Mengapa Panik dengan BBM ?

Paling tidak ada dua hal penting dalam soal subsidi BBM ini yaitu pembatasan volume (46 juta kilo liter) dan pembatasan jumlah subsidi (rupiah). Perhitungan Pertimina, jatah kuota premium akan habis 20 Desember dan solar bersubsidi habis 5-6 Desember. Saat ini Pemerintah sedang melakukan ‘uji coba’ membatasi “volume”, dan kita lihat dampaknya, yaitu timbul kepanikan di berbagai tempat. Issue kelangkaan BBM menjadi momok bagi pengguna.

Kenapa ?

Utamanya tidak adanya (minimnya) transportasi umum yang tersedia. Ini menjadikan rakyat berusaha melakukan aktifitas BBMtransportasi secara mandiri dan memastikan aktifitasnya tidak terganggu. Setelah memiliki motor atau mobil pribadi maka salah satu langkah selanjutnya mengisi tangkinya penuh, bahkan mungkin mengisi jerigen dirumahnya. Tentusaja BBM yang beredar dimasyarakat menjadi semakin besar. Pada kondisi normal memiliki cadangan bensin setengah tangki di motornya sudah merasa aman. Sebenarnya pemerintah hanya mengurangi 5% saja tetapi kepanikan menimbulkan seolah dipasaran berkurang 25% atau lebih. Padahal sebenernya BBM ada di tangki masing-masing.

Sekalilagi transportasi umum (publik) bagaimanapun harus menjadi tugas utama penyelenggara negara. Dan infrastruktur transportasi ini tidak hanya urusan satu kementrian saja.

:-( “Ah itu ngeluhnya, pelajarannya apa Pakdhe ?”

Paling tidak ada pelajaran khusus dalam hal pengelolaan BBM ini. Sehingga mungkin diperlukan tiga hal dalam pengalihan subsidi. yaitu Terbuka, Terukur dan Terjadwal.

TERBUKA : Meningkatkan kepercayaan pada pemerintah perlu digemborkan dengan sikap keterbukaan dalam membuat kebijakan. Apa yang terjadi, mengapa harga BBM kok naik, apa saja langkah yang dilakukan pemerintah, apa yang mesti dilakukan masyarakat dsb. Sosialisasi ini merupakan salah satu cara meningkatkan kepercyaan rakyat pada pemerintah. Memang sosialisasi seperti ini pernah dilakukan, tetapi sosialisasi ini semestinya tidak hanya pernah, harus RUTIN dilakukan pembelajaran.

TERUKUR : Perhitungan subsidi BBM harus terus dilakukan dan diupdate, karena perubahan harga, perubahan (penurunan) produksi dalam negeri, serta perubahan situasi energi regional maupun global. Perhitungan ini memang ada beberapa versi. Tentusaja yang perlu disosialisasikan verse sederhananya saja.

TERJADWAL (bertahap) : Dengan mengetahui jadwal serta tahap-tahap kenaikan harga BBM, masyarakat akan mencoba mengukur kemampuan dirinya sendiri. Mereka akan ikut berhitung, ikut merasa perlu berhemat. Tanpa harus panik. Kepanikan rakyat seringkali terjadi karena ketidak-pastian. Tentunya penjadwalan ini merupakan kesepakatan pemerintah dan DPR. Dan kalau sudah dijadwalkan tentunya tanpa harus sidang khusus lagi seperti kenaikan tarif listrik yang nyaris tanpa gejolak.

:-( “Pakdhe, kalau begitu dalam beberapa hari lagi pompa bensin akan sepi karena bensinnya masih penuh di tangki ya ?”

Menaikkan harga BBM kenapa harus takut ?

politician[1]Jokowi ngga perlu takut dalam soal BBM ini. Apabila SBY tidak mau menurunkan BBM pada mas pemerintahan kali ini, ada cara politis supaya popularitasnya tidak terganggu :

  1. Angkat Kabinet dari kalangan professional. Sesuai janji kampanye yang menyatakan akan mengangkat para professional, saya yakin popularitas meningkat atau paling tidak tetap. Siapa tahu pendukung lawannya akan menyeberang. Sambil manggut-manggut.
  2. Naikkan BBM setinggi mungkin, artinya sesuai harga keekonomian. Dengan membuat alasan yang logis misalnya dengan menyatakan,: “Langkah ini akibat kesalahan pemimpin sebelumnya yang salah dan tidak benar dalam melakukan perhitungan dan pemanfaatan migas selama ini. Sehingga saat ini BBM terpaksa harus dinaikkan untuk menyelamatkan negara. Harus disadari ini kemungkinan akan terjadi chaos, kacau atau rame karena kebijakan menaikkan BBM merupakan tindakan tidak populer. Tetapi alihkan atau supply BBM untuk luar jawa segera. Supaya luar jawa merasakan bahwa sekarang BBM juga dikirimkan ke luar jawa.
  3. Bila terjadi kekacauan berketerusan, Lakukan Reshuffle Kabinet menjadi kabinet “transaksional” untuk mendapatkan dukungan partai politik lainnya. Katakan saja para professional ini ‘nggak becus‘ memimpin negeri ini. Kemudian pilih Menteri dari Partai sesuai janji sebelum kampanye kemarin. Pssst, Ini langkah khusus untuk menambah dukungan dari Parlemen nantinya. Saya kira saat itu nanti rakyat sudah lupa dengan janji kampanye kemarin.
  4. Kalau masih tetep rame, –>TURUNKAN harga BBM <–, sedikit saja. Langkah seperti ini, diyakini akan menaikkan citra dimata rakyat. lah sekali-sekali PDIP menurunkan harga BBM. [Belum ada dalam sejarah looh]. Yang penting dalam menaikkan harga sebelumnya itu harus signifikan mengikuti harga keekonomiannya.
  5. Selesaikan tugas masa sisa kepemimpinan hingga 5 tahun. Kalau sukses ya masih bisa kepilih lagi, lumayan to ?

Langkah ditas memang merupakan langkah politis. Mungkin sekali bukan langkah terbaik demi negeri tetapi sangat mungkin dilihat realistis bagi para politikus.

Langkah terbaik untuk jangka panjang tetap harus mengalihkan BBMinyak ke BBGas ! Alihkan subsidi BBM ini untuk pembangunan infrastruktur gas. Dan jangan lupa transportasi massal yang haus BBM selama ini.

:-( “Pakdhe, lah kok ujung2nya soal popularitas saja to ?”
:-D “Thole, pencitraan itu sudah ada dari sononya. Jadi jangan terlalu lugu menganggap tidak ada pencitraan dalam perpolitikan”

Bicara BBM dan Energi yang REALISTIS saja.

Hampir semua yang dituangkan dalam pembicaraan/diskusi energi maupun berita di koran masih lebih banyak soal “snapshot” saat ini, atau impian jauh kedepan. Saat ini (sebagian rakyat) sedang panik karena munculnya issue energi ini, drama kelangkaan BBM disorot oleh media menjadi santapan berita. Disisi lain memimpikan pengembangan energi terbarukan yang dampak serta manfaatnya diperoleh setelah 10 tahun atau lebih. Artinya keduanya berbicara dalam dua titik ekstrim. Yang satu mudah dipolitisir, yang satu sarat ilmiah “scientific” tetapi melambung diangkasa tidak menyentuh bumi, khusunya bumi para politisi yang membutuhkan “nama/popularitas”, terutama untuk 5 tahun kedepan.

Langkah realistis adalah ALIHKAN SUBSIDI BBM PADA PERBAIKAN TRANSPORTASI UMUM SEGERA. Salah satu yang “doable” adalah menambah armada bus kota / busway untuk di Jakarta. Juga kota-kota besar lainnya. Penambahan MRT bussway ini pembangunan jalannya hanya memerlukan wakyu 1-2 tahun saja. Saya yakin dampaknya terlihat dalam 3 tahun kedepan dan akan menentukan “popularitas” pada tahun ke empat dan kelima untuk pemilu mendatang 2019. Semoga politisi suka dengan hal ini. Semua politisi akan berpikir apa yang bisa saya perbuat supaya saya terpilih “lagi”. REALISTIS !!

BonusDemografi1

Sepuluh tahun lagi akan ada hampir 200 juta warga yang perlu pekerjaan di Indonesia.

Membangun MRT (Subway) memerlukan waktu lima tahun lebih, juga beralih ke gas dengan membangun infrastruktur gas, ini CITA-CITA MULIA. Kegiatan eksplorasi SDAalam dan SD Energi berdampak lebih dari 15 tahun kedepan, ini juga impian yang HARUS TERWUJUD. Mengembangkan EBTKE (Energi Baru dan Terbarukan) juga salah satu yang TIDAK BOLEH DITINGGALKAN karena ini menyangkut kebrlangsungan jadi diri bangsa yg tidak ada batas waktunya.

Semua harus berjalan PARALEL ! Tidak ada sumber energi yang tidak diperlukan termasuk mengembangkan energi nuklir. Tahun 2020-2030 Indonesia akan memiliki 180 juta warganya yang memerlukan PEKERJAAN. Kebutuhan ini harus dipenuhi dengan menyediakan tiga bahan utama. BAHAN BAKU, BAHAN BAKAR dan BAHAN MAKAN. Dua bahan harus dipenuhi oleh satu kementrian di Indonesia. Ini tugas terberat dalam kementrian di Indonesia.

Lontarkan ide dan pemikiran TANPA TARGET apapun. Dan jangan ada kata mutung :-D

Salah satu kunci yang penting dalam pemanfaatan energi di Indonesia adalah menyediakan transportasi.

Data statistik saat ini serta proyeksi kedepan menunjukkan bahwa 30% energi di Indonesia dipakai untuk transportasi.

EnergiFinal

Menyelesaikan masalah transportasi sudah dipastikan akan meningkatlkan ketahanan energi (sumber BPPT)

Menyelesaikan (mengadakan) masalah transportasi (masal) sudah dapat dipastikan menghemat energi. Bisa juga memperbaiki infrastruktur jalan bebas macet, mungkin mengurangi banyak sekali konsumsi BBM.

Kita tidak dapat tidak dapat serta-merta mengatakan Indonesia itu negara boros, walaupun dari elastisitas energi di Indonesia itu rendah. Karena di Indonesia energi masih dipakai “untuk hidup”, bukan untuk berfoya-foya energi. Untuk negara maju dimana kebutuhan energi perkapitanya tinggi, maka “Elastisitas Energi” parameter yang hanya cocok utk ‘High GDP Country’.

gdpvsefisiensiGlobal

Elastisitas vs GDP

Saya memiliki plot lain tentang pemakaian energi perkapita dibandingkan GDP-nya. Indonesia ternyata secara perkapita hanya sedikit menggunakan energi. Saya kira Indonesia menggunakan energinya masih diutamakan untuk hidup. Masih memerlukan banyak energi untuk memulai menggunakan energi dalam berproduksi. Jadi ada satu titik dimana bila ditambah supply energi, energi ini akan habis terus sampai mencapai titik balik. Nah saya kira Indonesia masih belum mencapai titik itu.

:-( “Jadi harusnya kinerjanya diukur pakai apa pakde ?”

:-D “Paling tidak jangan menggunakan tolok ukur negara maju untuk menilai kinerja Indonesia yang belum menjadi negara maju. Sediakan dulu energi yang CUKUP untuk rakyat, kemudian kita lihat kinerjanya”.

Plot ini menunjukkan bahwa penggunaan parameter elastisitas energi ini cocok untuk negara-negara maju (high GDP). dimana semakin banyak energi yg dimasukkan akan semakin tinggi produktifitasnya. Sedangkan untuk negara-negara Low GDP, penggunaan parameter elastisitas energi justru akan menghambat kemajuan.

Perlu dipikirkan, walau dikatakan bahwa Indonesia yang masih low productivity dan low eficiency masih harus dibanjiri energi supaya Indonesia mampu berproduksi lebih efisien, kalau melihat konerja negara maju. Memang harus melampaui titik jenuh energi. Nah ini tentusaja perlu kebaranian dan perlu usaha dalam mengisi, atau menggelontori energi sebanyak mungkin. Malaysia walaupun memiliki GDP lebih dari Indonesia tetapi perkapita mereka memerlukan energi lebih besar dari Indonesia.

Sebenernya ada pertanyaan yg sangat tepat. “Kenapa jumlah ahli kebumian (eksplorasi) bertambah tetapi produksi migas turun terus ?”

Kalau saja produksi energi “dinaikkan dan dipergunakan di dalam negeri” barangkali Indonesia akan melewati titik jenuh, dimana ini perlu ‘keberanian’ karena akan melewati titik kritis dimana menjadi negara dengan energi perkapita meningkat tetapi jumlah energi perkapita melampaui titik kritis.

)* Note: Elastisitas energi atau elasticity “ε” merupakan perbandingan antara banyaknya energi yang dipakai dibandingkan dengan besarnya GDP (kemajuan ekonomi suatu negara).

Hanya untuk pendukung Prabowo

Kalau susah move on jadilah explorationist seperti saya yang 90% ngebor gagal, dryhole itu kerjaan sehari-hari. Kalau suksespun yg akan dipuji bagian produksi — feeling strong.

move-on[1]Saya bisa mengerti hari-hari ini merupakan hari yang berat buat pendukung Prabowo. Dukungan anda kalah, dan dia malah melakukan manuver diluar dugaan yang bisa saja membuat anda tambah down. Padahal kita ngga pernah tahu apa yang dipikirkan Prabowo dukungan anda.

That’s the game.

Menang atau kalah itu wajar. Kalau dicari-cari alasan mengapa bisa kalah, tentu ada saja ada ditemukan. Kurang kerja keras selama kampanye atau bahkan merasa dicurangi. Untuk lanjut ke MK atau tidak, sepertinya tidak merubah hasil kok. Tahun 2009 lalupun putusan KPU dibawa ke MK. Ingat saja, saat dibacakan putusannya capres dan cawapres yang kalah saat itu juga ga hadir dan tidak peduli lagi.

Jadi ingat juga timnas Piala Dunia Argentina saat juara dunia, Maradona menciptakan gol kemenangan kontroversial via “tangan tuhan“. Meskipun sang wasit yang bertanggung jawab sudah diadili, divonis bersalah, sanksi skorsing juga sudah dilaksanakan. Namun predikat Juara Dunia yang disandang Argentina tidak pernah dicabut atau dianulir. Dan diakui masuk dalam catatan sejarah. Dalam kehidupan mungkin berbeda, tetapi dalam permainan (game), pemenang selalu benar. Jadi untuk apa berlama-lama melihat masa lalu.

Pengalaman saya sebagai eksplorationis, secara statistik 90% gagal. Artinya kalau saya hanya meratapi kegagalan maka mustahil pernah mencapai sebuah penemuan lapangan. “No discovery without dry hole well“. Salah satu tugas saya adalah mengembalikan mental mengarah ke depan dan tidak berlama-lama menengok kebelakang.

Kalau anda ingin move on, coba saja membalas dengan cerdas.

Misalnya dengan mengatakan :

  • Anda satu diantara 62,262,844 orang pemilih yang belum bisa “move on” ?
    Ga papa, ada loh yang perlu 10 tahun berpuasa baru sekarang bisa “move on”. Rileks saja. — feeling relaxed
  • Kalau masih sulit move on, pakai saja kartu “e-move on”. Dijamin 2 minggu saja langsung On !.
  • Jangan nagih janji kampanye, dulu buatnya nggak pakai mikir !

Pendukung Jokowi pasti tahu maksudnya dan itu lebih baik ketimbang anda mencari-cari alasan curang. Wong keduanya melakukan hal yang sama. Proses “perkelahian” (dalam tanda kutip) ini memang begitu. Walau keduanya mungkin saling melanggar norma-norma yg ada, asalkan tidak ada korban cedera kan ok ok saja dalam proses demokrasi yang benar. Memang yang membuat (saya) geram itu adanya pihak ketiga yang ikut campur didalam “papan catur” kita. Campur tangan pihak asing ini yg, menurut analisis saya, bisa berkelanjutan dalam lima tahun kedepan.Ini soal lain, kita bicara lagi nanti soal pihak ketiga dalam demokrasi di Indonesia.

Mereka yang bukan winner tapi hanya follower (bolo dupakan).

Mungkin anda masih saja di-bully oleh pendukung Jokowi. Dan itu banyak di social media, bahkan media mainstreampun masih melakukan karena

Kesel, kan ?
Mangkel, kan ?
Tapi ngga bisa membalas kan ?

Itu selalu saja begitu dalam sebuah permainan (game). Lah wong supporter sepak bola di luar negeri saja bisa dipakai untuk saling mengolok-olok, kok. Tapi ketahuilah pendukung Jokowi yang masih sibuk mem-bully dan mengolok-olok itu bukanlah mereka yang bermental “winner“. Mereka itu hanyalah orang yang masih bermental “follower“, pengikut, pembebek atau “bolo dupakan“. Mereka jelas bukan panutan yg pantas untuk diikuti. Ini ujian mental. Makanya kita tahu siapa yang perlu revolusi mental, kan ?.

Yang menjadi leader winner itu jelas Jokowi-nya sendiri. Jokowi sudah tidak membully lagi setelah permainan selesai. Pemimpin-pemimpin kita dulu juga seperti itu. Ketika berseberangan di parlemen bisa udreg-udregan sambil gebrak meja. Tetapi setelah itu ngopi-ngopi bareng. Mereka-mereka yang bener-bener sebagai leader (panutan) bahkan mengajak untuk memperbesar koalisinya.

 :-( “Pakdhe, kalau sepuluh tahun jothakan itu leader atau bukan”
:-D “Ntar dulu thole, aku tahu maksudmu”

Koalisi politikus itu tidak akan pernah permanen. Seorang leader akan memperbesar koalisinya untuk mempermudah jalannya pemerintahan pasca pemilu. Tanpa dukungan koalisi di parlemen (DPR), pemerintah yang dipimpin presiden ini tidak mungkin (kesulitan) menjalankan tugasnya. Sehingga sangat penting bagi pemenang pemilu itu untuk mencari partai follower.

Kalau masih tidak bisa move-on maka pilihan lain adalah move in !

:-( “Pakde, politikus yang sudah ancang-ancang move-in sudah terlihat, looh”
:-D “Kalau yang mutung itu Move Out”

Move-in itu langkah strategis dalam berpolitik di Indonesia. Plin-plan itu disebutnya strategic manuver. Halllah. Saat ini semua rakyat harus membantu Jokowi-Kalla, sesuai kompetensi. Dulu saja, SBY dipilih oleh 73.874.562 sekarang jokowi dipilih oleh 70.633.576. Tentunya sekarang RI-1 harus bekerja “lebih keras lagi”.

PR dalam waktu dekat adalah abrasi akibat beban subsidi BBM yang menggerogoti APBN. Dulu SBY yg dukungannya lebih besar saja sempat kelabakan ketika akan menaikkan harga BBM. PR kedua adalah Newmont karena gugatan arbritasenya, langkah-langkah yang salah akan mengancam pelanggaran UU Minerba dalam pelarangan eksport bijih (hiliriasasi). Untuk jangka menengah tentunya RUU Migas yang harus dikawal terus. Jangan sampai seperti UU Migas 2001 yg akhirnya dianulir pasal-pasalnya karena yg nulis “tangan jahil“. Semuanya adalah PeeR SDA/SDEnergi dimana yang berkepentingan tidak hanya internal dalam negeri. Ada tantangan dari luar selain problema di dalam.

Ayo, di-share sesama pendukung mungkin akan mengurangi sakit hati anda …

Lets MOVE !

Batuan Baru Pertanda Hidupnya Manusia – Plastiglomerate

Manusia sejak diyakini muncul di bumi ini dengan membawa budayanya diperkirakan akan terus berevolusi, menurut pemikiran sains. Namun belum diketahui jenis spesies apalagi yang akan muncul nantinya. Dalam puluhan atau ratusan juta tahun lagi, tentunya.

Tetapi ada hal menarik, sudah diketahui adanya satu batuan pertanda, orang geologi mengatakannya sebagai ROCK MARKER, yaitu batuan yang diberinama Plastiglomerate

Lokasi

Lokasi Tipe Perhatikan lokasi endapan-endapan ini yang terlindung dibawah pepohonan sebagai lingkungan pengendapannya

Adalah tiga orang yang mengusulkannya dalam sebuah tulisan di Geological Society of America, GSA Today edisi Juni 2014. Ketiganya yaitu Patricia L. Corcoran (ahli kebumian), Charles J. Moore, dan Kelly Jazvac. Ketiganya meneliti disebuah pantai yang paling tercemar dan melaporkan penemuan baru batu” yang terbentuk melalui pembauran plastik yang meleleh, bercampur sedimen pantai, fragmen lava basaltik, dan puing-puing organik dari Kamilo Pantai di Pulau Hawaii.

Batuan baru ini terbentuk ketika plastik-plastik sampah ini meleleh membentuk jenis batuan baru yang merupakan jenis kelompok dari batuan “Anthropogenic Rock“. Sebelumnya kita hanya mengenal Batuan Sedimen, Batuan Beku dan Batuan Metamorfik (Malihan).

Sampah bawaan arus laut.

Lokasi Kepulauan Hawaii terletak pada bagian dalam pusaran subtropis Pasifik Utara, kondisi ini membuat lokasi ini merupakan lokasi pengendapan dari plastik-plastik yang terbawa (Moore, 2008). Gerakan anticyclonic dari arus laut permukaan inilah yang menyebabkan sampah laut ini mengendap di sepanjang garis Kamilo Beach, yang terletak di ujung tenggara pulau Hawaii, disinilah tempadiatast terakumulasi sejumlah besar sampah laut (Moore, 2008) (Gambar 1A dan 1B ).

Karakteristik batuan

Plastiglomerate1

Ada yang dijumpai Insitu, ada pula yang sudah tertransport menjadi batuan klastik.

Karakteristik dua jenis plastiglomerate. (A) In situ plastiglomerate dimana plastik cair yang melekat ke permukaan dari aliran basalt. Ukuran panjang buku lapangan pembanding adalah 18 cm. (B) klastik plastiglomerate mengandung plastik cair dan basal serta fragmen karang. (C) amygdales plastik dalam aliran basalt. (D) Large in situ plastiglomerate fragmen. Plastik cair ditaati ditemukan 15 cm di bawah permukaan. Perhatikan lokasi bervegetasi yang terlindung sebagai lokasi pengendapannya digambar atas.

Plastiglomerate2

Sedimen yang sudah membatu ini memang bisa disebut sebagai BATU.

Walaupun dijumpai plastik yang meleleh, penulis artikel ini tidak dapat meyakinkan bahwa melelehnya plastik ini akibat dari batuan basalt yang secara logika memang panas saat terbentuknya batuan beku ini. Sehingga mereka menganggap sedimen ini membatu bukan akibat pelelehan dan tidak digolongkan sebagai batuan beku, tetapi lebih dekat batuan sedimen.

KomposisiPlastiglomerate

Komposisi batuan ini diteliti dari sampel-sampel yang dikumpulkan dan dibuat data statistiknya.

 

Pertanda Anthropocene

Mungkin ada yang mengenal istilah-isitilah umur dalam geologi seperti yang pernah ditulis disini Evolusi # 1. Sejarah singkat bumi dan kehidupannya dikenal istilah Holocene. Nah, batuan ini diusulkan sebagai pertanda untuk Anthropocene, masa dimana perilaku budaya manusia teleh banyak mempengaruhinya.

:-( “Pakdhe, mbok ya Pakdhe mengusulkan Breksi Semenit, batuan breksi yang terekat oleh semen. Atau Breksi Aspalit, breksi yang tersemen oleh aspal ?”

Tulisan ddi GSA today ini tentunya menarik untuk dicermati. Walau buletin ini termasuk terbitan populer, namuan mengandung makna ilmiah yang unik.

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.513 pengikut lainnya.