Model West Java Tsunami 17 July 2006
17 Juli 2006 at 2:17 pm | In Bencana Alam, gempa | 39 Comments
Berikut saya dongengkan tentang tsunami yang barusaja terjadi di Pangandaran pada hari Senin, tanggal 17 Juli 2006. Trimakasih kepada Pak Dr Hamzah (ITB) yg bekenan membagi infonya ke kita, untuk memberikan pelajaran tentang genesa dari tsunami ini.
Ketinggian tsunami tersebut di dekat epicenter hanya sekitar 1-1.5 meter. Namun sperti yang sering digambarkan pada penampang tsunami, maka ketinggian gelombangnya meningkat, bertambah tinggi ketika pantai mendangkal.
Sangat mengagetkan, ternyata tsunami tersebut diperkirakan menghantam pantai selatan Jawa dengan tinggi maksimum mencapai sekitar 4 meter ! (klick gambar utk memperbesar)
Waktu yg dibutuhkan oleh gelombang tsunami itu menjalar dari pusat episenter ke pantai selatan jawa hanya membutuhkan waktu 15-20 menit saja setelah gempa. jarak pantai terdekat dengan sumber gempa sekitar 200 Km, kalau kecepatannya 800 Km/jam, maka memang 15 menit saja sudah sampai di pinggir pantai selatan Jawa. Jadi seperti gambar kartun diatas, bahwa ketika gempa dirasakan di pinggir pantai, maka saatnya untuk mencoba menghindari pantai, karena waktu yg tresedia hanya 15-20 menit saja. Itu kalau dianggap bahwa gelombang menjalar dengan kecepatan cahaya. Lah kan gelombang getaran juga menjalar perlu waktu. Artinya antara merasakan getaran dengan kedatangan tsunami bisa hanya 10-15 menit saja jedanya.
Jadi ciptakan early warning sendiri.
(coba lihat artikel : Menit-menit mendebarkan, tsunami sampai di pantai 45 menit setelah gempa)
Dalam waktu 10-15 menit, mungkin USGS ataupun BMG belum ngapa-ngapain, lah mereka masih mengumpulkan data. Belum lagi harus lapuran ke atasannya untuk membunyikan alarm. Jadi “waspada is your early warning !“
Pemodelan serta hasil pengukuran yg lebih akurat akan dibuat dan akan diupdate oleh Pak Hamzah.
Asumsi yg dibuat berdasarkan (Dr hamzah) :
The tsunami occurred at 15:19:30.73 (Loco time) ; (Simulation has been done at 17.56 after around 2.5 hours) field Report from eye witness , tsunami heights at Pangandaran:
- around 4 up to 6 m (Radio Elshinta)
- around 7 m and inundation around 300 m in land (by Phone to Hamzah from The Jakarta Post)Preliminary Result of the 2006 West Java Tsunami Simulation
By Hamzah Latief1,2), Aditya Riadi2) and Dodi Zulkarnaen2)1)Dept. of Oceanography, Institute of Technology, Bandung, INDONESIA
2)Tsunami research Group, Center for Coastal and Marine Development, Institute of Technology, Bandung, INDONESIA
Mungkinkah Nuklir ?
Jawaban tentang dentuman dan bola cahaya bisa dibaca ditulisan :
http://rovicky.wordpress.com/2006/07/18/aurora-pertunjukkan-angkasa/
dan juga alternatif penjelasan seperti uraian pak Marufin :
http://rovicky.wordpress.com/2006/07/19/samudra-yang-kembali-bicara/
juga baca ini :
http://rovicky.wordpress.com/2006/06/06/tandatangan-gempa-2/
dan ini :
http://rovicky.wordpress.com/2006/06/30/glung-bleg-dan-danau-bantul-di-jogja/
& Komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Iklan Gratis



Pak Rovicky yth.
Apakah ada kemungkinan terjadi gempa/tsunami susulan yang lebih besar?
Dari dongeng Bapak, rasanya kecil sekali kemungkinan bagi masyarakat sekitar pantai tsb untuk mendapatkan “warning” sebelum mereka sadar bencana berikutnya.
Terima kasih.
Komentar oleh Subhan — 17 Juli 2006 #
yth Pak ROvicky,
Menurut tayangan rekaman video amatir, terlihat adanya bola api besar di atas permukaan laut. Terjadi di gempa jogja dan katanya juga di gempa Pangandaran.
Mohon dijelaskan fenomena ini, mengingat adanya banyak spekulasi tentang fenomena ini.
Komentar oleh Mahfud — 18 Juli 2006 #
Saya ndak tau apakah bener ada bola api ini. Sulit skali buat saya percaya sesuatu yg muncul bersamaan diatara org-org ini. Aku sendiri masih menganggap mitos spt mitos UFO, dimana smua menyatakan mahluk berkepala panjang. Dalam hal gempa crita2 bola api, awan, cahaya, dll seolah2 muncul sbg fenomena fisis.
Tanpa adanya rekaman data fisis yg memiliki repeatability yg kuat saya kok masih menganggap hal-hal aneh tsb sebagai mitos ttg gempa, sampai nantinya science menjelaskan scr fisis.
Anda yg punya pemikiran lain ?
Rdp
Komentar oleh Rovicky — 18 Juli 2006 #
Yth Pak Rovicky,
Salam kenal pak … mo nanya2 nih
(1) Kalau dilihat dari Gambar 1 (mengenai dislokasi), apa yang menentukan arah dislokasinya? Karena hal ini akan menentukan arah perambatannya.
(2) Warning system yang anda deskripsikan mungkin fungsi dari kecepatan perambatan gempa, jarak, dll. Apakah ada early warning system yang bisa mendeteksi arah rambatan gempa ini?
(3) Bagaimana cara kerja dan akurasi dari alat pendeteksi gempa saat ini yg kita miliki?
Terima kasih atas pencerahannya
Arief
Komentar oleh arief — 18 Juli 2006 #
Mungkin bener kalau “lights” atau cahaya yg berpendar akibat EM, tetapi bukan bola api atau “fire” (oksigen yg terbakar) seperti layaknya pembakaran.
Cahaya aneh mungkin sekali muncul akibat badai EM.
Ketika berbicara awalnya mungkin benar dengan adanya “cahaya”, namun karena trus dikonotasikan “bola api” akhirnya terpeleset ke spekulasi “ledakan” … berpikir spekulasi-spekulai ini yg kadang kala berkembang menjadi mitos-mitos yg sangat mudah merasuki pemikiran logis fisis.
rdp
Komentar oleh Rovicky — 18 Juli 2006 #
Pak Rovicky,
Saya justru tertarik dengan pola lokasi gempa yang terjadi semenjak gempa yang di Aceh.
Dari urutan lokasi tersebut, apakah bisa diprediksi daerah yang masih menyimpan energi yang besar untuk sewaktu-waktu dapat terjadi gempa lagi.
Khawatir daerah pantai barat Sumatera bagian tengah dan selatan yang masih menyimpan energi yang besar.
Menurut saya, daerah yang paling aman dari gempa saat ini justru Aceh.
Komentar oleh Zulhendri — 18 Juli 2006 #
Setelah saya lihat di televisi (Indosiar). Bola api tersebut keluar dari dasar bumi yang berasal dari perut bumi yang mengandung hawa panas yang keluar dan menghasilkan bola api. Apakah benar berita tersebut, bagaimana kita mengantisipasinya?
Komentar oleh Ajis — 18 Juli 2006 #
Maaf Pak Rovicky. Apakah sekarang bisa disebut bahwa awan vertikal itu ada korelasinya dg gempa bumi? Postingan yg lalu mengenai awan ini, belum memuaskan saya. Mungkin bisa aja awan yg di Kuala Lumpur itu berbeda strukturnya atau apanya dg awan pertanda gempa. Maklum Pak, saya bukan geologist, mungkin punya artikel (links) yg orang awam bisa ngerti mengenai hal ini. Thx.
Komentar oleh Farid — 18 Juli 2006 #
Koment dari Irwan:
Pak Hamzah dan rekan-rekan HAGI ysh,
Nuhun untuk kiriman animasi tsunaminya pak. Ruar biasa !!
Menarik untuk memperhatikan revisi dari USGS akan magnitude
gempa.
1. Estimasi pertama mereka yaitu Mw 7.2, saya yakin fast-estimation ini dari P wave.
2. Estamasi ke-2 yaitu Mw 7.7, mungkin diestimasi dari body-wave inversion, yang datang kemudian.
Terdapat perbedaan yang besar antara Moment magnitude dari P-wave dengan body wave, mengindikasikan slow-rupture motion yang pasti men-generate tsunami. Dan kalo saya coba mengestimasi Magnitude dari tsumami, dengan persamaan yg sederhana (Kanamori, 1972)
Mt=a logL+b logH, dengan asumsi berita di media massa benar, bahwa tinggi tsunami yaitu 2 meter di pangandaran maka dapat dihitung bahwa magnitude tsunami (Mt) yaitu sekitar 8.1.
Salam,
irwan-nagoya
Komentar oleh Rovicky — 18 Juli 2006 #
Pak Rovicky,
terima kasih atas tulisan-tulisan yang mencerahkan..saat ini sejumlah teman dan saya mengelola website yang diupayakan menjadi simpul informasi mengenai gempa (www.saksigempa.org)–terutama gempa 27 Mei di Jogja dan Jawa Tengah, serta peristiwa-peristiwa geologis dan akibatnya di tempat-tempat lain.
Bolehkah jika tulisan ini dan tulisan lain yang terkait saya masukkan ke web kami? Terimakasih sebelumnya, salam..
Komentar oleh rohman — 18 Juli 2006 #
Turut berduka cita sedalam-dalamnya.
Kalau kita lihat memakai satelit eropa atau satelit Nasa memang di selatan pulau jawa terdapat lempeng yang memanjang .Mungkin karena pergesaran lempeng yang di dalam bumi.
Komentar oleh uwin bagaskoro — 18 Juli 2006 #
Sepngetahuan saya kurang dalam 15-20 menit data gempa sudah muncul di situs BMG dan USGS. Dalam lat – lon,depth, magnitude serta lokasi karena saya mengakses kesana setelah merasakan gempa di jakarta
Jadi kurang tepat dengan pendapat anda diatas sbb
” Dalam waktu 10-15 menit, mungkin USGS ataupun BMG belum ngapa-ngapain, lah mereka masih mengumpulkan data. Belum lagi harus lapuran ke atasannya untuk membunyikan alarm. ”
Mari kita bantu badan pemerintah kita supaya menjadi semakin lebih baik
Komentar oleh rahmat — 18 Juli 2006 #
Pak Rahmat … memang untuk gempanya mungkin sudah diketahui.
Tetapi sepengetahuan saya belum ada metode untuk memberikan “tsunami warning”. Tsunami warning yg dipasang di Samodra Hindia menggunakan ‘bouyancy’. Ada jeda waktu lebih lama lagi.
btw, thanks inputannya
RDP
Komentar oleh Rovicky — 18 Juli 2006 #
Dear Pak Rovicky dkk,
Mendengar adanga bunyi dentuman dan juga bola api, tidakkah menutup kemungkinan laut di samudera selatan jawa ini menjadi tempat untuk UJI COBA senjata? Apalagi dalam beberapa saat lalu dijumpai adanya aktifitas kapal selam asing di pantai selatan banten? Mohon penjelasan.
Salam
Arif
Komentar oleh arif — 18 Juli 2006 #
met sore pak rovicky dkk…
gini maaf kalo pertanyaan saya ini lucu dan tidak mutu and ra ilmiah coz saya hanya seorang awam tentang gejala geologi…
>ehm yang masih bmembuat aku penasaran tuh,,, fenomena apa yang bisa membuat lempeng bumi itu bisa bergerak,, dan bisa bertabrakan? apakah ada efek magnetis atau yang lain,,, dan kok hanya pada daerah daerah tertentu saja ya? trus kok bumi itu bisa terbagi-bagi berdasar lempeng-lempeng yah?
>trus untuk gejala bola api\cahaya: apa mungkin ini hanya gejala efek penglihatan saja semisal fata morgana? trus yang bapak jelasin tadi badai EM yah,,, itu sejenis badai apa sih?
>dari data “List of automatic GEOFON earthquake locations” gempa selalu terjadi setiap hari di pertemuan lempeng asia dan australia,, apakah ini menandakan bahwa lempeng asia kususnya indonesia sekarang ini memang lagi hot-hotnya konfrontrasi dengan lempeng australia? trus apakah gejala ini ada siklusnya?
Komentar oleh hudie — 18 Juli 2006 #
Dear Pak Rovicky dkk
sepertinya saya tertarik u/ mendengarkan jawaban bapak dkk ttg komentar yang di lontarkan saudara ARIF tertanggal 18 july 2006 ttg UJI COBA senjata,
whould you please gimme the answer?
regards
bee,
Komentar oleh Bintang — 18 Juli 2006 #
Mungkinkah patahan akibat gempa di laut pangandaran akan mengubah posisi patahan yang lain khususnya di daerah laut selatan yogyakarta, dan akan menimbulkan gempa seperti gempa tanggal 27 mei 2006.
Komentar oleh partono — 18 Juli 2006 #
[...] Bencana terakhir yang menimpa Indonesia adalah gempa dan tsunami di Pantai Selatan Jawa. Seperti biasa, saya coba membaca analisa dari geolog Rovicky yang sekarang menggunakan wordpress.com. [...]
Ping balik oleh Gempa dan Tsunami Pantai Selatan Jawa - Sunaryo Hadi — 18 Juli 2006 #
Pak Rdp,
Terima kasih atas brief history-nya mengenai Tsunami dan gejala alam lainnya yang terjadi di Indonesia akhir2 ini. Semoga ini ini bisa menjadikan forum diskusi terbuka bagi kita semua dan memberikan informasi bagi masyarakat pada umumnya.
PS: Bravo buat Pak DR.Hamzah dan rekan2.
salam
Adi
Komentar oleh Wah Adi Suseno — 19 Juli 2006 #
Saya mencurigai ada aktivitas nuclear test di selatan jawa. So harus ada yang find out tingkat radiasi radioaktif di daerah tersebut.
Komentar oleh ical — 19 Juli 2006 #
Pak Hamzah….jumpa lagi. Salut buat modelnya…ternyata kekhawatiran saya sekarang terjadi. Analisis risikonya sedang saya kerjakan, semoga bisa diaplikasikan bareng dengan model Pak Hamzah dkk. At least, kita memang sudah harus mewaspadai potensi tsunami sepanjang pantai yang rawan di Indonesia.
Cheers,
Komentar oleh MasDjat-Österreich — 19 Juli 2006 #
Dilihat dari seluruh comment, saya cm mau menceritakan sekitar minggu lalu saya berada di batam, kemudian saya melihat awan vertikal di angkasa, pada pagi hari dan sore hari menjelang maghrib, saya terpikir apakah akan ada gempa? apakah betul awan vertikal itu hasil dari gelombak em yg terjadi ketika ada gesekan di bumi sehingga menghasilkan medan listrik statik?
Komentar oleh indra sr — 19 Juli 2006 #
Mas, mohon maaf, saya boleh enggak di forward artikel ini di milis saya, terima kasih banyak yeah mas.
Wass,
Pungki
Komentar oleh Pungki — 19 Juli 2006 #
Mohon penjelasannya untuk pertanyaan sdr.Arif ( # 14 ) karena sayapun sependapat dengan kemungkinan tsb !Karena gejala2 alamnya ketika kejadian kurang menunjang…???
Komentar oleh Titi — 20 Juli 2006 #
Mohon tanya pak, kira2 gempa yg terjadi di indonesia akhir2 ini bisa dibikin oleh manusia nggak pak ? misal akibat percobaan nuklir bawah laut atau bawah tanah, atau juga dari satelit ruang angkasa yg menembakkan gelombang elektromagnetik yg berkekuatan besar ke suatu titik. Apakah teknologi yg kita punya bisa mendeteksi asal muasal gempa ini. Bagaimana membedakan gempa akibat percobaan nuklir dan lainnya. Tk. Hendro
Komentar oleh hendro — 20 Juli 2006 #
Jawaban ttg dentuman dan bola cahaya bisa dibaca ditulisan
http://rovicky.wordpress.com/2006/07/18/aurora-pertunjukkan-angkasa/
dan juga alternatif penjelasan seperti uraian pak Marufin :
http://rovicky.wordpress.com/2006/07/19/samudra-yang-kembali-bicara/
Komentar oleh Rovicky — 20 Juli 2006 #
Pak Rovicky,
Ini bukan tahayul, apakah seringnya terjadi gempa dan bencana alam lain seperti badai, banjir bandang dan tanah longsor ada hubungannya dengan mendekatnya Planet Mars pada akhir 2003 lalu.
Sebab setelah itu terjadi gempa di Bam Iran pada 26 Desember 2003 lantas Aceh 26 Desember 2004 kemudian Pakistan (kashmir), Badai Katrina dll.
Apakah semua bencana itu ada kaitannya dengan efek gravitasi Planet Mars yang mendekat?
Terima kasih atas infonya
Komentar oleh Rayhan — 20 Juli 2006 #
Yth. Bp Rovicky,
Terima kasih atas informasi ttg Tsunami. Saya juga baca paparan yg sama di INKINDO oleh Prof Ir Wiratman, PhD. Kesimpulan saya meskipun ada “Tsunami Early Warning” – karena waktu yang tersedia untuk menyelamatkan diri dari daerah pantai hanya 10-15 menit – padahal kecepatan ombak menerjang pantai 800 KM/jam. Rasanya tidak mungkin rakyat yg di pantai, menyelamatkan diri.
(Analoginya : Kita berjalan kaki di jalan toll = bebas hambatan – dimana ada mobil-2 yang jalan kencang dg kec. min 100 KM/Jam – Meskipun kita dengar klakson – kita tdk sempat & tidak ada waktu untuk menghindar. – Ya jangan jalan kaki di jalan TOLL dong)
Mungkin apa yang bisa dilakukan ialah Sosialisasi tentang karakteristik sifat-2 Gempa / Tsunami. Buat Beton-2 dipantai atau tanaman-2 pemecah gelombang. Demikian pula bangunan rumah hrs disesuaikan yg tahan gempa. Kita perlu belajar dari orang-2 Jepang / yang sdh terbiasa dg gempa / Tsunami. (Apa kita perlu Studi Banding ke Jepang dg para Wakil Rakyat ??) Semoga kita bisa mengatasi kekacauan alam yg tiada henti ini. Salam sedih. Djati.
Komentar oleh Djati — 23 Juli 2006 #
Salam kenal, Pa.
saya murid sma kelas 3 yang sedang mengerjakan karya tulis tentang tsunami. saya ingin bertanaya pada bapa, berapa kali tsunami pernah terjadi di Indonesia dari tahun 1996 sampai saat ini (2006)? karena saya mencari, tetapi tidak menemukan data yang pasti. untuk itu, saya ingin meminta bantuan bapa apabila bapa mengetahuinya. terima kasih sebelumnya.
Nb: web ini sangat membantu saya. terima kasih
Komentar oleh rahel — 17 Oktober 2006 #
Kejadian dengan memakan banyak korban tidak akan terjadi jika pemerintah selalu waspada dengan Berbagai BENCANA ALAM.
Kalau di Pemerintah Indonesia – Mereka hanya akan bergerak jika sudah mulai ada BENCANA.
Pemerintah Mulai Jalan jika sudah ada korban Jiwa.
Pemerintah tidak pernah memikirkan bagaimana Mencegahnya.
Sekarang DETEKSI TSUNAMI dan GEMPA dipasang di mana, Tetapi itu semua hanya PROYEK Belaka. DETEKSI TSUNAMI dan GEMPA yang katanya bisa terhubung dengan PUSAT – DAERAH tidak sepenuhnya dapat berjalan secara Optimal.
Dan Proses Prosedural yang dibuat-buat untuk kepentingan pribadilah yang mengakibatkan BENCANA.
Komentar oleh wargabanten — 21 April 2007 #
For pak Rovicky
Begini pak,saya sedang dalam pembuatan skripsi ttg Tsunami Early Warning,mungkin bpk bisa bantu saya,saya jurusan elektronika,jadi alat saya dapat mendeteksi dan mengetahui tinggi gelombang air laut dengan menggunakan altimeter digital(alat pengukur ketinggian dari permukaan laut),jadi cukup dipasangi buoy(pelampung)pada daerah ring fire,jika terjadi gelombang pasang melebihi batas ketinggian yang ditentukan,alarm akan menyala dan secara otomatis mengirimkan SMS ke BMG atau ke instansi terkait.
Yang saya butuhkan sekarang adalah contoh alat pendeteksi tsunami yg sudah ada boleh saya minta datasheeetnya biar bisa saya kalibrasikan dengan alat saya.
Tolong pak bisa direplay ke email saya at th3r1Zz@yahoo.com atau th3r1Zz@plasa.com
Terima kasih sebelumnya.
RDP :
Hi Delphi, Saya belum pernah tahu detil alat bouyancy itu. Tetapi secara tehnis geologi yang saya tahu alat ini memang mendeteksi ketinggian (elevasi). Hanya saja harus dibedakan fluktuasi naik turun akibat gelombang biasa dengan gelombang tsunami.
Beda gel biasa dan gel tsunami tentunya bisa dilihat juga disini
http://rovicky.wordpress.com/2007/01/10/gelombang-laut/
juga tulisan tentang hal ini disini :
http://rovicky.wordpress.com/2006/07/03/peringatan-dini-tsunami-buat-siapa/
Komentar oleh delphi machine — 19 Mei 2007 #
apa benar tentang berita yg katanya dikeluarkan oleh CNN itu? tolong dijelaskan supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan kepanikan pak…!
terima kasih
Komentar oleh repott — 23 Mei 2007 #
Daripada Repott
Coba baca sini :
http://rovicky.wordpress.com/2007/05/22/sudahkah-anda-memfw-berita-ini/
Komentar oleh Rovicky — 23 Mei 2007 #
To pak Rovinsky
mungkin bpk punya koneksi ke orang2 yg ahli dalam merancang tsunami early warning system,konsep alat saya uda jadi,skrg lg bingung merancang bgmn meletakkan altimeter digital dibuoy(pelampung),bgmn pak mungkin bpk bs ksi petunjuk,atau ngasi koneksi ke badan yg berkepentingan,syukur2 klo dikasi modulnya.mohon pencerahannya.trims.
Komentar oleh delphi machine — 16 Juni 2007 #
saya mu naya tentang genpah barusan yang terjadi di temor leste apa ini besa mengakibatkan tsunami tidak??,, kira kira apa pendapat bapa ???
Komentar oleh zikiel — 8 Februari 2008 #
saya ngak mau tsunami berlaku lagi kerna tsunami hanya akan menyusahkan semua orng
Komentar oleh amiralya — 28 Agustus 2008 #
tsunami akan menyusahkan orng lain
Komentar oleh amiralya — 28 Agustus 2008 #
pak roviky yth, mohon maaf kl mungkin pertanyaan ini agak kurang pas, tapi yang perlu kita pikirkan bahwa disamping kita setuju akan terjadinya bencana alam tersebut kita perlu merencanakan atau membuat konsep penanganan pasca bencana alam tersebut, mungkin nggak hal tersebut kita sosialisasikan secara bersama-sama ke daerh-daerah rawan bencana. terimakasih pak. (sukrie)
Komentar oleh sukrie — 24 Februari 2009 #
tolong carikan frekuensi tentang pendeteksi getaran pada tali
Komentar oleh fuad — 25 Februari 2009 #