Hari Blogger Nasional 27 Oktober – Public Journalism (BLOG) In Disaster Risk And Mitigation

PublicJournalismBlogDisaster

download slide

Menyambut hari Blogger Nasional tanggal 27 Oktober ini saya mencoba mengangkat peran blogger dalam mitigasi kebencanaan. Salah satu yang barusaja saya lakukan dengan mempresentasikan pengalaman pribadi mengelola blog selama lebih dari 15 tahun. Slide disebelah ini dipresentasikan dalam Youth Looking Beyond Disaster (LBD5) Forum hosted by University Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia (3-8 September, 2014).

:-( “Whallah, Pakde ngga punya kerjaan selama 15 tahun ini ya ?”
:-D “Bukan Thole, selama 15 tahun ini pekerjaan ‘ekskul’ saya saya sebagai blogger yang nyambi jadi ahli geologi perminyakan :-D”

Pada awalnya blogging merupakan sebuah kegiatan menulis yang dilakukan seseorang yang melakukan kegiatan “berselancar” di dunia maya. Web Surfing. Blogging asalnya dari “Web Logging“. Anda tentunya tahu apa itu log-book. Yaitu catatan perjalanan yang awalnya dibuat oleh seorang nahkoda juga seorang pilot ketika melakukan perjalanan. Perkembangan berikutnya blogging menjadi kegiatan menulis tanpa harus melakukan perjalanan dan tanpa harus melakukan “web surfing” terlebih dahulu.

Bahan slide presentasi tentang manfaat blogging sila diunduh disini : Public Journalism BLOG in the disaster risk mitigation

StateskopSeismikKisah bagaimana saya memulai nge-blog bisa dibaca disini : Dari html ke facebook - 10 tahun mengembara di belantara virtual. Awalnya dengan keinginan bercerita tentang geologi di tahun sekitar 1990-an. Apapun pokoknya soal geologi di LAN di kantor. Setelah ada internet, ternyata justru lebih banyak cerita tentang kejadian bencana-alam. Sampai suatu saat terjadinya gempa Aceh 2004 yang  menjadi penggugah kesadaran kebencanaan. Menulis bersama air-putih yg saat itu memulai kegiatan relawan melalui dunia virtual.

Menjelaskan hal rumit seringkali lebih mudah menggunakan analogi. Manusia cenderung menghubungkan atau mengkaitkan kejadian serta menggunakan kesamaan dengan hal lain. Analogi. Ini cara mudah untuk menjelaskan hal rumit. Pembaca blog bukan seorang ahli, mereka manusia biasa yang sudah memiliki ‘pre-knowledge‘, ini yang harus dimanfaatkan. Menjelaskan alat seismic dengan stateskop dokter adalah cara termudah untuk “mengindera” fenomena didalam bumi sejauh puluhan kilometer.

pembacamusiman

Grafik jumlah pembaca. Berbeda dengan media berita, menulis pengetahuan tidak hanya dibaca sesaat setelah kejadian. Tetapi akan menjadi referensi bertahun-tahun kemudian.

Tulisan kebencanaan ini menjadi pengisi dahaga informasi masyarakat yang hanya dijejali sisi “dramatis” dari sebuah bencana. Media lebih suka menyoroti rintihan dan jeritan. Tanpa menjelaskan bagaimana peristiwa itu terjadi, dan lebih penting lagi, bagaimana cara menghindarinya. Itulah sebabnya tulisan dalam blog yg isinya pengetahuan akan tetap dibaca walau kejadiannya sudah bertahun-tahun lalu.

:-( “Pakdhe untuk kepemimpinan Jokowi-JK mendatang apa pentingnya Blogging ?”
:-D “Dunia blog sudah berkembang menjadi salah satu pengembangan ekonomi kreatif. Banyak blogger yang berbisnis melalui internet secara cerdas dan kreatip !”

Jadi …. Ayo ngeblog terus ! terus ngeblog !

Link lain tentang Dongeng Geologi :

Brain Drain “Mengapa mereka (pekerja migas) pergi ?”

_DSC1667Menghadapi AFTA dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), banyak yang khawatir Indonesia kebanjiran tenaga asing. Tapi khusus untuk pekerja MIGAS, justru kemungkinan terjadi kebalikan, malah khawatir kehilangan pekerja MIGAS Indonesia yang hengkang keluar dari Indonesia. Brain drain atau keluarnya tenaga ahli dari suatu negara menjadi konsen dalam beberapa tahun lalu. Dan mungkin akan menjadi konsen menerus ketika dibukanya AFTA dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean 2015).

Mengetahui alasan mereka pergi, mungkin menjadi informasi penting baik untuk mengirimkan tenaga kerja keluar sebagai duta-duta bangsa, maupun mengetahui seberapa besar potensial kerugian negara kehilangan potensi dari pekerja tangguh ini. Baca lebih lanjut

Transportasi LNG Dengan Truck

Mendengar adanya berita hampir 11 kargo LNG yang tidak terserap pasar dalam negeri tentunya sangat menyakitkan, kalau tidak boleh disebut sebagai keprihatinan. Bagaimana tidak, saat ini banyak terdengar bahwa Indonesia kemungkinan akan kekurangan gas karena pertumbuhan ekonomi serta pertumbuhan penduduk. Salah satu kendala barangkali belum tercukupinya terminal-terminal “penerima” gas yang hingga saat ini baru ada dua di Lampung dan Jawa Barat saja. Kedua FSRU (Floating Storage & Regasification Unit) ini tentunya dibangun dengan modal investasi yang sangat besar.

menengok-aktivitas-operasional-kapal-fsru-lampung-di-selat-sunda-001-dru[1]

FSRU Lampung (sumber Merdeka.com)

Sebagai usaha meningkatkan daya serap pemakaian gas tentunya perlu memiliki terminal penerima LNG atau LNG Recieving Terminal. Membangun FSRU ini tentunya memerlukan modal besar. Sehingga seolah-olah membangun infrastrktur gas ini memerlukan biaya besar yang hanya mampu dilakukan oleh pemodal besar saja.

Secara umum gas dapat ditansmisikan dengan pipa, terutama bila jarak anatar produsen dengan kosumen berdekatan. Namun untuk jarak yang jauh (misal diatas 1000 Km), maka alternatifnya gas dicairkan terlebih dahulu, baru kemudian ditransportasikan dalam fase cair sebagai LNG (Liquified Natural Gas).Gas-LNG-GasPada jarak antara produsen dan konsumen yang dekat, tentusaja gas ditransmisikan dalam fase gas mudah dilakukan. Demikian juga ketika gas didistribusikan ke pengguna langsung baik industri maupun rumah tangga. Bisa juga gas didistribusikan dalam bentuk LPG (cairan), dimana proses re-gasifikasinya hanya menggunakan regulator.

Gas-Gas

Indonesia memang negara besar, namun dengan kondisi geografis yang terdiri dalam berbagai pulau ini maka soal distribusi juga tidak dapat hanya berkonsentrasi dalam skala besar. Namun justru pengangkutan skala kecil-lah yang merupakan kebutuhan strategis khususnya sesuai dengan geografis Indonesia.

LNG Trucking lebih sederhana

Dua pekan lalu saya meninjau Texas untuk meninjau salah satu aset perusahaan. Namun satu hal yang menarik adalah adanya truk LNG disebelah anjungan pengeboran didarat. Ya truk LNG !. Selama ini kita lebih banyak terekspose pada regasifikasi untuk ukuran besar dengan FSRU. Tangki LNG ini dipakai ketika kebutuhan energi meningkat saat kegiatan rig memerlukan tenaga lebih besar. Memang belum untuk yang utama, karena genset yang dipergunakan adalah genset diesel. Namun yang menarik saya adalah pemanfaatan pengangkutan LNG sekala kecil dan praktis ini.

LNG TruckingTanki ini dilengkapi dengan alat regasifikasi sederhana sehingga gas dari LNG ini dapat langsung dipergunakan pada genset. Namun tentu saja, gas ini dapat dipergunakan untuk keperluan apa saja. Termasuk kebutuhan rumah tangga.

Pengangkutan LNG skala kecil dengan truk ini tentunya akan memungkinkan bila dibangun dengan kapal yang ukuran kecil. Dan diyakini mampu berlayar di kepulauan kecil-kecil di Nusantara. Dengan skala kecil inipula dipastikan kebutuhan modalnya tidak sebesar kalau menggunakan kapal LNG serta FSRU.

Pemerintah dan pengusaha Indonesia harus mulai berpikir untuk mendistribusikan gas dalam segala skala. Diversifikasi atau keberagaman kondisi geografis Indonesia memerlukan segala bentuk moda pengangkutan untuk memenuhi kebutuan distribusi kebutuhan energi rakyat. Kalau memang diniatkan akan beralih ke gas, maka alternatif menggunakan distribusi ukuran kecil ini HARUS mulai dipikirkan. Baik dengan truk maupun kapal.

Ayo siapa mau memulai ?

图47%20%20LNG槽车[1]Clean-Energy-Inaugurates-LNG-Fueling-Station-in-Ohio[1]

Bulan Kembali Merah 8 Oktober 2014.

BulanMerah8Okt2014Fenomena unik Bulan Merah (Blood Moon) akan terlihat pada tanggal 8 Oktober 2014, saat gerhana bumi total. Di Indonesia dapat terlihat mulai sekitar jam 17.25 WIB sampai pukul 18.24 WIB baru bisa dilihat warga Jakarta. Gerhana ini akan berakhir pada pukul 19.34 WIB.

Peristiwa ini persis seperti saat gerhana bulan yang terjadi Selasa Malam 15 April 2014 lalu. Penampakan aneh ini dikenal dengan BLOOD MOON atau Bulan Merah. Fenomena yang relatif langka terlihat namun sebenarnya mudah dijelaskan secara lmiah.

:( “Pakdhe kalau bisa kelihatan merah apakah juga bisa kelihatan biru ?”
:D “Untuk tahun ini kan tahun dimana merah jadi juwara … upst !”
:-( “Hallah Pakdhe masih kampanye ! Lah kemarin malah ribut ndak karuan. Barangkali itu ramalannya Sang Bulan ya” 

Tentunya kita tahu adanya gejala pembiasan warna. Ya, terjadi pada prisma ataupun pada kejadian pelangi. Gejala ini disebabkan karena panjang gelombang dan frekuensi warna itu berbeda-beda. Sehingga warna merah sedikit terbiaskan dibandingkan warna biru (ungu). Dengan adanya partikel-partikel lain yang ada didalam atmosfer selain udara, maka daya bias partikel semakin besar. Partikel-partikel penguat pembiasan ini dapat saja beruba partikel abu gunung api. Baca lebih lanjut

Pembalikan peta politik energi dunia

Pembalikan politik energi.image

Harus diakui Amerika menyalip Saudi dalam memproduksi minyaknya. Kesuksesan US dengan shale oil dan shale gas membuat peta kekuatan energi dunia bergeser. Walaupun konsumsi US masih besar dan peoduksinya belum dieksport tetap saja perpolitikan energi dunia harus direvisi dan revisit.

Eropa masih banyak yg melarang fracking, salah satu teknik mengambil migas yg terjebak secara nonconventional. China masih belum berhasil menapis migas jenis jebakan ini. Indonesia masih jauuh utk mengambilnya. Barangkali Indonesia harus mulai mencari migas diluar NKRI. Pertamina sudah mulai PGN juga mengikuti.

Tantangan untuk Indonesia tidak hanya mencari tetapi menyediakan untuk rakyatnya yang akan memiliki 160-180 juta tenaga pekerja tahun 2020-2030. Mereka membutuhkan bahan bakar (fuel), bahan baku, dan bahan makan. Juga perlu lingkungan yang aman dan nyaman.

Siapa saja yg berkecimpung dan berhubungan dengan bisnis politik dan sosial global harus merubah peta konstelasinya.

“Welcome to the new world !”

Menteri Professional, Seperti apa ?

profesi-2[1]Dikotomi politikus dan kaum professional dalam penyusunan kabinet Jokowi-JK membuat dua kutub ini seolah berseberangan. Dikotomi ini seringkali merupakan manifestasi kurangnya sikap “MENTAL PROFESSIONAL” baik si politisi maupun kaum professional. Saya sendiri tidak begitu suka dengan pemisahan politikus dan kaum professional dalam hal ini. Karena permasalahannya bukan sekedar mendudukan dua kutub ini berseberangan atau bahkan bertentangan. Saya lebih cenderung mendudukan mental profesional lebih penting baik sebagai politikus profesional maupun menteri yg profesional.

:-( “Jadi revolusi mental itu juga termasuk ini ya Pakdhe ?”

:-D “Iya Thole REVOLUSI MENTAL PROFESIONAL”

Moral dan mental professional, baik utk politikus maupun kaum profesional.

Kata professional sering muncul dalam lingkungan kerja maupun organisasi. Tentunya tidak mudah mendefinisikan arti “professional” ini.  Bahkkan Pak Jokowi sendiri tidak secara jelas menjelaskan apa itu professional.

Ada beberapa definisi praktis misalnya: Profesional berarti bayaran, seperti petinju profesional, petenis profesional, dsb. Biasanya ini berhubungan dengan olah raga. Namun dalam dunia kerjapun, kata profesional sering rancu, terutama ketika memisahkan antara jenjang manajerial dan jenjang profesional. Padahal diperlukan juga seorang manajer yang profesional, yang benar-benar melakukan pekerjaan menejerial. Secara mudahnya kenapa manajer masih juga memutar sekrup, kenapa manajer ‘masih memegang obeng’ yang dianggap bukan manajer profesional. Hal sebaliknya kalo berpangkat engineer tentunya bukan ikutan mengatur manusia-manusianya saja, tanpa melakukan pekerjaan rekayasa.

Selain itu organisasi profesi melihat pula sisi profesi ini dengan memberikan batasan-batasan profesinya, misal dengan kode etik profesi. Dalam dunia kedokteran ada kode etik kedokteran yang dikeluarkan IDI, dalam dunia wartawan ada kode etik jurnalistik juga masih banyak organisasi profesi lain mengeluarkan kode etiknya. Kode etik ini biasanya berkaitan erat dengan aturan prosedur teknis secara profesi sehingga bisa dibuat jenjang-jenjang sertifikasi, misal sertifikat keahlian dasar, menengah, hingga ahli; juga surat ijin praktek kategori A, B, C dst.

jadi saya hanya ingin menuturkan sedikit tentang tinjauan dari sisi moral yang bukan etika teknis. memang dari itu semuaaspek diatas, kitamudah melihat ada tiga aspek pokok dalam melihat keprofesionalan seseorang, yaitu :
– Profesional secara economy. (bayaran vs amatir)
– Profesional secara hukum. (sertifikasi, kode etik dsb)
– Profesional secara moral dan mental. (sikap dan konsep diri)

:-( “Pak Dhe, aku juga profesional donk !
:-D “Kenapa, kok iso ?”
:-( “Setiap kali jajan mesti dibayarin”

Untuk lebih sedikit fokus coba kita mengulas profesional dari sisi moral/mental dalam tiga hal yang harus dihindari oleh seseorang sehingga menurut orang tersebut dapat disebut profesional secara moral. Bagamaina sesorang dianggap profesional dari sisi moral ? Menurut hemat saya ada tiga hal pokok yang musti dilakukan/dipegang oleh seorang pekerja profesional, yaitu :

- tidak memaksa,
– tidak mengiba, dan
– tidak berjanji.

Sikap moral profesi ini sangat dikontrol oleh konsep diri seseorang antara lain sikap menghadapi tantangan, cobaan serta hambatan.

1. Tidak memaksa

Seorang yang berjiwa atau bermoral profesional tetunya akan memiliki keahlian teknis yang khusus yang mendukung keprofesionalannya. Dengan demikian dia akan mempunyai kekuatan (`power’). Sehingga dengan ‘power’ yang dia miliki, dia dapat melakukan tindakan untuk menekan pihak lain. Misal pekerja menekan manajernya utuk meminta kenaikan gaji, karena tahu dialah satu-satunya staf ahli di perusahaan itu. Kalo tidak diluluskan mengancam akan keluar dari perusahaan. Tindakan pemaksaan ini menurut hemat saya adalah tindakan yang tidak memeliki moral profesional. Hal yang sama seandainya seorang manajer yang melakukan penekanan kepada anak buahnya untuk menerima upah berapapun yang diberikan, karena diketahui betapa sulitnya mencari kerja saat ini.

Dalam interaksi pekerja dan yang mempekerjakan (employee – employer) selalu muncul kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan. Seandainya ada salah satu diantara kedua pihak merasa ada yang merasa terpaksa melakukan atau mengikuti aturan kerja maka kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak profesional dalam menangani perjanjian kerja ini.

Akan sangat bagus sebelum dimulainya pekerjaan manajer menanyakan bagaimana kesanggupan anak buahnya Demikian juga anak buah menanyakan apakah hasilnya dapat diterima oleh atasannya.

Bagi seorang menteri yang professional juga harus mengerti aturan tata laksana yang sesuai prosedur sehingga tidak memaksakan kehendaknya ketika menjalankan tugas.

2. Tidak mengiba

Pada saat-saat tertentu kesulitan atau hambatan muncul baik dipihak pekerja maupun perusahaan. Krisis ekonomi saat lalu (soalnya saya yakin saat ini sudah mulai tahap penyembuhan) banyak mengakibatkan kesulitan dikedua pihak. Pihak perusahaan akan sangat kesulitan mengelola perusahaan, dilain pihak pekerja atau karyawan juga mengalami hal yang sama dalam kehidupan sehari-harinya. Sering kita dengar ada perusahaan yang yang dengan mengiba datang ke Depnaker utk melakukan PHK massal, untuk dinyatakan bangkrut/ pailit. Atau juga seorang karyawan yang datang ke manajernya memohon untuk tidak di PHK karena anaknya masih kecil. Ada saat seperti ini, moral keprofesionalan pekerja dan penilik perusahaan (biasanya diwakili manajernya) mengalami ujian dalam menghadapi tantangan hidup.
Tentunya tidak bisa hanya dengan mengiba untuk mengahdapi kesulitan ini, dan tentunya tindakan mengiba ini bukan moral yang professional.

Demikian menteri yg professional. Semua juga tahu bahwa tantangan yang dihadapi Indonesia bukan hal yang mudah, bukan sesuatu masalah kecil saja. Tidak boleh menteri kok mengeluh. Tentunya kita sering mendengar pejabat mengeluh. Kalau pingin mengeluh jadilah rakyat biasa saja. Jangan jadi pejabat, apalagi menteri !

3. Tidak berjanji

Satu sikap moral professional dalam menghadapi apapun yang telah, sedang dan bakal terjadi juga hal yang harus diperhatikan. Sikap ihlas dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan merupakan sikap professional yang ketiga. Berjanji merupakan tindakan yang mungkin sekali menjadikan kita melanggar dua sikap moral sebelumnya yang disebutan diatas. Karena kegagalan maka akan muncul pemaksaan atau mengiba dari salah satu pihak, atau bahkan kedua pihak. Sehingga kesiapan menerima apapun yang bakan terjadi merupakan sikap moral profesi yang dibutuhkan.

Program kerja saat ini banyak sekali mempunyai tuntutan, target produksi, target penjualan, serta target target perusahaan lainnya hendaknya bukan merupakan janji yang harus dipenuhi melainkan merupakan sebagai pemicu semata, sebagai ‘alat ukur performance’ yang bukan merupakan harga mati baik untuk kedua pihak.

Janji-janji sebelum menjabat ini sering menjadikan “tergadaikannya” sikap mental diatas. Bagaimanapun kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Tidak tercapainya target harus diantisipasi dengan langkah lain. Janji juga sering menjadikan seorang pejabat tidak mampu melaksanakan tugas demi negara.

Nah dari sikap moral dan mental professional diatas lebih penting daripada memisahkan dikotomi politikus vs profesional, kita dapat melihat sejauh mana keprofesionalan para menteri ini nantinya. Ingat sebagai pimpinan perusahaan, manajer, pemegang pimpinan organisasi serta anggota organisasi profesi maupun anggota partai sekalipun dalam bersikap profesional.

:-( “Pakdhe mau masuk kabinet, jadi menteri juga ya ?”
:-D “Mentra-mentri, kitchen kabinet thole ?

Mengenal Gunung Slamet – 2 (Menikmati letusan dan Mata-air Panas Guci)

Hampir setiap lokasi yang berdekatan dengan gunungapi memiliki mataair panas. Ada yang debitnya besar adapula yang kecil. Terbentuknya air panas ini tentunya disebabkan oleh adanya konfigurasi yang khusus yg menyebabkan timbulnya mataair panas.

Guci-1[1]Guci terletak di lereng barat dari Gunung Slamet. Mataair panas di daerah ini sudah sangat terkenal sejak lama. Selain adanya daya tarik mataair panas, daerah ini juga dikenal memiliki panorama yang menawan. Lokasi mataair panas Guci ini berada di kabupaten Tegal, di Kecamatan Bumijawa dikaki lereng barat Gunung Slamet. Ada cerita menarik Konon menurut orang sekitar Mata air panas Guci di Tegal ini adalah peninggalan dari walisongo yang mengutus seorang sunan untuk mambawa sebuah Guci berisi air panas. Air dari Guci tersebut diyakini dapat membawa berkah bagi masyarakat sekitar, namun karena air dari Guci tersebut tidak cukup diberi untuk semua masyarakat sekitar maka sunan yang diutus tersebut menancapkan tongkatnya ketanah dan dari situlah keluar mata air panas.

:-( “Ooon jadi mataairpanas itu hanya dengan menancapkan tongkat ya ?”
:-D “Looh itu kisah sebelum berkembangnya pengetahuan geologi. Tentunya penjelasan lebih ilmiahnya ada thole”.

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 6.210 pengikut lainnya.