Salah satu kunci yang penting dalam pemanfaatan energi di Indonesia adalah menyediakan transportasi.

Data statistik saat ini serta proyeksi kedepan menunjukkan bahwa 30% energi di Indonesia dipakai untuk transportasi.

EnergiFinal

Menyelesaikan masalah transportasi sudah dipastikan akan meningkatlkan ketahanan energi (sumber BPPT)

Menyelesaikan (mengadakan) masalah transportasi (masal) sudah dapat dipastikan menghemat energi. Bisa juga memperbaiki infrastruktur jalan bebas macet, mungkin mengurangi banyak sekali konsumsi BBM.

Kita tidak dapat tidak dapat serta-merta mengatakan Indonesia itu negara boros, walaupun dari elastisitas energi di Indonesia itu rendah. Karena di Indonesia energi masih dipakai “untuk hidup”, bukan untuk berfoya-foya energi. Untuk negara maju dimana kebutuhan energi perkapitanya tinggi, maka “Elastisitas Energi” parameter yang hanya cocok utk ‘High GDP Country’.

gdpvsefisiensiGlobal

Elastisitas vs GDP

Saya memiliki plot lain tentang pemakaian energi perkapita dibandingkan GDP-nya. Indonesia ternyata secara perkapita hanya sedikit menggunakan energi. Saya kira Indonesia menggunakan energinya masih diutamakan untuk hidup. Masih memerlukan banyak energi untuk memulai menggunakan energi dalam berproduksi. Jadi ada satu titik dimana bila ditambah supply energi, energi ini akan habis terus sampai mencapai titik balik. Nah saya kira Indonesia masih belum mencapai titik itu.

:-( “Jadi harusnya kinerjanya diukur pakai apa pakde ?”

:-D “Paling tidak jangan menggunakan tolok ukur negara maju untuk menilai kinerja Indonesia yang belum menjadi negara maju. Sediakan dulu energi yang CUKUP untuk rakyat, kemudian kita lihat kinerjanya”.

Plot ini menunjukkan bahwa penggunaan parameter elastisitas energi ini cocok untuk negara-negara maju (high GDP). dimana semakin banyak energi yg dimasukkan akan semakin tinggi produktifitasnya. Sedangkan untuk negara-negara Low GDP, penggunaan parameter elastisitas energi justru akan menghambat kemajuan.

Perlu dipikirkan, walau dikatakan bahwa Indonesia yang masih low productivity dan low eficiency masih harus dibanjiri energi supaya Indonesia mampu berproduksi lebih efisien, kalau melihat konerja negara maju. Memang harus melampaui titik jenuh energi. Nah ini tentusaja perlu kebaranian dan perlu usaha dalam mengisi, atau menggelontori energi sebanyak mungkin. Malaysia walaupun memiliki GDP lebih dari Indonesia tetapi perkapita mereka memerlukan energi lebih besar dari Indonesia.

Sebenernya ada pertanyaan yg sangat tepat. “Kenapa jumlah ahli kebumian (eksplorasi) bertambah tetapi produksi migas turun terus ?”

Kalau saja produksi energi “dinaikkan dan dipergunakan di dalam negeri” barangkali Indonesia akan melewati titik jenuh, dimana ini perlu ‘keberanian’ karena akan melewati titik kritis dimana menjadi negara dengan energi perkapita meningkat tetapi jumlah energi perkapita melampaui titik kritis.

)* Note: Elastisitas energi atau elasticity “ε” merupakan perbandingan antara banyaknya energi yang dipakai dibandingkan dengan besarnya GDP (kemajuan ekonomi suatu negara).

Hanya untuk pendukung Prabowo

Kalau susah move on jadilah explorationist seperti saya yang 90% ngebor gagal, dryhole itu kerjaan sehari-hari. Kalau suksespun yg akan dipuji bagian produksi — feeling strong.

move-on[1]Saya bisa mengerti hari-hari ini merupakan hari yang berat buat pendukung Prabowo. Dukungan anda kalah, dan dia malah melakukan manuver diluar dugaan yang bisa saja membuat anda tambah down. Padahal kita ngga pernah tahu apa yang dipikirkan Prabowo dukungan anda.

That’s the game.

Menang atau kalah itu wajar. Kalau dicari-cari alasan mengapa bisa kalah, tentu ada saja ada ditemukan. Kurang kerja keras selama kampanye atau bahkan merasa dicurangi. Untuk lanjut ke MK atau tidak, sepertinya tidak merubah hasil kok. Tahun 2009 lalupun putusan KPU dibawa ke MK. Ingat saja, saat dibacakan putusannya capres dan cawapres yang kalah saat itu juga ga hadir dan tidak peduli lagi.

Jadi ingat juga timnas Piala Dunia Argentina saat juara dunia, Maradona menciptakan gol kemenangan kontroversial via “tangan tuhan“. Meskipun sang wasit yang bertanggung jawab sudah diadili, divonis bersalah, sanksi skorsing juga sudah dilaksanakan. Namun predikat Juara Dunia yang disandang Argentina tidak pernah dicabut atau dianulir. Dan diakui masuk dalam catatan sejarah. Dalam kehidupan mungkin berbeda, tetapi dalam permainan (game), pemenang selalu benar. Jadi untuk apa berlama-lama melihat masa lalu.

Pengalaman saya sebagai eksplorationis, secara statistik 90% gagal. Artinya kalau saya hanya meratapi kegagalan maka mustahil pernah mencapai sebuah penemuan lapangan. “No discovery without dry hole well“. Salah satu tugas saya adalah mengembalikan mental mengarah ke depan dan tidak berlama-lama menengok kebelakang.

Kalau anda ingin move on, coba saja membalas dengan cerdas.

Misalnya dengan mengatakan :

  • Anda satu diantara 62,262,844 orang pemilih yang belum bisa “move on” ?
    Ga papa, ada loh yang perlu 10 tahun berpuasa baru sekarang bisa “move on”. Rileks saja. — feeling relaxed
  • Kalau masih sulit move on, pakai saja kartu “e-move on”. Dijamin 2 minggu saja langsung On !.
  • Jangan nagih janji kampanye, dulu buatnya nggak pakai mikir !

Pendukung Jokowi pasti tahu maksudnya dan itu lebih baik ketimbang anda mencari-cari alasan curang. Wong keduanya melakukan hal yang sama. Proses “perkelahian” (dalam tanda kutip) ini memang begitu. Walau keduanya mungkin saling melanggar norma-norma yg ada, asalkan tidak ada korban cedera kan ok ok saja dalam proses demokrasi yang benar. Memang yang membuat (saya) geram itu adanya pihak ketiga yang ikut campur didalam “papan catur” kita. Campur tangan pihak asing ini yg, menurut analisis saya, bisa berkelanjutan dalam lima tahun kedepan.Ini soal lain, kita bicara lagi nanti soal pihak ketiga dalam demokrasi di Indonesia.

Mereka yang bukan winner tapi hanya follower (bolo dupakan).

Mungkin anda masih saja di-bully oleh pendukung Jokowi. Dan itu banyak di social media, bahkan media mainstreampun masih melakukan karena

Kesel, kan ?
Mangkel, kan ?
Tapi ngga bisa membalas kan ?

Itu selalu saja begitu dalam sebuah permainan (game). Lah wong supporter sepak bola di luar negeri saja bisa dipakai untuk saling mengolok-olok, kok. Tapi ketahuilah pendukung Jokowi yang masih sibuk mem-bully dan mengolok-olok itu bukanlah mereka yang bermental “winner“. Mereka itu hanyalah orang yang masih bermental “follower“, pengikut, pembebek atau “bolo dupakan“. Mereka jelas bukan panutan yg pantas untuk diikuti. Ini ujian mental. Makanya kita tahu siapa yang perlu revolusi mental, kan ?.

Yang menjadi leader winner itu jelas Jokowi-nya sendiri. Jokowi sudah tidak membully lagi setelah permainan selesai. Pemimpin-pemimpin kita dulu juga seperti itu. Ketika berseberangan di parlemen bisa udreg-udregan sambil gebrak meja. Tetapi setelah itu ngopi-ngopi bareng. Mereka-mereka yang bener-bener sebagai leader (panutan) bahkan mengajak untuk memperbesar koalisinya.

 :-( “Pakdhe, kalau sepuluh tahun jothakan itu leader atau bukan”
:-D “Ntar dulu thole, aku tahu maksudmu”

Koalisi politikus itu tidak akan pernah permanen. Seorang leader akan memperbesar koalisinya untuk mempermudah jalannya pemerintahan pasca pemilu. Tanpa dukungan koalisi di parlemen (DPR), pemerintah yang dipimpin presiden ini tidak mungkin (kesulitan) menjalankan tugasnya. Sehingga sangat penting bagi pemenang pemilu itu untuk mencari partai follower.

Kalau masih tidak bisa move-on maka pilihan lain adalah move in !

:-( “Pakde, politikus yang sudah ancang-ancang move-in sudah terlihat, looh”
:-D “Kalau yang mutung itu Move Out”

Move-in itu langkah strategis dalam berpolitik di Indonesia. Plin-plan itu disebutnya strategic manuver. Halllah. Saat ini semua rakyat harus membantu Jokowi-Kalla, sesuai kompetensi. Dulu saja, SBY dipilih oleh 73.874.562 sekarang jokowi dipilih oleh 70.633.576. Tentunya sekarang RI-1 harus bekerja “lebih keras lagi”.

PR dalam waktu dekat adalah abrasi akibat beban subsidi BBM yang menggerogoti APBN. Dulu SBY yg dukungannya lebih besar saja sempat kelabakan ketika akan menaikkan harga BBM. PR kedua adalah Newmont karena gugatan arbritasenya, langkah-langkah yang salah akan mengancam pelanggaran UU Minerba dalam pelarangan eksport bijih (hiliriasasi). Untuk jangka menengah tentunya RUU Migas yang harus dikawal terus. Jangan sampai seperti UU Migas 2001 yg akhirnya dianulir pasal-pasalnya karena yg nulis “tangan jahil“. Semuanya adalah PeeR SDA/SDEnergi dimana yang berkepentingan tidak hanya internal dalam negeri. Ada tantangan dari luar selain problema di dalam.

Ayo, di-share sesama pendukung mungkin akan mengurangi sakit hati anda …

Lets MOVE !

Batuan Baru Pertanda Hidupnya Manusia – Plastiglomerate

Manusia sejak diyakini muncul di bumi ini dengan membawa budayanya diperkirakan akan terus berevolusi, menurut pemikiran sains. Namun belum diketahui jenis spesies apalagi yang akan muncul nantinya. Dalam puluhan atau ratusan juta tahun lagi, tentunya.

Tetapi ada hal menarik, sudah diketahui adanya satu batuan pertanda, orang geologi mengatakannya sebagai ROCK MARKER, yaitu batuan yang diberinama Plastiglomerate

Lokasi

Lokasi Tipe Perhatikan lokasi endapan-endapan ini yang terlindung dibawah pepohonan sebagai lingkungan pengendapannya

Adalah tiga orang yang mengusulkannya dalam sebuah tulisan di Geological Society of America, GSA Today edisi Juni 2014. Ketiganya yaitu Patricia L. Corcoran (ahli kebumian), Charles J. Moore, dan Kelly Jazvac. Ketiganya meneliti disebuah pantai yang paling tercemar dan melaporkan penemuan baru batu” yang terbentuk melalui pembauran plastik yang meleleh, bercampur sedimen pantai, fragmen lava basaltik, dan puing-puing organik dari Kamilo Pantai di Pulau Hawaii.

Batuan baru ini terbentuk ketika plastik-plastik sampah ini meleleh membentuk jenis batuan baru yang merupakan jenis kelompok dari batuan “Anthropogenic Rock“. Sebelumnya kita hanya mengenal Batuan Sedimen, Batuan Beku dan Batuan Metamorfik (Malihan).

Sampah bawaan arus laut.

Lokasi Kepulauan Hawaii terletak pada bagian dalam pusaran subtropis Pasifik Utara, kondisi ini membuat lokasi ini merupakan lokasi pengendapan dari plastik-plastik yang terbawa (Moore, 2008). Gerakan anticyclonic dari arus laut permukaan inilah yang menyebabkan sampah laut ini mengendap di sepanjang garis Kamilo Beach, yang terletak di ujung tenggara pulau Hawaii, disinilah tempadiatast terakumulasi sejumlah besar sampah laut (Moore, 2008) (Gambar 1A dan 1B ).

Karakteristik batuan

Plastiglomerate1

Ada yang dijumpai Insitu, ada pula yang sudah tertransport menjadi batuan klastik.

Karakteristik dua jenis plastiglomerate. (A) In situ plastiglomerate dimana plastik cair yang melekat ke permukaan dari aliran basalt. Ukuran panjang buku lapangan pembanding adalah 18 cm. (B) klastik plastiglomerate mengandung plastik cair dan basal serta fragmen karang. (C) amygdales plastik dalam aliran basalt. (D) Large in situ plastiglomerate fragmen. Plastik cair ditaati ditemukan 15 cm di bawah permukaan. Perhatikan lokasi bervegetasi yang terlindung sebagai lokasi pengendapannya digambar atas.

Plastiglomerate2

Sedimen yang sudah membatu ini memang bisa disebut sebagai BATU.

Walaupun dijumpai plastik yang meleleh, penulis artikel ini tidak dapat meyakinkan bahwa melelehnya plastik ini akibat dari batuan basalt yang secara logika memang panas saat terbentuknya batuan beku ini. Sehingga mereka menganggap sedimen ini membatu bukan akibat pelelehan dan tidak digolongkan sebagai batuan beku, tetapi lebih dekat batuan sedimen.

KomposisiPlastiglomerate

Komposisi batuan ini diteliti dari sampel-sampel yang dikumpulkan dan dibuat data statistiknya.

 

Pertanda Anthropocene

Mungkin ada yang mengenal istilah-isitilah umur dalam geologi seperti yang pernah ditulis disini Evolusi # 1. Sejarah singkat bumi dan kehidupannya dikenal istilah Holocene. Nah, batuan ini diusulkan sebagai pertanda untuk Anthropocene, masa dimana perilaku budaya manusia teleh banyak mempengaruhinya.

:-( “Pakdhe, mbok ya Pakdhe mengusulkan Breksi Semenit, batuan breksi yang terekat oleh semen. Atau Breksi Aspalit, breksi yang tersemen oleh aspal ?”

Tulisan ddi GSA today ini tentunya menarik untuk dicermati. Walau buletin ini termasuk terbitan populer, namuan mengandung makna ilmiah yang unik.

 

 

 

Quick Count Itu Tidak Demokratis

Dalam beberapa hari menjelang pengumuman pemenang presiden rakyat Indonesia dihadapkan pada sebuah fakta kenyataan bahwa ada teknik-teknik statistik yang sangat canggih dalam ilmu statistik. Banyak lembaga-lembaga survey yang berani mengklaim kecanggihan metode yang dimilikinya. Bahkan ada seorang ahli dalam survey yang berani bertaruh potong leher. Haddduh ini kok yo kebangetan juga.

:-( “Pakde, bukannya cara ini lebih murah, menghemat dan lebih cepat ?”

:-) “Thole, dalam sebuah rangkaian kereta api, kecepatan kereta api itu ditentukan oleh kecepatan gerbong yang paling lambat. Kalau enggak gerbongnya akan terpisah. Demikian juga dengan negara, kita harus menggunakan cara paling sederhana untuk menghargai semua warganya”.

SAMPLING

Sampling atau pengambilan perconto diperlukan dalam sebuah survey. Dalam ilmu statistik dikenal beberapa teknik sampling. Teknik ini diperlukan karena kebutuhan khusus, misalnya mencari sesuatu yang sangat jarang (langka), terkendala waktu, terkendala biaya, serta kebutuhan mendesak lainnya.

Dibawah ini ada beberapa teknik sampling yang dikenal. Barangkali saja ada teknik-teknik lain yang belum ter’cover‘, tetapi cukuplah untuk kali ini.

Random Sampling

Sampling1

Sampling Acak (Random) apabila populasi datanya merata

Random sampling ini dapat dilakukan apabila distribusi dan populasi datanya MERATA atau HOMOGEN. dengan melihat beberapa sampel saja sudah mencukupi dan dianggap mewakili seluruh populasi data.

Misalny aingin melihat kualitas kandungan air dalam beras yang diambil dari satu jenis varietas saja. Tentunya hanya akan mengambil beberapa beras saja yang dipilih untuk dilaukan sebagai sample (perconto) untuk dianalisa.

:-( “Lah Pakdhe kalau semua beras dihitung kandungan airnya satu-satu untuk satu karung ya kapan selesainya ?”
:-( “Yo sekalian nunggu bedug Adzan Magrib Thole. Hahahaha !”

Stratified Random Sampling

Apabila datanya diyakini memiliki beberapa kelompok (grup). Maka data ini dapat dikelompokkan sebelum dilakukan samplin secara acak setelahnya. Cara ini dapat dilakukan misal dalam satu pabrik menginginkan data untuk operatornya yang rata-rata lulusan SD SMP SMA. Semua karyawan sudah bercampur, bahkan ada beberapa lulusan SD sudah menjadi supervisor karena jenjang karier dan prestasinya yang bagus. Maka dengan membagi ketiga jenjang pendidikan ini diharapkan hasilnya akan mewakili setiap kelompok.

Systematic Sampling

Pengambilan sampel dilakukan secara sistematis ini sering dilakukan untuk menguji produk-prroduk pabrik yang operasionalnya secara kontinyu. Misal pabrik sabun yang menginginkan sampel sabunya untuk uji kualitas setiap tiga jam. Kenapa tiga jam, barangkali saja ada shift kerja setiap 8 jam, sehingga setiap shift kerja akan terwakili dua data.

Sampling2

Cluster dan Multi Stage sampling

Cluster Sampling

Seringkali data dan informasi yang akan dianalisa sudah diketahui sebelumnya, khususnya untuk daerah tertentu, tempat tertentu ataupun karakteristik tertentu. Misalnya sampel untuk mencari tambang emas. Tentunya tidak mungkin mengambil semua data jenis batuan dianalisa. Harus dicari jenis-jenis batuan tertentu yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa di laboratorium. Hanya sampel-sampel yang sudah dicuigai sebagai data yang bagus yang akan diambil sebagai sampel untuk dianalisa.

Tentusaja disini sangat penting peranan seorang pengambil sampel, misal untuk “mencari” batuan yang diperkirakan mengandung “emas”. Jadi tidak sembarang batu dianalisa untuk kandungan emasnya. Karena selain analisanya mahal juga konsentrasi emas itu sangat sedikit.

:-( “Pakde lah terus yang mengambil atau menentukan sampel batuan mana yang akan dianalisa itu siapa ? Pasti bayarannya mahal donk Pakde ?”
:-) “Ya begitulah menjadi seorang ahli geologi pertambangan ?” :-D :-D

Multi Stage Sampling

Untuk kebutuhan yang cepat dan terukur, seringkali diperlukan cara-cara sampling yang sangat khusus. Termasuk didalamnya Sampling berjenjang. Setelah populasi datanya dikelompokkan, kemudian setiap kelompok diambil sampelnya secara random, ataupun bahkan dengan kelompok-kelompok atau sub grup selanjutnya.

Cara sampling ini tentunya cukup rumit. Dan cara ini sering dilakukan dalam Quick Count atau hitung cepat. Disini diperlukan tidak hanya kemampuan memindai sampel mana yang mewakili tetapi juga perlu keahlian dan kelihaian menentukan sampel yang mewakili.

:-( “berarti mirip ahli geologi memilih contoh batuan Pakdhe ?

Yang perlu diperhatikan disini adalah ketika melakukan SELEKSI SAMPEL ! Karena bisa saja pengambil sampel menjadi penyebab perbedaan dalam penghitungan quick count. Tangan-tangan sampler ini tidak sekdar dilakukan oleh mesin yang dianggap netral tetapi dilakukan oleh “tangan manusia” (otak Si Surveyor), untuk memilih sampel mana yang diambil.

Setiap data dalam perhitungan ini dikelompokkan sesuai dengan grupnya masing-masing. Misal perkotaan-pedesaan, kemudian daerah kumuh dibandingkan perkampungan yang tertata. Sehingga seolah-olah setiap kelompok memiliki “harga” yang berbeda dalam perlakuan.

Sensus

Samplin3

Cara SENSUS. Semua data diambil sebagai informasi untuk diperhitungkan. Semua data memiliki dan diperlakukan kesamaan kepentingan dan perilakunya.

Berbeda dengan cara-cara diatas. SENSUS mengambil seluruh populasi dalam perhitungannya atau pengukurannya. Tidak ada satu datapun dari populasi yang dilewatkan. Semua data dianggap sama, semua data dianggap perlu untuk dihitung.

Dalam metode ini tidak ada statistik sampling. Dilakukan pada kondisi data yang  homogen atau bahkan heterogen (sangat beragam) sekalipun. Data dapat saja tersebar tak teratur ataupun teratur. Tidak ada perbedaan perlakuan pada data.

Disinilah letak demokratisnya setiap individu data. Disinilah letak bagaimana perlunya satu suara anda kemarin sewaktu memilih. Dalam pemilu di Indonesia yang sangat beragam dan tersebar dari pelosok kota yang kumuh hingga pedesaan terpencil akan diperlakuakn dengan sama. Suara seorang professor di kampus, dianggap sama dengan suara seorang tkang sapu dipinggir jalan.

Dengan demikian kalau kita mengadop demokrasi yang elagliter dimana semua suara itu sama perlakuannya maka keputusan sebuah pemilu memang sudah seharusnya dengan metode real count atau sensus.

Quick Count

Quick Count ini adalah salah satu cara untuk mengetahui hasil berdasarkan sampling yang “terpilih” tentusaja pemilihannya tidak sembangan dan memerlukan keahlian tersendiri. Perlu kenetralan dan tidak ada bias sedikitpun. Namun karena yang melakukannya masih manusia juga, seringkali tidak dapat terhindarkan.

Walaupun diakui bahwa metode ini sangat cocok dan sering dilakukan dalam sebuah perhitungan cepat, tidak hanya pemilu, namun melihat adanya kemungkinan salah inilah maka metode QC tidak dapat dipakai sebagai dasar keputusan pemenangan pemilu.

Jadi apakah menurut anda quick count itu demokratis ?

 

 

 

 

Menentukan Pemenang sebuah Pemilihan

Kemarin kita belajar statistik, sampling dan bias akibat pengambilan sampel yang tidak tepat. Nah sekarang bagaimana kalau sensus atau “real count”nya sudah ditentukan, bagaimana kalau hasilnya seperti ini ?
Secara total Kuning menang tetapi tidak mewakili provinsi yang memang dimana merah menguasai 4 propinsi. [Perhatikan adanya kesalahan mata ketika mentransfer data]. Kesalahan atau error selalu saja ada. Tidak harus sebuah kesalahan yang disengaja, dapat juga karena ketidak sengajaan ataupun karena rumusan dan keterbatasan tehnis lainnya.

Siapa_Juaranya

Menentukan pemenang dalam sebuah pilihan itu yang pasti bukan dari Quick Count. Kita harus legowo kalau memang aturan perhitungannya sudah ditentukan oleh pejabat dan lembaga yang berwenang untuk itu.

:-( “Hadduh Pakde. Contoh kok ya salah to ?”

:-) “Thole, ini ulisan dibuat hanya dalam waktu sejam. Ingat hal yang penting ini : kejujuran itu jauh lebih penting ketimbang kebenaran yang masih relatif

beberapa kesalahan atau kelemahan teknis statistik misalnya, rounding (pembulatan), averaging (perataan), posting dsb. Ini perlu diatur dalam sebuah kesepakatan bagaimana seharusnya atau yang terbaik menurut kondisi geografis di Indonesia.

Ketika distribusi tidak merata, dan kita tahu bahwa di Indonesia ini pemerataan merupakan salah satu problema yang harus dihadapi. Dalam contoh ditas digambarkan adanya satu tepat yang berpenduduk sangat sedikit dibandingkan propinsi A dan B yang penduduknya padat. Disinilah pentingnya kebijakan yang membela daerah tertinggal, daerah berpenduduk sedikit, daerah miskin dsb. NKRI membutuhkan itu semua.

Konstitusi harus diutamakan.

Dalam sebuah negara itu selalu ada konstitusi atau kesepakatan bersama. Di Indonesia dikenal dengan nama Undang-undang. Banyak hal dibuat berdasarkan undang-undang. Termasuk didalamnya Undang-undang Pemilu untuk menentukan jumlah kursi dalam parlemen (DPR), Pilkada dan  sebagainya. Pemenangan pemilu tentu saja diatus oleh Undang-undang.

:-( Pakde jadi siapa yang menag ?”

:-D “Sekali lagi thole. Kita tunduk pada kesepakatan bersama dan menyerahkan kepada lembaga yang berwenang”

Selamat bekerja untuk KPU.

Bias dalam pengambilan sampel

Sampling dalam survey bertujuan untuk melihat kecenderungan dalam keseluruhan populasi namun keterbatasan waktu, kendala akses serta biaya seringkali memerlukan metodologi sampling yang tepat sesuai tujuannya.

Memang tidak dapat dipungkiri adanya kemungkinan bias dalam pengambilan sampel. Tentusaja sampelnya berbeda akan menyebabkan hasil yang berbeda pula. Dan ini mengundang perdebatan karena perbedaan tujuan. Masing-masing lembaga survey akan klaim bahwa mereka sudah mengambil secara acak. Tapi tangan manusia tidak dapat dibilang acak. Selalu ada kecenderungan ”bias tangan” ketika memilih sampel.

BiasTangan1

Ketika waktu menjadi kendala maka memilih sampel merupakan satu hal terpenting dalam statistik dan survey.

Quick Count merupakan salah satu metode survey yang sangat-sangat diperlukan ketika keputusan cepat harus diambil. Walaupun tidak memiliki aspek legal dalam pemilu, metode sampling ini sangat umum dilakukan dalam sebuah survey.

Kalau seluruh penduduk Indonesia menjadi sampel itu namanya SENSUS !

Selain sampling juga ada penghitungan suara keseluruhan tidak sertamerta rata-rata dari prosentase pemenangan. Salah satu PeeR lihat dibawah ini. Siapa yang menang ?

siapa yang juara

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.475 pengikut lainnya.