Peta daerah genangan lumpur Oktober 2006
2 Nopember 2006 at 2:32 am | In Dongeng Geologi | 14 Comments
Anda pasti sering mendapatkan info tentang pompa, pond satu, pond 2, dst … juga istilah “spill away“, relief well, Desa Renokenongo, Jalan Toll, Jalan KA, dan lain-lain, tetapi sulit membayangkan kalau tanpa peta. Iya kan ? Lah demi mengisi kehausan info serta kepenasaran anda, aku postingkan peta terbaru ya, tapi dilihat dan dipelajari donk …
Trims buat sahabat saya yang mengirimkan peta ini. Walaupun ini edisi Oktober (sebulan lalu), sukur-sukur ada kawan dari TimNas bersedia membagi peta terbaru ini secara berkala untuk sebagai bahan pembelajaran. Saya yakin peta ini akan sangat berguna buat kawan-kawan kita yang berada dimana saja untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Juga dapat mengikuti berita dengan benar-benar mengerti apa yang dimaksudkan oleh Pak Basuki sebagai ketua TIMNAS. Kalau semua mengerti dari satu sumber yang benar kan tidak membuat gaduh, tidak membuat ricuh, dan penanganan semoga menjadi lebih mudah karena tidak membuat kepanikan.
Klik saja gambar disebelah ini nantinya di cetak trus dilihat-lihat sambil baca koran, soalnya kalau di koran selalunya hanya tulisan thok ! susah membayangkan dimana ininya, dimana itunya, berapa jaraknya dsb.
Secara mudah terlihat bahwa lumpur pekat (coklat) berada disebelah utara, sedangkan diselatan lebih cair (biru) yang banyak air berada diselatan. Ini ya secara natural (alami) karena air lebih mudah mengalir ke selatan mendekati sungai, karena posisi topografinya lebih rendah. Lempung atau lumpur pekat berada di utara karena lempung ini mengendap dan tertinggal.
Tentunya kita tahu dari pelajaran SD dulu, secara alamiah (topografi) sungai akan menuju ke lokasi yang lebih rendah karena gravitasi, maka design yang adapun mengikuti pola alam. Ini salah satu mengapa kita perlu sekali mengetahui tentang hukum alam. Mengerti alam, dan yang lebih penting mengerti tempat kita sendiri. jangan sampai malah orang bule lebih ngerti isi almari kita, kan ?
Design yang dibuat dipermukaan ini semuamengikuti pola alam. Coba tengok “spill away” yang berada di selatan dekat dengan sungai Porong. Ini bertujuan untuk mengalirkan “air limpahan” (spill over). Ini akan sangat berguna seandainya dimusim hujan air banyak tertampung. “Spill away” akan mengalirkan air. Hanya saja saya ragu spill away ini mengalirkan lumpur (lempung+air). Justru kalau bisa lempungnya ditahan jangan ikutan supaya tidak mengendap, karena kalau mengendap di got ini akan menutup jalannya air limpahan.
Pompa-pompa juga ada yang diletakkan di dekat sungai, kalau ngga salah pompa ini dipakai untuk mengambil air sungai supaya lumpur menjadi cair dan mudah dipompakan. Ide ini adalah membuat supaya lempung pekat menjadi lebih cair dan dapat dipompakan. Usaha ini menurut saya secara teknis sangat visible, tetapi secara alamiah akan sia-sia.
- “Lah pakDhe niku kenapa sia-sia sih ? kalau menyelamatkan dari banjir kan berarti berguna to Dhe ?
+ “Maksudte PakDhe secara alamiah sia-sia karena debitnya tidak akan nututi. Dalam jangka panjang harus diubah nantinya kalau sudah ‘normal’. Pompa hanya mampu 50 meter kubik, itu aja pasti ngos-ngosan. Sementara debit dari LuSi sudah diatas 120 ribu m3/hari. “
- “Tapekno dhe, kan surat tugas dari Pak SBY kan menyelamatkan rakyat itu penting Dhe !
+ “Iya sih, kamu bener le, bahwa cara ini akan ‘menyelamatkan‘. Itu yang penting karena sebelum mengelolanya kita harus menyelamatkan diri dulu. Kok kamu pinter sekarang ?
- “Looh kan Pakdhe yang ngajarin”
+ “ehm-ehm ..”, sambil mlintir brengos![]()
Coba tengok juga titik-titik yang dinomori itu. Beberapa titik itu merupakan titik-titik kontrol geodesi yang dipergunakan Pak Prof Hassanudin untuk melihat geodinamika permukaan. Termasuk didalamnya penurunan dan pergeseran. Tau ndak bahwa penurunan yang terakhir tercatat seperti dibawah ini, detilnya bisa dibaca dari laporan harian yg juga dikumpulkan disini :
GPS kontinyu daily monitoring subsidance (geohazard) disekitar lokasi sumur relief BJP-R1 dengan titik referensi statik point kantor gedangan, data GPS recorded tiap 3 jam. Data pengukuran menunjukkan dilokasi relief well terdapat indikasi penurunan tanah sebesar 64,30 cm serta adanya indikasi pergeseran horizontal kearah north-east sebesar 21,6 cm (data tgl. 22 September 2006 sampai dengan tgl. 26 Oktober 2006). Kontinyu prosesing data mikrogravity tgl. 12 Oktober 2006 (progress 90%).
Sepertinya pengetahuan permukaan tentang semburan lumpur ini lebih banyak yg sudah diketahui ketimbang kondisi bawah permukaan ya. Lah, iya wong kita hanya manusia biasa bukan Ontorejo atau orong-orong
Kita harus menggunakan data-data pengukuran geofisika. Dan harus diingat data-data ini bisa diambil dari sumur relief well. Sebelum lokasi relief well nantinya juga harus ditinggalkan karena pasti akan kebanjiran juga.
Psst sudah tahu tentang semburan-semburan lumpur disekitar Sidoarjo-Porong, kan ?
14 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.




aduh makasih petanya pakdhe….eh klo mudik ke indonesia kabari aku donk… siapa tau kita bisa ketemu….
Komentar oleh b0wo — 2 Nopember 2006 #
Mas Rov,
Thank baget dengan map nya, kebetulan saya pernah kurang lebih tiga tahun mundar mandir Surabaya – Permisan, lokasinya ORF Transjava Pipeline. Dari map itu saya bisa mengetahui siapa2 kenalan lama saya yang tertimpa musibah.
Wassalam,
ES/UAE
Komentar oleh eky — 2 Nopember 2006 #
Pakdhe Rov,
Thanks banget atas peta-nya. Sangat informatif dan cukup me-”melek”-kan mata atas apa yg terjadi disana.
Komentar oleh danu — 2 Nopember 2006 #
Pak de kenapa map-nya kagak bisa penuh di kompiku
Komentar oleh Pram — 6 Nopember 2006 #
Yth Pak Rovicky, rasanya penasaran juga kalau nggak tahu progress kerjanya tim relief well. Berhubung PakDhe-ku yg satu ini banyak channel & mata2, tolong dong dibantu sekarang ini sudah sampai kedalaman berapa kaki, udah pemasangan casing sampai berapa kaki, biar agak jelas gitu lho, apa udah sampai titik temu, dan lagi berusaha menyumbat, apa masih jauh. Syukur2 kalau ada gambar penampang vertikalnya (biasanya bisa keluar gambar/skema biar bisa mbayangin).
Thanks ya sebelumnya.
Komentar oleh Adi Surabaya — 6 Nopember 2006 #
Laporan terakhir yang saya peroleh menyatakan kedalaman Rig 2 sampai 1700 an
coba saja dibaca disalah satu reportnya disini : http://hotmudflow.wordpress.com/
Komentar oleh Rovicky — 6 Nopember 2006 #
Sangat malang nasib penduduk yang tinggal di daerah bencana tersebut, saya mlihat nech mentri dan jajaran terkait kurang bekerja optimal, padahal kan kita bisa mencegah itu sebelum membesar, apakah harus bertahun-tahun baru terselesaikan? wallahu’alam.
Komentar oleh distrojablai — 10 Nopember 2006 #
Dear
Pak Rovicky,
Pak Rovicky,saya Putri mahasiswa geofisika-fisika ITS. Mau menanyakan tentang formasi apa aja yang ada di daerah porong?karena waktu saya baca artikel bapak itu formasinya kan kujung, trus ada yang bilang kalo kalibeng dll? Saya jadi bingung pak, soalnya saya mau buat artikel tentang lumpur lapindo. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon pertanyaan saya dijawab ya pak.
best regards,
Putri
Komentar oleh yulia putri w — 15 Nopember 2006 #
Bapak Rovicky yang terhormat,
saya boleh dapat koordinat titik2 pembatas bendungan lumpurnya nggak?
trus saat peta tadi dibuat (1 oktober 2006), volumenya sudah berapa ya?
topografi di sana sebenarnya datar atau bagaimana ya pak?
trimakasih banyak..
Slamet JP
Komentar oleh Slamet JP — 29 Nopember 2006 #
Pak Slamet Jipi.
Maaf saya tidak memilki koordinat hasil pengukuran titik-titik kolam lumpur ini.
Saya hanya rectify atau ploting langsung dalam peta saya saja.
Topografi sebelumnya datar. Ini terlihat dari foto satelit Ikonos sebelum terjadinya, dimana hanya banyak berupa petah sawah. Setahu saya ketinggian di lokasi BPJ-1 aslinya sekitar 11 feet dari permukaan laut.
lihat disini : http://hotmudflow.wordpress.com/bpj-1-well-data-sheet/
rdp
Komentar oleh Rovicky — 29 Nopember 2006 #
Pakdhe,
Matur nuwun sanget petanya yang baru. Saya sedang menulis report hasil fieldwork saya november kemarin di ponds di Sidoarjo untuk mengukur secara in situ kadar metal, sulfide dan phosphate dengan alat dan metode yang saya kembangkan, Pak. Saya concern ke ecological impact dari lumpur yang dibuang ke sungai, Pak. Tadi pagi pak supervisor dari UK minta peta lokasi dan saya temukan di webnya njenengan. Sekali lagi terima kasih. Dengan senang hati kalo misalnya ada info ttg ecological impact dari lumpur ini mohon di infokan ke saya. Salam dari Melbourne.
Komentar oleh Barlah — 2 Maret 2007 #
pak de kalau lumpurnya sudah kering kan bisa dikumpulkan menjadi gunung porong… ya kan pak dhe
Komentar oleh rochman — 26 Juni 2007 #
Pakdhe yang dimaksud formasi kujung itu apa tho ?
Trus apa njenengan punya peta genangan lumpur yang terbaru supaya kita jadi lebih jelas membaca kondisi terbaru saat ini (2008). Matur nuwun pakdhe
Komentar oleh Arif — 19 Februari 2008 #
menurut sy,ene baguzz……tapi bentuk gambarx terlalu brblit2!!!!
Komentar oleh ovi.... — 15 September 2008 #