Animasi kalau lumpur dibuang ke laut ?
27 September 2006 at 1:00 am | In Bencana Alam, Dongeng Geologi, Environment | 39 Comments
Terimakasih kepada Pak Hamzah dkk dari Lap PPKPL-ITB (Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir Laut –ITB) yg mengirimkan hasil modeling animasi seandainya lumpur dibuang ke laut. Kebetulan juga saya masih memilki peta pemberian Pak Amir dari ITS tentang presentasi dampak lingkungan sebelumnya tentang kondisi perikanan selat Madura.
Kalau digabung bagaimana ya ?
Animasi yang dibuat oleh Pak Hamzah ini menunjukkan sampai dimana saja penyebaran material sejumlah 50 000 meter kubik.
Klik gambar disebelah utk melihat animasinya (File size 1.5 MB !!)
Seperti yg beliau utarakan bahwa animasi ini bersifat preliminary atau sementara. Untuk simulasi lebih realistis diperlukan data:
TSS pada sumber, TSS di laut, debit sungai Porong properti sedimen buangan (konsentrasi, grain size, fall velocity, dll). Masih panjang jalan yang harus ditempuh. Saya yakin kalau saja ini dikerjakan secara detil dengan data-data tersebut diatas maka akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan pantai dan Selat Madura. Bantu Pak Hamzah dkk di Lab PPKPL-ITB donk.
, memberi data-data hasil pengukuran yg otantik dan ilmiah, memberikan support alat ke Laboratoriumnya ITB kek … dana juga kaleeee .. upst !
Nah dibawah ini saya overlaykan dengan kondisi perikanan di selat Madura.
Dalam 15 hari belum terlihat dampaknya di perairan selat tetapi sangat mungkin seluruh pantai timur jawa ini akan merasakan perubahannya. Terutama daerah tambak di delta Porong !
Perlu diingat dan diketahui bahwa dampak itu tidak selalu negatip ! Kita memang akan bertaruh seandainya kondisinya mendesak, emergency dan tak terelakkan. Semoga keputusan presiden hari ini (siang nanti) merupakan keputusann yang bijak.
Untuk lebih meyakinkan tentunya perlu penelitian komprehensif antara uji fisis, kimia dan biologi … serta damapak ekonomi politis … wah yg terakhir mboh aku gak melok2 ah.. Ada hal yg akan menjadi pertentangan sengit nantinya adalah ketika jumlah lumpur yg menyembur semakin menumpuk di Sidoarjo, akan dikemanakan ? Menumpuk saja sudah berarti membahayakan penduduk sekitar kolam-kolam yang masih belum permanen ini.
Sebelum anda melihat dampak selanjutnya tengok dulu suspended load (suspensi atau menunjukkan kekeruhan) di Selat madura dibawah ini. Suspensi ini adalah suspensi yang dibawa oleh sungai Bengawan Solo, bukan Sungai porong looh … Sungai Porong itu yg disebelah selatannya itu (sengaja ngga dikasi keterangan, supaya belajar peta buta
:
Untuk menangani bencana alam memang sangat memerlukan :
- Usaha
- Pemikiran
- Kearifan
- dan Kesabaran
eh jangan menganggap kesabaran itu hanya nganggur diem menerima apa adanya dengan seadanya looh ya … usaha dulu donk ! jangan cuman ngeluh doank, … ngeluh mah banyak temennya
39 Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.






Pakdhe, td pagi di TV warga Mojokerto memprotes soal pembuangan lumpur padat ke wilayahnya yg di bekas galian apa itu (mbuh lali). Alasan mereka karena takut sebentar lagi hujan sehingga sisa2 air lumpur akan merembes kerumah2 warga sekitar, kira2 bisa terjadi seperti itu ndak ya?Matur Nuwun
Komentar oleh joko — 27 September 2006 #
corrert “sisa2 air lumpur akan merembes
kerumah2kesumur2 warga sekitarKomentar oleh joko — 27 September 2006 #
Saya sangat setuju atas kebijakan presiden untuk membuang lumpur kelaut. Itu saya rasa akan mengurangi dampak sosial dan ekonomi. Untuk masalah ekologi itu bisa dipikirkan belakangan. Nasib atas hajat hidup orang banyak itu sangat penting. Baik yang secara langsung terkena maupun yang tidak langsung. Saya berharap solusi pembuangan lumpur bisa diatasi akses jalan termasuk tol dan rel KA aman, maka geliat ekonomi juga jalan. Saya juga sedikit lega, sebelumnya saya cukup stress takut kalau tidak bisa diatasi. Karena bila ini cepat terealisasi maka kelangsungan tempat kerja saya(restoran) juga akan sedikit terjamin. Terima kasih
Komentar oleh Rosihan Aji — 27 September 2006 #
Jok dampak itu mungkin saja terjadi, larutan bisa saja merembes dan mencemari ke sumur-sumur. Itulah sebabnya saya lebih menyarankan lempung-nya biar disitu saja (sebagai pengisi amblesan), tapi airnya saja yg dibuang.
Komentar oleh Rovicky — 27 September 2006 #
Ada yang perlu saya tambahkan bahwa ; semburan LUSI terdiri dari 30% padatan dan 70% air+
koloid. Padatan yang 30% ini sudah mengendap dan tidak akan bisa jalan, jadi ndablek
ditempatnya artinya kalau mau dibuang ke laut harus diangkut dgn mobil seperti yang di
buang di Ngoro mojokerto, misalnya disedot yang akan tersedot ya yang dekat dengan sedotan
nya saja bukan berarti yang diatasnya akan mengalir menuju ke sedotan. Sangat kenthal dan
ndablek. Saya sih usul dibuang ke tambak-tambak di sebelah timur, dikumpulkan disitu,
dibatasi pantainya dan dijadikan tanah oloran. jangan diserahkan laut yang akan membagi
sedimen itu.
Kalau lihat gambar itu ternyata lusi mau dibuang lewat K porong ini bisa fatal karena padatan itu akan mengendap (saat ini k porong debitnya sangat sedikit, banyak kelokan
untuk mengendap, dan ingat sekali lagi padatan itu ndablek disemprot dengan kekuatan besar
tidak akan bisa kecuali dikeruk). Kalau mengendap di mulut K Porong bahaya besar untuk
Surabaya karena K Porong ini disiapkan untuk mengelakkan banjir K brantas.
Air lumpur yang ke laut trus dimana????? gambar itu belum menjelaskan tentang koloid ini.
Air lumpur akan membuat selat madura berwarna abu-abu dst dst
Mungkin ini dulu pernah saya imelkan bahwa Selat madura saat ini menjadi menjadi tumpuan
banyak orang untuk cari makan, bahkan sudah sering terjadi carok di tengah-tengah selat
antara orang Lamongan-pasuruan-Probolinggo dengan nelayan Madura gara-gara rebutan ikan
yang satu bilang melanggar batas yang lainnya juga bilang yang sama.
Ada lagi yang menarik di selat Madura karena adanya ikan anchofish yang disukai ikan hiu
tutul yang akan masuk. beberapa kali telah ditangkap nelayan kenjeran.
Hidup ini penuh pilihan-pilihan tetapi mestinya harus bijak konsultasi dengan pihak
daerah yang akan terkena dampak.
Komentar oleh Amien Widodo — 27 September 2006 #
Makasih atas informasinya, mungkin perlu dilakukan pengkajian kembali sebelum Lumpur Lapindo dibuang di kelaut karena akan bisa merusak dan mencemari ekosistem pesisir dan keindahan bawah laut, dan tentu itu akan berdampak langsung terhadap kesehatan manusia Indonesia terutama yang rajin mengkomsusi ikan. Bukankan ini akan menyebabkan kematian secara perlahan-lahan. Selain itu dampaknya juga akan susah diatasi mengingat areal laut tampak batas, beda dengan daratan. Jadi baiknya dikaji dulu sisi ekolagis dan dampak sosial lainya.
salam lestari
Marwan azis
Green Press
Komentar oleh Marwan Azis — 27 September 2006 #
“Saya sangat setuju atas kebijakan presiden untuk membuang lumpur kelaut. Itu saya rasa akan mengurangi dampak sosial dan ekonomi. Untuk masalah ekologi itu bisa dipikirkan belakangan.”
Maaf Pak, saya kira ini kurang bijak…
meski memang manusia lebih penting, cman jangan pikir hewan laut ato biota laut lainnya ga protes. klo mreka bisa ngomong mreka juga pengen bilang lindungi kami. niscaya kamu pun akan mendapat manfaatnya…..
memang saat ini yang jadi pemikiran ada lah “cost reduction”. tapi klo cman mindahin masalah k tempat lain suatu saat masalah itu muncul lagi, dan mungkin akan nambah biaya yang bebih besar lagi…..
Mungkin hukum alam sedang terjadi saat ini. saat dimana kita menyia2kan dengan exploitasi tanpa memikirkan dampak lingkungan…
KLo di tanya slusi, saya sebagai orang awam. Semprot aja luapan sumur dengan “loquid O2″(saya lupa, pokonya dari senyawa oksigen yang bisa membekukan apapun dlam sekejap) supaya beku (saya nonton film McGyver waktu jaman baheula)….
heheheh….
Komentar oleh ting2 — 27 September 2006 #
Cak, menurut Sampeyan kenapa Pemerintah lambat sekali ambil keputusan? mBok yaa lumpur tsb dibuang ke laut aja kenapa sih… khan luas daratannya nanti bisa bertambah (kayak Singapore) dan juga siapa tahu kelak di kemudian hari bisa dijadikan tempat relokasi para pengungsi yg tempat tinggalnya tenggelam oleh lumpur Lapindo ini.
Komentar oleh vitanuova — 27 September 2006 #
Lumpur itu aslinya juga dari endapan laut yang tersedimentasi di cekungan laut, LUSI itu tidak ada kandungan hidrokarbonnya, salinitas +/- 18%, asin. Seperti halnya air formasi. Sekarang dalam keadaan DARURAT SEKALI, so harus memilih, diselamatkan jiwa manusianya yang ribuan dan harta bendanya itu atau kembali lumpur itu mengendap di laut…
Kali Brantas, setiap hari juga mengirim berton-ton lumpur dari gunung-gunung ( bumi juga ) menuju laut, Juga Kali Bengawan solo itu, lalu kenapa kita masih ribut ? Bila ikan-ikan pada mati, apa kita mau menagisi mereka ?
Nah disini tekniknya, bagaimana kita mengirim LUSI ke laut tapi langsung ke dasar samudranya tanpa atau meminimalkan pencemaran di tambak-tambak udang dipermukaan. Harus ada yang sedikit dikorbankan…Ibarat pepatah buah simalakama, tapi ini tidak sepelik itu pilihannya.
Bila KLH sudah yakin tak ada zat B3 nya, ya langsung saja ke laut, atau memang takut dengan acungan “clurit yang besar-besar itu” ?
Komentar oleh Ahmad Kabul — 27 September 2006 #
Sudahlah dialirken dan dibuang ke laut azza secara permanen ….
Kita berpacu dengen waktu datangnya musim hujan yang bisa mengancam akan menggelontorkan dan mem-fusokan puluhan/ratusan ribu habitat yang ada di Porong dan sekitarnya, ape eloe semua kagak ngeri dengen musibah ini …?
Perkara amdal dan ekosystem kita pikirken lagi setelah lebaran atau tahun baru 2007, ok … ?
Gitu azza koq repot …
Komentar oleh DaLBO — 27 September 2006 #
Apapun langkahnya, kami yang selama ini terisolir untuk menuju ke Surabaya mengharapkan agar dapat dicarikan jalan terbaik.
Salam,
Probolinggo 27/09/06
Komentar oleh dhany — 27 September 2006 #
Modelnya Pak Hamzah sangat bagus. Sifat fisik lumpur sudah diperhitungkan? Selama 15 hari yang terlihat abu-abu dilaut itu apakah air atau air+ lumpur? Ingat 30% lumpur dan sisanya (70%) air. Jangan sampai lumpurnya ketinggalan di jalan (Kali Porong). Pendangkalan terjadi.Gawat. Perlu sekali physical parameter diteliti benar. Moga-moga saya salah meantisipasi. I may be wrong.
Komentar oleh Mohamad Untung — 27 September 2006 #
ah sudahlah, mbok gek ndang dibuang ke laut, opo iyo jeruk makan jeruk? wong dititi teliti yo tetep ndak berbahaya amat to! Apa iya ribuan nyawa yang kan dikorbankan, apa mau nunggu hujan turun, mak breess trus tanggulnya pada jebol, baru saat itu “Wooo korbannya banyak, ya udah ke laut aje”. apa iya kalo ndak dialirkan kelaut trus pas tanggul jebol karena hujan deras(seandainya saja semoga tidak) bisa menjamin air itu ndak ke kali porong? padahal khan cukup deket. sudah korban nyawa, harta, biaya malu pula. maaf lah kalo pendapat saya ndak ilmiah, intelek karena yang saya hanya orang awam, ora mambu bangku kuliah.
Komentar oleh joko — 27 September 2006 #
mungkin kalau dibuang ke laut tu juga perlu diatur debitnya, sehingga dapat mengalir dengan lancar dan tidak menyumbat sungai.
Komentar oleh nice_can15 — 27 September 2006 #
Wah…sempat kagum juga dengan pembahasan yang ada disini.
Cuma saya juga mau nyumbang wacana lagi nih…
Kira-kira memungkinkan nggak ya…kalau lumpur tersebut di”injeksikan” kembali ke sumur-sumur yang ada, yang target kedalamannya memiliki kondisi formasi yang sama.
Atau malah jadi muter terus ya…..
Ada pemikiran disaya…bagaimana kalau lumpur tersebut di treatment dahulu…dipisahkan antara padatan dan airnya. Cuma memang masalahnya adalah berapa besarnya laju aliran/debit dari lumpur tersebut dibandingkan dengan kapasitas dari peralatan treatment tadi. saya pernah tau ada alat untuk treatment tapi waktu itu dipergunakan untuk sludge.
Terima kasih
Komentar oleh ardhian — 27 September 2006 #
Lha piye to le? wong kabeh podo golek untung dhewe-dhewe.
Nang darat opo nang laut podo wae to, tetep bencana…..
Trus sing pener kuwi yo tetep sing gawe urip
Komentar oleh mbah lumpur — 27 September 2006 #
mbah pinaringan ilik2 menyang kuwi pulisi kok ora manusiawi, sopo kuwi kapolwil sing nggawe jeneng anang kuwi lho, kok wong-wong sing keno lumpur kok dipadakno maling opo, kok arep di bedil ndas-se. Mbok yo ngganggo boso sik becik to le!!!!
Tak suwuk genti kowe malah melek merem, kapok
Komentar oleh mbah lumpur — 27 September 2006 #
Amazing information…
tapi ini bukan bencana alam….geologist dan ahli kebumian lainnya di Lapindo harus turut bertanggung jawab juga….
Komentar oleh Tumbur Parlindungan — 27 September 2006 #
yang ngerti dan ngeh gini kan orang – orang pinter , aku cuma pengintau seberapa jauh saudara – saudaraku yang pinter dapat mensosialisasikan ke warga sekitar sidoarjo , aku tinggal nggak jauh sih dari lokasi cuma kurang lebih 4 km , tapi aku nggak merasakan dampak apapun , cuma khawatir aja area kosong setelah ditinggal lumpur di bawah bumi itu penagananne piye , kan nggak pernah dibahas ( sory pendapat lulusan ekonomi ) , mung aku bersukur ternyata setelah aku cari tau GEOLOGIST nya lapindo bukan alumni UPN , sak no lho nek wong wong mung ngomong tok ( KACANG = kakehen cangkem )
Komentar oleh agung sad hadie nugraha — 28 September 2006 #
Ternyata kita mempunyai pilihan dengan jawaban beresiko semua, mungkin kata mudahnya pilihan terbaik dari yang terjelek, nah … sedangkan perkiraan dari akibat-akibat yang akan terjadi masih perlu diuji dulu.
jadi …ya sudah dibuang ke laut saja …..inilah pilihannya.
Komentar oleh Djarot IS — 29 September 2006 #
mbok ojo pathing petjotot kebanyaken. waktunya berjalan terus nih. solusi blm jelas mana yg mau diambil. selak keburu udhan trus banjir lumpur…
banjir air saja susah, apalagi bajir lumpur kegelontor air hujan.
siapken kapal keruk dikali porong, trus lumpurnya segera dialirken kesitu. nek mampet yo cepet2 dikeruk.
soal efek 10-20thn kedepan itu soal nanti. tiru aja itu pejabat pemberi HPH. hutan wis gundul kabeh juga gak jelas 10thn lagi udah tumbuh pohon besar apa belom… sementara kerusakan dan kerugiannya sdh jelas.
saran saya cuma satu. alirkan ke laut.
setidaknya utk saat ini itulah satu2nya jalan yg terdekat.
mbuh maneh nek mari lebaran nemu cara lain. kan bisa dipertimbangkan lagi…
Komentar oleh Mbah Mari Joss — 29 September 2006 #
“Saya sangat setuju atas kebijakan presiden untuk membuang lumpur kelaut. Itu saya rasa akan mengurangi dampak sosial dan ekonomi. Untuk masalah ekologi itu bisa dipikirkan belakangan.”
Saya kok sangat setuju sama pendapat Pak Rosihan Aji..
Coba kalo dipikir2 lagi..lumpur yang keluar itu adalah suatu material yang asalnya dari dalam bumi..bukan limbah,, apalagi beracun sehingga membahayakan biota laut.
Masalah satu2nya yg harus dipikirkan dengan membuang lumpur ke laut adalah pendangkalan..dan ini bisa diatasi dengan memisahkan terlebih dahulu partikel lempung dengan air.
Tolong untuk masalah Lumpur Lapindo ini kita sikapi dengan kepala dingin..cari penyelesaian yang paling baik, walau tentunya tidak bisa 100% menguntungkan semua pihak..
Jangan ditambah ruwet dengan pemikiran yang njelimet..yang hanya menimbulkan debat kusir, tapi sama sekali tidak menyelesaikan masalah..
regards..
Komentar oleh dini — 29 September 2006 #
Kalo tidak dibuang kelaut kira2 ada solusi nggak mau diapain tuh lumpur, jadi tolong beri solusi donk!! apa iya mau nambah luas dan tinggi tanggulnya, lantas mau sampai seberapa? toh juga ada batasnya, trus kalo jebol akhirnya juga tuh air mau kemana?
Komentar oleh Joko — 29 September 2006 #
sudah segera dibuang ke laut saja,semoga tidak menimbulkan dampak yang besar
Komentar oleh agha — 30 September 2006 #
cepat buang ke laut, jalan arteri biar bisa dipakai lagi
Komentar oleh arlin — 30 September 2006 #
Dicari!!
((
Cara paling jitu untuk mengorek lumpur yang memenuhi jalan perumahan dan yang masuk ke atap rumah, tanpa membuka genting dan plafon!!
Komentar oleh tzc — 30 September 2006 #
Yuk, duduk yang rapi kita bahas sama-sama…
Pak Presiden, Pak Menteri, Pak Bupati, Ibu Green Peace, Bapak-bapak ahli lingkungan, dan para korban LUSI, silakan duduk dan nikmati hidangan alakadarnya.
sembari kita ngobrol gimana baiknya penyelesaian untuk kasus ini.
Pokoknya kita duduk ngobrol aja dulu sampai ditemukan cara yang baik untuk semuanya, dengan ongkos serendah-rendahnya, tanpa ada yang dirugikan sama sekali.
Komentar oleh Oman Komarudin — 5 Oktober 2006 #
gimana solusi yang jelas, jangka panjang, aman, and masuk akal untuk kasus lumpur sidoarjo ini? Thank’s bgt…
Komentar oleh geograph Kecil — 17 Oktober 2006 #
lebih baik lumpur tidak dibuang ke laut/kali porong.
Komentar oleh silent man — 19 Nopember 2006 #
lebih baik lumpur dimakan saja?
Komentar oleh Oman Komarudin — 23 Januari 2007 #
wah,,, kayanya penanganan kasus ini dari awal udah salah….
selalu banyak pertimbangan tiap kali maw melakukan penanganan… keburu semburan tambah banyak khan…
lah,, daripada gitu,, dulunya mengamankan warga aja sampai benar – benar terjamin nasibnya…
saya sih setuju untuk pembuangan ke laut… daripada mengumpul di daratan dan lebih berbahaya,, contohnya subsiden yg sekarang jelas udah terjadi…
selain itu,,, para ahli yang menangani kasus ini bukan hanya dari satu bidang,,, tapi dari semua bidang…
jadi analisis dampaknya bisa dipecahkan bareng – bareng…
daripada kelamaan mikirin bagaimana caranya “menutup” lubang,, mending kita pikirin rakyatnya mau diapain kalo udah begini…
mungkin lumpur yang mengendap sekarang bisa dimanfaatkan untuk proyek jangka panjang,,, batu bata atau pengolahan gasnya mungkin…
mungkiiin lohhh…..
Komentar oleh ninitz — 18 Maret 2007 #
ini orang nyeletuk yah:
================================
silent man Says:
November 19th, 2006 at 3:24 pm
lebih baik lumpur tidak dibuang ke laut/kali porong.
================================
Komentar oleh Oman Komarudin — 16 April 2007 #
kenapa smua pd bisa ngomong doank seh?? mbok yao segera singgingkan lengan baju bantu masyarakat kurban lumpur lapindo…..
bantu dunkz….bantu lewat cara apapun….bantu do”a juga gpp koq…..
sy jg kurban neh….
Komentar oleh prawira — 29 Mei 2007 #
kami jadian tanggal 9 july di ragunan.saat itu kami merasa senang sekali karena bisa jadian.
sekin komentar dari kami
_thanks_
RayNa
Komentar oleh rayna_9 july — 24 September 2007 #
Tolong dipikirkan juga isi perut bumi yang selama ini telah dikeluarkan. Apakah tidak beresiko ?, Apakah gempa yang selama ini terjadi pengaruh dari keluarnya lumpur ?, Apakah ada kemungkinan ada sebagian Wilayah yang akan mengalami ambrol/longsor setelah lumpur yang ada dibawah keluar
Komentar oleh jakarta — 12 Oktober 2007 #
apakah perlu menunggu sampai terjadi baru bertindak.
apakah perlu membentuk badan2 khusus?bkannya langsung menangani itu yg d perlukan?
Komentar oleh MEDUNTEN — 12 Desember 2007 #
UNION peace
pY-Pienk
Komentar oleh MEDUNTEN — 12 Desember 2007 #
sebenarny yg membuat itu smua terjadi toh manusiany…jd jangan mau enakny aja doonk,klo mank kalian manusia….jangan hany mengatakan SEHARUSNYa…. tapi di lakukan dg Cepat dan Tepat.itu
baru Manusia….
Komentar oleh py=PIenk — 12 Desember 2007 #
Lumpuer yang terdapat di bumi ini terjadi karena adanya endapat molekul2 tanah yang mengendap di dalam air yang mengakibatkan lumpur menggumpal. Bila kita mengamati yang terjadi di siduarjo jawa timur tersebut. LUmpur itu memiliki gas yang dapat menghembus dari dalam bumi yang mengakibatkan gas tersebut dapat berbahaya bagi lingkungan sekitar, dalam terjadinya hembusan lumpur itu sebenarnya molekulnya menggumpal danbersatu dalam air. Akibat lumpur lapindo tersebut tidak mudah hanya mencegah dengan memberikan keping-kepingan peton didalam lumpur tersebut, itu mengakibatkan hembusan gas dan lumpur tersebut akan membesar dan tidak akan tersumbat dengan baik. Sebaiknya yang dilakukan oleh tIMNAS Penanggulangan lumpur di lapindo memikirkan bagaimana caranya masyarakat dilungkungan tidak terkena hembusan lumpur. Dan pemerintah jangan menganggap terjadinya hempusan lumpur tersebut hanya kejadian yang sepele. Saran dari saya sebaiknya adalah memberikan aliran yang baru untuk membuang lumpur cair ke laut, pembuangan lumpur cair tersebut jangan memekirkan habitat laut didalamnya sebaiknya memekirkan masyarakat yang terus-meterus mengalami penderitaan yang tiada akhir dan TIMNAS juga menydiakan alokasi tempat singgah yang baru terhadap masyarakat di sekitar lumpur lapindo. “Jangan lupa membayar ganti rugi, ya!”
Komentar oleh Sastro — 5 Januari 2008 #