporter diesel loh. Bahkan di berita di link ini menyebutkan Indonesia sebagai negara pengimpor diesel dari China.

Perolehan dari sektor palak eh pajak

siapa_yang_untung_g7.gifNegara atau pemerintah tentunya memerlukan biaya untuk menjalankan pemerintahannya. Biaya ini salah satunya dari palak pajak. Nah, salah satu sumber palak pajak dari energi ini dimbil dari harga bahan bakar minyak. Dan ternyata komponen palak ini cukup besar di negara-negara Eropa. Amerika justru sedikit memperoleh dari sektor palak pajak. Ini menurut OPEC looh. Ya tentusaja, setiap pemerintahan negara tentunya juga menginginkan manisnya energi minyak bumi ini, kalau ngga bisa memperoleh dari hasil buminya, ya wis dari palak pajak saja lah :p . Sehingga tidak hanya pengusaha (perusahaan) saja yang ingin merasakan manisnya minyak bumi ini.

Siapa yang haus energi ?

siapa-yang-memakai.jpgTetapi kalau dilihat dari pemakaian energi perkapita ternyata yang pualing boros menggunakan energi, ya siapa lagi kalau bukan Amrik dan juga ternyata Arab Saudi … wuik ! Arab Saudi sih memang penghasil dan pengguna. Amrik cukup boros perkapita tetapi impornya juga cukup besar. Tentunya menginginkan sumber-sumber energi dari negara lain. Bayangkan saja perorang di Amrik ini membutuhkan tiga tonnes minyak pertahun .. Whalllah ngelak tenan iki …

Awal tahun 2005 kemarin, Cina pernah dituduh penyebab harga minyak naik, karena peningkatannya yang melebihi 16% dari tahun sebelumnya tetapi sakjane kebutuhan perkapita Cina cuman kecil saja. Karena mereka banyak menggunakan batubara juga.

Apakah benar membutuhkan banyak minyak itu berarti boros ?
Belum tentu, tergantung apa tolok ukurnya. Kalau tolok ukurnya adalah efisiensi energi dimana dihitung produksi yang dihasilkan oleh penggunaan energi, maka Indonesia justru termasuk boros, karena banyak menggunakan energi tetapi kurang produktip. Jadi tentunya harus difikirkan juga bahwa energi juga diperlukan untuk menghasilkan bukan hanya untuk kebutuhan hidup semata.

Tentunya ada batas minimum yang dibutuhkan manusia untuk hidup, setelah itu dibutuhkan untuk berkarya dan menghasilkan. Lah, Indonesia ini untuk hidup saja susah apalagi berkarya, sehingga dari sisi efisiensi menjadi terlihat sangat rendah.

Tapi cukup menarik kalau melihat penggunaan energi dilihat dari lampu2 malam hari. Gambar dibawah ini memperlihatkan lampu-lampu di bumi diwaktu malam. Terlihat secara kasar adalah penyebaran populasi. Apakah lampu-lampu ini menunjukkan penggunaan listrik di masing2 negara ?.

Btw, di Jawa ini banyak lampu2nya.

Lampu2 di Bumi

Susahnya Indonesia ini (diyakini) kebutuhan energinya besar, tetapi pemakaian perkapitanya kecil (kurang dari 0.75 ton/kapita). Dan masiiih juga dianggap boros energi karena tidak produktip. Padahal bisa jadi energinya dipakai buat hidup saja susah (byar-pet). Apakah hanya karena penduduknya buanyak ?.

- “Susahnya lagi ngga merata, kalau dilihat lampunya paling banyak di Jawa, Pak Dhe” :(
+ “Hust !”

About these ads

22 Tanggapan

  1. pak dhe…

    knp Indonesia ga bikin kilang yg banyak sih?? biar bisa ngolah minyak sendiri, kan ga usah impor2 lagi.

    klo alasan ga mampu mah klise, kan bisa ngumpulin modal dikit2 aja, terus nambah deh kilang nya 1-1.
    piye pak dhe, aku ra mudeng klo urusan masak2 an minyak, hehehe…

  2. Saya usul dengan para pengelola pendidikan perminyakan. Bikin seminar dengan tema-tema yang tidak melulu teknis perminyakan, bagaimana mengebor, analisis seismik dll. Tapi saya kira perlu juga kegiatan yang mengundang berbagai tokoh lintas bidang dalam memandang energi. Bisa ahli geologi, politik, enomomi, hukum internasional dll.
    jadi pemahaman mahasiswa akan terbentuk tt realita politik energi di dunia. dan ini akan membentuk pandangan dunia yang komprehensif bagi mahasiswa. Saya kira ini yang kurang dalam pergolakan pemikiran para mahasiswa geofisika, minyak, geologi dll.

    Ya… gimana lagi wong rutinitas kuliah seabrek, dituntut lulus cepat dll… capek dehhh :)

    salam

  3. Kang Kombor,
    Kabeh itu kan karena soal FREE TRADE … pasar bebas, seharusnya sih FAIR TRADE. Ekonomi dunia ini 60% dipengaruhi ekonomi Ambrik. Sehingga harga dunia itu dikontrol (dipengaruhi harga di Amrik). Lah kalau Amrik menghargai minyak bumi tinggi semua harga minyak jadi tinggi demikian juga harga energi. Karena harga minyak dunia meninggi, banyak yang “lebih suka” ngejual minyak daripada memanfaatkan minyak. Padahal harga minyak mateng yang tinggi di Amrik itu karena langkanya kilang minyak (yg untung downstream) serta rusaknya akibat badai katrina dll. Tetapi akibatnya harga minyak mentah juga naek (ini yang upstream minta bagian keuntungan).

    Sementara di Indonesia daya belinya kecil, ya njut terus ikutan ngejual minyak tetapi tidak memanfaatkan buat diri sendiri. Jadi minyak bumi menjadi bahan komodi bukan lagi bahan energi. Makanya itu mestinya menteri komoditi ya bukan menteri energi … uspt ! :D

  4. Pak Dhe, katanya kita disuruh ganti dari lengo potro ke elpiji. Eh, nggak tahunya harga elpiji dah naek. Yang beli lengo mambu saja abot apa nggak tambah mbledhot dompetnya kalau mau mengikuti anjuran kamarentah yang pating dlewer itu?

    Janjane kenapa sih minyak yang disedot dari perut bumi sendiri kok harus didol dengan harga dunia?

  5. Cadangan minyak bumi menipis (konon). Kalo cadangan minyak angin gimana pakdhe? hihihi

  6. kalo demikian adanya, krisis minyak apakah benar2 jadi kenyataan? atau hal itu cuma menjadi isu untuk menciptakan kepanikan dunia?

  7. Ngomongin Energy terutama di negeri Tercinta, bikin ngelus Dada Dhe… Coba Geothrmalnya wae 40% cadangan dunia yang diEP baru barapa? padahal tech di bidang itu belum gila2an kayak di Migas. klo itu dimaksimalkan minyaknya gak perlu kemana2, paling cuma berapa?belum lagi energy yang laen…

    nah negara kita ini ibarat badan itu banyak lintahnya, spesiesnya juga beragam.

    Saya salut sama kepala sukunya Venezuela…….

    Pak Dhe, denger2 soal kompor minyak mau dihilangkan diganti dengan kompor gas piye itu?apa ada hubungannya sama dua blok yang baru di”jenguk” sama pemiliknya? Pak dhe tentunya sudah pernah lihat masterplan punya si”xxx” waktu diJakarta Agustus kemaren, Klo kuku sama taring “nya” sudah nancep diP.Jawa what’s next……?
    Migas paling larinya ke kita2 juga cuma…..

  8. Pak Dhe minta info bisa ?

    1. Minta info tentang COAL BED METHANE…..
    2. Bubur Merapi yang kemaren + yang baru dateng kira2 larinya akan kemana dan sudah di distribusi kemana aja? mungkin Pak Dhe ada citra landsat/ikonos/…etc. terbaru. Kayaknya menarik tuh DIY& Jateng Bisa Panen SirTu, tp Tu-nya itu lho gedene ra ngadubilah, sak hohah…

    nuwun

  9. Kok aku mumet ya bacanya. Menurutku membuatku pusing.
    Tapi aku cuman pengen ngomong gambar yg terakhir, kok keknya yang lampunya nyala terang benderang adalah negar2 di belahan bumi utara?
    Apa penghuni belahan bumi selatan pada ngungsi? :-)

  10. Mas,kalo dilihat dari judulnya ” kemana larinya minyak ” ya udah pasti jawabannya dipake oleh mahluk permukaan buat energi. yang saya mo tanya koq ga terjadi land subsidence ya, ga spt LUSI.
    Mohon pencerahannya mas..

  11. Pak dhe, Terimakasih atas oleh2nya lho..

  12. terima kasih buat tulisannya yang selalu menarik pakde :)

    -=|[bersilaturahmi denGan komentar]|=-
    -=|[gretong bilang:budayakan berkomentar]|=-

  13. salam kenal pak de,
    saya baru pertama x comment di blog nya pak de..
    saya mahasiswa petroleum eng. di jakarta..
    kebetulan saya lg ada task statisitk u/ nguji performance sumur…tp saya gak tau dari mana saya bisa dapat data-data sb..mohon bantuannya… thanks.

  14. Pak dhe emang Indonesia ndak bisa ngolah minyak sendiri yo.. kenapa tu ..? nuwun sewu padkhe nulisnya buru-buru lagi ngantri minyak tanah ini..!pakdhe sih enak nggak ngantri !

    Matur nuwun

  15. - 1. Klastik
    Harga minyak ditentukan bermacam-macam faktor.
    Kalau anda lihat gambar fluktuasi yang dibuat BP diatas, terlihat fluktuasi harga minyak ini awalnya (jaman dahulu) lebih karena supply and demand, kemudian juga faktor politis (embargo dan perang), dan akhirnya sekarang ini karena fluktuasi ekonomi, menggeliatnya ekonomi Asia pasca krisis dan juga ekonomi Cina yang berkembang.

    - 4. Mas Zainal ..
    Soal minyak habis sudah aku tulis disini
    http://rovicky.wordpress.com/2006/07/30/minyak-dunia-kapan-habis/
    Intinya kayak karet gelang, bisa diulur2 tetapi “tidak tak terbatas”

    - 5. Mas Agus
    Kalau peliknya diagram aliran BBM dalam negeri juga sudah ditulis disini:
    http://rovicky.wordpress.com/2006/06/28/peliknya-arus-bbm-di-indonesia/
    Alasan mengimpor BBM paling tidak ada karena :
    - Kebutuhan dalam negeri lebih besar
    - Kapasitas kilang dalam negeri tidak mencukupi
    - Kualitas minyak untuk kilang tidak sesuai dengan kualitas minyak yg dihasilkan.
    - lain-lain … mboh raweruh aku :(

    Anggota OPEC ?
    Setahuku keanggotaannya sesuai dengan aturan OPEC, setahuku OPEC tidak menentukan NET or GROSS exportir. Namun menurutku bahwa keanggotaannya itu menguntungkan atau tidak bagi Indonesia, itu yang lebih penting ketimbang alasan Net-Gross importir. Kan banyak juga negara lain yang export minyak tetapi tidak masuk anggota.
    Tentunya keuntungan bisa dalam arti politis, ekonomis maupun strategis global kenegaraan.

  16. lha itu baru Jawa yang paling banyak pakai lampu aja sudah byar pet…

    oh iya Pak Dhe, saya inget waktu pemerentah mau naikin harga bbm itu kan ada polemik ttg ekspor, impor, dan subsidi bbm. Pak Kwik bilang kalau sebenernya subsidi yg dibayar pemerentah utk bbm ini tidak sebesar seperti yg dibilang sama pemerentah, sementara pemerentahnya sendiri bilang bahwa semakin hari justru subsidi bbm semangkin memberatkan anggaran pemerentah. terus juga dibilang bahwa impor bbm Indonesia jauh lebih besar daripada ekspornya, dan besarnya subsidi yg katanya semangkin membengkak itu dihitung dari harga minyak yg diimpor yg harganya waktu itu sedang melejit.

    katanya jumlah produksi minyak mentah Indonesia itu sekitar 1,1 juta barel/hari, sementara konsumsinya agak lebih besar sedikit dari produksinya itu. artinya, sebenarnya, produksi dalam negeri bisa utk mencukupi kebutuhan energi nasional. cuman sayangnya, sebagian besar dari produksi tersebut, yang merupakan produksi hulu (crude oil) “harus” diekspor. dan utk mencukupi kebutuhan energi dalam negeri, pemerentah harus mengimpor hasil produksi hilir dari negara lain. nah terus Pak Dhe bilang bahwa R&M itu lebih tinggi untungnya daripada E&P, lalu kenapa Indonesia lebih memilih utk mengekspor crude oilnya, sementara kebutuhan BBM dalam negeri justru dipenuhi (sebagian besarnya) dengan cara mengimpor? apakah ini ada hubungannya dgn terbatasnya jumlah industri hilir perminyakan di Indonesia?

    nah yang lebih aneh lagi (menurut saya), secara netto Indonesia itu sebetulnya adalah negara pengimpor minyak, lalu kenapa harus tetap menjadi anggota OPEC? apa sih sebetulnya keuntungan menjadi anggota OPEC utk Indonesia yg ternyata bukan pengekspor sejati? :)

  17. Pakde emang ruar biasa… gak ada matinya, kayak LAMPU! Upst..

    Mongomong, bagaimana dengan pendapat yang ini pakde?
    “Th 1980an, cadangan minyak dunia akan habis dalam waktu 40an tahun dengan pemakaian pada waktu itu. Saat ini, tahun 2000an, cadangan minyak dunia akan habis dalam kurun waktu 40an tahun kedepan, dengan pemakaian sekarang…”

    Nah, nek tahun 2040 terbukti bahwa cadangan minyak dunia masih bertahan untuk 40 tahun lagi, kapan sebenarnya ‘limit’ cadangan minyak dunia?
    Tapi, saya agak sangat yakin kalo cadangan minyak Indonesia Raya sudah hampir habis pada 2040an… :-)

    Saatnya energi panas bumi dan energi alternatif lainnya?

  18. Dulu ada istilah ‘penyakit Belanda’ (Dutch Disease) yg kalau nggak salah ingin menunjukkan bahwa kekayaan minyak yg dipunyai malah tidak berbanding lurus dg kemakmuran yg mestinya didapatkan. Contoh pase, yo negeri kito iki. Yang masuk ke negara cukup besar, tapi rakyate dhewe sik akeh sing durung makmur, terkecuali insan2 minyaknya sudah tentu (inkl. pak Dhe kan).
    Yang terakhir ini saya percaya mereka cukup profesional kok, sesuai lah dg yg diberikan/diusahakan.
    ……
    Kmd untuk usaha penghematan minyak, saya setuju dg kebijakan Eropa meninggikan pajak minyak ini. Kalau nggak salah lebih pada pajak lingkungannya. Fyi, di Jerman sekarang harga bensin +- 1.15 Euro/liter (mahal kan!). Sebaliknya untuk sumber energi yg terbarukan (angin,panas matahari,…) mendapat insentif khusus.
    …….

    Selamat mendongeng lagi pak Dhe.

    Puji

  19. Pak Dhe, saya mo nanya’ nih…

    Selain Lusi yang super genit, bermunculan semburan – semburan lumpur lainnya seperti di kolam kanan Kalimantan dan di cepu, Jateng.

    Emange Jeroan tanah Indonesia tuh kaya piye to? Kok mendadak bermunculan yang seperti ini?

    Apa ada hubunganya dengan pergerakan perut bumi yang akhir2 ini sering banget terjadi sehingga mungkin ada lapisan yang gak bisa nahan lagi trus “muncrat” keluar?

    Buat mas Klastik, Nek, Minyak kui larang wes crito lawas mas. Lha wong Indonesia disuruh beli minyaknya sendiri kok.. Piye ora mahal hayo..? lak mbulet ae to ^.^

  20. Wah memang minyak ini selalu menarik untuk di bicarakan, saya heran di indonesia kaya akan cadangan minyak diamana merupakan salah satu sumber energi bagi kehidupan manusia namun mengapa harganya sangat mahal dan langka lagi, kok bisa gitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.165 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: