Si Genit Lusi ngambeg, doh !


lusi.jpgmBalik lagi soal Si Genit Lusi yang sudah mulai ngambeg, kekeuh ngga mau pindah rumah. Persoalan Lusi masih panjang. Timnaspun kelabakan untuk “membuangnya”. Waladalah udah dikasi ijin membuang saja ternyata Lusi-nya yang masih ogah.
“Dasar, kemayu tenin ini Lusi !”
.

Timnas Lumpur Sidoarjo kelabakan menangani Si Genit Lusi yang tambah kemayu ini. Bahkan Timnas terpaksa meminta “fatwa” dari pemerintah yang diharap kan akan turun hari sabtu besok.

Problem utama dalam menangani si Genit Lusi adalah memintanya untuk berpindah dari lokasi semburan ke kali porong atau sukur-sukur mau pindah rumah ke Selat Madura. Namun Lusi ternyata mbegegeg ngga mau pindah rumah. Si Genit Lusi ini lebih susah diminta pindah ketimbang poenduduk Desa Siring. Sudah dicoba didorong pakai pompa juga dialirkan lewat parit, tetep saja Lusi ngga mau pindah rumah.

Sudah sejak awal kutulis bahwa usaha membuang ini sia-sia, mission impossible. Semua alternatif membuang akan terkendala cukup banyak. Membuang lumpur yang efektif satu-satunya ya dengan dumptruk, namun jelas tidak visible dari urusan engineeringnya. Membuat jalan ke pantai biayanya tidak cucuk. Memang membuang begitu saja diyakini tidak akan mencemari laut. Tetapi usaha membuang kali ini menjadi tidak efektif ketika debit semakin menggila.

Menenggelamkan Porong

abandon.gifTime is up … abandon ship … abandon ship !
All personnel please go to safe area !! Abandon ship !!

Dont panic ! Please go to assembly area !!

Simulasi penanganan lumpur ini tentusaja sudah pernah dilakukan sebelumnya. Tinggi tanggul sudah maksimum. Dengan tanggul darurat tentunya ada batas kritisnya. Dari simulasi inilah langkah-langkah telah diambil sebelumnya, salah satunya dengan mencoba relief well dan mencoba “membuang” lumpur ke laut. Namun sepertinya usaha-usaha ini belum menunjukkan hasil bahkan debit semakin menggila. Kalaupun usaha membuang ini berhasil, dengan debit sedemikian gilanya, maka jumlah pompa serta alat apapun hanya akan memboroskan biaya !

Pompa Lumpur (Suarasurabaya.net)Membuang dengan cara apapun, “kalau mampu dilakukan”, akan memerlukan waktu puluhan tahun perkiraan BPPT memerlukan waktu hingga 31 tahun, dengan debit masih 50 ribu saya memperkirakan bisa ratusan tahun karena ada decline (penurunan produksi) suatu saat sebelum bener-bener mati. Ntah gimana cara ngitungnya BPPT hingga dijumpai angka 31 tahun, tetapi jelas 31 tahun itu sama saja satu kali masa kontrak pertambangan yang biasanya antara 20-30 tahun.

Saat ini dengan dua pompa saja hanya mampu mengalirkan 20 ribu meter kubik sejak hari minggu hingga kamis.  Hasil yang terbaru satu pompa mampu menyedot 18.5 m3/menit (~45 000 m3/hari).  Apakah secara ekonomis visible bagi negara mengatasi pembuangan lumpur selama 31 tahun ?. Dan mampukah membuang lumpur dengan debit yang sama dengan yang dihasilkan Lusi selama itu ? Tentunya Pemerintah akan dan harus berhitung cermat.
Menenggelamkan Porong

Satu-satunya jalan yg paling logis diambil ya barangkali menenggelamkan Porong seperti yang sudah ditulis sebulan lalu disini. Proses penenggelaman inilah yang saat ini mestinya dilakukan TimNas. Prosesnya tentunya merupakan proses penaggulangan bencana alam. Mirip proses penanggulanganan letusan gunung api. Namun karena proses erupsinya lebih teratur tentunya penanggulangan ini menjadi lebih mudah terkontrol karena bahaya saat ini terutama ada diatas, yaitu bahaya dadal-nya tanggul.
Membiarkan begitu saja tentunya sangat tidak mungkin. Perlu ada intervensi engineering dalam mengelola banjir lumpur ini. Beberapa hal teknis yang mungkin perlu dilakukan adalah :

  • Pemantauan erupsi lumpur tentunya sudah dilaksanakan selama ini dan harus diteruskan. Termasuk pengukuran subsidence (penurunan).
  • Perlu pemetaan status daerah bahaya. Seperti yang juga pernah dituliskan oleh Amien Widodo salah seorang Dosen ITS disini.
  • Relokasi penduduk daerah zona bahaya. Tentunya sosialisasi merupakan cara yg sudah dijalankan saat ini kan.
  • Penyelidikan kondisi bawah permukaan. Bagaimanapun problem utamanya berasal dari dalam bumi. Pengetahuan tentang kondisi bawah permukaan merupakan kunci dalam mengantisipasi kelanjutan dari bencana ini.
  • Memanfaatkan Relief Well. Relief well perlu diubah atau ditambahkan status/tujuannya dari usaha penutupan menjadi usaha penutupan dan mencari data bawah permukaan. Banyak data-data yang dapat diambil dengan memanfaatkan sumur relief well ini. Termasuk didalamnya pemodelan bawah permukaan (3d modelling) dari gunung lumpur dengan metode geofisika. Modelnya kan sudah ada ditulis disini dan disini sebelumnya.
  • Ketinggian tanggul ini mendekati ketinggian kritis terutama karena masih mempertahankan air. Air ini sedianya diharapkan akan mengencerkan lumpur supaya mudah dialirkan. Namun cara ini meningkatkan risiko dan justru terbalik seandainya dengan keputusan mengubur/menenggelamkan lokasi semburan. Semakin kental maka bentuk gunungan akan semakin runcing, kerucut lumpur mesti diusahakan memilki kemiringan tinggi lereng lebih curam supaya bahayanya terlokasir.
  • Mengalirkan airnya saja, mungkin akan mengurangi beban tanggul darurat ini.
  • apa lagi ya ? ….
    ah nanti dikira menggurui TimNas .. wis ah …
About these ads

12 Tanggapan

  1. susahnya …lusi terus menyembur keluar dari dalam bumi …..jadi ibarat mata air didlam sumur…ngak akan kering walaupun air sudah dipakai kecuali musim kemarau yang panjang …lusi sangat berat sampai sekarang lusi belum bisa menjadi salah satu energi yang berguna untuk kita….klu sumur bisa ditimbun dengan tanah….dikarenakan bentuknya bisa ditimbun nah klo lusi malah desa sekitarnya yang ditimbun oleh lusi seiring dengan debit lusi semakin hari semakin besar…bencana ini tentu ada hikmahnya …semoga saja lusi dapat dikendalikan dengan cepat… kepada bpk petugas….yang ada dilusi tetap semangat….

  2. Kok error?

  3. Iya.. Bene

  4. [...] Bosen ah ngomong LuSi terus … anak genit yang susah diatur … Gantian menengok peta energi dunia tentang minyak yang selalu saja menarik perhatian. Lah iya wong pakdhe kerjone ngurusin minyak terus. Tapi mestinya juga disadari semua bahwa minyak dan gas serta batubbara dan sumber energi ini bukan hanya sekedar komoditi, tetapi haris difikirkan bahwa “This is energy not just comodity“. Energi ini diperlukan untuk bekerja, diperlukan untuk hidup. Energi juga diperlukan buat blogging . Sayangnya di Indonesia lebih banyak yang lebih ngeh bahwa minyak itu lebih baik dijual ketimbang dipakai sendiri. Ya akhirnya kita kekurangan energi, listrik byar-pet, minyak tanah ngantri …. – “Lah iya, Dhe, memang minyakbumi ini energi, tapi belum-belum kok nggrundel. Lantas gimana critanya perjalanan minyakbumi ini, Pak Dhe ?” [...]

  5. Ide bagus dari Masharis. Danau lumpur bisa dikapling2 untuk dijadikan SPA…. duite untuk pemindahan penduduk ketempat yang layak. Yang punya duit seneng punya private spa…. yang butuh tempat tinggal layak ada yang ngongkosin….

  6. Anu pak, gimana kalo si Lusi dimanpaatin aja, sapa tau Lusi mengandung zat yang bisa bikin awet muda, kan banyak tuh orang2 kaya mandi lumpur di salon, sekarang buka aja salon lumpur “Lusi” boleh mandi sampe puas, gitu, iya to pak? segala sesuatu yang keluar dari perut bumi biasane kan mengandung sesuatu juga, kayak belerang mengandung sulphur, air mengandung… apa yah? si Lusi pasti mengandung juga. dimanpaatin aja pak..

  7. Kalau ngeliat skalanya yang hanya 5 Km2 mana mungkin menenggelamkan Jawa. Itu mah phobia saja :D . Gunung api terbesar di Jawa saja ndak mungkin menutup seluruh permukaan pulau Jawa. Impossible !

  8. saya cuman bisa mrebes mili … , saya tau bahkan nangis ampe luh ludiro pun ga akan membantu… cuman doa saya saja buat smua sodara2 ku disana …. duuuuhhh gusti …. musti gimana nie….

  9. jangan-jangan ini awal dari tenggelamnya Pulau Jawa Pak…

  10. Nurut saya, daripada bikin bencana baru akibat sedimentasi di kali porong => air kali porong di musim hujan meluap => banjir. Mending tenggelamkan saja Porong dan sekitarnya yang dekat dengan pusat semburan lumpur. Relokasi warganya, bedol desa atau bedol kecamatan. Semua harus pindah.

  11. [...] Desa Renokenongo 2010 : Bahtera Karam (Necropolis) ditandai dengan Layanan Publik Tidak Profesional, Partisipasi Warga Rendah. Desa Renokenongo 2010 adalah bahtera besar yang telah benar-benar karam ditelan ganasnya samodra kehidupan dalam kubangan lumpur panas. Bahtera besar Desa Renokenongo menjadi karam karena warga desanya tidak memiliki daya saing, tidak berdaya dengan tata kelola desanya karena lumpur panas (LUSI), saling sikut dalam gejolak individualisme (terbukti dalam bentrok antar warga dalam pembukaan satu tanggul lumpur tertentu). Di lain pihak pemerintahannya pun tidak bisa profesional sebagai pelayan publik karena kesulitan akibat lumpur. Akibatnya, Desa Renokenongo nantinya menjadi terbelakang dan bahkan tertinggal, tidak memiliki daya saing, sumpek, terbelah, anarkis, penuh konflik, statis, semrawut, saling meniadakan,. Dan sudah terjadi. Tenggelam dalam lumpur.  [...]

  12. Kalo mbuang lumpur pake pompa ndak bisa, pake parit juga ndak bisa, pake dump truck lama dan mahal, terus pake apa yaa…
    Bisa nggak ya kalo pake apa tuh namanya yang buat ngangkut batubara itu yang ada pengeruknya langsung kayak dipake PLTU itu tuh…(ban berjalan/eskalator???)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.297 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: