Gempa Yogya Dan Dinamika Palung Jawa : Gempa Kobe vs Gempa Jogja


Sesekali agak serius sambil dahinya dikerut dikit ….. ;)
Berikut ini sumbangan tulisan Pak Dosen UPNVY – Yogyakarta (trims Pak Pras) tentang seputar gempa Jogja. Ada hal-hal yg menyangkut kegempaan Jawa secara umum seperti yg saya wanti-wanti dengan sesar-sesar di selatan Jawa sebelumnya. Ternyata pengamatan yg mendukung juga teramati dan dituliskan oleh kedua dosen UPNVY ini

Gempa Yogya Dan Dinamika Palung Jawa

Oleh : Carolus Prasetyadi)* dan Sutanto )*

Hampir empat bulan berlalu sejak daerah Yogya dan sekitarnya dihantam gempa tektonik berkekuatan 6.3 skala Richter, namun hingga kini satu pertanyaan masih terus menghantui: Mengapa gempa sedahsyat itu terjadi di Yogya? Apakah ada hubungannya dengan Gunung Merapi yang sedang aktif? Tim BPPT (Tempo, Edisi 5-11 Juni 2006) telah melakukan penelitian awal untuk mencoba menjawab pertanyaan di atas dan menyimpulkan bahwa gempa Yogya terjadi akibat pelepasan energi di sesar Opak yang tertekan dari dua arah sekaligus, dari utara sesar ini ditekan Merapi dan dari selatan patahan itu ditekan oleh lempeng samudera India-Australia yang menunjam di palung Jawa. Kesimpulan ini menganggap aktifitas Merapi sebagai salah satu penyebab gempa, namun penulis berpendapat lain. Aktifitas Merapi yang tinggi sampai saat ini dan sekaligus gempa yang terjadi merupakan akibat dari dinamika palung Jawa yang merupakan sumber terjadinya gesekan akibat lempeng India-Australia menunjam di bawah pulau Jawa yang merupakan bagian dari lempeng benua Eurasia.

Gempa akibat penunjaman lempeng umumnya merupakan gempa-dalam (kedalaman >30 km), namun yang terjadi di Yogya adalah gempa-dangkal dengan kedalaman sekitar 10 km. Kedangkalan gempa ini terbukti dari daya rusaknya yang tinggi dan memicu terjadinya sesar (patahan) ataupun mengaktifkan sesar tua yang terpendam. Di Jawa Barat terdapat sesar aktif Cimandiri dan sesar Lembang, yang secara alamiah merupakan daerah yang lebih rentan digoncang gempa. Namun ternyata sesar-sesar aktif ini luput dari goncangan gempa, gempa justru terjadi di Yogya yang selama ini dikenal tidak memiliki sesar aktif. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan gempa-dangkal muncul di Yogya dan bukannya di jalur-jalur sesar aktif yang sudah ada?. Tulisan ini bermaksud memaparkan kondisi dan dinamika palung Jawa yang dianggap menjadi sumber terjadinya gempa Yogya. Ulasan ditekankan pada bagian palung Jawa yang berdekatan dengan daerah Yogya, yakni di sebelah selatan Jawa Tengah dan Jawa Timur, meliputi kondisi fisiografi serta distribusi seismisitasnya (kegempaannya). Gempa Kobe, Jepang, yang terjadi pada tahun 1995 akan dijadikan pembanding karena dianggap sebagai analogi gempa Yogya. Diharapkan tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang mendasar tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan terjadinya gempa Yogya.

Fisiografi palung Jawa dan fenomena gunung bawah-laut

Pulau Jawa merupakan bagian dari suatu busur kepulauan yang dikenal sebagai busur Sunda (Sunda arc) yang terletak di tepi Asia Tenggara dan terbentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai busur Banda (Timor) di timur. Busur Sunda merupakan busur kepulauan hasil dari interaksi lempeng samudera (disini lempeng India-Australia yang bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm/tahun ) yang menunjam di bawah lempeng benua (disini Lempeng Eurasia) (Gambar-1 A). Penunjaman lempeng terjadi di selatan busur Sunda berupa palung (trench) yang dikenal sebagai palung Jawa. Disamping itu, penunjaman lempeng juga menghasilkan sepasang busur volkanik dan non-volkanik. Busur volkanik terdiri dari rangkaian gunung berapi yang menjadi tulang punggung pulau-pulau busur Sunda, sedangkan busur nonvolkanik merupakan rangkaian pulau-pulau yang terletak di sisi samudera busur volkaniknya. Rangkaian pulau seperti Siberut, Simeleu, Nias di barat Sumatra merupakan bagian busur non-volkanik yang muncul ke permukaan laut, sedangkan di selatan Jawa busur ini berada di bawah laut. Busur non-volkanik disusun oleh material-material yang berasal dari daratan, laut dangkal, laut dalam dan kepingan lantai samudera yang terseret, tergencet dan tercampur secara tektonik ketika lempeng samudera menunjam ke palung. Himpunan batuan yang campur aduk di dalam palung ini, disebut melange, membentuk prisma akresi (accretion prism) di sisi dalam palungnya.

Palung Jawa, panjang total sekitar 5600 km, terentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai ke Sumba di timur, memiliki corak yang beragam. Hal ini disebabkan oleh arah penunjaman dan kecepatan lempeng tidak seragam. Minster dan Jordan (1978, dalam Ghose and Oike, 1988) memperkirakan kecepatan lempeng 6 cm/tahun dekat ujung utara Sumatra sampai 7,8 cm/tahun di dekat pulau Sumba. Arah penunjaman yang hampir tegak lurus di bagian pulau Jawa ke arah timur menghasilkan ragam penunjaman lempeng yang lebih sederhana dibandingkan di bagian Sumatra dimana terbentuk sesar mendatar (sesar Semangko) karena arah penunjaman lempengnya miring dan bahkan hampir sejajar di bagian kepulauan Andaman. Ke arah ujung timur palung Jawa, di bagian Sumba dan Timor, sistem tektonik yang lebih kompleks berkembang disini dimana yang terjadi bukan lagi penunjaman melainkan tumbukan (collision) antara busur Banda dengan tepi baratlaut kontinen Australia. Dimensi prisma akresi serta kedalaman palung juga beragam dari barat ke timur seiring dengan berkurangnya ketebalan sedimen pada lempeng samudera yang menunjam.

Selat Sunda, yang memisahkan Sumatra dan Jawa, merupakan batas geodinamik yang penting dimana terdapat perubahan sudut penunjaman yang menyolok antara bagian timur dan baratnya (Zen, 1983). Disebelah barat selat Sunda, aktifitas gempa umumnya tidak melebihi kedalaman 200 km sedangkan di sebelah timurnya kedalaman aktifitas gempanya meningkat mendekati 350-500 km. Unsur geodinamik lain yang dapat mempengaruhi dinamika palung adalah kondisi morfologi permukaan lempeng samuderanya. Permukaan lantai samudera bisa relatif halus atau kasar karena adanya tonjolan-tonjolan yang terdiri dari gunung-gunung bawah laut (seamount), pematang tengah samudera, dan plato basalt. Dengan demikian menjadi tidak terhindarkan lagi penunjaman lempeng samudera membawa juga seamount atau bentuk morfologi bawah-laut lainnya kedalam palung.

Salah satu ciri palung di selatan Jawa adalah terdapatnya sejumlah seamount. Fenomena menarik ini telah diteliti oleh Tim Indonesia-Japan Deep Sea Expedition “Java Trench” 2002 (Kompas, 13 Oktober 2002) dan telah dipetakan oleh Masson dkk (1990) dengan menggunakan GLORIA long-range sidescan sonar swath yang meliputi daerah seluas 45×1300 km pada garis bujur 108° – 120° BT (Gambar-1 B-E). Morfologi utama di lantai samuderanya adalah Roo Rise, suatu plato bawah-laut yang besar yang menjulang sekitar 2000 m dari dasar laut. Ujung depan dari Roo Rise ini telah memasuki palung Jawa di daerah antara garis bujur 112° – 115° BT yang ditandai oleh mendangkalnya palung di daerah tersebut(Gambar-1 B). Disamping Roo Rise yang terbesar, juga berhasil dikenali banyak gunung bawah-laut lainnya dengan diameter lebih dari 10 km dan dalam berbagai tahap penunjaman, mulai dari yang sedang menunjam sampai yang menunjam sepenuhnya ke dalam palung (Gambar-1 D, dan E). Kedalaman palungnya berkisar antara <5600 km sampai > 7000 m dengan bagian terdalam terletak di sebelah timur 111° BT dan antara 115° dan 119° BT.

Gambar-1 D menunjukkan hasil pemetaan pada jalur palungnya. Sepuluh gunung bawah-laut berhasil dikenali dengan dimensi berkisar mulai dari <10 km sampai 60 km. Salah satu seamount (Gambar-1 E) menjulang 1500 m dari lantai samudera dengan sisi-sisinya memiliki kelerengan sekitar 10° dengan puncak yang rata. Seamount ini dalam tahapan tumbukan yang lanjut dengan prisma akresi. Akibat tumbukan ini terbentuk “parut tumbukan” (collision scar) dengan tebing curam menghadap ke sisi seamount-nya. Terdapatnya sesar-sesar turun dengan panjang 5 sampai 20 km pada lantai samudera yang berbatasan dengan palung terjadi akibat penekukan lempeng samudera ke dalam palung. Terbentuknya collision scar ini menunjukkan terdapatnya pengalihan (displacement) material prisma akresi ke arah daratan dalam bentuk perlipatan ataupun anjakan (thrusting) yang lebih intensif dan seamount yang dibawa oleh lempeng yang menunjam mengalami rekahan dengan skala yang sama dengan lantai samudera di sekitarnya. Terdapatnya seamount di selatan palung Jawa ditunjukan secara skematis pada suatu penampang 3-dimensi (Gambar-2 A).

Dinamika Palung Jawa: Distribusi spasial dan temporal seismisitas

Palung merupakan tempat menunjamnya lempeng samudera. Selama penunjaman berlangsung, lempeng samudera bergesekan dengan lempeng yang menumpang diatasnya. Gesekan antar lempeng ini menimbulkan aktifitas seismik atau gempa tektonik yang bersumber di permukaan lempeng yang menunjam. Kedalaman sumber gempa tergantung jarak
horisontalnya terhadap sumbu palung, makin menjauhi palung ke arah daratan sumber gempa akan semakin dalam (deep earthquke) dan sebaliknya mendekat ke palung gempanya merupakan gempa dangkal (shallow earthquake) (Gambar-2 B). Oleh karena itu distribusi aktifitas seismik secara spasial dan temporal di suatu wilayah mencerminkan dinamika palungnya.

Dengan menggunakan dua basis data, NOAA hypocenter data file (mulai Januari 1900 sampai Mei 1981) dan ISC data file (mulai Januari 1971 sampai Desember 1983), Ghose dan Oike (1988) mengevaluasi distribusi spasial dan temporal aktifitas seismik sepanjang busur Sunda. Berdasarkan peta distribusi seismisitas (Gambar-3A) dapat diidentifikasi lokasilokasi yang paling sering mengalami gempa (ditunjukkan oleh kerapatan titik gempa yang tinggi). Lokasi-lokasi ini terdapat di ujung utara Sumatra, di utara pulau Simeuleu, tenggara Nias, ujung selatan pulau Siberut, selatan Jawa Barat, di selatan Jawa antara 107°-110° BT, dan di baratdaya Sumba. Yang menarik, di Sumatra ternyata seismisitas dangkal yang bersumber dari palung tidak banyak melampar ke daratan (inland), sebaliknya di Jawa secara keseluruhan daratan pulau Jawa lebih sering mengalami gempa dangkal. Dua faktor penyebabnya kemungkinan adalah: Pertama, sumber gempa dangkal di Sumatra lebih berasosiasi dengan aktifitas sesar-mendatar Sumatra; sedangkan di Jawa tidak terdapatnya suatu sistem sesar utama mengakibatkan gempa dangkal yang terjadi berasosiasi dengan aktifitas penunjaman lempeng di palung sehingga lebih mungkin ditransmisikan ke seluruh pulaunya. Kedua, jarak palung ke daratan di Sumatra lebih jauh dibandingkan dengan yang di Jawa. Sementara itu jalur gunung-api aktif (yang biasanya berkaitan dengan kedalaman zona subduksi sekitar 100 km) di pulau Jawa terletak di bagian tengahnya, sedangkan di Sumatra jalur gunung-api aktifnya terletak di sisi barat dekat dengan pantai Samudera India. Hal ini menyebabkan aktifitas seismik di bagian kontinen yang dangkal lebih besar di Jawa daripada di Sumatra.

Kenampakan lain yang menarik perhatian dari Gambar-3A adalah terdapatnya “zona tenang” (silent zone) atau seismic gap di selatan Jawa di sekitar garis bujur 110° BT. Daerah zona tenang secara seismik ini memiliki lebar sekitar 75 km berarah utara-selatan terhadap palung Jawa. Aktifitas seismik kecil mungkin terjadi juga di silent zone ini, namun absennya gempa dengan magnitude >4 (bahkan di daerah sumbu palungnya) merupakan suatu fenomena yang harus dicermati.

Gambar-3B merupakan plot peristiwa gempa dengan magnitude >6 berdasarkan NOAA Data File. Peta ini memperlihatkan sejumlah peristiwa gempa di palung Sumatra yang secara umum jauh lebih besar kekuatannya dibandingkan dengan yang terjadi di Jawa. Ini menunjukkan gaya gesekan antar-lempeng lebih besar di Sumatra. Meskipun demikian, dua gempa besar dengan magnitude >8 terjadi juga di selatan Jawa yang menunjukkan secara lokal adanya zona tegasan kompresif yang tinggi di wilayah ini.

Untuk mengetahui apakah yang mendominasi dinamika penunjaman lempeng di tiga wilayah, Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, adalah faktor tektonik yang bersifat lokal atau regional, Ghose dan Oike (1988) mengevaluasi variasi temporal (menurut waktu kejadian) seismisitas di ketiga wilayah tersebut. Gambar-3C menunjukkan distribusi temporal gempa-gempa berkekuatan 6 atau lebih selama kurun waktu seabad (dari tahun 1900 sampai Mei 1981). Pada gambar ini nampak bahwa hubungan antara banyaknya (N) peristiwa gempa dengan magnitude >6 terhadap waktu secara keseluruhan menunjukkan pola yang hampir mirip di ketiga wilayah tektonik Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara. Antara tahun 1935- 1940, jumlah gempa cenderung meningkat. Kemudian dari tahun 1940 sampai sekitar 1960, dalam kurun 20 tahun, terjadi sedikit gempa besar di seluruh ketiga segment Busur Sunda. Selanjutnya sampai Mei 1981, aktifitas seismik meningkat lagi. Kemiripan pola temporal seismisitasnya ini membuktikan bahwa variasi tegasan tektonik (tegasan kompresif akibat penunjaman lempeng Samudera India-Australia ke bawah Asia Tenggara) menurut waktu untuk ketiga segment busur Sunda adalah sama, dan mengontrol secara keseluruhan pola temporal jangka panjangnya. Dalam jangka waktu yang panjang ini dinamika subduksi menimbulkan efek lokal yang berbeda-beda tergantung dari kondisi interaksi lempeng di masing-masing segment, misalnya pada Gambar-3D, dalam kurun waktu yang sama, yakni dari tahun 1900 sampai 1981, jumlah atau frekuensi gempa di Sumatra jauh lebih banyak dibandingkan yang terjadi di Jawa maupun di Nusa Tenggara. Dari sini dapat disimpulkan bahwa walaupun kondisi geodinamiknya berbeda secara spasial, bagi busur Sunda secara keseluruhan, periode naik-turunnya aktifitas gempa tidak dipengaruhi unsur spasialnya (atau lokasinya).

Gempa Kobe, Jepang: Analogi gempa Yogya ?

Gempa yang berkaitan dengan penunjaman lempeng umumnya merupakan gempa-dalam dengan kedalaman >30 km,namun yang terjadi di Yogya adalah gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 10 km. Kedangkalan gempa ini terbukti dari daya rusaknya yang tinggi di permukaan bumi dan memicu terjadinya sesar (patahan) ataupun mengaktifkan sesar tua yang tertimbun. Kejadian gempa ini memunculkan pertanyaan apakah gempa semacam ini hanya dapat terjadi di Yogya? Adakah peristiwa gempa di tempat lain yang dapat dianggap sebagai analogi gempa Yogya sehingga dapat dijadikan bahan pelajaran? Berdasarkan unsur-unsur gempa, letak geografis dan tatanan tektoniknya, seperti yang ditunjukan oleh Gambar-4 (A dan B) dan tabel berikut ini, gempa Kobe, Jepang, dapat dianggap sebagai analogi gempa Yogya.

Kemiripan gempa Kobe dengan gempa Yogya seperti yang tercantum dalam tabel di atas menunjukkan bahwa kita tidak sendirian. Kita dapat belajar dari gempa Kobe yang terlebih dahulu terjadi dan pemerintah Jepang berhasil memberdayakan masyarakatnya dalam mengantisipasi peristiwa dan bencana gempa (misalnya dalam hal peramalan / monitoring gempa, standarisasi infrastruktur, penanggulan bencana, dan sosialisasi gempa). Yang berbeda dengan Kobe dan menjadikan tantangan masyarakat Yogya lebih berat adalah bahwa selain dengan gempa mereka juga harus mampu hidup bersahabat sekaligus dengan gunung berapi. Waspada terhadap gejala seismic gap di selatan Jawa

Uraian tentang dinamika Palung Jawa dan distribusi seismisitas diatas memunculkan beberapa hal yang perlu diwaspadai berkaitan dengan sifat aktifitas seismik atau gempa yang bersumber di palung Jawa selatan. Pada prinsipnya gempa tektonik terjadi karena pelepasan akumulasi energi pada batuan (kerak bumi) yang disebabkan oleh interaksi lempeng litosferik (lempeng benua dan lempeng samudera). Semakin tinggi akumulasi energi (strain) maka akan semakin besar gempa yang terjadi.
Fisiografi Palung Jawa selatan memungkinkan terakumulasinya energi (strain) yang tinggi terutama karena kondisi lantai samuderanya yang tidak rata dengan terdapatnya sejumlah seamount (dengan diameter antara 10 sampai 60 km) yang telah menunjam di palungnya disamping hadirnya Roo Rise sebagai seamount yang terbesar yang terletak di selatannya. Klasifikasi Cloos (1993) tentang hadirnya material litosferik di zona tunjaman yang dapat menimbulkan orogenic collision (tumbukan orogenik) dan mengganggu proses penunjaman menyebutkan bahwa seamount seukuran Hawaii (tinggi > 8 km) merupakan ukuran ideal yang dapat menghentikan laju penunjaman, namun yang berukuran tinggi >1-2 km (seperti ukuran Roo Rise) juga dapat menyebabkan gangguan yang permanen terhadap proses penunjamannya dan mengakibatkan tingginya akumulasi energi didalam palungnya. Frekuensi atau banyaknya gempa yang terjadi di Sumatra jauh lebih tinggi daripada di Jawa. Di Jawa aktifitas seismik relatif lebih tenang sehingga Ghose and Oike (1988) menengarai terdapatnya silent zone atau seismic gap di sekitar garis bujur 110° BT di sekitar palung Jawa selatan yang berdekatan dengan lokasi Roo Rise. Ketenangan daerah seismic gap harus diwaspadai karena kemungkinan besar disini sedang berlangsung akumulasi energi yang tinggi di sumbu palungnya karena laju penunjaman lempeng samuderanya terhambat oleh morfologi bawah-laut seperti seamount. Sekali akumulasi energi yang tinggi ini terlepas maka gempa yang dihasilkan akan memiliki kekuatan yang besar dan dangkal (tidak jauh dari kedalaman palungnya). Apakah gempa Yogya berkaitan dengan adanya fenomena seismic gap ini? Untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti atas pertanyaan ini dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan seksama sehingga diperoleh hasil yang lebih jelas dan akurat berkaitan dengan karakteristik kegempaan di Yogya. Uraian yang telah dipaparkan disini lebih dimaksudkan sebagai informasi awal tentang kemungkinan terdapatnya gejala seismic gap di selatan Jawa sehingga diharapkan muncul sikap baru dalam mengantisipasi sifat aktifitas seismik di Jawa umumnya dan di Yogya khusunya. Gempa Yogya yang baru saja terjadi merupakan pelajaran yang amat mahal dan akan menjadi sia-sia jika kita enggan mencermati hal-hal sebagai berikut:

  • Aktifitas gunung Merapi dan gempa Yogya berkaitan dengan dinamika interaksi lempeng di palung Jawa, seperti halnya yang terjadi ditempat lain seperti di Kobe.
  • Gempa Yogya memiliki daya rusak tinggi karena disamping kondisi tanahnya yang terdiri dari endapan volkanik yang rapuh juga karena kekuatan gempanya tinggi (6.3 skala Richter) dan kedalamannya dangkal (10 km).
  • Keberadaan seamount yang telah berinteraksi dengan palung Jawa perlu mendapat perhatian lebih seksama karena hal ini dapat meningkatkan akumulasi energi (strain) di palung.
  • Rendahnya aktifitas seismik di Jawa dibandingkan di Sumatra menunjukkan kemungkinan adanya silent zone atauseismic gap di sekitar garis bujur 110° BT di sekitar palung Jawa selatan, berdekatan dengan lokasi Roo Rise, gunung bawah-laut yang terbesar di laut selatan Jawa.
  • Walaupun prioritas saat ini adalah rehabilitasi akibat gempa, namun sosialisasi yang intensif dan ekstensif ke segenap lapisan masyarakat tentang asal-usul peristiwa gempa dan aktifitas gunung berapi tetap diperlukan untuk peningkatan kesadaran bahwa kita hidup di daerah yang rawan bencana gempa tektonik dan bencana gunung berapi.

Referensi:

  • Cloos, M., 1993, Lithospheric buoyancy and collisional orogenesis: Subduction of oceanic plateaus, continental margins, island arcs, spreading ridges, and seamounts, Geological Society of American Bulletin, v.105, p.715-737.
  • Ghose, R., and Oike, K., 1988, Characteristics of seismicity distribution along the Sunda arc: Some new observations, Bull. Disas. Prev. Inst., Kyoto Univ., Vol. 38, Part 2, No. 332.
  • Masson, D.G.; Parson, L.M.; Milsom, L.; Nichols, G.; Sikumbang, N.; Dwiyanto, B.; and Kallagher, H., 1990, Subduction of seamounts at the Java trench: a view with long-range sidescan sonar, Tectonophysics, 185 (1990) 51-65, Elsevier Science Publishers B.V., Amsterdam.
  • Zen, M.T., 1983, Krakatau and the tectonic importance of Sunda Strait, Buletin Jurusan Geologi, Vol. 12, pp. 9-22.

Keterangan Penulis

  1. Nama : Carolus Prasetyadi
    • Alamat : Jurusan Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta,
    • JL. SWK 104 (Lingkar Utara) C o n d o n g c a t u r, Y o g y a k a r t a 5 5 2 8 3
    • Telp / Fax. (0274) 487816
    • Email : cprasetyadi@yahoo.com dan cprasetyadi@gc.itb.ac.id
    • Telepon : 081 5686 7499
    • Pendidikan : MSc, Department of Geology, West Virginia Univ., USA
    • Sekarang: Kandidat Doktor, Departemen Teknik Geologi – ITB
    • (Riset S3: Evolusi tektonik Paleogen Jawa Bagian Timur)
    • Pekerjaan : Dosen Jurusan Teknik Geologi UPNVY
  2. Nama : Sutanto
    • Alamat : Jurusan Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta,
    • JL. SWK 104 (Lingkar Utara) C o n d o n g c a t u r, Y o g y a k a r t a 5 5 2 8 3
    • Telp / Fax. (0274) 487816
    • Email : sutan-upnyk@plasa.com
    • Telepon : 081 3287 48026
    • Pendidikan : Doktor, bidang geologi, Univ de Bretagne Occidentale, France
    • Pekerjaan : Dosen Jurusan Teknik Geologi UPNVY
About these ads

33 Tanggapan

  1. [...] “Kalau yang itu nanti kita lanjutkan bagian kedua ya ? Sebenernya dulu pernah ditulis di sini tentang peran seamount diselatan Jawa itu disini“ [...]

  2. ada cara penanganan preventif ga?

  3. kasihan buanget ea gempa d yogya….

  4. makasih pak atas bantuannya… makalah ini menjadi referansi saya dalam menyelesaikan referat..nuhun…

  5. kereeeeeeeeeeennnnnn…
    makacih infona :)

  6. apa sih yg ada di dlm perut bumi, dan apa yang menghasilkan bentuk tersebut

  7. Thanx. Emailnya belum nyampe di yahoo saya? Jadi, inti bumi berupa apa? Cairan? Padat? Kristal? Lahar? Atau malah tidak terdefinisi? Buat yg tahu, tolong sharing yak. Thanks banget :)

  8. Core bumi adalah solid iron.
    Pencitraan Sonar adalah pencitraan ruang dengan memanfaatkan pantulan suara ultrasonik. Jadi bisa dipakenya cuma diruang yang bisa meneruskan gelombang suara ntu. Nah, kalo batuan ngga bisa meneruskan, melainkan memantulkan. Jadi ya ngga bisa bro. Pencitraan sonar paling efektif dipake dalam air, makanya submarine or submersible pake sonar, juga untuk mapping bawah laut.
    OK bro, tentang core bumi lengkapnya ntar gw tambahin lagi ya. Atau sekalian gw kirim ke email lo.

  9. Siapa aja yg tahu mohon saya diberi tahu. Thanx

  10. Buat pak de, numpang nanya. Inti bumi berupa apa? Lahar, apa batu, apa kristal? Kan bisa diperkirakan dgn deteksi pantulan sonar. Matur nuwun. Adi. Mohon dibales ke : adi_6510@ yahoo.Co.id

  11. BENDE MATARAM 2007 BERBUNYI
    BENCANA MAHA DASYAT DI P.JAWA
    KITA TUNGGU, BANYAKLAH BERDOA

  12. mr rovick aku mau tanya sampai kemana aja si kemenerusan lumpur di porong. yg aku dpt kayana di cepu juga da ada titik semburan lumpur y?trus nyambung g ma semburan yg d banjar kalsel?
    mohon informasi scptna?

  13. mgkn gak ya gempa 6,3 SR spt tgl 27 Mei lalu terjadi lg dlw waktu dekat???? apa bnr itu siklus 20th-an? coz informasi yang saya dengar bgtu???

  14. Pa2, Jare sopo kuwi growong sampek 85 Km. Iku kan cuman isapan jempol alias kabar burung yang cuman mabur … bleberrrr … kaget awalnya trus ilang ditelan angin.

    Setahuku gini :
    Kalau ngga salah jepang pernah menyelidiki sistem sungai bawah tanah yang ada di Wonosari, dan ada yg ngetract panjang dari sungai bawah tanah ini sepanjang puluhan kilometer. Mungkin saja 80-an KM.
    Tetapi ini sistem sungai bawah tanah didaerah gamping seputar wonosari hingga wonogiri. Mungkin ada yang inget adanya pembuatan terowongan vertikal, sakjane pengeboran) di Bribin. Sumur yang dibuat dibor ini berdiameter 2.5 meter !. Dan setahuku masih jalan terus looh, walaupun setelah ada gempa Jogja kemarin.
    Kalau ga percaya baca koran KR yang kusitir dibawah ini :

    Senin, 28 Agustus 2006
    KENDATI LONGSOR DIGUNCANG GEMPA
    Proyek Pengeboran Bribin Jalan Terus
    WONOSARI (KR) – Gempa bumi 27 Mei lalu memang membuat sebagian konstruksi proyek Bribin longsor. Tetapi proyek yang ditangani dari tenaga ahli dari Jerman tersebut tetap jalan terus. Para ahli Jerman sudah melakukan penyelaman selama dua hari, dan kesimpulannya tak ada hambatan yang berarti dengan longsornya sebagian konstruksi. “Kini tengah dilakukan penanganan masalah tersebut. Bahkan ke depan proyek ini akan menjadi model untuk pengangkatan air bawah tanah. Teknisi Jerman justru tertantang dengan terjadinya gempa bumi ini,” kata Bupati Gunungkidul Suharto SH menjawab pertanyaan KR di kantornya, Jumat (25/8).
    ==== end quote ===

  15. Takon pareng tho ?

    Wheleh nggegirisi jare ono wong jpn wes tau nyelidiki yen daerah Bantul kui wes growong kiro2 85km po bener po yo ?
    Waduh Gusthi paringono Slamet sedulurku Bantul ..Hikz …..!
    ;))

  16. ha kok simbah disebut, mak jegagik simbah bangun… Tapi enakan gini aja pakdhe, enak dibaca dan perlu. Kalo terlalu serius, wong ngarit kayak saya ini jadi muntaber, gara-gara gak bisa mencerna..

    Menurut simbah, wong pinter itu bukan orang yang bahasanya melangit sampai gak ngambah lemah. Tapi justru wong pinter itu orang yang bisa menerjemahkan bahasa langit sehingga membumi. Lak yo gitu tho pakdhe? :D

  17. Kenapa sering terjadi didalam satu koran ada berita gempa dan ada berita percobaan nuklir dalam tanah dangkal ?

  18. Ada yang menarik setelah melihat-lihat data dari USGS dimana gempa dgn skala 7 ke atas dari tahun 1900 sampai sekarang (2006) mempunyai frekuensi rata-rata sekitar 19.4. Nah yang menariknya lagi ada gempa-gempa yang tergolong “the largest” EQs in the world yang muncul sebanyak 12 kali dalam period yang sama (1900-2006) dimana 5 ada di Alaska dan sekitarnya, 2 di Amerika Selatan (Equador dan Chili), 1 di Tibet, 1 di Kuril (atasnya Jepang) dan sisanya 3 biji ada di Indonesia (2 di Sumatra dan 1 di Banda). Nah kalo dilihat tempat terjadinya hampir semuanya berkaitan dgn pergerakan lempeng Pasifik kecuali yang ada di Tibet dan Indonesia. Yang menjadi teka-teki disini apakah pergerakan lempeng Pasifik yang cukup cepat (8cm/thn) diantara lempeng yang lain yang menjadikan daerah2 yang berbatasan dgn lempeng Pasifik tersebut tergolong dalam daerah yang berpotensi cukup besar terjadi gempa yang relatif skalanya lebih besar dari yang lain? Banyak yang menilai bahwa 8 cm per tahun tidaklah besar. Tapi coba kalo dihitung energinya. Dengan kecepatan segitu tapi massa yang cukup besar (sebesar lempeng Pasifik) maka dapat dibayangkan berapa energi kinetik yang dilepaskan (E=0.5*m*v*v). Sedangkan kalo dilihat dari waktu terjadinya gempa yang besar, 6 diantaranya terjadi di tahun 1950 an -1960 an dan berasosiasi dgn lempeng Pasifik. Sedangkan kalo dilihat dalam rentang 100 tahun dimana gempa besar (magnitude >7) pertama terjadi di tahun 1906 di equador dan kemudian mucul kembali gempa2 besar di tahun 1950-1960 maka di tahun sekitar 2006-2010 ini apa mungkin terjadi gempa2 yang skalanya cukup besar.Wah kaya paranormal saja hehehe. Jadi dalam hal ini sepertinya gempa juga mempunyai siklus dimana dalam waktu tertentu akan terjadi gempa2 yang sangat besar dan kemudian relatif kecil kembali. Sepertinya setelah terjadi gempa yang sangat besar bumi akan mencari keseimbangan baru kembali sehingga relatif terjadi pergeseran2 kecil sebelum akhirnya relatif seimbang dan kemudian terjadi lagi ketidak seimbangan lagi.

  19. pakdhe…barusan aja ada gempa gede di jogja, hoyak semua nech..saiki isih deg2an je…wah kapan ki gempane lirih yo?… :-(

  20. Ada beberapa hal yg perlu diperhatikan yaitu :
    – Kapan pengukuran atau pencatatan dimulai.
    – Alat pencatat.
    – Perkembangan ilmu pengetahuan (konsen/perhatian thd gempa)

    Dahulu gempa-gempa kecil tidak tercatat (dicatat) sekarang mulai dicatat. USGS memilki catatan agak lengkap baru mulai tahun 1960. Pencatatan gempa tidak (kurang) menjadi perhatian sebelumnya. Saat ini setelah gempa Aceh dengan tsunami dll. Banyak yg memperhatikan, juga karena arus informasi berjalan cepat.

    Hal-hal semacam inilah yang akhirnya banyak menimbulkan “spurious correlation” atau korelasi semu. Karena jumlah korban gempa meningkat terus seolah-olah jumlah gempa meningkat. Karena info gempa semakin sering diterima, seolah-olah gempa semakin meningkat.

    Hati-hati dengan kecenderungan data statistik yang seringkali “menipu” karena adanya spurious correlation.

    Namun saya yakin gempa pun memilki pasang surut aktifitasnya. Hal ini dibuktikan adanya rekaman aktifitas tektonik dalam sejarah geologi yang jutaan tahun juga berubah-ubah. Ada periode tidak ada tekanan atau kompresi pada suatu region yang mengakibatkan penurunan (subsidence), tetapi ada kalanya strutur atau tektonik berkembang pesat yang tentusaja kegempaannya juga akan mengikuti perkembangan strudtur ini. Hanya saja skala waktunya adalah skala waktu geologi, yang ribuan bahkan jutaan tahun. Sehingga data yg pendek (puluhan tahun) sulit sekali dipakai untuk menentukan apakah ada peningkatan aktifitas atau tidak.

    Ini mirip dengan pemanasan global, apa iya pemanasan ini karena manusia ataukah karena siklus ?

  21. Trims sharing infonya. Ada gak ya yang punya data atau analisis tentang sesar-sesar aktif yang ada di Jawa Barat ( mis: sesar Cimandiri dan sesar Lembang seperti yang disebut di tulisan). Kalau punya, share dong di sini… pliiiss. BTW, walaupun sesama geologi aku lebih suka gaya bahasanya Pak Dhe… lebih renyahh!! hehe.

    Soal gathuk-gathukan, aku emang pernah baca di web earthchanges (lupa namanya… ntar dicek) bahwa keterjadian gempa akhir-akhir ini meningkat 400%, mungkin ada pengaruhnya dari ‘glacial melt’ ato es yang mencair di antartika, jadi terjadi ketidakseimbangan di bumi. Alaska juga sekarang jadi sering gempa. Katanya.. lhoooo, menurut Pak Dhe gimana?

  22. hmmm. . .
    jadi jumlah / frequensi gempa gak nambah yah?
    kalo menggunakan data dari jumlah station pemantau yg sama (khususnya buat indonesia ini) apa memang kesimpulannya spt itu yah?
    apa juga karena sekarang gempanya “bergeser” ke arah pemukiman penduduk yg lebih padat (Sumatra / jawa)? (walau freq gempa sama)
    hmmm. . .

  23. ndak bisa kalo digatuk-gatuk kan gitu pak’e. Coba baca penjelasan dari USGS ini.
    terus kalo mau data frequency gempa di indo ini ada linknya http://earthquake.usgs.gov/regional/world/historical_country.php#indonesia
    bisa dilihat ada gap dari tahun 1938-2000 ini bukan berarti ndak ada gempa tapi mungkin ndak terekam.

    Are Earthquakes Really on the Increase?

    We continue to be asked by many people throughout the world if earthquakes are on the increase. Although it may seem that we are having more earthquakes, earthquakes of magnitude 7.0 or greater have remained fairly constant.

    A partial explanation may lie in the fact that in the last twenty years, we have definitely had an increase in the number of earthquakes we have been able to locate each year. This is because of the tremendous increase in the number of seismograph stations in the world and the many improvements in global communications. In 1931, there were about 350 stations operating in the world; today, there are more that 8,000 stations and the data now comes in rapidly from these stations by electronic mail, internet and satellite. This increase in the number of stations and the more timely receipt of data has allowed us and other seismological centers to locate earthquakes more rapidly and to locate many small earthquakes which were undetected in earlier years. The NEIC now locates about 20,000 earthquakes each year or approximately 50 per day. Also, because of the improvements in communications and the increased interest in the environment and natural disasters, the public now learns about more earthquakes.

    According to long-term records (since about 1900), we expect about 17 major earthquakes (7.0 – 7.9) and one great earthquake (8.0 or above) in any given year.

  24. Pak Rovicky yg baik,

    Ada kawan saya ngomong begini, sejak thn 2000, klaim insurance di seluruh dunia karena gempa meningkat drastis, hampir 2x lipat naik tiap tahun. Iseng2 saya lihat ke usgs.gov disana ada daftar significant earthquake, saya itung-itung sbb:

    Tahun Banyaknya gempa
    2006 22 (sd September)
    2005 53
    2004 48
    2003 72
    2002 43
    2001 8
    2000 6
    1999 13
    1998 10
    1997 4
    1996 1
    1995 1
    1994 2
    1993 2
    1992 2
    1991 0
    1990 1
    (Sebelum 1990, significant earthquake antara 0-3 x per tahun)

    (trus maksudnya ape gitu). . . kalo mau digatuk-gatukan sbb. . . thn 1997 kan ada financial earthquake, nampaknya bumi ikut berguncang tuh. Trus dunia jadi terbalik di thn 2001 gara2 wtc (yg benar jadi salah, yg salah jadi benar). . . nah lho. . . itu frequency gempa jadi gede banget (eksponensial. . .) buat yg tinggal di Indonesia, ada kabar lebih buruk lagi. . . Indonesia menduduki peringkat 1, utk significant earthquake terbanyak . . . (walah lha wong korupsinya juga no 1, ya wajar toh. . .)

    btw, itu mapping frequency gempa di indon, bahkan sudah mulai meningkat sejak 1920 yah. . . ada gak ya data2 yg lebih muthakhir? (Thn vs frequency gempa di indonesia). . . (buat paranormal kali yee. . .)

    cheers, salam dari jawa,

  25. Wadaw …. lah wong crita yg kayak gini aja udah pada ngantuk tuuh !
    OK aku nanti ngeblog khusus geologi ya … Aku sedang buat khusus GeoBLOGi.wordpress.com tapi belum jadi lagi dibuat templatenya. Ntar kalau dah jadi di launch khusus. Ini dongengan buat ngedongeng sambil ngabuburit ;)
    Kalau terlalu serius bisa-bisa Mbah Dipo duko ;)

  26. Pak awang says

    ” bahwa episentrum/hiposentrum terjadi pada jalur
    non-volcanic outer arc ridge di selatan Jawa. Ini adalah jalur terusan pulau2 barat Sumatra Simeulue-Nias-Mentawai-Enggano yang menerus ke Jawa sebagai submarine ridge. Wilayah ini disusun oleh melange hasil prisma akresi konvergensi Lempeng Hindia dengan bagian Lempeng Asia (Mikro-Lempeng Sunda).”

    jadi, dari pernyataan diatas saya menyimpulkan bahwa memang ada pengaruhnya.

    Mas usul dong, dongengin tentang petrified forest di daerah banten dong. yang katanya tersebar mulai dari cibaliung sampai cianten yang berumur pliosen.
    .soalnya sayang ya kalo fosilnya diangkutin kekota dan jadi pajangan saja.trus kemungkinan dibentuknya taman wisata banten petrified forest oleh kementrian pariwisata, pemda lebak dan ITB
    , tolong isyunya agak lebih giatkan lagi biar cepat terealisasi ( mungkin tugasnya mang Okim kali yee..). kan jarang ada petrified forest di dunia ini. lumayanlah buat tambahan devisa kedepannya.

  27. Boogie kalau mau serius banget coba baca uraian Pak Awang disini :

    http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg14373.html

    disitu kita berdiskusi ttg kegempaan di Jawa.

  28. mas vick, terangin dong tentang istilah prisma akresi?
    trus ada ga pengaruh dari prisma akresi terhadap gemppa yang terjadi. soalnya di kobe setahu saya juga ada prisma akresi.
    thanx mas..
    selamat menunaikan ibadah puasa deh bagi yang menjalankan

  29. Rianda …
    Ya ndak bakalan brenti gempanya lah ya. Kalau berenti berarti platenya ngga bergerak. Kalau ngga bergerak berarti ngga ada siklus. Brarti mati donk !
    Seperti yang sering aku tulis sebelumnya bahwa peluang kemungkinan terkena gempa itu lebih kecil daripada kesrempet bajay di Pasar Senen. Jadi hati-hati daijalan ya :)

  30. Kira-kira kapan yah gempa ini akan berakhir sama sekali? Biar perasaan ini gak was-was terus, soalnya trauma nih ama gempa 27 mei kemaren. hihiihiih

  31. Wah…mumets pak Dhe bacanya :))

  32. Kata BMG cuma 3,7 SR,kedalaman 20 km. lanjutan 27 mei. Pusat 44 km barat daya wonosari, 8,25 LS, 110,33 BT. 2x gempa
    Wallahua’lam

  33. Info: Telah terjadi gempa lagi di Jogja pada sekitar pukul 8 lebih 3 menit. Goncangannya cukup keras, karena bilik warnet tempat saya bekerja (daerah Giwangan – red)beberapa diantaranya sampai berderit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.511 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: